Terik matahari jatuh menerpa Grace, perlahan panasnya merambat menghadirkan tetesan keringat di balik pakaiannya. Tak tahan dibakar sinar mentari, Grace bergerak gusar. Kepalanya menimang ungkapan Isaac sebelum dengan kejamnya membiarkan Grace di bawah teriknya matahari.
"Kalau aku bilang kepanasan. Dia akan memaklumiku 'kan?" Dia bergumam, menimang respons Isaac bila ia turun dari punggung kuda.
"Whatever." Tak lagi mampu menahan tusukan panas dari mentari yang jatuh tepat di atas kepalanya, Grace gerakkan t*buh untuk turun walau dia sama-sekali tak tahu bagaimana caranya turun dari punggung kuda.
Tali kekang dalam genggaman tak Grace lepaskan kala kakinya bergerak hendak turun, buat tali tersebut menarik kepala kuda sebelum kuda meringkik dan berlari kencang tanpa arahan yang benar dari si penunggang.
"Kyaaaa!!!" Teriakan nyaring Grace menggema di tengah lapangan berlumur. "Hei! Hei! Stop!! Stop please!"
Karena kurangnya pengetahuan cara menunggang kuda, t*buh kurus Grace terlempar berpindah-pindah posisi di atas punggung kuda kala kaki kuda menghentak kasar tanah berlumpur.
Jantung Grace bertabuh seiring t*buhnya terlempar ke sana-kemari di atas punggung kuda. Namun, tali kekang tak Grace lepaskan sebab takut t*buhnya terlempar ke belakang dan mendarat di atas tanah berlumpur.
"Berhenti!!! Tenanglah!! Jangan marah!!" Karena panik menggerogoti, Grace malah menarik tak tentu tali kekangnya, buat kuda bergerak semakin brutal.
"Berhenti aku bilang!! Apa kau tak punya telinga?!" Grace membentak. Ketakutannya terurai bersama amarah. "Tenang! Tenang, oke?!" Dia meminta kuda untuk tenang saat tangannya sendiri terus menarik tali kekang kuda yang malah membuat kuda semakin tak tenang.
"S*alan! Ini semua gara-gara pria iblis itu!" Merenggut marah mencoba mempertahankan t*buhnya yang tak lagi duduk dengan benar di atas pelana kuda.
"Stop!!! Jangan berlari lagi!!! Aku akan jatuh jika kau seperti ini!!" Terus berbicara kepada kuda, alih-alih berteriak meminta tolong pada ahlinya.
***
Tak jauh dari tempat Grace bernegosiasi dengan kuda yang sudah bergerak brutal di bawah kendalinya yang kacau, Levi tertawa terbahak-bahak melihat Grace yang kesulitan menghadapi kuda.
"Kau tak ingin menolongnya?" Ujung mata Levi diarahkan pada Isaac.
Wajah tampan dengan iris mata kelabu terang itu hanya menatap lurus berporos pada sang dara. Perasaannya tak terdorong begitu melihat Grace yang sedang kesulitan, bahkan tanda-tanda khawatir pun tak ada di wajah tampannya. Datar seperti biasanya, bagai dinding kokoh nan dingin.
"Untuk apa?" Dia menyuarakan nada tanpa buih emosi, seolah penderitaan Grace di sana bukanlah tanggung jawabnya.
Tawa Levi menyelingi ucapannya, seolah Grace yang kesulitan mengendalikan kuda dan respons datar Isaac adalah hiburan eksklusif. "Kejam sekali."
"Kau tak melihatnya?" Perut Levi tergelitik kala Grace mencoba naik ke atas punggung kuda saat t*buhnya telah merosot di samping t*buh kuda. "Ridi culous." Dia mengurai tawa lagi, tak ada secercah pun inisiatif untuk membantu Grace.
"Hei. Kau mau ke mana?" tanya Levi melihat penjaga kandang kuda berjalan cepat dengan napas tersengal.
"Saya ingin membantu Nona itu." Jawaban itu justru mendapat hempasan tangan dari Levi.
"Tidak boleh ada yang menolongnya. Biarkan Isaac sendiri yang menolong." Levi melirik sang sepupu, tanda untuk Isaac bergerak menolong Grace tak ia temukan. Namun, melihat bagaimana mata itu menatap Grace seolah tengah menunggu Grace berteriak memanggil namanya.
Sayangnya Grace memilih menderita dan bernegosiasi bagai orang bodoh dengan kuda, alih-alih berteriak memanggil Isaac yang diam di tempat seraya menunggu Grace meminta tolong.
Levi mendengkus. Belum berkenalan dengan Grace pun dia tahu betapa rumitnya hubungan mereka kedua.
Sama-sama keras kepala dengan ego setinggi langit.
***
Tenggorokan Grace telah mengering, tak hanya lelah meminta kuda agar tenang, terik matahari pun kian membakarnya. Lelah bernegosiasi bak orang bodoh dengan kuda, Grace menyerah. Dia lepaskan tali kekang yang malah membuat kuda bergerak brutal, kemudian t*buhnya terlempar ke belakang begitu kuda meringkik.
"Arghhhh!" Teriakan nyaring Grace mengudara, keringat telah memenuhi seluruh tub*hnya. "S*alan." Dia mengumpat selagi mengatur napas yang kacau.
"Isaac s*alan. Dia pasti sedang tertawa sekarang." Begitu matahari menyoroti kelopak mata, Grace memejamkan mata seraya meredam kejengkelan.
Selama napas Grace coba atur kembali normal, dan sengaja menjemur diri di bawah sorot matahari langsung, Grace tak sadar akan derap langkah seseorang mendekat padanya.
Sebuah bayangan menghalau sorot matahari, buat Grace membuka mata. Terpampang tepat di atasnya Isaac Emiliano dengan wajah angkuh di balik wajah datarnya. Seketika amarah yang Grace coba untuk dikubur pun kembali bangkit memenuhi permukaan akal sehatnya.
"Bagaimana?" Bariton suara Isaac mengikis senyap, terdapat ejekan di setiap katanya. "Apa menyenangkan bermain-main dengan kuda yang marah?"
"Well. Lebih dari menyenangkan." Walau seluruh t*buh terasa koyak, Grace berlagak seolah kejadian tadi tak menimpanya.
"Sebenernya untuk apa kau memiliki otak? Bahkan untuk memanfaatkannya saja kau tak mampu." Kata itu menusuk, menembus jauh ke setiap lapisan emosi Grace.
Kemarahan yang telah terukir di benak Grace kian membara. Namun, hidungnya terus meraup udara di sekitar, berusaha usir kemarahan yang tak akan dihargai oleh pria ini.
"Ada banyak orang di sekitar sini. Kenapa bertindak bodoh dengan bernegosiasi dengan kuda? Apa kau pikir kuda bisa diajak bicara?" Tak peduli bahwa perempuan di bawahnya kini tengah menahan sakit, Isaac terus memerosok ke setiap kesempatan atas bungkamnya Grace. "Bodoh boleh saja, tapi harus ada batasnya."
Grace berikan panggung untuk Isaac menghardiknya, menganggap setiap cercaan Isaac adalah udara bercampur bau kotoran kuda.
"Bangun." Satu kata singkat berikut tangan Isaac menjulur agar Grace meraihnya dan bangun.
Grace bangun dari rebahnya. Dia tak menjadikan tangan yang telah Isaac julurkan untuk membantunya bangun, membiarkan tangan Isaac menggantung tanpa sambutan.
Mendapati Grace yang menolak bantuannya, tanpa sadar Isaac meraup udara dalam genggaman kosong, menyisakan percikan sisa harapan.
"Well, terima kasih sudah memberitahuku, kalau saya ternyata sebodoh itu." Grace berucap lirih, menyemai sindiran di setiap ketukan lidahnya.
Di bawah teriknya matahari menyoroti bumi, rahang Isaac mengetat samar hingga Grace sendiri tak menyadarinya. Gerombolan perasaan asing menempati setiap lapisan emosi Isaac kala penolakan dari Grace ia terima.
"Apa kau pikir aku akan menembakmu jika kau meminta tolong padaku?" Isaac bertanya lirih.
Sedikit pun Grace tak menatap Isaac, dia lebih memilih menetapkan pandangan pada kuda yang telah membuat t*buhnya kesakitan. "Pikiran sedangkal itu tak mungkin saya miliki." Grace menjawab santai.
"Bagaimana jika itu benar?" timpal Isaac, nada datarnya menyingkap maksud tertentu, yang sialnya tak bisa Grace tangkap artinya.
Grace menoleh, kedua belah alisnya digerakkan samar hingga kening membentuk kerut. "Mati di tangan anda?"
"Itu bukan hal buruk," imbuh Grace, kembali melempar tatapan ke arah lain. Enggan memenuhi pandangan dengan Isaac Emiliano.
Isaac menegak kasar salivanya, buat tonjolan yang menjembatani tenggorokan bergerak jelas di lehernya. Seakan salivanya berwujud beban yang membebat lidah hingga kelu tak mampu lagi mengetuk kata-kata untuk menjawab Grace