Bab. 47

1341 Kata
Segalanya menjadi lebih baik sekarang. Reina selalu tersenyum bahagia. Hal yang sama pun dirasakan juga oleh Keira. Dua kakak beradik kembali akrab melebihi sahabat. Entah sejak kapan semuanya berubah. Keira yang dulu layaknya asisten yang galak bagi Reina Kesuma dalam segala hal. Namun kini ia menjelma sebagai peri baik yang berhati lembut. Berpindahnya Keira ke kota Medan, perselisihan diantara dua gadis itu, kenyataan pahit tentang siapa sebenarnya Keira di tengah keluarga besar Kesuma, serta berita pernikahan Reina yang terdengar dari mulut seorang pelayan. Semua itu berhasil menciptakan jarak di antara dua kakak beradik. Itu dulu. Sekarang? Semuanya telah kembali membaik. Bahkan lebih dari sekedar baik-baik saja. Reina yang kekanakan telah menjelma menjadi wanita dewasa. Mengerti mengambil keputusan dan tidak lagi cengeng seperti beberapa minggu lalu. Bangga? Tentu saja. "Boleh aku ikut dengamu?" Pertanyaan yang sederhana, justru membuat Keira merasa heran. Sejak kapan adiknya perduli pada sesuatu yang berbau pekerjaan kantor. Reina bahkan enggan untuk menginjakkan kaki di kantor ayahnya. "Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa aku salah bicara?" tegur Reina yang tak senang dipandangi intens oleh sang kakak. Keira langsung mengalihkan pandangannya, kembali fokus untuk merias wajahnya. Sesekali ia mencuri pandang lewat cermin di depannya. "Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan kamu tertarik untuk melihatku bekerja?" tanyanya curiga. "Aku hanya ingin melihatmu, apa tidak boleh?" kelit Reina. Padahal jelas sekali jika dirinya hanya ingin bertemu dengan Alex. Tentu saja, karena pria itu pasti akan berada di sana pagi ini untuk bertemu Keira dan membahas banyak hal dengannya. Reina langsung memilih pakaian yang akan ia pakai. Apapun yang akan Keira katakan, gadis itu tetap akan pergi ke sana. "Terserah kamu. Asal jangan mengganggu pekerjaanku." Keira coba memperingatkan. Ia meraih tas dari atas nakas serta memakai sepatu. "Aku tunggu di bawah untuk sarapan. Jangan lama-lama." Keira beranjak berdiri lalu pergi dari sana tanpa menunggu Reina bersiap. Reina hanya diam tak menyahut. Tangannya terus bekerja, memilih pakaian yang cocok untuk dipakai. Ia mulai menggerutu karena Marta sama sekali tak menyiapkan pakaian formal untuknya, sesuai permintaannya. Padahal saat ini Reina sangat membutuhkan pakaian itu. "Hanya butuh memadu-padankannya saja," cicit Reina. Ia harus cepat atau Keira akan mendahuluinya untuk sarapan. Akhirnya, tube jumpsuit yang dipadu dengan blazer menjadi pilihan Reina. Setidaknya pakaian itu lebih 'sopan' dibandingkan dengan pakaian lain yang ia miliki di lemarinya. Reina buru-buru mengenakan pakaiannya. Kemudian mencepol rambutnya tinggi dan memoles wajahnya dengan riasan tipis. Reina tersenyum puas. Bayangan dirinya di dalam cermin membuatnya bangga. Ia bersyukur karena kepala pelayannya memasukkan beberapa tas serta sepatu yang bisa ia gunakan. Gadis itu bergegas keluar kamar. Ia menekan tombol lift dengan tidak sabaran. Saat lift tiba di lantai bawah, ia bergegas keluar dan berjalan dengan langkah besar menuju restoran untuk sarapan bersama Keira. "Apa kau sudah memesan?" Keira menoleh ketika mendengar suara adiknya tepat di belakangnya. "Duduklah! Aku sudah memesan, sekalian untukmu juga," ujar Keira. Ia menarik lengan Reina untuk duduk di dekatnya. Gadis itu mengulas senyumnya lebar ketika pelayan datang untuk mengantarkan pesanan mereka. "Terima kasih," ucap Keira tulus, saat pelayan telah menyajikan seluruh hidangan di atas meja. "Kenapa ada tiga piring di sini?" celetuk Reina. "Kau tidak salah pesan, kan?" tanyanya memastikan. "Itu untuk Pak Abdi. Dia permisi ke toilet sebentar," sahut Keira santai. "Ooh." Reina mengangguk paham. Keduanya langsung menyantap makanan mereka dalam diam. Mereka sama sekali tak terganggu dengan kehadiran orang tua itu. "Selesai sarapan, Pak Abdi boleh balik ke kamar atau duduk di mana aja yang Bapak suka. Saya akan langsung telpon kalau butuh bantuan Bapak," ujar Keira. Orang tua itu balas mengangguk. "Baik, Non." *** Reina duduk santai bersandar di sofa dalam ruang kantor Keira. Memainkan ponselnya untuk menghilangkan rasa jenuh. Tak ada yang dapat dilakukan olehnya selain hanya duduk menunggu. Sementara di sudut lain ruangan itu, tampak Keira sedang duduk di kursi kebesarannya bersama seorang pria yang duduk di seberang meja kerjanya. Keduanya tengah berbicara serius dan membahas banyak hal. Reina tak bisa mendengar dengan jelas karena mereka berbicara dengan suara pelan. Hanya sesekali keduanya tertawa bersama, lalu kembali lagi dengan raut wajah serius. "Apa kamu yakin?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Alex kala keduanya berjalan ke arah Reina dan duduk bersamanya di sofa. "Tentu saja. Aku ingin memberikanmu kesempatan. Pergunakan itu dengan baik," ujar Keira. Gadis itu tersenyum saat Reina mendongak menatapnya. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Reina saat melihat keduanya saling melempar pandang, seakan merahasiakan sesuatu darinya. "Tidak ada. Hanya membahas masalah pekerjaan. Aku akan tinggalkan kalian sebentar, Pak Robert membutuhkan bantuanku di ruangannya." Keira kembali berdiri. "Aku titip adikku sebentar. Tolong jaga dia untukku." Keira menoleh pada Alex sesaat sebelum ia keluar dari ruang kantornya. "Oke." Pria itu mengangkat jempolnya ke udara. Alex lantas tersenyum saat melirik Reina yang duduk di sampingnya. Suasana berubah hening sepeninggal Keira beberapa saat lalu. Dua insan berlainan jenis itu hanya saling mencuri pandang tanpa berani membuka percakapan. Reina menahan dirinya, menunggu Alex yang memulai seperti sebelumnya. Tetapi lelaki itu seakan ragu untuk bicara. "Eheem..." Reina berdehem pelan. Ia mencoba menguasai debaran di jantungnya yang berdetak kencang. "Bagaimana kabarmu?" tanya Reina akhirnya. Ia merindukan pria itu. "Aku baik. Ku dengar kalau kamu akan segera menikah. Apa itu benar?" Suaranya sedikit bergetar. Reina tersentak kaget. Ia merutuki kebodohan Keira. Bisa-bisanya sang kakak membahas masalah keluarga dengan orang asing. "Jangan percaya apapun yang kau dengar! Semua itu belum tentu benar," ucap Reina membela diri. "Oh ya? Lalu apa yang benar?" pancing Alex. "Itu... sebenarnya aku tidak akan menikah dengan siapa pun," kilah Reina. Wajahnya terlihat sedikit panik, dengan semu merah di pipinya. "Benarkah? Apa itu artinya aku masih punya kesempatan?" tembak Alex langsung pada intinya. "Apa? Maksudnu?" Reina membelalak kaget. Dia pikir, Alex sudah tidak menyukainya lagi. Itu artinya, tidak akan sulit untuk mengajak Alex bekerja sama agar dia bisa mencapai obsesinya. Pikir Reina. Ia tersenyum tipis. Sangat tipis hingga Alex tak melihatnya. "Aku pernah bilang kalau aku menyukaimu, kan? Aku tidak bohong. Aku masih menyukaimu, Rein." Alex menatapnya teduh. "Apa kau sadar? Kau itu..." Reina memotong kalimatnya. Ia memperhatikan Alex dari atas sampai ke bawah. Tampan. "Tua? Apa itu yang ingin kamu katakan tadi?" "Sial!" Reina mengumpat dalam hati. Tua? Kata-kata itu bahkan tak ada di ujung bibirnya. Reina menggeleng cepat, sebelum Alex salah sangka padanya. "Bukan!" jawab Reina cepat. "Bukan itu yang ingin aku katakan tadi." Alex mengerutkan keningnya. "Lalu, apa?" Lelaki itu mengunci Reina dengan matanya. Reina menunduk karena gugup. Debaran di jantungnya semakin keras menghentak rongga dadanya. Jika mereka duduk berdekatan, mungkin saja Alex dapat mendengar detak jantungnya yang kuat itu. "Rein, apa kamu mau menikah denganku?" Deg. Detak jantung Reina yang tadi cepat seolah berhenti seketika. "Apa? Harusnya tidak seperti ini. Aku tidak ingin menikah dengannya!" Reina membatin. Kedua matanya melotot lebar. *** "Dasar bodoh! Kenapa kamu lari begitu aja? Harus kamu tetap bertahan di sana!" ujar Keira ketus. Ia menjatuhkan pantatnya di samping Reina dan menyandarkan tubuhnya pada sofa empuk di lobi hotel. "Jangam mengejekku!" rungut Reina. "Aku tau, kau sengaja melakukan itu." Keira tertawa pelan. "Aku melakukannya untukmu, asal kau tahu." "Kenapa? Apa yang sedang kau rencanakan untukku? Mencarikanku pasangan, hanya karena aku memberitahumu kalau aku tidak ingin menikah?" sembur Reina tajam. Ia menyentak nafasnya kesal. "Gadis bodoh! Bukan itu maksudku." "Lalu apa?" "Aku sedang membantumu untuk mendapatkan anak dari Alex," ucapnya setengah berbisik. "Gila! Dengan menikahi dia, maksudmu? Gak akan!" tampik Reina. Keira mencubit lengan gadis itu, membuat Reina meringis sakit. "Aduh! Apaan sih, Kei?" ringis Reina. Ia mengusap lengannya yang terasa sakit. "Makanya dengarin dulu," sahut Keira kesal. "Jika Alex mencintai kamu, dia pasti akan bersedia memberikan apapun untukmu, termasuk benihnya. Kamu paham, kan?" Reina menganggukkan kepala. Ia tidak pernah menyangka kalau Keira akan melakukan hal itu untuk mendukungnya. Gadis itu merasa terharu. "Kei..." "Aku akan melakukan apapun untuk membuat adikku bahagia," katanya seraya menarik tubuh Reina dalam dekapannya. "Terima kasih." Reina mengeratkan pelukannya. Jemarinya menyeka sudut matanya yang mulai basah. Sementara, sepasang mata melihat kedua kakak beradik itu dari kejauhan. Sebuah senyuman terbit di wajahnya. Alexander Baldwin, menatap penuh pada gadis yang disukainya. Hatinya menghangat ketika melihat senyuman manis muncul di wajah gadis cantik yang terpaut dua belas tahun dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN