Bab 15 - Cemburu Tanpa Sadar?

1204 Kata
Tungkai Grace melangkah tertatih, mencoba menopang t*buh dari energi yang telah terkuras. Bentuk wajahnya tak lagi sempurna, kening telah menampakkan luka beserta bercak darah, sudut bibir Grace yang telah habis ditampar Isla dan Lily robek hingga darah terlihat di sana. Beberapa kali bibir Grace keluarkan ringisan, mencoba menahan sakit di seluruh t*buh selama perjalanan menuju rumah. "Mom." Nada suaranya begitu lirih kala telapak kaki yang tak lagi bertenaga menapaki ubin penthouse. Elena muncul dari balik dinding, semuka dia tersenyum lebar hendak menyapa sang putri. Namun, senyum Elena surut kala kondisi buruk sang putri dia dapati "Grace! Astaga? Apa yang sudah terjadi?" Langkah Elena menuju cepat pada Grace, membantu Grace berjalan ke arah sofa. "Kenapa bisa seperti ini, Nak?" Suara Elena bergetar, isak tangis hendak keluar melihat kondisi sang putri. Rasa sakit di seluruh badan Grace usahakan untuk menahannya, tak ingin menumbuhkan kekhawatiran Elena. "Grace tidak apa-apa." Usahakan lidahnya bergerak menyuarakan jawaban, kendati bibir terasa amat pedih kala ia gerakan. Kepala Elana digelengkan, menahan tangis pilu dirasa hatinya begitu perih akan rasa sakit yang Grace terima. "Tunggu sebentar. Mommy ambilkan kamu obat dulu." Di sisi lain Elena jadikan itu alasan agar ia mendapatkan ruang untuk meluruhkan tangisnya, sungkan menangis di hadapan Grace. "Shhh." Kelopak mata Grace ditutup, meresapi setiap titik yang menimbulkan sakit di t*buhnya. Kala ketenangan menyapa kekacauan dalam kepala Grace, sebuah derap langkah menderu terkonsolidasi di atas lantai marmer. Sejenak Grace tak menanyakan gerangan yang menimbulkan derap langkah tersebut. Namun, semakin derap langkah ia tangkap jelas, hanya satu nama muncul di kepala Grace. Guna memastikan tebakannya, Grace buka pejaman mata sebelum matanya langsung berporos pada suatu objek. Dia tengah berdiri tak jauh dari tempatnya duduk bersandar— meregangkan t*buh yang telah dihabisi dua orang tadi— tatapan dingin dari mata kelabu itu menembus ketenangan, menabuhkan debaran d*da Grace kala mata mereka saling bertaut. "Tuan?" Grace alunkan suaranya yang lirih. "Anda di sini?" Mencoba menyapa di tengah buruknya keadaan, buat Grace sedikit menjauhkan punggung dari sandaran kursi sebagai bentuk sapaan. Isaac melangkah pelan, setiap ketukan dari alas sepatu berwarna merah sebagai khas dari label terkenal miliknya mengetuk membunyikan irama teratur di setiap pijakannya. Sisi kosong di samping Grace bergerak pelan kala Isaac menempatkan diri di sana. "Apa yang telah terjadi?" Dia bersuara lirih dengan suara baritonnya yang khas. "Hanya kecelakaan biasa." Grace menjawab tenang, menutupi rasa sakit luar biasa. Isaak menggulirkan tatap, pusatkan pandang tepat di setiap luka memar dan bercak darah di wajah Grace. Wajahnya tak melukiskan riak apapun, bagai permukaan dinding dingin kokoh yang tak bisa dijamah. "Kecelakaan?" Isaac membeo, skeptis terhadap jawaban Grace. Grace menegak ludahnya sebelum menjawab, "Ya." Di sisi Grace, Isaac duduk menempelkan punggung di depan kepala sofa, kepala diarahkan guna menelisik setiap luka tertera di wajah dan t*buh Grace. "Itu tidak masuk akal," kata Isaac, alisnya mengkerut samar. "Kenyataannya begitu." Kata-kata diuntai mengenakan suara lirih itu menerpa benak Isaac, mencuatkan perasaan asing yang kembali hadir memporak-porandakan logikanya. Terlebih, saat Grace tak menunjukkan keluhan atas sakit yang diderita. Tidak seperti beberapa hari lalu, kala Isaac dengan nekat menerobos masuk ke kampus Grace, mengintai Grace mengenakan mata kepalanya sendiri, muak pada perasaan aneh yang sering mengusiknya akhir-akhir, sebelum Isaac ditampar kenyataan akan kedekatan Grace dengan Ethan dan di sana Isaac tahu satu hal: Grace membentangi pembatas di antara mereka. Isaac tak menjawab, biarkan senyap mendekap mereka. Wajahnya selalu terlihat tenang, bagai permukaan air di tengah danau, berbanding terbalik akan benaknya, kacau. Perasaan marah yang tak Isaac pahami asal-usulnya terus mengganggu, sementara Grace merapatkan bibirnya, tak ada lagi kata atau bahkan keluhan sakit darinya. Bersekon-sekon telah pergi, Elena tak kunjung datang menyelamatkan Grace dari atmosfer tak menyenangkan dari Isaac. Bahkan oksigen yang semestinya buat paru-paru Grace rileks, bertransformasi bagai poison menghadirkan sakit yang mencekik Grace. "Malam ini." Isaac bersuara usai keheningan merayapi mereka. "Ikutlah denganku." Usai kata itu dilontarkan, dia pergi, meninggalkan Grace sekaligus luka yang jauh lebih dalam dari luka di tubuhnya. *** "Kalian mau kemana?" Elena bertanya, terheran saat Grace dan Isaac bersiap hendak keluar. "Kita ada urusan. Saya izin membawa Grace sebentar, ya, Bibi." Isaac menuturkan ucapannya begitu halus, menyerupai seorang putra yang begitu patuh pada orang tuanya. Dan Grace masih tidak dapat menerima Isaac yang begitu kontras jika bersama sang ibu, dia selalu gatal ingin berteriak di telinga sang ibu bahwa apa yang Isaac katakan adalah manipulasi. "Sebenarnya Bibi tidak ingin mengizinkan." Ungkapan khawatir Elena diungkapkan begitu lirih. "Grace sedang sakit. Tapi kalau memang urusannya sangat penting, tolong jaga Grace, ya. Jangan sampai dia kembali sakit." "Baik, Bibi. Terima kasih. Saya pasti akan menjaga Grace dengan baik." Terima kasih? Benak Grace pertanyakan sosok Isaac. Pria itu benar-benar menjalankan perannya sebagai malaikat di depan Elena, bahkan kata-kata yang merupakan kata-kata keramatnya dengan suka hati diberikan pada Elena. "Kami pamit, Mom." Keduanya melangkah serentak, meninggalkan rumah serta Elena yang masih dilingkupi khawatir. *** Isaac membawa Grace ke hotel, tempat yang tak pernah datang bahkan sekelebatan pun di benak Grace, mengingat Isaac tak pernah meminta Grace menjalankan tugasnya di hotel dan selalu dilakukannya di rumah. "Kenapa kau buka baju?" Isaac bertanya terkejut kala Grace langsung buka pakaian begitu tiba di kamar hotel. Grace menaikan pandang, tanda tanya tertera di sorot matanya. Tempat yang mereka saat ini sambangi bukankah sudah jelas tujuannya? "Saya melakukan kesalahan?" Grace bergumam polos, buah d*da yang masih dibalut bra terpampang begitu blouse Grace turun dari lengannya. Wajah datar Isaac mengeras, kulit rahangnya mengetat hingga tonjolan urat tercetak samar di sana. Deretan gigi dalam mulut saling beradu kala sebongkah amarah bergerumul dalam benak. "Kenakan kembali pakaianmu." Nada datar dari Isaac bercampur marah seakan menggerakan Grace kembali mengenakan pakaiannya. "Malam ini kita beristirahat di sini." Isaac alihkan pandangan, melepas tautan pandangan mereka. "Sebentar lagi dokter datang." "Dokter?" Grace membeo, matanya ikuti langkah Isaac. "Untuk apa?" Tungkai Isaac berhenti di satu titik, rasa marah semula terpahat dalam benak dihantam perasaan asing lain yang meleburkan kemarahannya. Tidak ada kata lagi dari bibir Isaac. Lelaki itu hanya mendekat, meniadakan jarak, menempatkan tangan di leher Grace. "Kenapa?" Grace memandang polos, tak menangkap adanya kemarahan di mata Isaac. Dan dalam sekali hentakan, bibir mereka saling berjumpa. Sementara tangan Isaac masih bertengger di leher Grace, menahan sang dara agar tetap diam di radarnya— menerima sesapan kasar dari bibirnya. Tidak ada cinta, tidak ada gairah, ciuman itu adalah sarat atas kobaran amarah yang telah memuncak, dikuasai oleh keinginan untuk mengendalikan, menguasai tali kekang yang telah ia genggam terhadap gadis ini. Isaac menekan giginya dengan keras di bibir bawah Grace, menimbulkan rasa asin berasal dari darah di sana, menyalurkan amarah yang menggelegak, berikan hukuman di setiap gigitannya. "Ukh, Tuan." Grace meringis. Grace ingin mendorong Isaac, hentikan ciuman kasar berupa hukuman dari sang pria. Namun, tangan Isaac semakin menekan kepalanya, memperdalam ciuman mereka, menahan Grace dalam kubang kemarahan. Bibir Isaac bergerak semakin liar, kasar, penuh tuntutan. "To-tolong perlahan." Isaac melampiaskan marahnya tanpa peduli, dan Grace hanya bisa pasrah. Bukan karena lemah. Grace terlampau sadar di mana posisinya. Dia hanyalah alat permainan Isaac, tak lebih dari itu. Tidak ada ruang untuk melawan. Tidak ada tempat untuk berlari. Bahkan saat tubuhmu sendiri menyatakan kau tidak baik-baik saja, kau tetap berpura-pura kuat di depanku. Tidak saat kau bersama pria itu. Kata-kata itu terperangkap di tengah tenggorokan, tidak Isaac ketukan melalui lidah, menyalurkan kemarahan melalui ciuman yang menyiksa sang dara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN