Dad* Grace kembang kempis begitu aliran napas menguar tak menentu— kacau, seperti apa yang saat ini bersemayam dalam kepalanya— ancaman —imajinya masih menggambarkan bagaimana mata kelabu itu menjeratnya.
"Di sini rupanya." Suara berat itu bagai auman predator usai menjerat mangsanya.
Refleks wajah Grace bergerak menuju sumber suara. Pandangannya membeku di satu pusat, buat pernapasan kian kacau di bawah tajamnya mata itu dalam menatap.
Bagaimana dia tahu aku di sini? Dan apa tujuannya mencariku?
Kepala Grace dongakkan, mencoba tegar di tengah hantaman ancaman. "Apa ada yang anda perlukan?"
"Kenapa kau menolak tawaranku?" Isaac, pria bermata kelabu terang itu menjadikan rak buku sandaran t*buh tegapnya.
Grace tak mengerti. Pria seperti Isaac, dengan kekuasaan senantiasa mengikuti, dia pasti dengan mudahnya menggenggam wanita manapun yang dia inginkan. Namun, kenapa harus Grace ? Saat Grace sendiri telah memutuskan transaksi terjadi hanya satu kali. Dan apa yang membuat Isaac menginginkannya? Grace ingat dia tak meninggalkan kesan apapun untuk Isaac.
Tangan kekar pria itu saling menyilang di atas d*da, spontan tonjolan otot bisepnya tercetak di balik setelan formal hitamnya.
Beberapa saat keheningan merajai mereka, buat jarum jam berbicara keras menumbuhkan bising di sela hening.
Kepala Grace dongakkan, membangun keberanian palsu di bawah ketakutan. "Untuk apa?" Grace baru bersuara setelah membiarkan pertanyaan Isaac mengambang. "Urusan kita sudah selesai."
Pria berambut pirang yang ditata begitu rapi itu senantiasa menjerat Grace dalam pandangannya. "Begitu rupanya."
Alunan suaranya terdengar amat tenang, tidak ada sedikit pun getar emosi, dibalut wajah tanpa riak apapun. Seakan tak terpengaruh terhadap penolakan, walau jelas Grace merasakan energi kuat menekan mentalnya.
"Lalu? Bagaimana dengan kuliahmu?" Nada suaranya teramat tenang, yang merupakan sebongkah ancaman berbalut sutra.
"Apa itu urusan anda?"
"Tentu." Kaki berbalut sepatu mahalnya mengetuk, menimbulkan suara yang terdengar halus nan anggun. "Aku adalah donatur ekslusif di kampus ini. Akan sangat merugikanku jika muncul berita adanya mahasiswi yang rela mengangkang demi sepeser uang di kampus ini."
"Jadi. Kau mau menjadi milikku? Atau dikeluarkan dari kampus ini? Dan hidup di dalam jeruji sosial?" Bisikannya menyatu dengan detak jarum jam, ancaman dibalut bisikan lembut itu mengaung sebagaimana harimau.
"Orang-orang akan mengalihkan pandangannya padamu." Dia masih berbicara, menjadikan bungkamnya Grace kesempatan untuk menyerang. "Bukankah kau selalu dinilai mahasiswi suci? Bagaimana kalau mereka tahu jika kau mengangkang untukku, demi uang receh?"
***
Tidak tahu apa yang saat ini melekat di pikiran Isaac, hingga menempatkan Grace di dalam mobil mewahnya. Aroma kulit mahal membungkus setiap sudut, menguar menyatu bersama parfum maskulin, buat Grace merasa berat setiap kali menghirup udara.
Tak perlu ditanya seberapa tebal dompet pria itu, hanya dengan melihat pakaiannya saja sudah cukup membuat Grace menegak ludah. Apa yang pria ini bawa adalah kekayaan, uang, sekaligus kekuasaannya.
"Asal kau tau. Aku bukan orang sabar." Suara berat Isaac membelah gemuruh lembut dari mesin Limousin Bentley yang baru dinyalakan sopir. "Tapi aku rela menunggu jawabanmu."
Wajah dengan garis rahang tegas itu menghadap lurus, memandang jalanan melalui kaca depan. "Untuk seorang p*lacur, harusnya kau bangga." imbuhnya dingin, menelak Grace akan statusnya.
Bising halus dari luar kaca mobil yang berpadu dengan suara mesin mobil sementara mengalun menggantikan suara mereka. Namun, di balik keheningan selama perjalanan, kepala Grace menimang keuntungan dari tawaran Isaac beserta kerugiannya.
"Anda dapat menjamin rahasia saya?" Di balik getar takut, Grace menumbuhkan sepercik harapan yang merajut tuntutan atas kerugiannya sebagai barang gadaian.
"Of course." Isaac menjawab singkat. "Sebaliknya jika kau menolak...."
Tanpa perlu tahu apa akhirnya, Grace tahu bahwa dia berdiri di antara pilihan yang sulit.
Udara hangat di sore hari itu memasuki paru-paru Grace, mengisi setiap ruang tegang yang menghimpit d*da Grace. Perlahan dia embuskan melalui hidung mancungnya, sebelum sebuah kata yang menjadi pembimbing masa depannya menguar dari bibir ranumnya.
"Oke." Dia menegak ludah kasar. "Aku setuju." Tanpa melirik Isaac pun Grace tahu, benak pria itu pasti tengah berpesta akan kemenangannya.
Mau bagaimana lagi? Sebagai mangsa yang telah masuk ke perangkap predator, Grace tak memiliki pintu agar dia bisa bebas. Isaac benar-benar memerangkapnya dalam ancaman yang tak bisa Grace jadikan pilihan.
"Luke. Berikan aku surat kontraknya." Perintah Isaac disegerakan oleh personal assistant di kursi depan. Dari sana muncul sebuah berkas bersampul merah: simbol dari kekuasaan milik pria itu.
"Baca, lalu tanda tangan di atas materai." Sodorkan lembaran kertas dalam satu pelukan map. Segaris senyum kemenangan pun tak Isaac ulas. Wajahnya selalu datar, dingin bagai bongkahan es.
"Di sini tertulis bahwa kontrak berakhir jika kau bosan. Kenapa tenggat waktunya tidak pasti sekali?" Grace spontan bergumam.
Ujung iris kelabu Isaac mengarah pada bibir Grace. Bagaimana bibir itu saling berketuk membacakan setiap untaian kalimat seolah memanggil Isaac agar dia melahapnya— merasakan setiap sensasi lembut membelai lidahnya, berikut perisa manis yang masih sangat Isaac di malam itu.
"Kontrak ini tertulis mutlak." Dia berkata datar. "Tidak ada negosiasi."
Tanpa ragu Grace menggoreskan tinta di atas materai. Artinya, hidup Grace resmi digadaikan pada Isaac Emiliano, seorang dengan ambisi besar.
Masa depannya, semua tergantung berapa lama Isaac merasa bosan. Dan selama Grace ada di sisi Isaac, pria itu dapat bebas menjadikannya boneka di bawah kendali.
"Sepertinya saya harus membuat anda bosan secepat mungkin." Sampul merah map pun Grace tutup. Namun, tak membuat jantungnya berdetak tenang,. Selama mata itu masih mengintainya, Grace pastikan hidupnya tak akan tenang.
"Itu bukan kalimat yang seharusnya p*lacur katakan." Isaac ambil kembali dokumen berisikan tali pengikat di antara mereka. "Bukankah pedagang akan mengusahakan yang terbaik untuk pembelinya?"
Ketakutan semula menyelimuti Grace, seketika surut. Amarahnya terpantik oleh sematan p*lacur dari mulut Isaac, walau faktanya Grace seorang yang menjual jasanya dalam lingkup pekerjaan kotor.
"Kenapa diam?" Intonasi suara Isaac begitu berat, tersemat makna merendahkan di sana. "Bukankah aku mengatakan yang sebenarnya?"
"Di tanganku ini, ada dua hal yang harus kau jaga." Tangan Isaac mengepal longgar, menunjukkannya pada Grace. "Satu, masa depanmu. Dan yang kedua, nyawamu."
"Aku sarankan agar kau memperhitungkan setiap tindakanmu, kalau kau ingin tetap aman."
Grace terdiam. Dalam keheningan itu, ia menyadari—dirinya telah menjadi boneka yang talinya dipegang tangan iblis.
Dan Isaac, dengan mata kelabu yang tak berkedip, bukan sekadar predator.
Ia badai yang menyamar sebagai manusia.