Bab. 48

1383 Kata
Alex keluar dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan santai mendekati dua gadis yang saling merangkul di lobi hotel, dan duduk di hadapan keduanya. Sebuah meja persegi berukuran besar menjadi pemisah. "Kenapa kalian berdua selalu saja meninggalkanku sendirian?" Alex mengoceh, membuat dua gadis itu saling pandang lalu tertawa bersama. "Kenapa? Apa kau keberatan? Kalau tidak suka, lebih baik pergi saja," celetuk Reina. Suasana hati Reina telah kembali seperti semula. Setiap bertemu, keduanya pasti selalu bertengkar, dan berujung pada kesalah pahaman. "Bukan begitu. Pertama kamu yang pergi. Setelah itu, kakakmu juga pergi meninggalkanku. Di sana aku bengong sendirian seperti orang bego, sementara kalian di sini malah enak-enakan pelukan berdua sambil tertawa bahagia. Apa kalian gak merasa bersalah udah ninggalin cowok setampan aku di kantor itu sendirian?" sungut Alex seraya mencebikkan bibirnya. "Terus kamu maunya apa? Mau ikutan pelukan? Ogah! Kamu itu bukan pacarku." Keira melayangkan cibirannya. "Nih, kalau mau pelukan, mending sama Reina aja!" Keira membawa adiknya dan mendudukkannya di samping Alex. "Kei..." Mata Reina melotot tajam. Merasa syok dengan kelakuan kakaknya yang seakan sedang menawarkannya pada lelaki hidung belang. "Udah, aku gak mau ganggu kalian. By the way, urusan kita masih belum selesai." Keira menuding Alex tepat di depan wajahnya. "Mm." Alex mengangguk mengiyakan. Gadis itu melangkah pergi dari sana tanpa menghiraukan tatapan kesal adiknya. Ulahnya memang sedikit ketelaluan, tapi setidaknya Keira tahu bahwa Alex adalah pria yang baik. Kini, hanya tinggal Reina yang duduk bersinggungan dengan Alex. Gadis itu merasa risih, sebab beberapa tamu serta staf hotel melihat kelakuan mereka sejak tadi. Namun Reina pura-pura acuh. "Apa kamu sekarang kamu mau menerima tawaranku?" Pertanyaan Alex menyadarkan Reina bahwa laki-laki itu serius ingin menjalin hubungan dengannya. Merasa terjebak dengan rencananya sendiri, Reina berusaha memikirkan jalan keluar secepat mungkin. Atau dia akan benar-benar terjebak bersama Alex. "Akan aku pikirkan," sahut Reina, berusaha mengulur waktu. Setidaknya dirinya harus punya alasan yang tepat agas bisa mendapatkan benih dari Alex tanpa terjebak berasamanya sebagai istri. Alex menyetujuinya, lagi pula ia tak ingin membuat gadis itu berubah pikiran karena terus didesak olehnya. "Apa kamu sudah menerima hadiah dariku?" tanya Alex "Menerima hadiah?" Reina mengulang pertanyaan pria. Kepala Alex terayun naik turun. "Waktu itu aku memberikanmu gaun dan juga kalung berlian dalam kotak terpisah." Alex coba mengingatkan gadis itu. Syok. Itulah yang Reina rasakan saat ini. Ia berpikir bahwa semua hadiah itu merupakan pemberian Banyu. Saat itu bertepatan dengan kedatangan Banyu di hotel Santika Kesuma. "Benarkah? Aku pikir itu..." Reina tak berani menyambung kalimatnya. Karena saat ini yang dirasakannya adalah malu. "Kamu pikir, pria itu yang telah memberikannya padamu?" Reina menunduk, menyembunyikan rasa malu dari pemilik asli hadiah yang ia terima. "Padahal waktu itu aku berpikir bahwa kamu akan memakainya malam itu dan turun menemuiku di lobi ini sesuai petunjuk di kartu." Suara helaan nafas terdengar dari sosok Alex. Reina mengangkat wajahnya yang kini berubah merah karena merasa malu. "Untuk apa semua hadiah itu? Padahal sudah sering aku katakan kalau aku tidak menyukaimu," keluh Reina. "Kenapa masih mengejarku? Kenapa tidak menyerah aja?" Alih-alih merasa tersinggung, Alex justru tertawa. "Dasar gadis bodoh! Jika ada pria yang benar-benar serius menyukai seorang gadis, dia akan berjuang untuk memdapatkannya." Alex kemudian berkats, "aku benar-benar menyukaimu. Sejak melihatmu di lift waktu itu, aku pikir kamu sama seperti gadis lainnya. Dan ternyata aku salah, kamu sangat berbeda." Reina tersipu malu. "Tentu saja berbeda. Aku ini bukan tipe gadis penggoda om-om genit yang hobi menghamburkan uang demi cewek-cewek cantik." Reina beralasan. Tapi itu masuk akal. Karena Reina bukan tipe cewek penyuka om-om seperti Alex. "What? Jadi maksud kamu, aku ini om-om genit?" "Iya. Dasar om-om genit," ejek Reina sambil tertawa lebar. Seketika kebekuan di antara mereka mencair. "Tapi aku genitnya cuma sama kamu." Alex membela diri. Tapi tak mampu meredakan suara tawa Reina yang terlanjur pecah. Perlahan Alex meletakkan tangannya di bahu Reina, membawa gadis itu dalam rangkulannya. "Rein, mau kan menikah denganku?" Suara tawa Reina mendadak lenyap. Suasana kembali kaku dan hening. "Beri aku waktu untuk berpikir," jawab Reina datar. "Setidaknya, beri aku waktu untuk melihat dan menilai keseriusanmu. Mungkin aku akan mempertimbangkannya." "Berapa lama? Berapa lama yang kamu butuhkan untuk menilaiku?" cecar Alex. Jika bisa di ungkapkan, Reina benci tatapan itu. Dirinya benci di desak dan disudutkan seperti saat ini. Terlebih, Reina memang tidak berniat untuk menikah. Tapi iia sudah terlanjur menyulut api. "Tunggu saja," sahut Reina datar, dengan senyum yang agak dipaksakan, membingkai wajah cantiknya. *** Duduk bersandar di kepala ranjang dengan kedua kaki di tekuk, Reina mengoceh tanpa henti. Wajahnya cemberut sejak pertemuannya dengan Alex berakhir di depan kamar president suit tempat di mana Reina menginap. Sementara Keira harus menebalkan kupingnya, duduk di depan meja rias sambil berpangku tangan. Ia melihat perilaku aneh adiknya sejak dirinya kembali ke kamar setelah menyelesaikan pekerjaannya. "Bisa tenang gak, sih? Ada apa lagi? Ceritakan padaku biar aku tau apa masalahnya!" Keira mencebik kesal, mendengar ocehan Reina yang tak putus-putus disaat dirinya merasa begitu lelah dan butuh istirahat. "Kesal, kesal, kesal! Dia selalu saja menanyaiku soal menikah, gimana aku bisa tenang, coba? Sejak kau pergi tadi sampai dia pulang, entah sudah berapa kali dia menanyakan itu. Gimana sekarang? Gimana caranya aku bisa dapatkan benihnya kalau dia aja terus-terusan mendesak aku kayak gini? Gimana coba, cara memberitahunya kalau aku gak mungkin nikah sama dia? Dia itu om-om, Kei! Udah aku bilang, aku gak ingin menikah. Titik!" "Trus, gimana? Dimana kamu mau cari cowok yang rela ngasih benihnya gitu aja tanpa nidurin kamu? Gak ada cowok yang mau, Rein. Untuk sementara, plihan kita cuma Alex." Reina mengacak-acak rambutnya. "Aku juga awalnya mikir kayak gitu. Tapi makin kesini, aku malah makin gak yakin, Kei." Keira mendengus, membuang nafasnya kuat. "Jadi kamu maunya gimana? Ngoming jujur sama Alex, gitu?" "Entahlah, mungkin aku mau usaha nyari benih itu sendiri di luar sana. Siapa tahu ada cowok yang butuh uang, mungkun bisa aku manfaatin?" "Dasar gila! Jangan sembarangan seoerti itu, Rein! Itu gak semudah yang kamu bayangkan," keluh Keira. "Kalau gitu, kau harus membantuku mencari pendonornya." "Oke. Tapi kamu harus janji padaku, jangan sembarangan mendekati laki-laki yang gak kamu kenal." Rasanya ingin sekali Keira mengikat gadis itu dan menguncinya dalam kamar agar tidak melakukan perbuatan bodoh seperti yang baru dikatakannya. "Oke, aku janji. Lagi pula, waktuku terbatas. Aku harus sudah kembali sebelum Papa menyadari kalau aku tidak ada di rumah," sahut Reina. "Satu hal lagi," sambung Reina, "tolong rahasiakan ini dari siapa pun, termasuk Kakek. Saat ini keadaan beliau kurang baik. Aku gak mau kabar ini membuat penyakit jantungnya kambuh." Nada suaranya melemah. Reina menarik nafas panjang. "Kapan kamu balik ke Jakarta?" "Satu minggu dari sekarang," jawabnya lemah. Membayangkan pulang dengan tangan kosong membuat Reina putus asa. "Masih ada waktu, aku akan bantu sebisaku." Keira menangkup tangan adiknya dan menggenggamnya erat. Berusaha menyalurkan semangat yang masih mengalir dalam nadinya. "Kita selesaikan satu per satu. Aku akan terus mendukungmu, Rein, sebagai seorang kakak." Keira tersenyum getir. Sebutan kakak serasa menggelitik hatinya, kini terdengar begitu asing di telinga. Statusnya sebagai putri sulung Sanjaya Kesuma bagaikan fatamorgana. Begitu menyejukkan sekaligus menyiksanya perlahan. Entah sampai kapan sebutan itu akan tersemat padanya, Keira tak berani berspekulasi. Ini bukan tentang bisnis atau uang yang sedang dikelola olehnya. Ini tentang status dan posisi, juga menyangkut hati dan perasaan. "Omong-omong, Alex mengajak kita makan malam bersama. Dia akan datang untuk menjemput kita dua jam lagi. Jadi, tolong bersiaplah. Aku juga akan mengajak Pak Abdi untuk ikut bersama kita." "Mm... terserah padamu. Aku ingin tidur sekarang, kepalaku pusing." Reina merebahkan tubuhnya, menutupnya dengan selimut hingga wajahnya pun ikut tenggelam. "Rein," panggil Keira. Ia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu memang tidur dan bukan ingin mwnghindarinya. Melihat tak ada pergerakan dari bawah selimut, Keira meninggalkannya sendirian di kamar. Ia memilih menyingkir ke area kolam renang dan duduk termenung di sana. Beberapa orang masih bertahan sambil menikmati sore hari bersama teman dan keluarga mereka. Sementara yang lain bersiap kembali ke kamar masing-masing ketika tubuh mulai gemetar kedinginan. Ada senyum dan rona bahagia terpancar di sana. Keira merasa iri. Sekali pun tak pernah merasa sebahagia itu. Sejak kecil hingga dewasa, Keira selalu sendirian. Terkadang iri melihat teman-teman sekolahnya yang selalu diantar-jemput oleh orang tua mereka. Menjadi bahan ejekan orang lain sudah menjadi makanan sehari-hari. Meski pun begitu, Keira tak pernah mengeluh, apalagi menangis. Tapi sekarang, dirinya butuh bahu seseorang untuk tempatnya menangis. Butuh dukungan untuk membuatnya sekuat dulu. Butuh motivasi agar dia kuat menghadapi dunia. Seperti dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN