Bab 12 - Pertunangan Isaac dan Madison

1123 Kata
"Kau yakin akan melanjutkan pertunanganmu dengan pria tak beretika seperti itu?" Tatapan skeptis Kendrick membuat Madison menghela napas lelah. "Dad, c'mon. Isaac sedang bercanda. Kenapa Daddy sangat sensitif hanya karena candaan seperti itu?" Anak tunggal keluarga Weston itu merengut, enggan menatap Kendrick. Cerutu di antara telunjuk dan jari tengah Kendrick disimpan di atas asbak, atensi sepenuhnya ia arahkan untuk sang putri. "Bukan apa-apa, Sayang. Daddy hanya khawatir kamu disakiti." Kendrick mencoba berbicara lembut, berharap Madison mengerti perasaannya. "Di depan Daddy dan Mommy saja dis berani berkata seperti itu. Bag—" "Dad, can you stop to talking with me?!" Madison menyela, suaranya meninggi kala amarah merayap menyelimuti. "Pokoknya, aku tidak akan menikah kalau tidak bersama Isaac!" Julia bergerak hampiri sang putri. Tangannya bergerak mencapai tangan Madison, usapan halusnya terpatri di punggung tangan Madison. Sorot hangat dari matanya memancar penuh sayang. Namun, Madison abai. "Nak. Kami mengerti kamu sangat mencintai Isaac. Dan kami akan mengusahakan itu terjadi." Setiap suku katanya diselimuti kapas, begitu halus nan lembut. Kendrick menempatkan pandang pada Julia, mulutnya terkatup rapat, tidak dengan hatinya yang menolak keputusan Julia. *** "Tempat apa ini?" Begitu kakinya menapaki sebuah tempat asing, mata Grace menyapu untuk menjawab pertanyaannya. Sejenak Isaac melirik Grace. Lengannya mengulur meraih tangan Grace sebelum menyeret langkah meninggalkan tunggangan. "Follow me." "Pacuan kuda?" Grace bergumam usai matanya menangkap jalanan berlumpur dilingkupi pagar kayu. "Anda mau berkuda?" "Bukan hanya aku." Jawaban Isaac menimbulkan tanya bagi Grace. "Kau juga." "Tapi saya tidak pernah berkuda." Suara halus Grace berpadu dengan derap langkah mereka. "Bagaimana kalau saya cedera?" "That's your business." Jawaban tak acuh Isaac tak diberi jawab, Grace lebih tertarik mencari hal menarik di sekitar mereka selama perjalanan menuju ... entah Isaac akan membawanya ke mana. "Kita mau ke mana?" tanya Grace tepat saat mereka menapaki ubin marmer di bawah bangunan megah yang kini menaungi mereka. "Menurutmu?" Pertanyaan itu jelas bukan jawaban, dan Grace tak bisa menjawab apapun lagi. "Pergilah ke ruangan di sana." Dagu Isaac menunjuk sebuah ruangan tak jauh dari mereka. "Di sana ada pakaian untuk menugang kuda. Kenakan itu." Tak lagi bertanya, Grace tujukan langkah ke fitting room. Selang beberapa menit t*buhnya telah terbungkus atribut lengkap untuk menunggang kuda. "Mana helmmu?" tanya Isaac begitu Grace keluar tanpa pelindung kepala. "Apa itu perlu?" Wajah datar Grace terpampang bersama pertanyaan polosnya, buat Isaac geram. "Menurutmu?" Jawaban itu kembali Grace dapat, hadirkan kesal padanya. Bukan menuju pintu yang akan membawa mereka ke tempat menunggang kuda, Isaac berlalu mengarah fitting room khusus wanita. Grace terkejut, lebih terkejut lagi melihat Isaac membawa sebuah helm. "Come here." Mendengar perintah Isaac, Grace segera menghampiri. "Aku tidak ingin Ibumu memarahiku jika kepalamu bocor nanti." Tangan Isaac begitu telaten membantu Grace memasangkan helm. Wajah mereka berjarak hanya sehela napas saja, buat aliran napas mereka saling bertaut. Jika saja Isaac memajukan sedikit wajahnya ke bawah, ujung hidung mereka akan berjumpa. Mata kelabu terang Isaac sejenak membidik rupa Grace di bawahnya, setiap pahatan di wajah Grace direkam dengan intensitas begitu dalam. Beberapa detik tatapan mereka saling berjumpa, seakan menyalurkan perasaan yang keduanya tak pahami. Cantik. Isaac berkedip begitu sadar apa yang ia katakan dalam hati. Pandangannya segera dibawa ke lain hal, lari dari tatapan Grace yang terheran melihat tindak-tanduknya. "Oh, iya. Apakah pakaian ini sudah benar? Aku tidak tahu cara memakainya." Persembahkan t*buh yang telah Grace pasangkan pakaian berkuda lengkap, sementara Isaac memindainya untuk menilai. "Good. Let's go." Tanpa sadar, Isaac raih pergelangan tangan Grace kemudian keluar dari gedung itu. *** "Saya rasa, saya tidak perlu ikut menunggang kuda." Melihat betapa mengerikannya terjatuh dari punggung kuda, bulu kuduk Grace bangkit serentak. "Tidak. Kau harus banyak bergerak." Dan itu adalah alasan Isaac membawa Grace ke tempat pacuan kuda milik sepupunya. Di bawah teriknya sinar matahari menyoroti mereka, Grace mengernyit guna menyamankan penglihatan. "Bagaimana kalau kuda itu marah dan menjatuhkan saya?" Penjaga kandang kuda yang saat itu menemani mereka untuk memilih kuda untuk ditunggangi spontan tertawa. "Itu tidak akan terjadi." Si penjaga kandang kuda bersuara guna mengusir takut Grace. "Selama anda tetap menjaga tali kekangnya stabil, kudanya tidak akan marah." "Bukan begitu." Grace tetap mempertahankan keinginannya. Jauh lebih baik jika sekarang ia berada di atas kasur dan menikmati tayangan film favoritnya daripada lelah menunggang kuda yang bukan hobinya. "Saya bahkan tidak tahu caranya mengendalikan kuda." "Kau terlalu mengkhawatirkan hal yang tak berguna." Kesal Grace selalu mencari-cari alasan, Isaac mengangkat t*buh Grace dan menempatkannya di atas punggung kuda. "Tuan! Kalau saya jatuh bagaimana?" Tak Grace sadari ia telah meninggikan oktaf suara, sejenak rasa takut buatnya lupa akan status mereka. "Jangan bergerak. Tenanglah jika kau tak ingin kudanya marah padamu." Isaac berkata datar, tapi Grace merespons nada ejekan dari perkataannya. "Aku akan membimbingmu." Untuk menuntun kuda agar berjalan tenang, Isaac pegangi halter horse saat Grace memegang tali kekangnya. "Waw. This is thrilling." Begitu kuda mengambil langkah lebih jauh ke depan, Grace ungkapkan perasaannya tanpa sadar. Jika tali kuda ini kutarik, apa rasanya jauh lebih mendebarkan? Pandangan Grace terpaku pada tali kekang di genggamannya, otaknya seolah mendorongnya agar menarik keras tali kekang itu agar kuda berlari cepat seperti yang pernah dia lihat di film. "Jangan berpikir macam-macam." Isaac berucap seolah dapat menerawang isi kepala Grace. "Aku tau kau ingin menarik tali kekangnya." Akhirnya Grace merapatkan bibir, tetap diam, tenang di atas punggung kuda selama Isaac membantu menuntun kuda di bawah. Namun, debaran tadi perlahan menyurut karena tak ada adrenalin yang Grace rasakan selama menunggangi kuda. "Sir Isaac. Maaf mengganggu waktu anda. Sir Levi ingin menemui anda begitu tahu anda datang hari ini." Seseorang hadir tiba-tiba, menyita perhatian mereka. "Tunggulah aku di sini. Diam. Jangan pernah berpikir untuk menarik tali kekangnya. Atau kuda ini akan melemparmu." Sebelum pergi meninggalkan Grace, Isaac berujar beri peringatan dengan nada suaranya yang khas. Di atas punggung kuda, Grace menghela napas. Isaac pergi tanpa menurunkannya saat Grace sendiri tak diberitahu caranya turun dari punggung kuda, berakhir terdampar membosankan di punggung kuda. *** "Apa yang telah kudengar ini?" Levi, sepupu Isaac berkelakar begitu Isaac menghampiri. "Kau membawa seorang perempuan. Benar itu?" Tawa Levi tersemai di akhir ucapannya. "Well, ya." Isaac mengambil duduk di sisi Levi, punggungnya disandarkan. Levi membuang napas panjang, perhatikan sikap santai Isaac. "Aku yakin dia bukan perempuan sembarangan." Isaac hanya mengangkat alis, seolah bertanya melalui tatapan. "Untuk apa kau repot-repot membawanya ke sini? Tempat yang paling kau senangi." Bibir Levi melengkung, sebuah makna terpatri di sana. "Kau sangat menyukai menunggang kuda. Bagaimana dengan perempuan itu?" "Apa ini yang menjadi alasan kau ingin menemuiku?" Isaac bertanya dingin, matanya membidik tajam bagai ujung belati. Alih-alih menjawab pertanyaan Isaac, Levi mengimbuhkan, "Jika dia sama berartinya dengan menunggang kuda. Kau harus menjaganya dari Ayahmu." Isaac tak menjawab, biarkan ungkapan Levi mengudara tanpa ia pedulikan. "Ayahmu tak akan membiarkan jalanmu terhalang. Apalagi perempuan itu berpotensi menjadi halangan untukmu. Bisa saja dia mati di tangan ayahmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN