Bab 01. Day 1 Jadi Wanita Bayaran
"Berapa hargamu permalam?" Suara itu diayunkan sangat berat, sebagaimana gema pelatuk pistol yang hendak menyerang Grace, mengancam penuh akan otoritas.
Di kursi tepat di sebrang sang pria- Grace Brooklyn -menelan kasar getar takut yang mulai mengakar kala tatapan tajam dari mata abu-abu terang itu menancap padanya.
"Seharusnya anda tahu hal itu lebih dulu dari Madam Maria." Dia berucap berani, menekan rasa takutnya.
Sang pria- Isaac Emiliano -yakni orang paling berbahaya di AS sekaligus orang dengan kekuasaan tertinggi di balik bisnis gelapnya dan jabatannya sebagai Don mafia red moon tak memberikan reaksi apapun.
Garis tajam dari wajahnya nampak keras, sebagaimana perisai yang menjaganya dari tatapan penasaran perempuan yang akan melayaninya malam ini.
Kaki jenjang berbalut celana hitamnya menyilang di hadapan meja panjang berbahan kaca hitam yang menyimpan bayangan mereka di permukaannya. Matanya berpusat lurus dengan pancaran sebagaimana mata pisau: tajam, menusuk dan mengancam di waktu yang sama.
"Well, aku dengar kau masih perawan." Tatapannya berubah, seolah merendahkan Grace yang masih menjaga kesuciannya saat perempuan-perempuan seusianya telah kehilangan hal tersebut.
"Ya." Grace mencoba menjawab tegar, enggan membiarkan Isaac mengoyak mentalnya.
"Kalau begitu ... apa kau bisa membuatku layak membayarmu 30.000 dolar?" Alis tebal Isaac bergerak naik tepat di sisi kanan, jelas bahwa tatapannya menjatuhkan harga diri Grace.
"Ada alasan tersendiri kenapa Madam Maria mengajukan harga tersebut." Mata Grace berkedip cepat saat mentalnya perlahan runtuh di bawah tatapan tajam Isaac. "Di negara liberal ini adalah sebuah keberuntungan jika anda mendapatkan perawan walau minusnya mereka- termasuk saya- minim pengalaman, tapi saya yakin bisa memuaskan anda. Bahkan saya telah sepakat menerima apapun tindakan anda selama s*x berlangsung."
"Baiklah." Isaac bergerak menjauhkan b****g dengan sofa. "Ke depannya, aku tidak akan bertanggung jawab jika ada suatu hal tak mengenakkan terjadi padamu."
"Sekarang ikuti aku." Kaki jenjang milik Isaac mulai mengetuk setiap kotak ubin marmer.
Setiap ketukan dari sepatu beralaskan merah berlabel louboutin menciptakan citra keagungan dari sang penguasa bisnis gelap. Punggung lebar di balik balutan jas hitamnya mencetak samar segaris otot bisep. Kedua tangannya diselipkan di setiap sisi saku celana, langkahnya begitu anggun, terkonsolidasi di setiap ketukannya, sementara aura gelap dan misterius terpancar darinya, buat Grace merinding.
Walau takut berselimut ragu membebat benak Grace, di sudut hatinya Grace menggaungkan keadaan ibunya yang sangat membutuhkan uang bernominal besar untuk kemoterapinya.
Ayolah, Grace. Pikirkan Mama. Pikirkan kuliahmu. Jangan naif. Kamu butuh Mama agar tetap sehat seperti dulu, tolong kali ini saja relakan dirimu tanpa harga diri di hadapan pria menyeramkan ini.
***
"Ingat ini. Aku tidak akan bertindak lembut, karena aku lebih suka bertindak kasar ketika berhubungan." Bisikan dari suara bariton Isaac membelai kulit leher Grace.
"Saya tidak peduli." Grace membalas tanpa getar takut, walau nyatanya tatap mata tajam dari Isaac nyaris mengoyak keberanian yang berusaha dia kokohkan.
"Buka bajumu." Perintah yang dialunkan oleh suara berat Isaac seolah remote control, yang membuat Grace menggerakkan tangan perlahan membuka setiap kancing dari kain yang membebat tubuhnya.
Sehelai kain di bagian atas Grace telah meluruh. Matanya spontan terpejam, menahan harga diri yang turut meluruh. Belah bibir bagian bawah pun Grace tahan di antara giginya, mencoba mengubur gejolak amarah pada diri sendiri.
Tidak apa, Grace ... tidak apa ... hal ini sangat normal untuk dilakukan. Tolong abaikan rasa malu, harga diri, saat kau sendiri butuh uangnya. Kalimat itu adalah doa di penghujung putus asa, selalu ia rapalkan guna rasa malu dan marah segera beranjak.
"C'mon. Bersikaplah kooperatif. Jangan membuatku rugi telah membayarmu 30.000 dollar." Ketukan lidah yang menguntai kata berkonotasi negatif Isaac Emiliano adalah bensin yang mengobarkan api amarah Grace.
"Ini pengalaman pertamaku. Wajar jika ak—"
"Bukan alasan yang aku bayar." Pria berambut pirang bergaya slick back itu menyela tajam, pandangan lurus bagai ujung belati yang kapan saja mengoyak Grace. "Berikan aku bukti. Kenapa aku layak membayarmu 30.000 dollar."
"Saat ini aku ingin mendengar suara lain, bukan ocehanmu."
Di sisi jahitan roknya, Grace menjeratkan sekepal kain rok dalam genggaman, berikan ukiran kusut di sana begitu tutur kata Isaac menembus harga dirinya.
Di momen seperti itu, adalah kata maaf yang seharusnya Grace utarakan. Dan Grace sendiri sadar. Namun, untuk seorang binatang seperti Isaac, kata maaf adalah harta yang tak seharusnya Isaac miliki.
"Saya bisa melakukannya lebih baik dari yang Anda kira." Entah dari mana asalnya kepercayaan diri itu, saat Grace sendiri tak memiliki pengalaman sedikitpun bersentuhan dengan lawan jenis.
Isaac berdecih sarkas. "Bicaralah setelah kau melakukannya."
Pria dengan jas membelit tubuhnya itu menuntun tangannya di sepanjang pundak Grace, lekas mendarat di sebuah gundukan yang hanya terbalut sehelai kain.
"Apa aku sedang berbicara dengan p*lacur? Atau politikus yang merangkap sebagai p*lacur?" Di atas gundukan daging itu, tangannya mulai bergerilya, memberi sentuhan sensual, terkadang menekan tajuk yang telah berdiri tegak.
"Terserah apa kata anda." Grace tuturkan kata dengan datar. Menahan lenguhan kala sentuhan pria itu semakin intens. "Akan sangat bagus jika anda tidak puas dengan malam ini."
"Licik sekali." Bibir Isaac berlabuh di leher Grace, ujung lidahnya mendarat dan mulai menyesap di sana. "Itu membuatku berpikir. Apa sebenarnya kau adalah politikus? Yang menjadikan p*lacur sebagai pekerjaan sampingan?"
Gejolak amarah seolah mendorong Grace untuk membelit mulut pria ini dengan kemejanya. Sekalian akan dia gunakan kaos kaki yang tak ia cuci selama satu minggu untuk menyumpal mulut pria ini, agar kelak trauma mengepang kata-kata manis seperti itu.
***
Seberkas cahaya mentari masuk menusuk kelopak mata Isaac. Perlahan kelopak mata itu bergerak sebelum terbuka begitu cahaya mentari mengusik ketenangannya.
Tangan kanan Isaac menjulur- mencari keberadaan seseorang di sampingnya -kosong. Sontak Isaac melebarkan kedua matanya.
"Ah, wanita p*lacur itu. Berani sekali dia meninggalkanku." Lantas tangannya beralih mencari benda pipih di atas nakas.
Didapatinya benda tersebut membuat Isaac segera mendial nomor seseorang.
"Aku ingin perempuan semalam." Tanpa basa-basi dia segera mengutarakan keinginannya.
"Anda ingin dia menjadi sugar baby anda?"
"Apalah itu. Pokoknya aku ingin dia menjadi milikku."
"Saya akan menyampaikan ini pada Madam Maria. Saya pastikan anda dapat memiliki perempuan itu dengan jangka waktu yang anda yang tentukan sendiri."
"Harus." Kata itu singkat. Namun, jelas akan otoritasnya. "Kalian harus membuatnya menjadi milikku." Telepon langsung Isaac tutup.
Kedua iris abu-abu terangnya memandang langit-langit kamar hotel. Bayangan cantik dengan riak muka kesaktian Grace masih terukir di kepalanya.
"Grace Brooklyn ... bukankah akan menyenangkan jika aku memilikimu selamanya?"