Lengan berbalut jas navy milik Isaac terulur. Telunjuk menekan sebuah bel di sisi pintu sebuah unit penthouse, berikan tanda kehadirannya pada orang rumah.
Entah mengapa, semenjak ia berikan Grace serta Elena tempat untuk bernaung, kehangatan asing menerpa benak Isaac. Semula hidupnya selalu dilingkupi dingin dan kehampaan, dua emosi itu perlahan pergi begitu Grace dan Elena datang seolah lentera di tengah kabut gelap yang dulu mendekap Isaac.
"Tuan?" Grace muncul di balik pintu. "Akhirnya anda datang." Ungkapan itu sebagaimana harapan atas kehadirannya, yang mencuatkan sebuah perasaan asing.
Akhirnya anda datang? Dia mengharapkanku? Benak Isaac bergumam sangsi. Sudah dua hari dia mendapati perubahan Grace, dan belum ada kesempatan untuknya menanyakan perihal itu.
"Saya sudah membuatkan kimbab. Kali ini berbeda dari yang sebelumnya." Langkah riang Grace menuntun mereka menuju ruang makan.
Sementara Isaac— benaknya dibombardir ribuan tanya. Lebih dari itu, perasaannya selalu saja merasakan hal aneh acapkali senyum Grace terbit merujuk padanya, bukan lagi hanya pada Ethan atau Elena.
"Ini. Kimbab ini berisi nasi goreng dan keju mozzarella. Anda pasti suka." Grace berikan sepiring kimbab buatannya, bibir ranum dengan warna merah alami itu melengkung ukir senyum.
Garis mata tajam yang menyimpan iris kelabu milik Isaac memindai curiga. Di laporan Luke, tidak tertulis mereka memberikan racun pada makanannya. Anehnya d*daku berdebar, padahal makanan ini belum aku makan. Saat hati bergumam curiga kala debaran dalam d*da bertabuh riuh tanpa sebab, Isaac nekat mengambil sepotong kimbab sebelum melahapnya.
"It was pretty good." Isaac bergumam disela kunyahannya, lelehan keju mozzarella membelai lidahnya bersama bumbu yang kuat dari nasi goreng.
Bibir Grace masih melengkungkan senyum, iris almond-nya berbinar cerah, dan hal sesepele itu berhasil buat d*da Isaac bertabuh dengan irama kacau.
Terlampau kacau, rungu Isaac sendiri dapat mendengar kerasnya tabuhan jantung dalam d*danya. Kemudian Isaac berdehem, berupaya menetralkan debaran d*da, berharap Grace juga tak mendengar kericuhan d*danya.
"Saya yakin anda belum makan malam." Piring di tangan pun Grace tempatkan di atas meja makan, dia tarik sebuah kursi di sana, persilakan Isaac untuk menempatinya. "Duduklah di sini. Saya akan menyiapkan makan malamnya. Kebetulan kami juga belum makan."
Masih dengan kecurigaan bahwa Grace meracuni makanannya— terlebih kala jantungnya dirasa berdetak jauh lebih cepat usai melahap kimbab— lantas Isaac berjalan sebelum menduduki kursi.
"Di mana Ibumu?" tanya Isaac, matanya belum menangkap eksistensi Elena.
"Mommy?" Grace bergumam mengulang pertanyaan Isaac. "Dia sedang lari di bawah." Dengan cekatan, Grace sajikan makan malam di atas meja.
Untaian rambut di sisi wajah Grace berjatuhan nyaris menyentuh kulit halus leher jenjang Grace, sebagian rambutnya dicengkram oleh jepit rambut. T*buh kurusnya hanya dibalut kaos putih polos dengan celana pendek yang bahkan tak dapat ditangkap mata.
Penampilan sederhana seorang perempuan di dalam rumah. Namun, efeknya tidak sesederhana itu. Melihat kesederhanaan Grace yang jatuhnya seksi di mata Isaac Emiliano, buat tenggorokan Isaac kekeringan hingga gumpalan saliva di tegak keras-keras.
Tonjolan samar di bagian d*da Grace menyerupai kaset rusak yang memutarkan tampilan Grace tanpa sehelai benang pun beberapa hari lalu. Kulit putih halus di bagian paha Grace bagai makan malam yang lebih lezat dibanding makanan yang telah Graze sajikan di depannya.
"Kau sengaja berpakaian seperti itu?" Bariton suara Isaac bernadakan ancaman, matanya berkilat bagai predator.
Gerakan Grace terhenti, sejenak dia perhatikan pakaiannya. "Tidak." Ungkapan lugas Grace meruntuhkan tuduhan Isaac yang berpikir Grace telah menggodanya.
"Saya biasa berpakaian seperti ini kalau di rumah. Apa Tuan merasa terganggu?" Pertanyaan polos seorang mangsa kala predator tengah mengintainya.
Grace selesaikan kegiatan menyajikan makan malam, hingga semua makan malam telah tersaji, tinggal menunggu kehadiran Elena. Namun, ada seorang predator yang harus dia layani tengah membidik tajam ke arahnya, seolah ingin menjadikan Grace makan malamnya.
"Setiap datang kemari, aku tidak pernah melihatmu berpakaian seperti itu?" Iris kelabu terang Isaac memindai ujung kaki hingga ujung kepala Grace, tak ada satupun celah ia lewati.
Semakin Isaac rekam t*buh Grace yang hanya dibalut kaos putih kebesaran di t*buhnya, debaran jantung Isaac berdetak kian kencang begitu adrenalinnya terpantik.
"Come here." Dia menyuarakan perintah dengan suara berat, menggiring kaki Grace untuk menghampirinya.
Walau tahu Isaac tengah menekannya melalui tatap mata tajam, Grace tetap patuhi keinginan Isaac. Dengan langkah yang terasa begitu berat, Grace hampiri Isaac.
"Duduk di sini." Isaac menepuk pahanya, beri isyarat agar Grace menjadikan pahanya tempat duduk.
Guna mengusir tegang selimuti benak, Grace menekan tenggorokan kala saliva bergerumul dalam mulut. Lantas b*kongnya digerakkan mendarat tepat di atas paha Isaac.
"Kau yakin tidak berniat menggodaku?" Di sisi telinga Grace, nada suara berat Isaac menerpa menghantui rungu.
"Ya." Grace menjawab singkat, menahan geli saat tangan Isaac perlahan menyusuri ke dalam kaosnya.
Ujung hidung bangir Isaac perlahan menyentuh garis leher Grace, terpaan udara dari napasnya menggelitik setiap inci kulit leher Grace. Bau vanilla menguar dari t*buh Grace, memasuki rongga hidung Isaac yang kemudian terhantarkan ke dalam otaknya, usir kericuhan dalam kepala, berikan ketenangan hanya dari bau t*buh Grace.
"Lalu bagaimana dengan perubahanmu yang tiba-tiba?" Walau pelan, Isaac pastikan tangannya mendarat bagian sensitif Grace, dengan gerak penuh perhitungan dia putar jarinya di atas kain yang membalut pusat t*buh Grace.
"Ukh." Grace pejamkan mata, menahan desah dari bibirnya. "I-itu karena saya ingin memperbaiki hubungan kita." Jawaban tergagap Grace terurai, tangannya bergerak refleks menahan tangan Isaac agar tak memainkan bagian tersensitifnya di bawah sana.
Belum lama bagian bawahnya dimainkan jemari Isaac, kini saatnya leher Grace diberikan sensasi geli dari lidah Isaac.
"Hanya itu?" Isaac membisik parau, kepalanya telah berteriak agar dia segera menarik celana Grace dan memasukkan miliknya ke dalam milik Grace.
"Kau tiba-tiba tersenyum padaku, membuatkanku bekal, sarapan, bahkan makan malam." Selagi lidah dan bibir meninggalkan jejak basah di sekitar leher, Isaac suarakan isi kepala yang akhir-akhir mengusiknya. "Selama ini kau tak pernah seperti itu. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang membuatmu tiba-tiba berubah?"
"Jawab sekali lagi dengan jujur." Rongga hidung Isaac membaui begitu rakus setiap aroma dari kulit Grace, sesekali kecupannya mendarat di sana. "Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah?" Kala kemarahan memuncak, tangan Isaac langsung menerobos kasar ke dalam celana Grace, menempatkannya tepat di depan milik Grace.
"Uhhhh. Saya ingin, saya ingin menganggap Tuan lebih dari majikan saya. Ahhh ...." Tak lagi mampu mendorong desakan gairah dari permainan Isaac di dalam pusatnya, Grace lolongkan desahan di penghujung ucapannya.
"Tidak tahu diri sekali." Isaac menguraikan tawa sarkas. "Kau lupa posisimu?"
Grace tak peduli bagaimana Isaac merendahkannya, isi kepalanya telah pergi kala telunjuk Isaac berhasil masuk ke dalam miliknya, memaju-mundurkan dua jari di dalam sana, sambil sesekali mengabsen setiap objek di dalam sana.
Tangan Grace berpegangan erat di lengan Isaac, berikan cengkraman kuat sebagai lampiasan hasratnya.
"Melihat anda yang terlihat peduli pada Mommy saya. Membuat saya berpikir untuk menjadikan anda bagian dari keluarga saya." Grace paksakan diri menuturkan alasan kala permainan Isaac semakin kasar.
Bunyi peraduan tangan Isaac beserta miliknya yang telah keluarkan cairan kental di atas kursi di sisi meja makan bagai kidung erotis di tengah makan malam.
"Keluarga?" Dengan wajah datarnya Isaac tunjukkan cairan sensitif Grace di tangannya. "Apa ini adalah bagian dari makan malam sebuah keluarga?"
"Kau mendesah saat jariku memainkan milikmu. Dan kau ingin kita menjadi keluarga?" Kritikan tajam Isaac dibisikkan berat di sisi telinga Grace. "Sejak kapan keluarga melakukan hal tidak senonoh di meja makan?"
"Jangan bercanda." Bagaimana memelasnya wajah Grace usai Isaac berhasil membuat Grace keluarkan cairan nikmatnya, Isaac tertawa pelan dengan nada sarkas. "Hubungan kita tertulis di atas kertas. Dan kau harus tahu batasan."
"Kau mendapat keuntungan dariku. Tak lain adalah, aku majikanmu. Kau yang menjalani perjanjian denganku, jangan ingin diperlakukan sama dengan Ibumu." Di tengah kekacauan dari permainan Isaac, Grace terdiam seraya mengatur aliran napasnya.
Berpatah-patah kata menusuk Isaac sama-sekali tak berpengaruh. Pria ini memang puzzle rumit yang tak bisa Grace pecahkan begitu saja, perlu perjuangan agar Grace dapat menyusun puzzle ini.
Dan akan Grace pastikan pria ini akan menjilat perkataannya di suatu saat nanti.