Bab. 49

1414 Kata
Keira tersentak kaget. Ponsel dalam saku celana panjangnya bergetar menggelitik tubuhnya. Iupa telah men-silent benda pipih itu sebelum keluar dari kamar. "Halo,"sahutnya datar. "Nona, bagaimana kabarnya?" Di ujung sana terdengar suara wanita menyahut dengan suara pelan. "Bu, Marta? Ada apa? Kenapa tiba-tiba telpon?" cecar Keira dengan perasaan tak tenang. "Apa Nona Reina ada di situ? Apa dia baik-baik aja?" Wanita itu sepertinya sedang mengkhawatirkan sesuatu. Keira sadar, telah terjadi sesuatu di rumah. "Kami baik-baik aja. Reina sedang tidur sekarang. Ada apa, Bu Marta?" Keira mencoba tenang, meski sebenarnya pikirannya berkecamuk. "Mm, begini... bisakah Nona membujuk Nona Reina untuk pulang? Tuan dan Nyonya sudah kembali ke rumah, mereka menanyakan dimana Nona Reina sekarang." Kepala pelayan itu bicara dengan takut-takut. "Papa dan Mama sudah pulang? Kapan?" Keira ikut panik. Jantungnya berdetak, memompa lebih cepat dari sebelumnya. "Mereka baru sampai. Saya belum mengatakan dimana Nona Reina, karena dia berjanji untuk meminta Tuan Besar Kesuma membantunya menjelaskan pada mereka." Marta menjelaskan dengan cepat, seperti ada yang sedang mengejarnya. "Jika mereka bertanya, katakan saja bahwa bu Marta tidak mengetahuinya, hanya Kakek Kesuma yang tahu dimana Reina. Bu Marta harus bisa bantu Reina kali ini," anjur Keira. Untuk saat ini, tidak ada pilihan lain selain berbohong. "Baiklah. Kalau gitu, telponnya saya tutup dulu, takut jika sampai Nyonya melihat saya di sini." "Ya." Begitu panggilan telpon terputus, Keira bergegas kembali ke kamar. Dengan setengah berlari, Keira mengejar lift yang akan membawanya ke lantai atas. Pikirannya campur aduk. Berkali-kali gadis itu mengumpat pada lift yang bergerak begitu lamban disaat dirinya harus kembali ke kamar secepat mungkin. Keira gelisah. Ia tak menyangka kedua orang tua itu akan kembali ke rumah dalam waktu cepat, padahal Reina baru menginap satu malam bersamanya. "Tunggu sebentar! Mereka kembali bersama? Apa maksudnya ini? Apa Papa pergi hanya untuk membawa Mama pulang ke rumah? Apa benar begitu?" Gumam Keira. Tubuhnya limbung ke belakang, bersandar pada dinding besi yang terasa dingin ketika menyentuh kulit. Pintu lift terbuka lebar, tepat di tombol angka yang menyala kuning. Keira melangkah keluar sambil bertumpu pada dinding. Kamar president suit tempatnya menginap, terasa jadi begitu jauh. Dirinya harus berjuang untuk menyusuri lorong panjang di depan mata. Keira menempelkan kartu pada pintu, lalu mendorongnya pelan dan masuk ke dalam kamar tanpa suara. Karpet merah yang menutupi seluruh lantai meredam suara langkahnya. Gadis itu tertegun di depan pintu kamar tidurnya. Adiknya masih tergolek di atas ranjang king size, terbungkus selimut yang menghangatkan tubuhnya dari hawa dingin penyejuk ruangan. "Rein." Keira mengguncang tubuh gadis itu pelan. Ia menarik turun selimut itu hingga sebatas d**a. Gadis di bawahnya masih memejamkan mata. "Rein, bangun!" Keira mengguncang sedikit lebih kuat. Reina menggeliat kesal. "Reina!" teriaknya kesal. Reina terpaksa membuka matanya, tapi tak banyak bergerak demi untuk menahan denyut di kepalanya. "Apa?" sahutnya lemah. "Kamu harus bangun sekarang!" desak Keira tak sabar. "Kepalaku sakit. Ada apa? Kenapa kau panik?" "Aku ingin tanya, apa kamu sudah menelpon Kakek Kesuma?" "Untuk apa?" Dahi Reina berkerut hingga kedua alisnya hampir menyatu. "Mengingatkannya untuk memberi tahu Papa kalau kamu pergi dari rumah,"ucap Keira. Reina menggeleng pelan. "Aku lupa. Kenapa?" Suara dengusan nafas Keira terdengar kuat menyahut pertanyaan Reina. "Kamu harus menelponnya sekarang, Rein. Papa dan Mama sudah baru aja pulang ke rumah?" Keira terlihat panik. "Hah?" Mata coklat itu membelalak kaget. Reina sama terkejutnya dengan dirinya. "Dimana ponselku? Apa kau melihatnya?" Reina memaksa tubuhnya untuk bangun. Keira dengan cepat meletakkan sebuah benda pipih dalam genggaman adiknya. "Ini! Pakai ponselku saja," ujarnya. Reina terlihat ragu, tetapi hal itu tak berlangsung lama. Jari jemarinya dengan cepat menekan rangkaian angka, lalu melakukan panggilan suara. Keduanya saling menatap, menunggu panggilannya tersambung. Untuk beberapa saat, mereka hanya mendengar dering sambungan telpon. "Halo." Seseorang di ujung sana menyahut panggilannya. "Aku ingin bicara dengan Kakek, tolong sambungkan dengannya sekarang." Suara dingin Reina menjawab penuh penekanan. "Baik, Nona." Beberapa saat kemudian, kembali terdengar dering sambungan tetapi hanya sebentar. Karena seorang lelaki di ujung sana langsung bersuara. "Halo? Ini siapa?" tanya lelaki itu. "Kakek, ini Reina." Gadis itu langsung mengabsen namanya agar dikenali. "Bagaimana kabarmu? Setelah sampai di sana, kau langsung melupakan Kakek." "Jangan bicara seperti itu, Kakek. Aku bukan melupakanmu. Hanya saja, aku merasa euforiaku belum hilang setelah bertemu dengannya," sahut Reina tenang. "Apa kau sudah bicara dengan Kakakmu? Bagaimana tanggapannya?" Kedua kakak beradik itu saling pandang. "Aku sudah bicara dengannya dan dia setuju." "Benarkah? Ini adalah kabar baik. Semoga Tuhan melancarkan semuanya," ujar Atmajaya memanjatkan doa. "Amin." Kedua gadis itu menyahut bersamaan. "Omong-omong, apa Kakek sudah memberitahu Papa jika aku sedang bersama Keira?" tanya Reina kemudian. "Kakek belum memberitahunya. Ada apa, Nak?" "Keira bilang, Papa dan Mama sudah kembali ke rumah sore ini. Orang di rumah baru saja menelpon," jelas Reina. "Ooh..." Lelaki tua itu tertawa. "Tenanglah, Kakek akan menjelaskan pada anak bodoh itu. Kalian jangan khawatir, Kakek akan membuat mereka diam." "Apa Kakek juga akan memberitahu Papa bahwa Keira akan menggantikanku?" "Oh, itu pasti. Aku akan membuatnya mengerti bahwa kedua anak muda itu saling menyukai dan setuju untuk menikah. Jika urusanmu sudah selesai, sebaiknya kau segera pulang." "Iya, tentu saja. Aku akan segera pulang, tapi tidak sekarang karena aku masih punya urusan lain di sini. Beri aku sedikit waktu, Kakek." "Baiklah. Tepati janjimu," ucapnya menuntut. "Aku janji." Panggilan itu berakhir dari pihak Atmajaya. Dan ponsel itu telah kembali kepada pemilik aslinya. "Sepertinya kamu harus cepat, Rein. Kamu harus memulainya dari Alex, jika tak ingin pulang dengan tangan kosong." Reina mendesah lirih. "Apa boleh buat." "Cepatlah! Kita harus bersiap sekarang, satu jam lagi Alex akan datang menjemput." "Kei, apa kau yakin akan mengajak Pak Abdi bersama kita?" Satu anggukan pelan dari Keira adalah jawabannya. Tentu saja. "Ya sudah. Kau duluan saja, aku masih ingin tiduran sebentar lagi." Reina merebah lagi dan menutup matanya rapat. *** Tepat jam tujuh malam, pintu kamar diketuk oleh seseorang dari luar. Keira bergegas menuju pintu hendak membukanya. Ia menarik nafas dalam-dalam, menyiapkan dirinya menghadapi seseorang yang sedang menunggu di balik pintu. Menyiapkan sandiwara terbaik agar Reina mendapatkan apa yang diinginkannya. Perlahan, Keira membuka knop pintu kamar mereka. Sepasang iris mata hitam memandang ke arahnya dengan senyum simpul menghias wajahnya. Keira memandangnya dari atas hingga ke bawah, lalu mengulum senyumnya. Sebuah buket mawar merah menarik perhatian Keira. "Bunga itu?" "Oh, ini..." Alex tersipu ketika bunga di tangannya menjadi objek perhatian. "Aku membelinya sebelum datang ke sini. Apa dia suka?" Keira mengedikkan bahunya. "Berikan saja, dia pasti suka." "Kita berangkat sekarang?" tanya Alex. Keira memberi penegasan. Ia mengangguk mengiyakan ajakan lelaki itu. "Aku panggilkan Reina dulu. Silahkan masuk." Alex mengikuti Keira masuk dan duduk menunggu. Ia terkesima dengan desain kamar president suit, tempat tinggal kedua gadis itu. Ruangan itu lebih luas dari kamar yang lain, seperti di desain khusus untuk ditinggali oleh petinggi hotel bersama keluarga mereka. Terdapat area living room, mini bar, serta kamar mandi yang menyatu dengan walk in closet, berhadapan dengan kamar tidur. Kamar itu lebih mirip dengan apartemen dari pada kamar hotel. "Eheem." Suara deheman mengejutkan Alex. Namun dengan cepat ia pulih dari keterkejutannya lalu berpaling. Dua orang gadis yang sama cantiknya sedang berdiri tak jauh darinya, membuatnya kembali terpaku. "Hei!" panggil Keira sambil melambaikan tangannya. "Alex!" pekik Reina. "Jadi pergi gak, sih? Buruan, aku udah laper." Gadis itu berbalik pergi, menggandeng Keira keluar dari kamar. Dengan tergesa Alex berlari keluar, mengejar keduanya hingga ke depan pintu. Ia hampir melupakan buket mawar yang ia siapkan untuk Reina. "Ini untukmu." "Bunga? Makasih," ucap Reina tulus seraya tersenyum. "Kamu cantik seperti bunga itu, jadi aku sengaja memilihnya untuknya. Aku harap kamu menyukainya." "Aku suka kok. Ini pertama kalinya ada cowok yang memberiku bunga. Makasih, ya." "Hmm, u're welcome." "Hei, kalian! Mau ngobrol apa mau pergi makan? Ayo, buruan!" sungut Keira. Reina mempercepat langkahnya,, bersama Alex di sisinya, mengejar Keira yang telah mendahului mereka masuk ke dalam lift. "Kalau kalian mau pacaran, jangan sekarang. Nanti aja setelah makan malam," sindir Keira seraya menahan senyumnya. "Apaan sih, Kei... siapa yang pacaran?" kilahnya. Satu cubitan tipis mendarat di pinggang Keira, membuat gadis itu memekik kaget. Alex dengan cepat memisahkan keduanya, dengan menarik Reina berpindah ke sisinya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Reina. Membawa gadis itu merapat dengan tubuhnya. Perlakuan Alex yang tiba-tiba, membuat Reina berhenti bernafas sepersekian detik ketika menyadari tubuhnya kini berada dalam pelukan pria itu. Dirinya bahkan bisa mencium aroma musk yang maskulian menguar dari tubuh Alex. Refleks, tangan Reina mendorong tubuh Alex pelan. Namun Alex menahannya, membuat Reina merona karena malu. "Lex, please." Tatapan Reina sayu. "Maaf." Alex melepas tangannya, merelakan Reina merenggut rasa hangat yang baru tercipta beberapa saat lalu. Sementara Keira memilih diam tak berkomentar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN