Bab. 44

1551 Kata
Pukul tujuh pagi. Reina masih berada di dalam kamar mandi. Suara gemericik air dari shower terdengar dari balik pintu. Bersahutan dengan suara alunan musik pop yang berasal dari ponsel Reina. Pagi ini Reina bangun lebih awal dari biasanya. Bahkan sebelum Marta dan Ani masuk ke dalam kamar untuk membangunkan Reina dan membantunya bersiap. Marta segera menyiapkan pakaian serta perlengkapan lainnya yang akan Reina pakai pagi ini, termasuk sepatu high heels dan tas mahal miliknya. Sementara Ani membereskan kamar nona mudanya, termasuk memungut pakaian kotor untuk dicuci. "Coba lihat, apakah juru masak sudah menyiapkan sarapan untuk Nona Reina," perintah Marta pada gadis itu. "Baik, Bu." Ani pamit undur diri. Ia gegas keluar dari kamar menuju ruang dapur dimana semua makanan disiapkan. "Bagaimana? Bu Marta bertanya, apakah menu sarapan pagi sudah selesai? Nona Reina akan segera turun," ujar Ani mengingatkan. "Sudah," sahut asisten koki. "Hanya tinggal membuat hidangan penutup dan minumannya saja." "Baiklah. Saya akan melaporkannya. Yang lain, tolong bantu untuk menata hidangan di meja makan." "Baik." Tiga orang maid yang usianya sepantaran dengan Ani menyahut bersamaan seraya menundukkan kepala. Ani lalu memeriksa semua makanan yang akan disajikan di meja makan. Setelah itu ia kembali ke kamar anak majikannya untuk melaporkan semuanya pada Marta. "Bagaimana?" tanya Marta kala melihat kedatangan Ani di kamar itu. "Semuanya sudah siap, Bu," lapor Ani pada atasannya. "Kalau begitu, sebaiknya kita turun duluan. Biarkan Nona Reina bersiap-siap," ujar Marta seraya melangsir sebuah koper berukuran sedang ke tangan gadis itu. Sementara ia sendiri membawa koper lainnya yang berukuran lebih kecil. Keduanya berjalan beriringan keluar dari kamar Reina menuju lift khusus dan turun ke lantai bawah. Sesampainya di sana, keduanya langsung menyerahkan kedua koper itu kepada supir kepercayaan keluarga Kesuma. Lalu kembali masuk ke ruang belakang. Pukul tujuh lewat empat puluh menit, Reina turun dari kamarnya, menapaki anak tangga satu per satu hingga ke lantai bawah. Suara ketukan heelsnya menggema mengisi keheningan rumah megah itu. Ia melayangkan pandangannya mengitari seluruh ruangan, mengabsen setiap incinya lalu tersenyum hambar. Rumah megah yang dibangun oleh orangtuanya kini sunyi senyap tanpa penghuni. Hanya tinggal dirinya seorang bersama para pelayan setia keluarganya yang menempati ruang belakang, sebuah bangunan terpisah dari rumah utama yang menjadi tempat tinggal Reina bersama keluarganya. Reina menghela nafasnya panjang. Entah sejak kapan rumah itu mulai kosong tanpa penghuni. Satu per satu hilang entah kemana. Ayahnya, ibunya, dan kini kakaknya. Bahkan sebentar lagi Reina pun akan menyusul jejak mereka, meninggalkan rumah megah itu dengan alasan menikah. Entah sejak kapan semua itu dimulai. Tiba-tiba saja kesunyian merenggut suara tawa yang pernah terdengar di rumah itu. Tekad Reina sudah bulat. Ia akan membuat rumah sunyi itu kembali ramai. Dia akan melahirkan banyak anak meski tanpa menikah. Apapun caranya! *** Mobil melaju kencang. Di tangan Pak Abdi, perjalanan selalu tanpa hambatan. Pria tua itu sudah lama menjadi supir kepercayaan keluarga Kesuma. Kali ini, kegesitannya dalam mengemudi kembali diuji. Mereka harus sampai di bandara dalam lima belas menit atau mereka akan ketinggalan pesawat. Reina berulang kali menyentak nafasnya. Irama jantungnya berpacu kencang, sekencang roda mobil yang membawanya pagi ini. Gadis itu memang selalu menyukai mobil dengan kecepatan tinggi, tetapi bukan di jalanan macet atau jalanan sempit yang mereka lalui saat ini. Reina harus berjuang melawan rasa mualnya di bangku belakang. Berbeda dengan Sanjaya dan Keira yang menyukai kegesitan dan kelincahan Pak Abdi ketika menyetir. Terutama pada saat mengejar penerbangan dengan waktu yang begitu sempit. Sama seperti yang mereka alami saat ini. Kali ini keberangkatan Reina ke Medan hanya mengunakan jasa penerbangan kelas bisnis dan bukan pesawat pribadi seperti yang sering digunakan oleh keluarganya. Atmajaya Kesuma sengaja mengatur penerbangan itu untuk Reina. Meski pun begitu, seluruh awak pesawat termasuk pilot, telah mengenali mereka sebagai penumpang vvip. Baik Reina maupun Pak Abdi, keduanya sama-sama menerima pelayanan terbaik dari seluruh kru pesawat. Tentu saja itu lebih baik dari pada tidak diizinkan untuk pergi, pikir Reina. Rasanya ingin mengumpat kesal karena Kakek Sanjaya pilih kasih terhadapnya. Namun Reina terpaksa menahannya. "Bangunkan aku saat kita sudah sampai," ujarnya ketus pada Pak Abdi yang duduk di kursi belakang. "Baik, Non." "Dan jangan menggangguku!" serunya lagi. Reina memakai headset yang disambungkan ke ponselnya, lalu memejamkan matanya rapat. Suara musik terdengar dari balik headset yang menutupi telinganya. Selama dua jam lebih Pak Abdi membuka matanya. Mengawasi anak majikan yang duduk di depannya agar tak seorang pun mengganggu gadis itu, termasuk para kru kabin yang berniat mengantarkan minuman serta camilan padanya. Mereka hanya melewatinya atau memberikan minuman dan camilan itu pada orang tua itu. "Nona." Pak Abdi menepuk lengan Reina perlahan. Namun tak ada reaksi yang ditunjukkan oleh nonanya itu. "Nona Reina!" panggil Pak Abdi lebih kuat. Namun suaranya teredam oleh headset yang dipakai Reina. Ragu, Pak Abdi mencoba untuk melepas benda itu dari telinga Reina dan kembali memanggil gadis itu dengan sedikit mengguncang bahunya. "Non Reina!" seru Pak Abdi. Gadis itu membuka matanya, menatap sekeliling hingga kesadarannya pulih. "Hmm..." "Kita hampir sampai, Non." "Benarkah?" tanya Reina dengan suara seraknya yang khas ketika bangun tidur. "Iya. Jangan lupa pakai safebeltnya," kata Pak Abdi mengingatkan. "Hmm...." Reina mengulas senyumnya lebar. Daratan di bawah sana mulai terlihat jelas dari balik jendela pesawat, menanti kedatangannya. "Tak sabar rasanya memberi kejutan pada Keira," gumam Reina. Kakaknya itu masih belum mengetahui kedatangan mereka ke kota itu. Sebelumnya, Reina telah berpesan pada sang kakek serta semua orang di rumahnya untuk tidak memberi tahu Keira perihal kedatangannya. Pesawat akhirnya berhasil mendarat dengan selamat setelah mengalami guncangan kuat sesaat sebelum pesawat mulai turun. Satu per satu penumpang turun. Reina sengaja menunggu hingga seluruh penumpang telah turun. Bukan karena Reina anti sosial. Ia hanya tidak ingin saling berdesakan dengan penumpang lain. Terlebih mereka yang membawa anak-anak dalam perjalanan. "Apa ada orang yang akan menjemput kita?" Reina menoleh pada lelaki tua yang sedang mendorong troli barang di belakangnya. "Saya tidak tahu, Non," sahut Pak Abdi. Reina mendengus kesal. "Ya ampun, Kakek pasti lupa memberi tahu Pak Robert untuk menjemput kita," sungut Reina. "Gimana dong, Pak? Kita mau naik apaan sekarang?" keluh Reina. Wajahnya mulai memberengut kesal. "Non Reina tunggu di sini dulu, biar saya cari taksi di depan." "Jangan lama-lama, Pak." "Iya, Non." Lelaki tua itu bergegas pergi meninggalkan Reina bersama troli barang di sampingnya. Reina menatap kepergian lelaki itu hingga tubuhnya menghilang di antara kerumunan orang yang lalu lalang di depan bandara. Ia menunggu dengan sabar sambil menjaga barang bawaan mereka. Sementara itu, Pak Abdi berjalan kian kemari mencari taksi di luar bandara. Taksi tanpa logo perusahaan alias taksi online berjejer rapi di area parkir. Membuat Pak Abdi sulit membedakan antara taksi online serta kendaraan pribadi para penumpang pesawat. Hingga lima belas menit kemudian, seorang pria berusia tiga puluhan mendekati Pak Abdi dan menawarkan tumpangan kepadanya. "Maaf, Pak." "Ya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" Kata Pak Abdi menawarkan bantuan. "Bapak mau balik, ya? Balik kemana?" tanya pria itu ramah. "Iya, Mas. Saya baru sampai di sini, kebetulan saya sudah pesan penginapan," sahut Pak Abdi tanpa curiga. "Oh... nginap di hotel apa, Pak? Siapa tahu kita searah, saya bisa antar sekalian," katanya sambil menawarkan tumpangan. Pak Abdi mengusap tengkuknya seraya tersenyum tipis. "Ah, tidak usah, Mas. Saya nunggu taksi aja, lagian tempatnya juga jauh, " tolak Pak Abdi halus. "Gak apa-apa, Pak. Kebetulan saya juga mau balik. Bapak nginap dimana?" tanya lagi. "Santika Kesuma Hotel, Mas." Pak Abdi menjawab ragu. "Ooh..." lelaki itu tersenyum lebar. "Ayo, Pak. Kebetulan saya juga lewat sana," tawarnya sekali lagi seraya menuntun Pak Abdi menuju mobil sedan yang diparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Sebentar, Mas. Saya mau ambil barang di dalam dulu." "Silahkan, Pak. Saya tunggu disini saja," sahutnya. Pak Abdi melangkah cepat setengah berlari saat kembali masuk ke dalam bandara. Putri majikannya terlihat lelah, tengah bersandar pada gagang troli. "Maaf, Non... saya lama." Pak Abdi mengambil alih troli dari tangan putri majikannya. "Kenapa, Pak? Gak ada taksi, ya?" tebak Reina ketika melihat wajah kusut orang tua itu. Pak Abdi mengangguk pelan. "Lalu gimana caranya kita balik ke hotel? Aku gak punya nomor ponsel Pak Robert. Tapi kita juga gak mungkin kasih tahu Keira kalau kita ada di Medan," sesal Reina. Wajahnya berubah murung. Ia sama sekali tidak memperkirakan hal ini bakal terjadi pada mereka. Terlantar di bandara. Rasanya Reina ingin menangis sekuatnya, seperti dulu. Saat ia sendirian, ketakutan, kesepian, atau jauh dari Keira. "Gak apa-apa, Non. Kita tetap bisa balik ke hotel," ujar Pak Abdi menguatkan gadis itu. Kening Reina mengkerut. "Caranya?" "Ada orang baik yang nawarin kita tumpangan sampai di hotel," jawab Pak Abdi seraya tersenyum. Seketika mata Reina membelalak lebar. "Apa benar?" "Iya. Orangnya sedang menunggu di parkiran. Ayo, Non!" Pak Abdi mendorong troli hingga ke pintu keluar. Reina hanya membuntut di belakang. "Itu dia mobilnya!" Pak Abdi menunjuk mobil sedan berwarna white pearl tak jauh di depan mereka. Sedangkan pemiliknya berdiri di samping pintu kemudi sambil tersenyum manis ke arah Reina. "Apa Pak Abdi yakin, mau naik mobil itu?" tanya Reina ragu setengah berbisik. "Saya yakin, Non. Orangnya baik, kok. Lagian ada saya yang akan jagain Non Reina." Reina tertegun sejenak, berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa pemilik mobil itu memang orang baik. Hingga akhirnya ia mengangguk setuju. "Maaf, Mas... soalnya saya tidak sendirian," ujar Pak Abdi tak enak hati. "Gak apa-apa. Ayo, langsung naik aja, Pak!" serunya mempersilahkan. Pak Abdi segera membuka pintu belakang untuk Reina, lalu ia sendiri duduk di bangku depan setelah menyimpan tas dan koper mereka di dalam bagasi mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN