Bab.51

1157 Kata
Reina terpesona. "Cantik banget," gumamnya. Mata dengan iris kecoklatan itu mengerjap lucu. Reina tersenyum manis. "Silahkan duduk," ujar Alex sambil menuntun wanitanya duduk, sementara dirinya duduk berhadapan dengan Reina pada sisi meja yang lain. Gadis pelayan itu lalu berpaling pada Keira yang masih menunggu di dekatnya. Ia menuntun kedua orang itu untuk menempati meja lain dengan dekorasi yang hampir sama persis, kecuali tanpa lilin. "Silahkan duduk, " katanya ramah, seraya menarik bangku bagi Keira kemudian pergi meninggalkan mereka. "Berapa yang kamu habiskan untuk semua ini, Lex?" celetuk Keira. Alex berpaling ke belakang, melihat Keira yang tengah duduk bersama Pak Abdi di meja lain yang telah dipesan olehnya. "Jangan tanyakan itu karena semua ini bukan apa-apa. Aku sengaja melakukannya agar kalian nyaman berada disini." "Jangan terlalu memanjakan wanita, Lex. Aku yakin, Reina tetap bisa makan walau di pinggir jalan sekalipun, selama dia merasa senang. Benar 'kan, Rein?" celetuk Keira lagi. "Tidak apa-apa. Tidak ada salahnya sekali-kali memanjakannya," balas Alex tak mau kalah. "Sudahlah. Kita datang untuk makan, bukan perang mulut," potong Reina sebelum kalimat lain meluncur keluar dari mulut mereka. "Aku minta maaf," ucap Alex. "Oke, maaf." Keduanya menyahut di waktu yang hampir bersamaan. Keadaan kembali senyap bahkan setelah pelayan datang untuk mengantarkan pesanan ke meja mereka. Tetapi tak mengendurkan semangat Alex untuk mendekati Reina. Cintanya sudah ada di depan mata, hanya tinggal berusaha sebaik mungkin agar bisa mendapatkannya. Sementara Reina masih menganggap pria itu sebagai calon tunggal terbaik yang dia miliki untuk calon anaknya. Setidaknya dia harus bisa bersandiwara dengan baik atau semua usahanya akan berakhir sia-sia. "Lex," panggil Reina ragu. "Hmm..." Alex mengangkat wajahnya. "Kenapa kau sampai melakukan semua ini?" "Apa aku salah? Apa kau tidak menyukainya?" Alex balik bertanya. "Bukan begitu. Aku pikir, kalau kau memang ingin sekali untuk menikah, kenapa tidak menikah saja dengan kekasihmu? Kenapa harus menggangguku seperti ini?" tanya Reina hati-hati. Kedengaran sedikit kejam, tapi ia hanya ingin tahu alasannya. Sama seperti gadis lainnya yang bertanya pada pasangan mereka, apa alasan para pria jatuh cinta pada mereka? Padahal, mungkin di luar sana, pria-pria itu masih punya selingkuhan lain yang mungkin jauh lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya dari pasangan mereka. Alih-alih tersinggung, Alex malah tersenyum manis padanya. "Aku tidak punya kekasih," katanya jujur. "Jangan bohongi aku," rungut Reina tampak tidak senang. Alex meletakkan peralatan makan di atas piring, kemudian menegakkan duduknya. Iris hitam legam itu menatap lurus tepat di manik kecoklatan Reina. Pikirannya melayang jauh, memikirkan cara untuk meyakinkan gadis itu tentang perasaannya. Perlahan tangan Alex maju, menjangkau tangan lembut Reina dan menawannya dalam genggamannya. "Aku sungguh-sunguh. Wanita yang ku cintai hanya kamu," ungkapnya jujur. Tatapannya begitu teduh. "Katakan padaku, gimana caranya agar kamu bisa percaya padaku? Apa yang harus aku lakukan untuk membuktikan bahwa aku tulus cinta sama kamu?" katanya memohon. Deg. Jantung Reina serasa jatuh ke dasar perut. Merasa terkejut dengan tawaran pembuktian cinta Alex yang datang tiba-tiba. Dengan cepat Reina menetralkan debaran di jantungnya. Ucapan Alex sempat membuatnya syok, walau hanya sesaat. Ia mengulas senyum tipis, sebuah senyuman penuh makna. "Apa kau sungguh-sungguh?" tanya Reina menuntut. "Ya. "Apapun yang aku minta untuk kau lakukan? Maksudku... ya, melakukan sesuatu sebagai bukti." "Mm...." Alex mengangguk yakin. Reina memalingkan wajahnya. Hatinya langsung bersorak kegirangan. "Skakmat!" desisnya. Reina mengulum senyumnya. "Apa kamu senang sekarang?" "Tentu saja," sahut Reina cepat. Begitu senangnya hingga gadis itu melupakan saudarinya yang sejak tadi memperhatikan interaksi di antara mereka. Walau pembicaraan mereka tidak begitu jelas terdengar, Keira bisa menebak bahwa adiknya telah berhasil meski baru awalnya saja. "Anyway... itu artinya, kamu setuju menikah denganku?" "Masih belum." "Kenapa?" "Karena kamu belum membuktikan apapun padaku." "Tapi, bolehkan kalau sekarang aku mengakuimu sebagai kekasihku?" ujarnya penuh harap. "Maksudnya, kita pacaran, gitu?" Apa gak malu jalan denganku?" sindir Reina. Alex menahan tawanya, merasa gemas pada gadis yang duduk di hadapannya. "Aku gak akan pernah malu mengakui kamu sebagai pacarku," ungkap Alex. "Tapi aku malu!" keluh Reina. "Kenapa? "Karena kamu udah tua. Orang-orang bakal ngejek aku jalan sama om-om genit," ujar Reina ceplos. "Jangan-jangan, mereka malah mikir kalau aku itu sugar baby, cewek pelakor, selingkuhan suami orang. Aku gak mau!" sungut Reina kesal. Alih-alih tersinggung, tawa Alex kembali pecah setelah mendengar keluhan Reina. Namun tawanya tak berlangsung lama, saat dirinya melihat Reina yang tertunduk malu karenanya. "Rein, kamu gak perlu malu. Aku janji gak akan biarin mereka ngejek kamu seperti itu. Aku janji." *** Setelah makan malam usai, Alex langsung mengantar ketiga orang itu kembali ke hotel, setelah sebelumnya menyempatkan diri berkeliling menikmati indahnya kota Medan dimalam hari. Sebelumnya, mereka hanya bisa menikmatinya melalui jendela hotel. Alex mengusap lembut puncak kepala Reina saat gadis itu menguap lebar. Matanya berubah sayu, tak mampu menahan kantuk lebih lama. Alex membawa gadis itu merapat ke tubuhnya. Merangkulnya ketika mengantarnya kembali ke kamar, bersama Keira di sisinya yang lain. Sementara Pak Abdi membuntuti ketiganya dari belakang, dan menyaksikan semuanya dalam diam, hingga ia kembali masuk ke kamarnya sendiri.. "Selamat tidur, Sayang. Sampai jumpa besok pagi di kantor," ucap Alex sebelum meninggalkan keduanya di depan pintu. Satu kecupan manis mendarat di kening Reina. Ia tersenyum kikuk. "Makasih, ya. Aku masuk duluan," pamit Reina. Ia masuk lebih dulu, meninggalkan Keira yang masih terpaku di depan pintu. "Seharusnya kamu jangan melakukan itu selagi ada aku di sini. Setidaknya hargai aku sebagai kakaknya," ucap Keira dingin. Ia menyentak nafasnya kesal. Pintu dibanting hingga menutup. Dirinya tak perduli meski pria itu masih berdiri di sana. Entah mengapa, melihat kedekatan mereka membuat Keira panas hati. Seperti tak menerima perlakuan pria itu pada adiknya. Keira melangkah masuk ke kamar tidur, merebah tepat di samping adiknya yang telah jatuh terlelap di bawah selimut. Seperti halnya Reina yang tidak sempat mengganti pakaiannya karena mengantuk, Keira pun melakukan hal yang sama. *** "Selamat pagi semuanya." Sosok Alexander muncul dari balik pintu masuk dengan wajah dihiasi senyum ceria, menampilkan deretan gigi putih yang berbaris rapi di dalam mulutnya. Keira mengangkat wajahnya sebentar, lalu berpaling pada imac yang masih menyala di depannya. Beberapa laporan harus ia selesaikan sebelum rencana kepulangan mereka ke Jakarta. Sebelumnya ia telah berjanji untuk menjadi pengantin, menggantikan adiknya demi obsesi gila gadis itu. Meninggalkan calon suaminya demi obsesi memiliki anak yang terdengar sangat mustahil. "Bagaimana tidurmu?" tanyanya berbasa-basi. Langkah kakinya kian dekat ke meja Keira dan duduk di hadapan gadis itu dengan senyum yang masih menghias wajahnya. "Apa kamu tidak mendengarku, Kei?" Alex terdengar mendesah, ketika menghela nafasnya pelan. Tangannya menutup imac di depan Keira begitu saja, membuat gadis itu melotot tajam ke arahnya. "Apa?" ujar Alex tanpa merasa bersalah. "Apa kamu gak lihat kalau aku sedang kerja? Nanti saja jika ingin bicara, aku masih sibuk!" bentaknya. Keira kesal karena Alex berhasil merusak moodnya. "Maaf," ucapnya enteng. "Setidaknya kamu bisa menjawabku sebentar saja," sambungnya. Alex melipat tangannya di depan d**a. "Terserah! Ada apa?" Keira melihatnya sinis. Rasanya ingin melempar lelaki itu keluar dari jendela kantornya saat ini juga. Jika bukan karena lelaki itu salah satu investor hotel mereka, Keira mungkin tidak akan menahan dirinya dan sudah menendangnya keluar sebab Alex telah mengganggu pekerjaannya. "Dimana Reina?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN