Sudah satu minggu berselang sejak Reina bertemu dengan Banyu di kantornya. Sejak itu pula Reina sering menghabiskan waktunya berdiam diri di rumah.
Kepala maid sering menangkap Reina sedang duduk termenung di dekat kolam, bahkan ia kedapatan tidur di kamar Keira. Marta serta beberapa maid lain juga melihat Reina menatap kosong piring di hadapannya tanpa memakannya.
Semua orang menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu, kecuali Marta. Wanita itu mengetahui alasan di balik perilaku aneh Reina.
"Nona." Marta menghampiri anak asuhnya. Wajahnya terlihat cemas.
"Ya..."
"Sedang memikirkan apa?" selidik Marta.
"Entahlah. Aku berharap dia ada di sini."
"Siapa? Tuan Kesuma?" tebak Marta. Reina menggeleng pelan.
"Lalu siapa? Apakah Nyonya Ayu?" tebak Marta lagi. Lagi-lagi Reina menggelengkan kepalanya.
"Oh... " Marta memahami sesuatu. "Nona merindukannya? Kenapa tidak telpon saja dan tanyakan kabarnya?" Marta memberi usul.
Reina menoleh padanya. Menatapnya dalam-dalam lalu berpaling lagi.
"Enggak! Dia pasti masih marah padaku," tolak Reina. Ia menggelengkan kepalanya kuat kemudian menghela nafasnya panjang.
"Itu tidak benar. Nona Keira sangat menyayangì anda."
"Hmm... aku gak percaya sama Ibu. Keira tidak pernah ingat padaku. Dia hanya perduli pada pekerjaannya aja," seru Reina.
Marta menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Nona Keira perduli pada Nona. Tadi pagi dia menelpon dan menanyakan kabar semua orang," jelasnya.
"Kau berbohong padaku!" tuduh Reina.
"Saya tidak berbohong. Telpon dia dan tanyakan padanya. Kami pasti memiliki jawaban yang sama."
Reina melempar pandangannya ke arah lain. Hening. Reina tak mengatakan apapun lagi hingga kepala maid beranjak pergi meninggalkannya.
"Gimana kabar Kakek? Apa dia sudah lebih baik?" teriak Reina. Marta menghentikan langkahnya lalu berbalik.
"Hmm. Tuan Besar sudah lebih baik sekarang."
"Ooh..." Reina mengangguk paham.
Jawaban singkat dari anak majikannya itu menjadi alasan Marta untuk segera pergi dari sana.
Reina bangkit berdiri lalu naik ke lantai dua menuju ke kamarnya. Ada perasaan senang yang terlihat jelas dari raut wajahnya.
Reina mengunci kamarnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia ingin bersiap-siap untuk pergi menemui Kakek Kesuma di tempat kediamannya.
Tiga puluh menit kemudian, Reina keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandinya dan handuk kecil melilit kepalanya. Ia memilih A-line dress lengan panjang berwarna biru salem.
Reina sengaja menggerai rambut ikal kemerahan miliknya dan merias wajahnya dengan riasan natural tanpa bulu mata palsu. Bibirnya dipoles dengan lipstik berwarna nude.
Reina mempersiapkan semuanya dengan baik, termasuk kesan gadis baik-baik harus lebih menonjol agar ia mendapatkan izin dari Kakek Kesuma untuk bisa kembali ke Medan.
Reina memakai wedges heels yang senada dengan warna gaunnya. Sebuan tas jinjing keluaran rumah mode ternama ikut melengkapi gayanya.
Reina gegas keluar dari kamar dan turun manapaki anak tangga hingga ke lantai bawah. Marta segera datang mendekat ketika mendengar suara ketukan heels milik Reina.
"Anda akan pergi?"
"Hmm..."
"Boleh saya tahu pergi kemana?"
Reina menarik kedua sudut bibirnya. "Aku ingin pergi untuk melihat keadaan Kakek Kesuma."
"Saya akan minta Pak Abdi untuk mengantarkan Nona sekarang," ucap Marta, lalu melangkah mundur hendak menemui Pak Abdi.
Reina menggeleng. "Gak usah. Aku bawa mobil sendiri," timpal Reina.
"Tapi, Nona --"
"Jangan membantahku! Aku benci diatur-atur seperti anak kecil." Reina mengengus kesal lalu pergi meninggalkan Marta yang masih berdiri terpaku.
"Jangan khawatir, aku tidak akan mabuk lagi." Reina berteriak dari arah depan. Lalu menghilang di balik pintu depan. Marta mengembuskan nafasnya panjang.
"Nona ingin pergi ke mana?" Suara Pak Abdi berhasil mengejutkan Reina. Namun dengan cepat ia menguasai dirinya lagi.
"Ke rumah Kakek. Kenapa?"
"Biar saya yang antar," tawar Pak Abdi.
"Gak usah. Saya bisa nyetir sendiri," sahut Reina ketus.
"Tapi, Non..." Pak Abdi tak melanjutkan kalimatnya ketika Reina dengan sengaja membanting pintu mobil dengan kuat.
Reina mengendarai mobil mewah milik ayahnya keluar dari gerbang setinggi tiga meter. Tak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan kakaknya.
Reina mempertahankan senyuman di wajahnya. Mobil yang dikendarainya melaju dengan cepat. Hanya butuh waktu selama empat puluh lima menit bagi Reina untuk sampai di kediaman Kakek Kesuma yang berada di luar kota Jakarta.
"Semoga kali ini Kakek mengizinkanku pergi ke sana," gumamnya.
Reina menata debaran di dadanya saat mobil sport yang dikendarainya telah memasuki pekarangan rumah Atmajaya Kesuma. Ia menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya kembali.
Seorang penjaga rumah berlari ke arahnya dan membukakan pintu di sebelah kemudi. Dan menutupnya kembali setelah kaki Reina menjejak lantai.
"Dimana Kakek?" tanya Reina pada maid kepala yang menyambut kedatangannya di depan pintu.
"Tuan ada di halaman belakang. Silahkan ikut dengan saya." Wanita itu mengulurkan tangannya dan mempersilahkan Reina untuk masuk.
Dengan langkah yang anggun, Reina mengikuti langkah wanita di depannya menuju halaman belakang. Benar saja, mereka menemukan pria tua itu sedang duduk bersandar sambil membaca sebuah buku, ditemani oleh perawat pribadinya.
"Apa kabar Kakek? Sudah lebih baik sekarang?" sapa Reina ramah seraya mencium pipi keriput Atmajaya.
Lelaki itu tersenyum sambil menengadah menatap cucunya. Perawat pribadinya membantu Atmajaya menyingkirkan buku laporan yang sedang dibacanya.
"Apa kabarmu, Sayang?"
"Baik, sangat baik." Senyum Reina mengembang penuh arti. Ia menempati kursi di samping sang kakek.
"Apa kau datang sendirian?"
Reina mengangguk. "Hmm..."
"Kenapa tidak meminta Abdi untuk mengantarmu? Itu jauh lebih aman. Itu gunanya Sanjaya mempekerjakannya, supaya dia bisa mengantarmu kemana pun kau mau," ujar Atmajaya memberi pengertian.
Reina menghela nafasnya. "Dia terlalu cerewet, sama seperti Keira," gerutu Reina.
Atmajaya tertawa pelan lalu berkata, "Setidaknya dia bisa membantu untuk menjauhkanmu dari alkohol. Kau harus ingat, sebentar lagi kau akan menjadi Nyonya Banyu Danuarta."
Reina merengut kesal. "Jangan mengejekku, Kakek. Kita sudah pernah membahasnya."
"Haha... Kakek tahu dan tentu saja Kakek ingat. Apa rencanamu sekarang?"
Reina menyandarkan tubuhnya dan berusaha untuk lebih rileks. "Aku ingin menemui Keira, Kakek. Aku ingin kembali ke Medan dalam waktu dekat."
Atmajaya menatap cucu dalam-dalam. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Reina tidak sedang bercanda dengannya.
"Apa kau serius?" tanya Atmajaya.
Reina mengangguk. "Hmm..."
"Tapi kenapa?"
"Kakek harus berjanji padaku lebih dulu kalau Kakek tidak akan marah," tuntut Reina.
Kening Kakek Kesuma mengkerut. "Baiklah. Kakek sudah berjanji padamu akan mendukung apapun keputusanmu. Kali ini pun seperti itu." Atmajaya menggenggam tangan Reina erat.
Keira tersenyum. "Makasih, Kek. Cuma Kakek yang mengerti aku," ucapnya. Matanya mulai berkaca-kaca karena merasa terharu.
"Jika bukan karena keputusan Sanjaya yang salah, semua ini tidak akan terjadi. Dan juga, dia tidak perlu menanggung malu karena putrinya menolak untuk menikah," katanya berusaha untuk menenangkan Reina.
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah bertemu dengan Keira?"
"Aku akan bujuk Keira untuk mengantikanku menikah dengan Banyu. Kalau dia menolaknya, aku tinggal bilang aja kalau Kakek yang memintanya." Reina mengedipkan matanya beberapa kali.
"Boleh ya, Kek?" bujuk Reina setengah memohon.
Atmajaya menyentak nafasnya. "Baiklah. Tapi hanya kali ini saja. Dengan satu syarat," ucap Atmajaya seraya mengacungkan telunjuknya.
"Apa?"
"Abdi akan ikut bersamamu," ucap Atmajaya tegas.
"Tapi, Kek..."
"Jika kau menolaknya, maka kau tldak boleh pergi kesana. Bagaimana?"
Reina berdecak kesal, tapi tidak mampu untuk menolak syarat yang diajukan oleh sang kakek padanya.
"Baiklah, aku setuju."
***
"Berapa lama Nona akan pergi?" cicit Marta ketika ia membantu Reina menyiapkan segala keperluannya.
"Aku belum tau, mungkin satu minggu," jawab Reina asal.
"Apa Tuan Sanjaya sudah tahu?" tanya Marta dari ruangan walk in closet.
"Masih belum. Tapi Kakek yang akan memberi tahu Papa. Kau tenang saja," ujar Reina santai. Ia tengah berbaring di ranjangnya sambil memainkan ponsel pintarnya.
Marta keluar sambil menyeret koper anak majikannya itu dan meletakkannya di samping nakas agar Reina dapat menjangkaunya dengan mudah.
"Apa tidak ada yang tertinggal lagi? Kau harus memastikan semuanya dengan benar," ujar Reina.
"Tentu saja. Semua pakaian termasuk underwear sudah saya kemas secara terpisah. Ada lagi yang harus saya siapkan?" tanya Marta mencoba meyakinkan kembali keperluan anak asuhnya itu.
"Jangan lupa membawakanku sepatu ganti dan juga sendal. Aku tidak ingin memakai stiletto hanya untuk makan malam atau sekedar jalan-jalan di luar hotel. Itu melelahkan."
"Baiklah, akan aku siapkan."
Marta kembali masuk untuk mengambil beberapa pasang sepatu tambahan dan juga sendal untuk Reina. Ia sengaja mengemasnya di dalam koper terpisah bersama dengan slingbag dan tas jinjing mewah yang akan dipakai oleh Reina selama berada di Medan.
Setelah semuanya beres, Marta datang mendekat dan duduk di tepi ranjang.
"Nona," panggilnya lembut. Reina mendongak, memandang tepat ke dalam manik hitam Marta.
"Ada apa?" tanya Reina.
"Bagaimana kalau Tuan Sanjaya marah saat tahu Nona tidak ada di rumah?" Raut wajah wanita itu tampak khawatir.
"Dia tidak akan marah. Kalau pun dia marah, itu bukan ditujukan pada kalian tapi padaku. Katakan saja kalau Kakek yang mengizinkan aku untuk pergi ke Medan. Lagian, setelah aku pergi nanti, aku akan minta Kakek untuk memberitahunya," jelas Reina. Ia bisa melihat rasa takut terpancar dari kedua mata wanita itu.
"Bu Marta tenang aja." Reina mengusap punggung tangan Marta yang mulai terlihat keriput.
"Cepatlah kembali sebelum Tuan Sanjaya pulang ke rumah," mohon Marta.
"Akan aku usahakan, tapi aku gak janji. Asal urusanku sudah beres, aku akan langsung pulang. Lagi pula, Kakek meminta Pak Abdi untuk mengawasiku."
"Baiklah. Saya akan turun memberitau Pak Abdi untuk bersiap-siap." Marta berdiri, lalu pergi keluar dari kamar Reina.
Reina menatapi kepergian Marta hingga wanita itu menghilang di balik pintu. Setelah itu barulah Reina mulai membuka ponselnya lagi.
Beberapa notif pesan masuk muncul di layar. Reina membacanya satu persatu.
Banyu : [Hai, selamat malam juga.]
Banyu : [Maaf, aku baru membaca pesanmu. Aku baru aja selesai mandi.]
Banyu : [Aku akan menunggu kabar darimu. Jangan paksakan kalau dia menolaknya. Aku akan coba bicara pada orangtuaku dan semoga saja mereka mengerti.]
Reina segera mengetikkan pesan balasan untuk Banyu.
Reina : [Aku tidak akan memaksanya, hanya akan membujuknya. Doakan saja, semoga dia juga membalas cintamu.]
Reina : [By the way, aku akan berangkat besok pagi. Sampai jumpa satu minggu lagi.]
Reina memandangi layar ponselnya. Sudah hampir sepuluh menit berlalu, namun belum ada balasan dari Banyu. Hingga akhirnya Reina tertidur karena mengantuk.