Bab 14 - Siapa Pria Itu?

1126 Kata
Karena kekacauan kemarin berujung seluruh tulang dalam t*buhnya terasa remuk redam, Grace tetap berangkat kuliah, bahkan dia paksakan t*buhnya yang terasa sangat sakit untuk kerja paruh waktu di perpustakaan. "Ukh. Shhh." Grace tahan pinggang dan punggung yang terasa begitu remuk seraya membawa tumpukan buku menuju perpustakaan. "Kau terlalu memaksakan diri." Ethan tiba-tiba datang, tanpa bicara dia ambil tumpukan buku dari Grace. "Biar aku yang bawa," kata Ethan begitu Grace hendak protes. "Dari pagi aku melihatmu meringis terus. Kau sakit?" Ethan langkahkan kakinya senada dengan langkah sempoyongan Grace karena menahan sakit. "Hmm." Grace berdehem, untuk buka suara pun rasanya tak mampu. "Kenapa kau selalu memaksakan diri? Kan bisa sehari saja membolos." Celotehan Ethan dimulai. "Aku akan berkata pada Madam Vivian agar kau tak bekerja hari ini." "Tidak. Aku harus bekerja." Grace berucap tegas, tak peduli walau t*buhnya berontak agar ia beristirahat. "Grace. C'mon. Untuk apa memiliki uang banyak, kalau kau kesakitan seperti ini?" Nada lirih suara Ethan nyatanya tak mampu meluluhkan keinginan Grace. "Kau tak mengerti." Bahkan jawaban itu tak dapat menutupi ringisan menahan sakit dari bibirnya, buat Ethan menghela napas. "Baiklah. Tapi kau tak boleh menolak, karena aku akan memijatmu nanti." Grace biarkan Ethan berbicara semaunya. "Kulihat-lihat sepertinya seluruh t*buhmu kesakitan." Beberapa langkah lagi kaki mereka menjejaki area perpustakaan. Tibalah mereka di perpustakaan. Semula Ethan menaruh tumpukan buku baru tadi, lekas menarik Grace perlahan ke arah pojokan yang terhalangnya rak buku yang menjulang. "Di bagian mana kau merasa sakit?" Dengan gerak halus sebagaimana Grace adalah benda yang mudah rapuh, Ethan tempatkan Grace di atas meja. "Punggungku, pinggang, pundak. Tangan dan kakiku juga sakit." Grace mengabsen semua bagian yang diliputi rasa sakit. "Aku akan memulainya dari kaki." Ethan merendahkan posisi, duduk di bawah kaki Grace seraya tangan bergerak lembut dan hati-hati di betis Grace. "Katakan padaku jika aku menyakitimu," katanya dengan suara rendah, penuh perhatian, tersemat kasih sayang di setiap pijatannya. "Ukh. Di situ rasanya sakit sekali." Grace meringis, tangisnya ditahan kala rasa sakit di betisnya perlahan hilang oleh pijatan tangan Ethan. Ethan begitu fokus memijat kaki Grace, matanya tak lepas sedikit pun dari area yang dia sentuh. Khawatir sewaktu-waktu membuat kesalahan. Dan Grace yang begitu menikmati pijatan Ethan yang melonggarkan tegang di area betisnya, tak sabar menunggu pijatan Ethan di bagian yang lainnya. Sampai mereka tak sadar, adanya mata mengintai mereka di antara jejeran buku tepat di rak buku yang menyembunyikan mereka. Amarahnya bergerumul panas dalam d*da kala memori kemarin berputar di kepala, tanpa sadar benaknya membandingkan diri dengan pria yang telaten memijat Grace. Kemarin kau berlagak kuat di depanku. Namun, apa yang sedang kulihat ini? Tanpa harus dia lanjutkan pun sudah jelas perbedaannya dengan pria itu Grace terlihat sangat rapuh ketika Ethan bersamanya. Berkebalikan jika Grace bersamanya. Bahkan di tengah kesulitan pun dia tetap bungkam tanpa menyebutkan namanya sebagai pahlawan, berlakon bagai batu yang tak memiliki kelemahan. *** Karena pijatan Ethan kemarin, Grace merasakan dampaknya begitu luar biasa. Semula t*buhnya terasa berat untuk digerakkan, kini pergerakan Grace tak lagi terbatas oleh rasa sakit. "Ini baru pagi, tapi mataku sudah diganggu." Langkah Grace terhenti, suara Isla bagai genderang perang yang mengancamnya. "Apa lagi kali ini?" Grace mencoba berani, mendongak melihat wajah pongah Isla dan Lily. "Aku rasa aku tidak mengganggumu." "Kau tak tahu?" Lily menimpali dengan nada tinggi, mencemooh Grace melalui tatapannya. "Dengan kau hidup saja sudah mengganggu kami." "Mendengar deru napasmu saja aku muak." Suara Isla berdenging di telinga Grace, seakan siulan ancaman. Gumpalan saliva di dalam mulut Grace ditelan kasar, berupaya meredam muak yang membobardirnya. "The hell with whatever you say." Nada datar Grace bagai bensin mengguyur kobaran amarah mereka, buat kemarahan mereka semakin menjadi. Isla mengeratkan kepalan tangan, telapak sepatu mahalnya menyentuh setiap langkah sebelum mendekati Grace dan melemparkan serangan untuk Grace. "Aku pastikan kali ini kau tidak akan lepas!" Isla tarik sejumput surai Grace, membawanya menuju kamar mandi terbengkalai di sekitar kampus mereka. Lily ikuti jejak Isla di belakang, seringai pongah bersarat kemenangan tertera di wajah cantiknya. Begitu matanya menangkap seseorang tak jauh dari mereka, Lily angkat ibu jari dengan secarik senyum kemenangan. "Aku pastikan untuk menjalani perintahmu dengan sangat baik." Lily berbicara tanpa suara, sebab teriakan Grace bercampur teriakan Isla menyatu meredam suaranya. Pria berkulit hitam dengan balutan pakaian formal berdiri tegap tak jauh dari mereka. Masing-masing tangannya tersembunyi di balik kantong celana, seakan menyembunyikan perasaan sakitnya melihat perempuan lemah disakiti habis-habisan di dalam kamar mandi terbengkalai sana. "Maaf." Kata berjuta makna darinya terlontarkan. Kendati teriakan sakit dari dalam kamar mandi sana didasari oleh perintahnya, dia tak bisa terus menutup mata. "Maafkan aku." Lagi, kata itu dilontarkan begitu lirih, di penghujung harapan yang tersisa dia kembali berujar, "Tolong bertahanlah. Kau perempuan baik berhati lembut, kau layak lepas dari genggamannya." Matanya terus mengarah pada pintu yang Lily tutup rapat. Di balik pintu itu mengalun teriakan permohonan agar siksaan Isla dan Lily berhenti. "Nanti ... Nanti aku akan membantumu lepas darinya." Semakin teriakan sakit Grace memasuki rungunya, emosi yang selama ini tak pernah ditunjukkan akhirnya keluar. Selama hidupnya, sekalipun tak pernah meluruhkan tangisan. Namun, tangis kesakitan serta teriakan Grace di bawah siksaan Isla dan Lily berhasil mengoyak perasaannya yang lama mendingin. Di tengah pergulatan emosi, sebuah benda menyuarakan telepon di dalam saku celana. Tanpa menunggu lama segera dia sambungkan telepon mereka. "Bagaimana?" Sebelum menjawab, dia berdehem, menetralkan getar tangis semula ada. "Semuanya berjalan sesuai keinginan anda." Hening beberapa saat. Namun, dia tahu keheningan itu tercipta bukan untuk memberi ruang untuknya bernapas lega, justru d*danya terhimpit oleh keheningan yang menyembunyikan ancaman dari seseorang di ujung teleponnya. "Suaramu bergetar." Dia tersentak. Tak menyangka akan secepat ini seseorang di sana dapat menangkap kondisinya. "Kau menangis?" "Maaf, Sir. Saya sedang tak enak badan hari ini." Beralasan menutupi perasaannya, sementara jeritan tangis Grace mengaung di balik pintu rapuh di depannya, seolah pintu itu menggambarkan bagaimana perasaan Grace saat ini. "Lepaskan aku!!! Jangan pukul aku lagi!! Aku tidak akan mengganggumu lagi!!! Tolong lepaskan aku!!!" Teriakan Grace kian nyaring, dicampuri umpatan Isla dan Lily saling bersahutan. "Jangan pukul kepalaku!!! Kepalaku sudah berdarah!! Tolong berhenti memukulku!" Laki-laki berkulit hitam itu mendongakkan wajah, menahan air mata yang hendak kembali menetes. Tak sanggup mendengar lebih jauh suara sakit sang gadis di dalam kamar mandi rapuh itu. "Perempuan itu menangis?" Suara sang atasan mengalun pongah, keras seakan teriakan sakit Grace tak dapat menembus sisi manusiawinya. "Ya." Lelaki berkulit hitam itu menjawab singkat, sengaja agar getar tangisnya tak dapat ditangkap oleh pendengaran tajam sang atasannya. "Rekam suaranya. Dan buat tangisannya lebih keras dari ini. Pastikan dia terluka parah, kalau bisa buat dia pingsan dan masuk IGD." Perintah itu tak segera dijawab, biarkan teriak tangis Grace mengalun dan menyentuh sisi keras kemanusiaan sang atasan. Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu pada perempuan yang bahkan tidak pernah membuatnya rugi? "Baik, Sir." Pada akhirnya, dia tak bisa menolak perintah sang atasan selama hidupnya digenggam oleh sang atasan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN