Bab. 42

1320 Kata
Keira membelalak kaget ketika Alex tiba-tiba duduk di depannya. Ia sempat berpikir jika itu ulah cowok resek yang ingin kenalan dengannya. Sorot matanya berubah begitu tahu jika itu adalah Alex. "Kok kamu bisa ada disini? Kamu nguntit aku ya?" tuduh Keira. Tatapannya belum beralih dari Alex. "Aku nyariin kamu ke hotel. Gak taunya malah pergi berduaan sama supir jelek begini," tuding Alex pura-pura marah, seraya mencebikkan bibirnya. Sang supir yang merasa jadi kambing hitam hanya diam di bangkunya, melihat dua orang penting di hotel tempatnya bekerja sedang bertengkar. "Heh, kamu!" tunjuk Alex menakuti, "Setelah makan langsung balik ke hotel, biar Bu Keira sama saya aja." "I-iya, Pak." sahutnya gagap. "Untuk apa bicara seperti itu? Jangan coba menakuti orang! Aku gak mau pergi denganmu." Keira mendengus kesal seraya menjauhkan piring makannya. Mood makan siangnya langsung hancur. "Aku minta maaf. Kenapa sih kamu sensitif banget hari ini? Lagi datang bulan, ya?" tukas Alex. Mata Keira membulat lebar. Wajahnya merona merah karena malu mendengar ucapan Alex. "Kalau ngomong jangan suka asal! Mending kamu pergi aja deh, aku males ketemu sama kamu." "Jangan begitu. Aku bela-belain ninggalin istirahat siangku cuma buat ketemu sama cewek secantik kamu," goda Alex sambil tersenyum genit, membuat rona merah di wajah Keira semakin jelas terlihat. "Kamu kenapa, sih? Lagi ada masalah, ya? Aku bisa kok jadi pendengar kamu," tawar Alex. Melupakan keberadaan supir hotel yang masih duduk di sampingnya. Keira mendengus, membuang tatapannya ke arah lain. Sekarang ia mengerti kenapa Reina tidak ingin dekat-dekat dengan pria bernama Alex itu. "Udah selesai, belum? Ayo ikut denganku! Aku tau tempat yang cocok buat kamu." Alex berdiri lalu menarik lengan Keira untuk ikut bersamanya. "Kamu langsung balik aja ke hotel!" tudingnya pada lelaki yang ikut berdiri di sampingnya. Tanpa menghiraukan lelaki itu lagi, Alex dan Keira langsung keluar dari restoran dan masuk ke mobil Alex. "Kita kemana?" tanya Keira malas. Sama sekali tidak tertarik dengan apa yang Alex pikirkan. "Rahasia." Alex menyahut tanpa menoleh. Mobil menyala. Alex mengarahkan mobilnya keluar dari parkiran menuju jalan raya. Sedikitpun tak menghiraukan tatapan tajam Keira padanya. Tatapannya lurus menatap ke jalan raya, Alex membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Keira membuang pandangannya ke samping, keluar jendela. Ia tak perduli kemana mereka akan pergi asalkan suasana hatinya bisa lebih baik. Sudah sepuluh menit sejak mereka pergi tadi, hingga kini Keira masih belum tahu kemana Alex membawanya. Ia duduk dengan gelisah. "Kamu masih lapar?" Alex nyeletuk, memecah keheningan diantara mereka. "Apa?" Dahi Keira mengkerut. "Apa masih lapar? Aku masih belum makan siang karena buru-buru pergi mencarimu ke hotel." "Aku gak pernah menyuruhmu untuk datang!" tukas Keira sebal. "Aku tahu, tapi aku lapar. Temani aku makan siang, sebentar saja." Alex melirik Keira. Gadis itu sama sekali tidak menoleh. "Please..." mohon Alex. "Hmm." Alex tersenyum puas *** "Ayo turun." Alex membantu melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuh Keira. "Ngapain ngajak aku ke mall? Bukannya kamu bilang mau makan?" tanya Keira sinis, menatap Alex dengan curiga. "Iya, tapi aku mau makan di sini. Ada resto bagus dan makanannya itu enak banget. Kamu mesti coba. Ayolah..." pinta Alex. Ia berjalan mendahului Keira. Tempat itu ramai dipadati pengunjung, apalagi saat libur akhir pekan. Keira sampai kesulitan mengikuti langkah Alex diantara kerumunan pengunjung mall. "Alex!" panggil Keira. Beberapa pengunjung melihat ke arahnya, membuat Keira merasa malu. Ia berusaha untuk bersikap acuh dan tetap mengikuti Alex yang berada jauh di depan. Begitu pun dengan Alex, ia berpaling saat menyadari Keira tak berada di dekatnya. Pria itu menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang untuk mencari rekannya. "Sialan! Ada apa denganmu? Kamu sengaja 'kan ninggalin aku?" bentak Keira dengan mata melotot tajam. Tanganya menonjok lengan Alex dengan kuat untuk meluapkan kekesalannya. Ia tak perduli meski dipandangi oleh puluhan pasang mata. "Auch..." Alex meringis seraya mengusap lengannya. "Ada apa denganmu? Siapa yang meninggalkanmu?" sungut Alex. Keira mendengus kesal lalu mendorong tubuh Alex menjauh darinya. "Pergi sana! Aku juga gak butuh bantuanmu." Keira melangkah pergi ke arah yang berbeda. Pergi bersama Alex malah semakin menambah kekesalannya. "Bu Keira!" Alex menarik tangan gadis itu untuk menahannya agar tidak pergi. "Aku minta maaf," ucapnya. Keira menyentak nafasnya. Dia sudah cukup kesal dan juga malu saat ini. Keira akhirnya mengalah dan memilih untuk mengikuti Alex. Keduanya naik ke lantai tiga dan masuk ke dalam restoran favorit Alex. Keira terkesima untuk sesaat, tempat itu sama sekali di luar dugaannya. Di sana sangat tenang dan nyaman. Benar-benar menjaga privasi pengunjungnya, meski tidak meredam seluruh suara yang masuk ke dalam. Alex sengaja memilih meja di dekat jendela kaca agar Keira dapat melihat ke luar dengan bebas. Meja yang menjadi favorit Alex tiap kali ia datang ke sana. Seorang pelayan datang mendekat kala Alex mengangkat tangannya di atas kepala. Di tangannya membawa daftar menu dan juga nota kosong. "Kamu ingin makan apa? Aku yang traktir," tawar Alex seraya menyerahkan daftar menu. "Aku masih kenyang." Keira sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya. "Kalau gitu, aku pesankan minuman untukmu," usul Alex. "Terserah," sahut Keira malas. Netranya memandang ke luar jendela tanpa ekspresi. Si pelayan berjalan pergi setelah Alex selesai memesan makanan dan minuman untuk mereka. "Ada apa? Kamu bisa mempercayaiku, aku janji akan merahasiakannya." Alex mengangkat dua jarinya membentuk tanda V. Keira menghela nafasnya pelan. "Adikku akan menikah. Tapi tak seorang pun yang memberitahuku." "Siapa maksudmu? Reina?" cecar Alex. "Hmm..." "Kamu gak bercanda, kan?" Keira menggeleng. "Papa bahkan tak pernah membicarakannya denganku," lirihnya. Kedua netra hitamnya mulai berkaca-kaca. "Dari mana kamu tau kalau dia akan menikah?" tanya Alex gelisah. "Dari pelayan kepercayaan Papa." Keira hampir menangis. Kedua sudut matanya terlihat basah. Jika saja tempat itu adalah kamarnya, mungkin dia akan meraung sekerasnya. "Mungkin mereka lupa kalau aku adalah anak mereka," lanjut Keira lirih. "Mungkin karena aku tinggal jauh dari rumah, atau aku ini bukan --" Keira tak sanggup melanjutkan kalimatnya. "Bukan anak mereka," sambungnya dalam hati. Dadanya terasa begitu sesak. Ia menjatuhkan wajahnya, menyembunyikannya dalam lipatan tangannya di atas meja. Lalu mulai terisak. Alex yang merasa kasihan lantas mengusap kepala Keira dengan lembut. Ia mengerti rasanya saat diabaikan oleh semua orang, saat dilupakan oleh semua orang. Kecewa. Seperti yang dirasakannya saat Reina mengabaikan permintaannya terakhir kali. Padahal, Alex telah menyiapkan semuanya. Bahkan dia berencana untuk mengenalkan gadis itu pada keluarganya. Alex terpaksa menelan rasa kecewa. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Mungkin mereka sedang sibuk atau tidak ingin menambah beban pikiranmu aja. Mereka tau kalau kamu memiliki tugas penting sekarang, jadi... think positively." Alex berusaha membujuk gadis itu. Tetapi usahanya gagal. Keira tetap saja menangis meski dengan suara tertahan. Percakapan itu terjeda ketika pelayan datang untuk mengantarkan pesanan mereka. Alex tersenyum garing. "Minumlah dulu, biar kamu lebih tenang." Alex menyodorkan segelas jus jeruk dingin. Keira mengangkat kepalanya, wajahnya sembab dan pipinya basah. Keira menyeka wajahnya dengan tisu yang diambilnya dari atas meja. Matanya terlihat bengkak meski tak lagi meneteskan air mata. "Kapan dia menikah?" tanya Alex hati-hati setelah Keira tenang. "Tak sampai dua bulan." Keira menyeka hidungnya. "Yang benar saja!" Alex menepuk meja, mengagetkan pengunjung lain yang duduk di dekat mereka. Sama halnya dengan Keira, gadis itu ikut membelalak kaget. "Bisa tenang gak, sih? Gak usah bikin kaget kayak gitu!" "Dengan siapa? Dengan laki-laki yang datang ke hotel waktu itu? Apa itu benar?" cecar Alex merasa tkesal. Keira menggeleng. "Aku udah bilang, aku gak tau." Rasa sesal kembali menyeruak ke dalam hati Keira. Seandainya saja waktu itu..... "Asal kamu tau, Kei... aku menyukai adikmu sejak pertama kali melihatnya di hotel. Aku sempat berpikir, suatu hari ingin mengenalkannya pada keluargaku." Alex tersenyum miris. Hatinya benar-benar terluka. Makanan di depannya didiamkan saja. Alex hanya mengaduknya tanpa memakannya. Rasa laparnya mendadak hilang. Keira ikut merasa prihatin melihat lelaki di depannya. "Kenapa tidak bilang pada Reina kalau kamu menyukainya?" cetus Keira. "Sudah kulakukan." "Terus?" "Dia tidak menyukaiku." Alex menghembuskan nafasnya panjang. Teringat reaksi Reina saat bertemu dengannya. "Kenapa tidak mencobanya lagi? Aku pikir --" "Gak mungkin." Alex memotong dengan cepat. Keira memalingkan wajahnya ke luar. Memandangi orang-orang yang lalu lalang sedang tertawa bahagia. "Rasanya aku ingin segera pulang ke rumah," gumam Keira. Alex tak menghiraukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN