Bab 04. Iblis Bersayap Malaikat

979 Kata
"Halo, Bibi." Sosok Isaac Emiliano yang Grace lihat beberapa saat lalu berubah tajam begitu Elena berdiri menyambut kedatangan mereka. Terbit senyum hangat bagai mentari sore di wajah Elena. "Siapa pria tampan ini, Grace? Apa ini influencer itu?" Grace terdiam kaku. Telunjuknya spontan menggaruk pelipis, dari gerakannya jelas kegugupan tengah membungkusnya. "I-iya." Tanpa sadar Grace menyenggol lengan Isaac, beri kode untuk membenarkan pernyataannya. Hanya dalam satu kedipan mata, senyum Elena berubah menjadi tangis. "Oh, ya ampun! Terima kasih, terima kasih sudah membantu kami." "Oh?" Spontan Isaac terheran, dia melirik Grace, menuntut pengakuan atas apa yang telah ia lihat. "Nanti saya bicarakan." Grace berbicaralah tanpa suara. Di sela isak tangis akan rasa haru, Elena berucap, "Karena anda, saya bisa menjalankan kemoterapi." Kedua tangannya bertengger di sisi lengan Isaac. "Saya punya cancer p******a. Dan Grace ... Grace berjuang agar saya bisa menjalankan kemoterapi, karena kami tidak memiliki uang yang cukup untuk itu." "Anda benar-benar malaikat. Terima kasih sudah membantu kami." Jemari rapuh Elena menyeka setiap tetesan air mata di pipinya. Malaikat? Dalam benak Grace menertawakan sematan kata yang jauh dari kenyataannya itu. Mama tidak tau saja. Dia adalah manusia paling berbahaya yang akan menjerat hidupku. Otak Isaac mulai terkoneksi. Tangis haru Elena pun dia sambungkan dengan alasan Grace menjadi wanita malamnya. "Saya senang membantu anda, Bibi. Semoga saja kemoterapi anda berjalan lancar dan membuahkan hasil." Kalimat itu terdengar manis, sayangnya tak ada emosi senada dengan kalimatnya. "Bagaimana? Mama senang? Kemarin Mama ingin bertemu influencer itu, dan sekarang dia sudah ada di hadapan kami." Grace mengambil satu langkah mendekati sang ibu. "Terima kasih, Nak. Kamu banyak berjuang untuk Mama." Tangan rapuh Elena menyentuh pipi halus Grace. "Oh, iya. Bagaimana jika anda makan malam bersama kami?" Sebuah penawaran yang memang menjadi tujuan Isaac: mengetahui secara langsung kehidupan Grace di lingkup keluarga. "Kebetulan hari ini saya membuat menu makanan khas Korea Selatan. Mari masuk." Daun pintu Elena dorong melebar, memberi akses Isaac untuk memasuki apartemen sempit mereka. Elena berjalan lebih dulu, meninggalkan mereka menuju dapur. "Aku pikir ini sarang burung." Isaac bercelatuk, matanya memindai setiap sudut apartemen. Apartemen studio yang ditinggali dua orang jelas akan membuat penghuninya sesak napas. Terlebih sebuah kasur dapat Isaac lihat di tempatnya, kasur yang bertempatan di atas yang pastinya membuat tak nyaman ketika tidur. "Anggap saja begitu," sahut Grace, begitu abai terhadap kehadiran penguasa bisnis gelap di rumah kecilnya. Masing-masing tangan Isaac tersembunyi di balik kantong celana bahan hitam. "Bagaimana kalau kau dan ibumu pindah ke penthouse-ku?" "Tidak." Jawaban itu terlalu berani, tegas, seolah pembatas tak kasat mata membentang di antara mereka. "Kau yakin bisa bernapas di ruangan sempit ini?" Merasa sempitnya apartemen Grace menghimpit t*buh besarnya, Isaac melepaskan jas berikut dua kancing teratas kemejanya. "Hari ini saya membuat kimbab. Saya harap anda menyukainya. Silakan dicoba." Elena hadir tiba-tiba, membungkam mulut Grace yang ingin menjawab Isaac. "Kimbab?" Isaac telisik makanan bulat terbungkus rumput laut. "Ya. Ini adalah makanan khas Korea, tempat kelahiran Grace." Dengan riak muka bahagianya Elena mengenalkan makanan khas negara sang ayah dan Grace dilahirkan. "Aku pikir Grace keturunan China." Isaac berbicara sebelum menjempit kimbab dengan sumpitnya. "Oh, mungkin karena struktur wajahnya hampir mirip dengan orang-orang China." Sosok mengancam bagai predator di mata Grace itu seolah tengah menjalani lakonnya sebagai malaikat. Tak ada bidikan tajam dari mata kelabunya, walau wajahnya bagai perisai: datar, tak menyematkan secercah pun emosi. "Makanan ini enak." Satu potong kimbab telah masuk ke dalam mulut pria itu. "Anda pandai memasak." "Terima kasih. Anda bisa memakan lebih banyak lagi." Ungkapan Elena ditanggapi anggukan samar dari Isaac. "Bagaimana denganku, Mama? Anak-anakku sudah berteriak ingin makan." Merasa diabaikan, Grace merajuk. "Oh my goodness. Sorry my sweetheart, Mama ambilkan kimchi dan kimbab untukmu." Wanita setengah baya itu lantas berdiri, langkahnya berbunyi ringan di atas ubin menunjukkan dapur. "Mamaku sudah merepotkanmu. Maaf untuk itu." Grace berucap lirih. "Apa kau mengatakan padanya bahwa uang yang kau terima dari influencer?" Kunyahan Isaac memelan, tanpa sadar tiga potong kimbab telah dia habiskan. "Ya." "Kenapa? Kau tidak bisa mengatakan bahwa kau telah menjual diri padanya?" Pertanyaan Isaac tepat sasaran. Grace merapatkan bibirnya, menahan lidah agar tidak ungkapkan kemarahannya. Kendati benaknya bergejolak panas akan penuturan-penuturan berkonotasi negatif dari Isaac, Grace selalu ingat bahwa Isaac telah berkuasa penuh atas hidupnya. *** Bau asap menyelundup memasuki rongga hidung Grace. Perlahan kelopak matanya bergerak membuka— merespons bau asap aneh dari atas ranjang. "Kenapa tiba-tiba bau asap?" Dia bergumam, lekas memaksakan diri turun dari ranjang. Decit ranjang lapuk kala Grace bergerak di atasnya mengalun di tengah hening, di detik itu mata Grace terbelalak akan adanya gumpalan asap berikut api telah melalap setengah dari apartemen mereka. "Mama! Kebakaran! Mama ada kebakaran!" Grace memekikan suara, kakinya menderapkan langkah terburu menapaki anak tangga. "Mama ayo keluar! Ada kebakaran!!" Grace berteriak lebih tinggi, berharap sang ibu segera sadar. "Di mana? Di mana kebakarannya??" Elena segera tersadar, dia bangun dan lari terbirit-b***t mencari sumber asap yang ia hirup. "Astaga!! Panggil pemadam kebakaran!" Kaki Elena berlari menuju dapur. Namun, dapurnya telah dikuasai api. "Mama jangan ke sana! Lebih baik kita keluar sekarang!!" Grace memekik takut, takut bila sang ibu tersentuh api. "Uhuk! Uhuk! Ayo, Ma! Kita harus cepat keluar!" Hidung serta mulut Grace tutup mengenakan kain basah, tangan sang ibu segera ia tarik keluar unit apartemen. Kain basah lain pun Grace serahkan pada sang ibu sebagai pertolongan pertama. "Uhuk! Kamu sudah menghubungi pemadam kebakaran? "Sudah. Sekarang kita harus mencari bantuan lain di bawah." Grace tuntun sang ibu yang berjalan tertatih-tatih, sesekali membantu ibunya agar tak terjatuh saat menuruni tangga darurat. "Bagaimana bisa ini terjadi? Padahal tidak ada masalah di listrik kita. Mama juga sudah mematikan kompor." "Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja aku terbangun karena bau asap, begitu keluar api sudah berkobar dari dapur." Tepat kalimat itu Grace lontarkan, denting notifikasi menyentaknya dari ponsel. +12344 Bagaimana pertunjukannya, Sayang? Apa itu menyenangkan? Tanpa sadar genggaman Grace mengerat di ponselnya. Sekarang dia tahu siapa yang telah menyebabkan kebakaran di apartemennya. Dia tidak membiarkanku menolak tawarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN