Bab. 53

1400 Kata
Hasrat Alex menguap. Terkesiap saat tangan Reina melayang kuat kemudian mendarat di pipi kirinya. Ia mundur, mengusap wajahnya frustasi saat isak Reina mulai terdengar jelas. Alex menghela nafas panjang, menyesal dengan apa yang baru saja ia lakukan. Perkataan Reina berhasil menghasutnya untuk menguasai gadis itu tanpa memikirkan dampaknya. "Aku minta maaf," ucapnya penuh penyesalan. Alex memalingkan wajahnya karena tak ingin melihat wajah sedih Reina. "Ayo! Aku antar kamu ke hotel." Alex berdiri, bersiap untuk pergi. Namun tangan Reina menahannya. "Ada apa lagi? Apa kamu masih ingin mengujiku? Aku sudah gagal," ujarnya lagi. Reina masih tak menyahut. Satu tangannya ia kaitkan di tangan Alex, menahannya agar tidak pergi. Sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menyeka air mata yang masih mengalir jatuh di pipinya. Reina berusaha menenangkan dirinya sebelum kembali bicara, seiring detak jantungnya yang perlahan kembali normal. "Rein, ayo kita pulang." Reina menggelengkan kepala. "Kenapa? Aku tidak lapar lagi sekarang," katanya seraya melepaskan tangan Reina yang menahannya pergi. Reina mendongak. Wajahnya sembab, ia melihat Alex dengan tatapan memohon. "Kamu mau apa lagi?" Alex mulai terlihat kesal. Ia tak tahan melihat gadis itu hanya diam sambil sesunggukan di lantai. Akhirnya Alex mengalah dan kembali duduk dengan mengatur jarak. Ia khawatir tidak dapat menahan hasratnya untuk kembali menyentuh Reina jika mereka bersentuhan. "Aku tidak ingin ditampar lagi. Aku pikir, lebih baik kalau kita pulang sekarang," ajak Alex. Reina kembali menggelengkan kepalanya. Meski takut, ia akan mencoba sekali lagi untuk bicara dengan lelaki itu. Rencananya sudah berjalan sampai sejauh ini, jadi ia tidak mungkin mundur lagi. "Aku...." Gugup, Reina kembali bicara. "Ada apa?" "A-aku... aku ingin anak darimu," katanya setengah berbisik. "Rein, jangan bicarakan itu lagi. Kamu udah lihat apa yang terjadi karena permintaanmu yang aneh itu, kan?" "A-aku sunguh-sungguh ingin..." "Bukannya kamu tadi menolaknya?" "Bukan seperti itu, maksudku... aku memang ingin anak itu." Reina coba menjelaskan, meski bingung bagaimana cara menyampaikannya. "Caranya? Aku bahkan tidak boleh menyentuhmu." Alex fokus untuk mendengarkan. Ia mengunci Reina dengan matanya. Reina balas menatap. "Bayi tabung," jawab Reina ragu sesaat kemudian. Dahi Alex mengkerut, kedua alisnya bahkan hampir menyatu. Bingung harus berkomentar apa, Alex memilih untuk diam dan mendengarkan. "Demi aku, Lex. Aku sangat menginginkan anak itu. Kau pernah bilang, akan melakukan apapun untukku, kan? Apa kau sudah melupakannya?" ujar Reina mengiba. "Tapi, bayi tabung gak segampang itu, Rein." "Aku tahu," jawab Reina cepat. "Kau harus memeriksa keaehatanmu selama beberapa bulan," lanjut Alex. "Iya, aku juga tahu." "Biayanya juga mahal." Kepala Reina mengangguk. "Aku akan usahakan." Alex berdecak kesal. "Dari mana? Orangtuamu? Aku sangat yakin, mereka akan memarahimu daripada mendukungmu." "Itu tidak jadi masalah. Jangan pikirkan masalah uang, aku tidak akan memintanya darimu." Alex menatap gadis itu dalam-dalam. Perasaannya semakin menguat saat melihat keseriusan Reina. Ia menghela nafasnya panjang. "Demi kamu, aku akan melakukannya." Alex berkata setelah memantapkan hatinya pada gadis itu. Senyum Reina mengembang. Matanya mulai berkaca-kaca. Rasanya ingin menangis karena terlalu senang. Tangan Reina refleks menggantung di leher Alex, memeluknya dengan erat. Reina tak perduli meski Alex balas memeluknya lebih erat. "Makasih, Lex. Makasih..." ucap Reina tulus. *** Pukul lima sore, Alex mengantar Reina kembali ke hotel sesuai janjinya pada Keira. Mobil Alex memasuki gerbang hotel dan berhenti di pelataran pintu masuk. Alex membukakan pintu mobil untuk Reina. Lalu menyerahkan kunci mobil pada salah satu petugas yang berjaga di pintu masuk untuk memarkirkan mobilnya. Reina tersenyum manis saat Alex menggenggam jemarinya ketika memasuki hotel. Mereka mengabaikan tatapan para staf dan karyawan hotel, terlebih ketika mereka saling berpapasan. Beberapa orang terlihat cuek, sementara yang lain mencibir keduanya saat melihat kedekatan Alex dan Reina. Khususnya para karyawan wanita yang bekerja di hotel itu. Pria single tampan yang jadi penyejuk hati dan mata mereka selama ini, lebih memilih gadis manja yang lebih muda dua belas tahun darinya. Mereka cemburu karena Reina berhasil memikat hati investor muda di Hotel Santika Kesuma. Merasa kalah saing, wanita-wanita itu hanya bisa mencibir Reina karena memanfaatkan jabatan sang kakak untuk mendekati pria setampan dan sekaya Alexander Baldwin. Sebab mereka masih belum mengetahui kebenaran bahwa Reina adalah cucu dari pemilik jaringan Kesuma Group "Menurutmu, apa Keira tidak akan marah?" Alex bertanya saat mereka berada dalam lift. "Mungkin tidak, selama aku tidak menyusahkannya." "Gimana dengan keluargamu? Aku pikir, mereka pasti tidak akan menyukai ini," lagi Alex bertanya. Reina diam untuk sesaat. Ia terlihat seperti sedang berpikir. "Jika keluargamu sampai tahu.... Gimana kalau mereka sampai membatalkan pernikahanmu, Rein?" ceplos Alex, membuat langsung Reina memalingkan wajah ke arahnya. "Bagimana kau bisa tahu kalau aku akan menikah? Apa Keira memberitahumu?" cecar Reina curiga. Kedua matanya memicing tajam. Alex mengusap tengkuknya salah tingkah. Ia tidak sadar sidah bicara terlalu jauh. Tetapi rasa penasarannya jauh lebih kuat, sehingga Alex tak tahan untuk menyampaikannya. "Iya." "Apa lagi yang Keira katakan?" "Tidak ada, hanya itu." Alex menggelengkan kepala. Reina menghembuskan nafasnya kuat. "Jadi benar, kamu melakukannya hanya untuk membuat keluargamu marah?" Alex menatapnya tajam. "Kamu dari awal memang berniat memanfaatkanku saja. Benar kan, Rein?" Alex memekik pelan. Reina menundukkan kepalanya sedih, kemudian mengangguk pelan. "Gimana kalau mereka sampai marah dan mengusirmu dari rumah?" Alex meletakkan tangannya di bahu Reina, mengguncang tubuh ramping itu dengan pelan. Frustasi, Alex menekan lift kembali ke lantai dasar. Ia ingin bicara dengan gadis itu lebih lama. Sayangnya, lift bergerak terlalu cepat, sehingga Alex hanya punya sedikit waktu untuk bicara dengannya. "Reina," panggil Alex lembut. "Aku masih punya dirimu," jawab Reina tiba-tiba. Ia mengangkat wajahnya menatap pria di depannya. "Hah?" "Kau mau kan, menampungku di rumahmu?" celetuk Reina tanpa merasa bersalah. Alex mengerutkan dahi bingung. "Kalau anakku lahir nanti, kau mau kan, menampung kami di rumahmu?" Reina mengulang kalimatnya. Alex menark gadis itu merapat dalam pelukannya. Menciptakan rasa hangat di tubuh keduanya. Tangannya naik mengusap rambut Reina dengan lembut. Alex menekan lift kembali naik ke lantai atas. Damai di hati Reina saat menerima perlakuan manis Alex padanya. Sayangnya, ia tidak memiliki perasaan apapun pada lelaki itu. Niatnya sudah bulat, Reina hanya menginginkan anak. "Lex..." "Hmm." "Aku ingin lebih dari satu anak. Boleh, kan?" "Apa?" "Empat. Beri aku empat anak." "Rein, jangan membuatku gila." "Kenapa? Apa kau tidak menyukai anak-anak?" "Jika anakku, tidak masalah. Tapi, jika anak orang lain... aku akan membuangnya." Reina mendongak, melotot tajam padanya. "Aku hanya bercanda," ucap Alex cepat. Senyum di wajahnya merekah. *** Keira menguap lebar. Rasa kantuk mulai menyerangnya setelah puas menangis beberapa jam. Tubuh dan pikirannya terasa letih. Ia menarik nafasnya panjang, kemudian membuangnya dalam sekali sentak. Ponselnya pecah berantakan di lantai, Keira meliriknya sedih. Bukan karena ponsel itu keluaran terbaru dan berharga mahal. Banyak nomor penting dan juga beberapa file yang tersimpan di dalamnya. Ia menyesal telah membuangnya hanya karena marah pada ayahnya. Keira bangkit. Memungut kembali benda itu dari lantai dan menyimpannya kembali dalam tas. Ia menggunakan beberapa helai tissu untuk membungkusnya. Keira kembali mengingat ucapannya pada Sanjaya sebelum lelaki itu mengakhiri pembicaraan mereka di telpon. Karena kesal, ia memintanya untuk datang menjemput Reina. Dan pada akhirnya, Keira menyesali ucapannya itu. Ayahnya sudah tau kalau Reina bersamanya. Kenapa harus berpura-pura dan menanyainya lagi? Keira memadamkan imacnya lalu bangkit berdiri. Ia menyampirkan tasnya di bahu, kemudian melangkah keluar dari kantornya. "Tolong siapkan mobil untuk saya. Saya ada keperluan mendadak," suruh Keira pada sekretaris Robert. Ia melihat gadis itu masih duduk di mejanya sedang bersiap untuk pulang. "Baik, Bu Keira," sahutnya tenang. Ia meletakkan tasnya kembali. Keira masih dapat mendengar suara gadis itu ketika berbicara dengan seseorang di telpon, saat Keira mulai berjalan menuju lift. Pintu lift berdenting, kemudian mulai membuka lebar saat tiba di lantai bawah. Keira gegas memacu langkah menuju pintu depan. Sebuah mobil berlogo Hotel Santika Kesuma, telah terparkir di depan pintu. Keira langsung masuk ke dalam saat supir membukakan pintu untuknya. "Kita ke toko handphone ya, Pak." Keira memberi perintah. "Baik, Bu." Sang supir segera menyalakan mobil dan membawa Keira pergi dari area hotel. Sekitar lima belas menit perjalanan, mobil perlahan melambat dan berhenti di sebuah toko ponsel bermerk. Keira gegas keluar tanpa menunggu supir membukakan pintu untuknya. Ia mendorong pintu hingga terbuka. Senyumnya diulas semanis mungkin, meski sembab di wajahnya masih terlihat jelas. "Selamat sore, silahkan masuk. Ada yang bisa kami bantu?" Seorang gadis pramuniaga toko menyapanya ramah. "Selamat sore, Mbak. Saya ingin melihat-lihat produk ponselnya dulu," jawab Keira tak kalah ramah. "Silahkan, Kak. Mari saya tunjukkan barangnya. Kita juga sedang mengadakan promo untuk beberapa produk," tawarnya penuh semangat. "Iya. Saya lihat dulu, ya." Keira menyahut tak kalah antusias. Meski tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan data yang tersimpan di ponsel lamanya. Setidaknya, dia butuh ponsel baru untuk berkomunikasi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN