Seolah waktu mengejar, Isaac terburu menanggalkan seluruh kain dari tubuh Grace. Melupakan kemarahannya saat Grace berinisiatif membuka bajunya sendiri tadi.
Aliran napas menyerbu hidung Isaac, seolah sehabis berlari berkilo-kilo meter, buih-buih keringat di sekitar pelipis bermunculan. Rahangnya mengetat, menonjolkan segaris urat di leher, amarahnya tak lagi dapat dibendung.
"Malam ini ... kau habis di tanganku." Isaac bersuara serak, dengan nada yang terdengar berat. Namun, mengancam.
Garis matanya menyimpan kilat amarah yang begitu kental, bagai racun berbahaya yang ingin membunuh Grace.
Lidah pria itu menelusuri setiap jejak di tubuh Grace. Bibirnya terkadang meninggalkan jejak kecup kemerahan, memberikan sensasi panas yang menuntun adrenalin Grace.
"Aku sangat membencimu." Bisik dari suara beratnya menyentuh rungu Grace.
Grace memejamkan mata, takut. Takut dilahap habis-habisan oleh predator berbahaya ini. "Itu hak Tuan." Suaranya bergetar.
"Benci saya sepuas yang Tuan mau." Dia berani melawan, saat rasa takut telah terbentuk.
Perut Isaac tergelitik. Seakan jawaban Grace adalah lelucon paling buruk yang mengundang gelitik lucu sebelum tawanya menggelegar, menggema memecah sunyi di ruangan hotel.
"Well. Di awal pertemuan. Aku berpikir kau satu-satunya p*****r pemberani." Telunjuk Isaac menyusuri pelan di bawah pusar Grace, berikan sensasi yang mengundang suara aneh dari bibir Grace.
"P*lacur yang tidak sadar pada posisinya sendiri. Terlalu berani. Aku suka keberanian dibuat-buat itu." Dia tertawa lagi, tertawakan sosok perempuan rendahan yang kini berusaha menahan desahannya.
"Mendesahlah." Ungkapannya adalah perintah. "Tidak perlu kau pentingkan itu harga diri. Karena pe*acur tidak memiliki hak untuk memiliki harga diri."
"Saya p*lacur, bukan b***k. Saya masih memiliki hak sebagai manusia merdeka." Grace menggigit bibirnya, tiga jari Isaac telah melesat ke dalam titik sensitifnya.
Dia mulai menggerakkan jari, kasar, brutal, hingga rungu Grace sendiri menangkap peraduan tiga jari Isaac di dinding selaput daranya yang kemudian menyapa dinding rahimnya.
"Aku semakin membencimu." Gigi Isaac saling bergelamatuk, menyuarakan kemarahan. "p*****r pemberani. Aku benar-benar membencimu, sampai aku ingin membunuhmu."
"Lakukan jika itu bisa membuat Tuan puas."
"Ya." Ujung bibir Isaac membentangkan seringai. "Aku akan membuatmu mati malam ini."
Dalam sekali hentak, Isaac membalikkan tubuh Grace. Memposisikan tubuh itu bagai anjing, menyatukan dua tangan Grace dalam ikatan tali dari dasinya di atas punggung Grace.
Tidak ada belas kasih, Isaac terus bergerak kasar di atas kekuasaannya yang absolut. Berkali-kali mulutnya menyemburkan kata-kata untuk merendahkan Grace, ungkapan kebencian tiada ujung.
Membuat Grace akhirnya menyerah sendiri. Pingsan setelah nyaris semalaman dikuasai amarah pria itu.
***
"Bibi Elena menghubungiku kemarin. Dia bilang kau babak belur pulang kuliah. Apa itu ulah Isla?" Ethan menuntut pengakuan Grace, matanya berkilat marah kala luka di wajah Grace masih tertera di sana.
Satu lolosan napas menguar dari mulut Grace. Rasa lelah menghadapi hidupnya yang tak lagi aman dalam genggamannya masih bersemayam.
"Ya." Grace menjawab enggan.
Ethan berdecak, dugaannya tak pernah salah. "Kita harus segera melaporkannya, Grace. Mereka tidak akan berhenti jika terus-terusan dibiarkan."
"Sudahlah." Respons Grace mengejutkan Ethan, sebuah keganjalan dari lelahnya wajah Grace pun Ethan tangkap. "Biarkan saja dia. Nanti juga bosan sendiri."
"Mana bisa seperti itu." Oktaf suara Ethan sedikit meninggi. Dia menyayangkan hari kemarin tak bisa menolong Grace dari Isla karena ujian praktek bersama kelompoknya.
"Aku mau ke kamar mandi." Grace memilih menghindar, mentalnya tengah dibombardir lelah jadi dia tak ingin Ethan menambah bebannya.
Ethan tak protes, dia biarkan Grace pergi. Tetiba pertanyaan-pertanyaan bermunculan. Kendati Isla beberapa kali menindas Grace, perempuan itu pasti akan membeberkannya walau sering menolak jika Ethan meminta untuk melaporkan Isla. Namun, kali ini sangat berbeda, Grace jauh lebih pendiam dari biasanya.
"Sebenarnya apa yang sedang kau sembunyikan dariku?" Ethan bergumam, matanya mengikuti langkah Grace.
***
Di dalam bilik kamar mandi, Grace merenung— semuanya menjadi kacau. Semula Grace berpikir masalah akan selesai setelah dia mengorbankan diri untuk pengobatan sang ibu. Namun, semua itu meleset dari kenyataannya. Dan sekarang dia terjebak dalam jeruji emas Isaac Emiliano, bahkan kemarahan Isaac kemarin turut mengusik ketenangan pikirannya.
"Apa kau sudah menerima uangnya?" Suara Lily menyelinap di antara selimut keheningan.
Getar takut mulai merambat menghantui Grace, fragmen-fragmen ingatan kemarin berputar di kepala, berdenging nyaring kala suara Isla dan Lily saling bersahutan di luar bilik toilet.
"Tidakkah kau merasa aneh?" Suara Isla menyahuti, sementara Grace memeluk diri di atas toilet dari serangan trauma yang kemarin meteka torehkan padanya.
"Pria hitam itu tiba-tiba datang padaku dan memintaku untuk menyiksa Grace. Aku rasa perempuan j*lang itu telah mengusik orang penting, selain kita." Penuturan Isla tak lagi menghadirkan debar takut, justru menumbuhkan perasaan lain.
Pria berkulit hitam? Menyuruhku? Seingat Grace, dia tak mengenal atau bahkan dekat dengan seseorang berkulit hitam. Dalam hidupnya ia hanya dekat dengan Elena dan Ethan, dan mereka tak berkulit hitam. Namun, begitu Grace gali sedikit lebih dalam ingatannya, ada satu orang pria berkulit hitam yang menjadi kemungkinan bersangkutan dengan hidupnya.
Luke, personal assistant Isaac.
"Siapa nama pria itu?" Pertanyaan Lily buat Grace membesarkan telinganya, dia ingin pastikan dugaannya.
"Luke."
Jawaban singkat Isla bagai bom yang menghantam Grace.
Tak perlu lagi Grace telaah gerangan yang memerintah mereka untuk menindasnya.
Jelas itu adalah perintah langsung dari Isaac Emiliano.
"I-Isaac?" Grace gumamkan nama itu, t*buhnya mulai merespons emosi negatif yang telah melingkupi benaknya. "Apa lagi yang pria itu mau?"
Wajah rapuh Grace ditopang oleh telapak tangannya, tahan gelombang amarah yang naik menuju puncaknya.
"Aku telah setuju untuk menjadi miliknya, bahkan dia telah membakar rumahku agar aku dapat tinggal di propertinya. Dan sekarang apa lagi yang dia mau?" Grace bergumam di sela kemarahan yang tertahan, dia benar-benar muak pada Isaac.
Di atas materai Grace telah membubuhkan persetujuannya atas penggadaian dari hidupnya. Namun, ternyata itu belum cukup, masih ada lagi yang Isaac inginkan darinya walau telah berkuasa penuh atas hidup Grace.
***
"Kau terlihat seperti mayat hidup." Suara Isaac mengalun bercampur bersama keramaian kota di luar jendela mobil.
Grace tak segera menyahuti, pandangannya mengarah pada dunia yang tetap berjalan. Sejenak biarkan hidupnya yang telah digadaikan ia lupakan.
Pria itu datang tiba-tiba ingin menjemputnya di kampus, entah apa lagi yang dia inginkan. Namun, Grace bisa menjadikan saat-saat seperti ini untuk menanyakan perihal Isla dan Lily.
"Kemarin kau bertanya padaku setelah melihatku pulang dalam keadaan babak belur." Grace baru membuka suara, melempar kembali pembicaraan mereka kemarin.
"Ya." Isaac menjawab singkat, benaknya menerka dan menumbuhkan sedikit harapan Grace akan merintih memohon padanya.
Tanpa melirik Isaac, Grace kembali berucap, "Jika anda mengikuti casting film anda pasti lolos," katanya seolah mengejek. "Anda pandai memainkan peran."
Masih enggan menatap Isaac, Grace kembali melanjutkan ucapannya, "Saya sudah mendengar anda meminta dua orang itu untuk menindas saya."
Isaac tetap tenang di tempatnya, sedikit pun rasa bersalah tak dia tampilkan. Wajah tanpa riaknya masih tetap sama, dengan mulut terkatup rapat, dia dengarkan setiap ketukan kata dari bibir sang dara.
"Tuan." Alunan lirih dari suara Grace menyerupai doa atas keputusasaan. "Apa lagi yang anda mau dari saya?"
Pertanyaan Grace bagai bogem menghantam logika Isaac. Di tempatnya dia termangu terkejut terhadap pertanyaan itu, bukan permohonan lirih atas keputusasaannya yang sangat Isaac dambakan.