Bab. 52

1700 Kata
"Ada apa?" tanya Keira sinis, tubuhnya bersandar santai di kursi kebesarannya dan melupakan imacnya untuk sesaat. "Dimana Reina? Apa dia masih tidur?" "Entahlah, mungkin saja. Lagian, aku ini bukan pengasuhnya," sahut Keira dingin. "Setidaknya kamu tahu, adikmu sedang berada dimana sekarang." Keira mengangkat bahunya lalu berkata, "cari aja sendiri!" "Ya sudah, aku akan mencarinya sendiri di atas." Alex bangkit berdiri, melangkah pergi meninggalkan Keira di kantornya. Keira mencebik kesal. Perhatian gadis itu beralih pada perangkat komputer yang masih menyala di depannya. Beberapa file masih harus diselesaikan sebelum dirinya mengirimkan semua laporan itu pada Atmajaya dan juga ayahnya. Pikirannya yang bercabang selama beberapa hari ini membuatnya kehilangan fokus. Jika terus seperti ini, Sanjaya mungkin akan merasa kecewa padanya. Kemungkinan terburuknya adalah Sanjaya akan mengambil alih kepemilikan hotel itu darinya, meskipun pria itu telah merubah status kepemilikan aset hotel atas namanya sebulan yang lalu. Hampir dua jam Keira berkutat dengan pekerjaannya ketika ia merasa kepalanya mulai berdenyut dikedua pelipis. Ia mengangkat kedua tangan ke udara untuk meregangkan ototnya yang kaku. Baru saja Keira berniat memejamkan mata ketika ponselnya berdering kencang mengusik pendengaran. Dengan malas ia bergerak maju, menyambar benda pipih yang tergeletak di atas meja. Sesaat matanya menyipit saat melihat satu nama muncul di sana. Keira tersenyum miring. "Hai, Pa." Keira akhirnya menerima panggilan itu setelah membiarkannya untuk beberapa saat. "Keira, bagaimana kabarmu?" Seseorang di ujung telpon menyahutnya. "Aku baik. Ada apa? Oya, Maaf karena aku belum bisa mengirimkan laporan itu sekarang. Beri aku waktu." Nada suaranya terdengar dingin. "Tidak masalah, lupakan saja. Apa Reina bersamamu?" tanya Sanjaya datar tanpa emosi. Untuk beberapa saat Keira terdiam. Mencoba memahami apa yang sedang terjadi. "Sangat aneh kalau Papa bertanya keberadaan Reina. Dia bahkan tidak bicara kuat seperti biasanya. Ada apa ini?" Batin Keira. "Kenapa bertanya padaku? Sebenarnya ada apa dengan Reina?" Keira malah melontarkan pertanyaan padanya. Keira bisa mendengar dengan jelas lelaki itu menghela nafasnya frustasi. "Pa? Katakan, ada apa?" desak Keira. Keira berpikir, jika mereka ingin bersandiwara dengannya maka ia siap untuk ikut memainkan perannya. "Apa Reina benar-benar tidak bersamamu?" ulang Sanjaya. Kali ini dengan sedikit penekanan. "Mm...." "Bagaimana mungkin dia ada di sini? Aku hanya sendirian di sini," sahut Keira tenang. Tentu saja, karena adiknya itu memang tidak sedang bersamanya saat ini. "Papa menelponku hanya untuk bertanya tentang Reina? Hanya itu saja? Apa Papa tidak ingin bertanya tentangku juga? Atau mengatakan sesuatu padaku?" cecar Keira. Emosi di hatinya kembali meluap ketika Sanjaya hanya memperdulikan Reina. "Kei, Papa mohon... mengertilah." Keira menarik nafasnya panjang dan membuangnya dengan kuat. Rasanya ia ingin menangis kencang. Kerongkongannya terasa perih saat ini, bahkan untuk sekedar bicara. "Mengerti apa, Pa?" "Kei, adikmu tidak ada di rumah. Dia bahkan tidak pulang selama beberapa hari ini. Papa khawatir padanya." Sanjaya berusaha menjelaskan sumber kesalahpahaman di antara mereka. "Benarkah?" "Iya. Tolong beritahu Papa jika memang dia bersamamu." "Kenapa? Apa Papa ingin memaksanya pulang kemudian menikahkan dia?" sindir Keira. "Keira!" Sanjaya membentaknya kuat. Keira terkesiap. Untuk pertama kalinya Sanjaya membentaknya seperti itu, meski lewat telpon. Air matanya seketika jatuh. "Dia ada di sini, bersama Alex. Datanglah dan jemput dia pulang." Suara Keira terdengar bergetar. Sesaat kemudian panggilan itu terputus. Keira membanting ponselnya kuat di atas lantai hingga pecah menjadi beberapa bagian. Air matanya tumpah berderai. Keira menangis sesunggukan di balik lipatan tangannya. Ingin rasanya ia teriak sekuat mungkin, namun ia tahan. Gadis itu sadar jika dirinya masih berada di kantor bukan di kamarnya. Tok, tok, tok... Keira mengangkat kepalanya. Tangannya menyambar tissu dari dalam kotak di sudut meja, lalu buru-buru menyeka air mata yang masih saja mengalir meski dengan susah payah ia tahan. Segera Keira menegakkan duduknya kemudian memutar kursinya dan berpura-pura memandang keluar jendela. Semua itu ia lakukan agar tak seorang pun melihat wajah sembabnya. Sesekali tangannya terangkat untuk menyeka sudut matanya yang masih tampak basah. "Ada apa?" tanyanya senatural mungkin. Keira tak ingin siapapun menyadari jika dirinya baru saja habis menangis. "Aku ingin keluar bersama Alex. Apa kau ingin ikut?" Suara Reina terdengar begitu dekat. Keira yakin bila gadis itu tengah berdiri di seberang meja kerjanya. Keira menggelengkan kepala. "Pergilah!" katanya. "Kau harus sudah kembali sebelum makan malam." "Apa kau yakin tidak mau ikut?" Reina kembali memastikan. "Tidak. Pekerjaanku masih banyak," ucap Keira meyakinkan. "Kei..." Suara hembusan nafasnya terdengar berat. Keira menelan salivanya, berusaha tetap tenang. "Pergilah, aku mengizinkanmu." Keira membalik kursinya seraya tersenyum manis menahan perih. "Hati-hati di jalan. Jaga dirimu dengan baik atau Papa akan menyalahkan aku lagi karena terlalu memihakmu," sambung Keira tanpa bergerak dari kursinya. "Aku tahu," sahut Reina sambil berlalu pergi. Keira melihatnya hingga gadis itu menghilang di balik pintu yang tertutup perlahan. Ia menghela nafas lega. *** Reina melangkah cepat setengah berlari saat keluar dari ruangan kakaknya begitu wanita itu mengizinkannya untuk pergi bersama Alex. Sementara pria itu sudah menunggunya di lobi hotel, ditemani oleh Pak Abdi. Siang ini, Reina berencana menyatakan niatnya, meski hal itu bukan hal yang mudah. Karena Alex bisa saja menolak permintaan anehnya itu. Alex berdiri, melambaikan tangannya saat Reina berjalan ke arahnya dengan senyum terlukis di wajahnya. "Gimana? Apa Keira mengizinkanmu pergi?" tanyanya setelah mereka berdekatan. "Mm..." Reina mengangguk. "Hanya sampai jam lima sore." "Kalau begitu, kita pergi sekarang?" tawar Alex dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Reina. "Ayo." Alex menggandeng tangannya dan membawa gadis itu pergi. "Pak Abdi di sini aja. Mungkin Keira akan membutuhkan bantuan Pak Abdi," perintah Reina saat pria tua itu ikut berdiri. Pak Abdi menundukkan kepalanya , membiarkan pasangan itu pergi tanpa pengawalan darinya. "Tuan Putri silahkan masuk," ujar Alex. Ia membukakan pintu depan untuk Reina. Kemudian berlari masuk ke dalam mobil dari sisi yang lain. Mobil mulai menyala, melaju perlahan meninggalkan area hotel. Alex perlahan menambah kecepatan mobilnya. Pandangannya lurus ke depan, fokus memperhatikan jalanan di depan mereka. Suasana di dalam mobil begitu canggung. Tak ada yang memulai pembicaraan di antara keduanya. Hanya suara musik yang mengalun lembut, mengiringi perjalanan mereka yang entah kemana. Reina bahkan tak berniat menebak kemana mereka akan pergi. "Kita mau kemana?" tanya Reina akhirnya. Hampir tiga puluh menit hanya duduk dalam diam sambil memperhatikan jalanan yang mereka lalui, membuat Reina sakit kepala. Mobil itu bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbelok atau berhenti di suatu tempat, membuat Reina mulai merasa frustasi karenanya. "Lex!" tegur Reina. Wajahnya mulai cemberut karena kesal sebab Alex tak juga menjawab pertanyaannya. "Sabar. Sebentar lagi kita sampai," sahut Alex akhirnya seraya melirik Reina dengan ujung matanya. "Iya, tapi dimana?" sungut Reina. "Di sana!" Tunjuk Alex ke satu tempat tak jauh di depan mereka. Alex membawa mobil memasuki area parkir sebuah rumah makan lesehan di pinggiran kota Medan. "Ayo turun," ajaknya. Dengan cekatan Alex membukan pintu mobil bagi Reina dan membantunya turun. "Kita mau apa ke sini?" Satu pertanyaan bodoh lolos dari mulut gadis itu begitu saja. "Makan. Ayo!" Alex mengaitkan jemari mereka, membawa Reina masuk dan memilih layanan privat room khusus untuk dua orang. "Kau sering makan di sini, ya? Sepertinya kau mengetahui semua layanan yang mereka sediakan di tempat ini," sindir Reina. "Tidak sering, tapi pernah." "Bersama kekasihmu? Maksudku, mantan kekasihmu?" singgung Reina. "Bukan. Dengan teman-temanku," akunya. Reina memutar bola matanya jengah. 'Kenapa tak jujur saja?' Pikir Reina. "Benarkah? Seandainya kamu datang bersama dengan mantan kekasihmu pun, aku tidak keberatan. Aku pikir, itu hanya masa lalu." Reina berusaha berpikir positif. Alex tertawa. "Itu benar. Buat apa aku membohongimu? Kamu adalah gadis pertama yang datang bersamaku selain teman-temanku." Reina mengangguk pelan dan memilih diam, sengaja mengalah agar tidak berakhir dengan kesalah pahaman yang bakal membuat rencananya berakhir gagal. Reina menurut ketika Alex menariknya untuk duduk bersamanya di lantai vinyl. Suasananya yang begitu asri dengan rimbun peponohan, membuat Reina nyaman. Ditambah semilir angin yang bertiup sejuk dari celah dedaunan, membuat siapa saja betah untuk duduk berlama-lama. "Apa kau suka tempatnya? Lain kali aku akan mengajakmu bersama Keira untuk datang ke sini." Dengan cepat Reina menganggukkan kepalanya. "Aku suka." "By the way... gimana dengan janjimu kemarin malam?" Reina mencoba mengingatkan Alex akan keseriusan cintanya. "Janji? Yang mana?" Kening Alex mulai tanpak berkerut saat berusaha mengingat janji yang telah diucapkannya. "Kau janji untuk membuktikan keseriusanmu." Reina menjawab lemah. "Ooh... aku ingat." pekik Alex seraya tertawa. "Jadi gimana? Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikannya?" Reina diam sesaat. Menatap iris hitam legam itu lekat-lekat. Kemudian dengan pelan Reina berkata, "aku ingin punya anak darimu." Syok. Seketika senyuman Alex meredup, berganti dengan raut wajah serius. Pria itu mengunci Reina dengan matanya. Antara terkejut dan juga bingung, Alex merasa permintaan Reina terdengar aneh. Tetapi sekaligus membuatnya senang. "Anak? Kamu ingin punya anak?" ulang Alex, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Iya." Reina menyahut cepat. "Ayo kita nikah!" "Apa?" Mulut Reina menganga. "Menikahlah denganku. Kita akan memiliki anak sebanyak yang kamu mau." Rona bahagia terpancar di wajah pria itu. Reina terpaku tak bicara. Ini di luar ekspektasinya. "Tapi, bukan begitu maksudku, Lex." Reina berusaha mengklarifikasi sebelum kesalah pahaman itu berlanjut. "Lalu, apa?" "Aku... aku ingin punya anak sebelum menikahimu." Reina menjawab ragu. Raut di wajah Akex berubah. "Maksudmu apa? Anak di luar nikah? Please, jangan menggodaku seperti itu, Rein. Karena aku bisa saja menerkammu saat ini juga," seru Alex. Tatapannya menyapu tiap inci dari wajah Reina. Mencari kepastian di dalam iris kecoklatan di hadapannya. Reina hanya bergeming. "Kenapa? Apa kau begitu ingin melakukannya?" goda Reina, membuat pria di depannya salah tingkah. "Jangan memancingku, Rein." Reina mendekatkan wajahnya dan berkata lembut di telinga Alex. "Aku ingin anak darimu. Kalau kau bisa memberikannya, aku akan menerima lamaranmu." "Akan aku berikan sebanyak yang kamu mau," bisiknya di telinga Reina. Perlahan bibirnya mendarat di telinga Reina. Mengecupnya perlahan, kemudian turun ke leher dan menjelajahi tulang selangkanya. Hingga kecupan itu berakhir di bibir mungil Reina. Sementara kedua tangannya melingkar di tubuh Reina, menarik gadis itu merapat dalam pelukannya. Reina terbelalak kaget. Dirinya tak menyangka akan menerima respon mengejutkan dari Alex. Ia menggeliat saat kecupan pria itu berubah semakin liar. Membuat Reina hampir kehilangan kontrol atas dirinya. Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Alex, saat dirinya merasa hampir kehilangan seluruh oksigen di paru-parunya. "Stop!" pekik Reina gelisah. Wajahnya merona merah, dengan bibir membengkak akibat ulah Alex. "Kenapa? Bukankah ini yang kamu mau? Punya anak dariku? Aku akan memberikannya sekarang juga," balas Alex. Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi lelaki itu. Meninggalkan bekas kemerahan di sana sebagai peringatan. Alex terkesiap. Satu tetes bening jatuh dari pelupuk mata Reina, mengalir membasahi pipinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN