Bab 02. Ancaman Dari Mata Kelabu

963 Kata
Dering telepon menyentak Grace. Matanya seketika terbuka sebelum tangannya meraih benda persegi panjang. Seperempat siku tercetak di pelipisnya begitu nama mucikari tertera di layar ponsel. Segera Grace geser ikon hijau sebelum suara Maria terdengar di ujung telepon. "Grace! Aku punya kabar bagus untukmu!" Kebahagiaan terdengar dari Maria, buat Grace bertanya-tanya. "Apa itu?" "Sir Isaac ingin kamu menjadi miliknya. Ini kabar yang sangat bagus, bukan?" "Tidak." Penolakan tegas Grace menimbulkan kekecewaan di seberang sana. "Cukup satu malam saja." "Kau yakin? Nominalnya besar. Kau bisa membeli apapun yang kau mau." "Aku tidak mau." Setiap katanya menegaskan penolakan. "Sudah, ya, Madam. Aku harus siap-siap kuliah." Telepon pun Grace tutup. Hidung bangir Grace menarik udara begitu panjang, perlahan dia embuskan hingga ketenangan menyertai. Memang nominal yang Isaac ajukan bisa membuat Grace milyarder. Namun, Grace tahu nyawanya bisa menjadi risiko bila ia ada di sisi Isaac. *** "Mommy, aku punya kabar bagus!" Teriakan Grace mengusir senyap di sebuah rumah kecil mereka. "Ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak di pagi buta?" Sang ibu nampak kuyu, tak seperti yang Grace lihat lima tahun lalu. Senyum Grace terulas lebar, mata almondnya memancarkan cahaya kebahagiaan kendati seluruh t*buhnya terasa remuk redam karena pergulatan panas dia dengan Isaac semalam. "Aku punya kabar bagus hari ini!" Jemari lentiknya lekas mengotak-atik layar ponsel, hingga layarnya menampilkan sejumlah angka. Mata almond Elena Flynn membola, nyaris menggelinding keluar begitu angka yang terasa mustahil baginya terpampang nyata di rekening sang putri. "Dari mana kamu bisa mendapatkan uang sebesar ini?" Oktaf suaranya meninggi, dibarengi getar gugup karena tak percaya. Pertanyaan sederhana Elena menampar Grace. Seolah badai salju membekukannya, bersama isi kepala yang tiba-tiba menghanyutkan segala kata yang telah Grace susun untuk menjadi jawaban. Namun, rasa bersalah terlanjur terukir dalam benaknya. "Da-dari ... influencer! Kemarin aku share tentang kondisi Mama ke sosial media. Dan ada influencer yang mau membantu." Grace menjawab terburu-buru, sedikit gugup seolah sang ibu dapat menerawang isi kepalanya. "Ya ampun, Nak. Kamu sampai— kamu sampai seperti ini hanya untuk Mommy?" Elena meluruhkan t*buhnya, bersama tangis basahi pipi. "Aku senang melakukannya, Mom. Mommy tidak perlu khawatir, karena dengan begitu Mommy bisa sembuh. Mommy bisa kemoterapi." Dua sudut bibir Grace dipaksakan melengkung, menutupi segaris luka dalam benak. Elena menggigit bibir bawahnya, menahan tangis yang mendesak. "Boleh Mommy bertemu influencer itu, Nak? Mama ingin berterima kasih padanya." Gadis berdarah campuran Korea-Amerika itu mengedipkan mata, tak percaya akan keinginan sang ibu. "Sepertinya tidak bisa, ya, Nak?" Suara Elena lirih, menyematkan sebongkah kecewa. "Ya ampun Mommy selalu saja merepotkan kamu." Elena melanjutkan begitu Grace tak kunjung menjawab. "Ibu macam apa Mommy ini. Selalu saja merepotkan kamu. Kamu tidak pernah bahagia karena Mommy. Harusnya kamu buang Mommy saja. Mommy penyakitan, Mommy merepotkan." Tutur katanya diiringi isak tangis pilu. Grace mengubah posisi, menyetarakan diri dengan Elena. Sebuah dekapan hangat Grace berikan. Tangisan Elena sebagaimana magnet yang menarik Grace. Namun, Grace usahakan agar tak menangis. "Mommy tidak boleh mengatakan hal seperti itu. Mommy adalah duniaku, Mommy adalah nafasku. Aku tidak bisa membiarkan Mommy terus-terusan merasa sakit." Getar dari dorongan tangis Grace tahan, buat suaranya bergetar. "Andai saja para mafia itu tidak membunuh ayahmu, hal ini tidak akan terjadi. Saat ini kamu bukan sibuk mencari uang untuk kemoterapi Mommy. Pasti kamu sedang pesta bersama teman-teman seusiamu." Napas Elena tersendat, buat ucapannya terpatah-patah. Ungkapan Elena bagai godam besar menghimpit d**a Grace, menghadirkan sesak kala fragmen-fragmen memori pembantaian di rumahnya terjadi saat ia berusia lima tahun yang disebabkan oleh mafia-mafia yang telah menjadikan ayahnya musuh, padahal ayahnya hanyalah detektif yang hanya menjalankan tugas untuk menguak keberadaan mereka. *** Jujur, Grace menyesali penawaran Maria. Andai keinginan sang ibu terjadi sebelum Maria menghubunginya, dengan demikian dia bisa mempertemukan sang ibu dan Isaac. Namun, Grace sangsi menghubungi Maria setelah bertindak tak sopan. "Jangan melamun." Sebuah rengkuhan mendarat di pundak Grace. Ethan Cristian, satu-satunya sahabat Grace itu menarik lamunan Grace. "Kenapa kau melamun di pagi hari ini?" Grace menipiskan bibir, seketika rasa bersalah menghantam. Mereka sepakat untuk tidak menyimpan rahasia. Namun, apa yang sekarang Grace lakukan adalah pengkhianatan. Mau tak mau Grace harus mengemas rahasianya. "Aku sedang tidak mood hari ini," jawab Grace. Ia mengisi paru-parunya dengan udara segar. "Semoga saja Isla tak menggangguku." "Aku dengar dia ke Texas hari ini. Entah untuk apa." Jawaban Ethan sebagaimana kunci jeruji yang melepaskan Grace dari ketakutannya. "Eh, apa kau tau, Grace?" Grace mengangkat bahu. Ethan berdecak, menyayangkan sikap tak acuh Grace. "Hari ini kampus kita kedatangan donatur. Dan donatur itu adalah pemilik yayasan tempat kau menerima beasiswa!" "I don't care." Grace mengangkat alis tipisnya, tangannya bergerak merapatkan tali tas di depan perut. "Tidak bisa seperti itu. Kau harus peduli. Ayo ikut denganku." Tanpa harus mengantongi izin Grace, Ethan tarik begitu saja lengan Grace menuju gedung sayap kanan, tempat para eksekutif universitas bernaung. "Untuk apa? Itu hanya buang-buang waktu." Kendati menolak, kakinya tetap ikuti langkah Ethan. "Kita harus menjumpainya. Setidaknya untuk menyapa. Siapa tahu dengan itu ia bisa berbaik hati dengan memberikanmu beasiswa penuh." Jelas sekali Ethan mengukir harapan atas kehadiran donatur itu. "Nah, itu orangnya!" Lengan Ethan lurus, mengarah pada satu poros yang dikerumuni orang-orang berpakaian hitam. Satu objek yang Ethan tunjuk Grace ikuti. Matanya terbelalak tak percaya atas gerangan yang dinyatakan donatur ekslusif di kampusnya. Belum sempat Grace mencerna perasaannya, mata mereka bertemu. Kilat tajam dari iris mata abu-abu terang itu seolah memenjarakannya, bagai predator yang telah mengendus bau darah mangsa, berkilat atas kekuasaan terhadap mangsa yang akhirnya ia temukan. Dan di detik itu sebuah kenyataan menghantam Grace. Hidupnya tak lagi aman. Akan selalu ada bayang-bayang dari mata kelabu pria itu di setiap jejak yang ia tinggalkan. Dan dia hanyalah boneka dengan tali kendali di genggaman pria itu— menjebaknya dalam labirin dosa. Padahal Grace telah menetapkan, transaksi malam itu terjadi hanya satu kali, tak ada lagi selanjutnya. Namun, bagaimana bila pria itu berlari menangkapnya? Atau bahkan mengukung Grace dalam sangkar emas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN