Bab 17 - Sebuah Rencana

997 Kata
"Apa lagi yang anda mau dari saya?" Pernyataan itu terus berputar dalam rungu Grace, bersamaan keheningan merayapi mereka kala itu. Isaac tak membuka mulut sampai mereka tiba di penthouse, seolah pertanyaan Grace adalah angin tanpa arti. "Sebenarnya kenapa dia sampai seperti itu?" Dan kepala Grace tak ada hentinya mencari jawaban. "Aku rasa tidak ada lagi yang kupunya. Semua yang kumiliki sudah dia miliki. Selain itu? Apa lagi?" Bergumam kesal di depan laptop yang menyala. Bahkan tugas kuliah yang seharusnya Grace kumpulkan besok pun harus Grace tunda pengerjaannya. Dia tak bisa berpikir jernih kala Isaac Emiliano masih menguasai pikirannya. "Tidak mungkin dia marah karena aku selalu cuek." Tebakan itu masih Grace timbang kebenarannya. Telunjuk mengetuk ujung dagu selama kepala berputar mencari jawaban sekaligus solusi, sebelum sebuah ide terlintas di kepala. *** "Good morning." Senyum Grace merekah, bersinar mengalahkan seberkas cahaya mentari pagi menyelinap di setiap ventilasi. "Kamu terlihat bahagia hari ini, Sayang." Elena mengambil duduk di kursi, perhatikan sang putri menyiapkan sarapan. Grace sajikan beberapa menu sarapan ke atas meja, bersama sebuah kotak bekal yang ia isi dengan sandwich, mashed potatoes, kentang goreng serta jus jeruk. Hal tersebut tak luput dari penglihatan Elena. Benak wanita setengah baya itu bertanya-tanya. "Kamu mau membawa bekal hari ini? Tidak biasanya." Elena bergumam di sela kunyahan sandwich telur buatan Grace. Grace rapikan kotak bekal, kemudian memasukannya ke dalam tas bersama dengan sebotol jus jeruk. "Bukan untukku." Bibir ranum berwarna merah cherry itu merekah, kebahagiaan tertera jelas di wajahnya. Elena memiringkan wajah, mencari hal yang menjadi sumber kebahagiaan sang putri di pagi hari ini. "Mommy tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi Mommy selalu berharap kebahagiaan kamu itu tidak sebentar." "Apa maksud Mommy?" Usai merapikan kotak makan bekal, Grace menempati kursi bersebrangan dengan Elena. "Tuan Isaac belum kemari?" Bibir Elena tertahan, menahan lengkung senyum usai menyambungkan pertanyaan tak biasa Grace dengan tindak-tanduk anehnya pagi ini. "Tidak biasanya kamu bertanya seperti itu." Bahkan untuk menyapa Isaac pun Grace tak pernah melakukannya, dan pagi ini pertanyaan mengenai kehadiran Isaac tiba-tiba keluar dari Grace. T*buh Elena dicondongkan sedikit ke depan, matanya memicing kelakar bersama curiga sebelum berucap, "Biar Mommy tebak. Kotak makan itu pasti untuk Isaac." Seraya mengunyah sandwich, Grace mengangkat bahu. Senyum di bibir sengaja ditahan, menyamarkan perasaan sebenarnya. Ini adalah sebagian dari rencana Grace yang telah dipikirkan secara matang semalam: dia akan menyamakan sikapnya dengan Isaac dan sang ibu, berharap dengan itu Isaac berhenti mengganggunya dan cukup menjadikannya alat pemuas nafsu saja. Ting tong. Bel berbunyi menyelinap di antara perbincangan mereka. Grace suapkan sisa potongan sandwich, lekas berlari kecil untuk membukakan pintu. Elena melihat itu menggeleng tak habis pikir. Sempat berpikir hubungan Grace dan Isaac sangatlah buruk hingga Grace selalu bersikap tak acuh. Namun, melihat perubahan Grace sekarang cukup membuatnya bahagia. *** "Tuan? Anda sudah datang?" Grace menyemai senyum hangat, sangat kontras dengan hari kemarin. Isaac menggerakan alis kanannya— sedikit naik, seolah menanyakan perubahan Grace dalam satu malam saja. "Come in." Grace menarik daun pintu, memberi ruang agar Isaac dapat memasuki rumahnya. "Saya membuatkan anda sarapan. Semoga saja anda suka." Setiap langkah menuju dapur, Isaac menyerukan pertanyaan atas perubahan Grace. Bahkan wajah yang biasa menampilkan dinding kokoh, kini sedikit menunjukkan riak heran. Jelas ingatannya masih utuh, bahkan bayangan Grace dengan wajah datarnya menanyakan keinginannya setelah menyuruh dua orang menindasnya masih Isaac ingat. Bagaimana ceritanya Grace bisa berubah hanya dalam satu malam? Wajah cantik itu, dia tak biasanya tersenyum hangat pada Isaac, tiba-tiba menyapa Isaac dengan senyum hangat seakan hubungan mereka sangat akrab. "Ini. Ambillah." Grace menyorongkan sebuah tas berisikan kotak makan. Isaac lekas mengambil tanpa bertanya, tapi matanya memindai penuh tuntutan agar Grace ungkapkan perubahannya yang sangat cepat. "Hari ini Grace sedang bahagia. Jadi dia membuatkanmu sarapan." Elena hampiri mereka. "Kamu sudah sarapan, Isaac?" tanya Elena, kasih sayang dan perhatiannya tersalurkan menghangatkan benak Isaac. "Belum," jawab Isaac, pandangannya jatuh pada tas di genggaman. Apa yang sedang kau rencanakan? Kemudian pandangan Isaac menuju pada Grace. "Bagaimana kalau Tuan Isaac sarapan dulu di sini? Saya juga membuatkan Tuan kimbab." Dengan langkah kecilnya, Grace berjalan ke arah meja makan lalu mengambil piring berisikan kimbab. "Kimbab ini tidak pedas. Saya yakin Tuan pasti suka." Selain menyerahkan sepiring kimbab, Grace berikan sebuah sumpit pada Isaac. Andai tak ada Elena di antara mereka, Isaac akan tanyakan langsung perubahan aneh Grace pagi ini. Walau pertanyaan terus berputar di kepala, Isaac akan bersikap seolah tak penasaran. Dia ambil satu potongan kimbab sebelum melahapnya perlahan. "Apa itu enak?" Binar harapan Grace terpancar di kelopak mata almondnya. Wajahnya jauh lebih berseri dan bersinar dari hari kemarin, dan ... itu cantik. "Not bad," sahut Isaac, menaruh sumpit di sisi piring. Lengan berbalut jas serta kemeja, Isaac angkat guna memperlihatkan jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Sudah jam sembilan. Ayo kita berangkat," katanya datar, melirik Grace yang sangat aneh di matanya. "Kamu belum sarapan. Tidak apa-apa?" Elena bertanya khawatir. Isaac baginya tak hanya penyelamat hidup, melainkan seorang putra baginya, mengingat kehadiran Isaac kerap kali menambah kehangatan keluarga kecil mereka. "Saya bisa sarapan begitu tiba di kantor." *** Termangu di depan kotak makan yang telah terbuka, menyajikan tiga menu makanan berbeda. Namun, tak ada tanda Isaac akan menyentuhnya. Benaknya masih dilingkupi pertanyaan, sewaktu di perjalanan pun didominasi oleh keanehan Grace yang tiba-tiba menanyakan makanan favoritnya, padahal Grace selalu diam setiap mereka berjumpa. "Apa kau bisa menebak kenapa perempuan itu tiba-tiba berubah?" Akhirnya Luke yang menjadi pelampiasan keheranan Isaac. Luke berkedip beberapa saat, mencoba mencari jawaban yang tepat untuk tuannya. "Saya rasa Nona Grace ingin lebih dekat lagi dengan Tuan." Jawaban Luke sebenarnya terdengar masuk akal. Namun, tidak bagi Isaac. "Itu tidak mungkin," gumam Isaac, menyangkal pernyataan Luke saat dia sendiri sudah mengetahui separuh karakter Grace. "Kau dengar sendiri kemarin dia terlihat marah padaku, bagaimana mungkin tiba-tiba berubah dengan alasan seperti itu?" Punggung Isaac bergerak menempel dengan kepala kursi kerja. "Pasti ada sesuatu yang sedang dia rencanakan." Isaac bergumam lirih. "Apalagi aku selalu merasa aneh ketika bersamanya." "Setelah kupikir. Bisa saja perubahannya adalah taktik untuk memanipulasiku," imbuh Isaac, sebelum seringai terbit di wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN