Bab 19 - Harapan Elena

1041 Kata
Grace duduk termangu di kursi tunggu luar ruangan di mana Elena tengah menjalani kemoterapi. Jantungnya berdetak tak keruan, dialiri harapan yang tak pernah putus akan kesembuhan Elena. Sayangnya fokus Grace pecah kala fragmen memori semalam mengacaukan. "Kau mendapat keuntungan dariku. Tak lain adalah, aku majikanmu. Kau yang menjalani perjanjian denganku, jangan ingin diperlakukan sama dengan Ibumu." Buncahan amarah seketika memborgol benak Grace. Jika memorinya kembali memutar pada interaksi intim mereka di malam hari itu, Grace selalu ingin mengakhiri hidup. Seakan dia adalah sampah tak berguna, Isaac tak pernah sekalipun menjaga perasaannya walau memang Grace hanyalah barang gadaian yang bebas dia mainkan kapan saja. Namun, untuk berbicara seperti itu saat Isaac sendiri selalu berbuat kasar padanya setiap kali Grace menganggapnya acuh tak acuh, jelas itu membuat Grace kebingungan. Bagaimana lagi cara agar Isaac sedikit berbaik hati padanya? Seperti Isaac berbaik hati pada Elena. "Nona Grace?" Suara seseorang menyentak Grace. Kepala Grace didongakkan. Seorang pria berbalut sneli putih di atas kameja biru muda berpadukan celana bahan hitam panjang dengan warna biru gelap, berdiri sedikit merendahkan punggung di depannya. "Ah, Dokter Adam. Selamat siang, Dok." Spontan Grace berdiri untuk menyapa. Adam Rowan. Dokter yang menangani kemoterapi Elena. Mereka pernah berjumpa untuk konsultasi dan kemoterapi sebelumnya. Sebagai wali Elena, jelas Grace harus berinteraksi banyak dengan dokter muda ini. "Kemoterapinya berjalan lancar. Sekarang Nyonya Elena sedang istirahat. Apa Nona Grace ingin mengetahui progresnya?" Dokter muda tampan dengan rambut pirang gelap itu menunjuk sopan menuju jalan ke arah ruangannya. "Boleh." Grace mengangguk, kakinya diseret mengikuti langkah Adam. *** Usai berkonsultasi dengan Adam mengenai kemajuan kemoterapi Elena, Grace masih juga belum merasa lega karena Adam menyatakan kesembuhan total Elena masih jauh. "Kamu terlihat resah. Apa kamu khawatir Mommy tidak akan sembuh?" Elena usap sisi wajah sang putri, wajahnya melukiskan sederet senyum ringan. "Tolong sembuh, ya, Mom. Grace tidak bisa hidup tanpa Mommy." Grace berucap parau. Dia sandarkan kepala di pundak sang ibu. Elena lingkarkan tangan di leher Grace, salurkan kehangatan dari cintanya untuk putri sematang wayangnya ini. "Mana mungkin Mommy membiarkan Princess Mommy hidup sendirian di dunia yang kejam ini." Tutur kata Elena menumbuhkan harapan, usir keresahan yang selama ini memenjarakan Grace. "Iya." Grace berucap lirih. "Mommy harus tetap di sisiku, karena untuk hidup sendirian di dunia ini, aku membutuhkan Mommy." "Sudah. Jangan terlalu dipikirkan." Jemari Elena menyusuri begitu halus surai Grace. Lantas netra Elena membidik sebuah mobil familier tengah berjalan mengarah pada mereka. "Bukankah itu mobil Isaac?" Mendengar ungkapan Elena, spontan Grace mengalihkan atensi mengikuti tatapan Elena. "Oh. Tadi Isaac menghubungiku. Dia bilang ingin kita makan siang bersama." "Nak. Kita sangat beruntung dipertemukan dengannya." Elena bergumam saat limousine bentley itu kian mendekat. "Selama kita hidup tanpa Ayahmu, Mommy pikir kita tidak akan lagi dipertemukan dengan pria baik. Ternyata di balik kejamnya dunia, dia tengah menyembunyikan malaikat tanpa sayap seperti Isaac." Di sisi Elena, Grace menyimpulkan senyum sarkas. "Ayo, Nak. Sepertinya Isaac juga ikut menjemput kami." Elena raih tangan Grace, menarik perlahan memasuki limousine bentley. "Bagaimana kemoterapinya?" Isaac bertanya ramah di balik wajah datarnya begitu mereka memasuki mobilnya. Elena mengambil tempat di sisi Luke yang mengemudi, sementara Grace— mau tak mau dia duduk di samping Isaac seraya menahan gejolak emosi kala ucapan menusuk Isaac menembus ingatannya. "Sangat lancar. T*buh Bibi juga merasa agak baikan." Senyum Elena senantiasa terlukis. Grace senang, walau di balik senyum itu dia harus mengorbankan diri. "Apalagi Dokter Adam sangat baik. Dia selalu ramah dan memberikan support agar Bibi dapat segera sembuh untuk Grace." Selama perjalanan, suara Elena mendominasi dengan nada riangnya. "Jangan hanya untukku. Mommy juga harus sembuh untuk kebahagiaan Mommy." Grace bersuara di tengah kebahagiaan Elena. "Tentu saja." Elena menyahut dengan nada suara yang lebih ringan. "Mommy ingin melihat Grace menikah dengan pria yang mencintai Grace, Mommy juga ingin membantu Grace membesarkan anak-anak Grace nantinya." Harapan Elena terdengar mustahil di telinga Grace, dan terlalu jauh untuk dijadikan motivasi. Namun, Grace tetap rasakan kebahagian dari Elena memancar tumbuh dalam benaknya. "Apa itu kebahagiaan Mommy?" tanya Grace. Sejenak perbincangan mereka menyalurkan kehangatan di suasana dingin antara Isaac dan Luke. "Ya. Kebahagiaan Grace adalah kebahagiaan Mommy." Elena sembulkan wajahnya di balik kursi depan, melihat wajah cantik sang putri. "Nak. Mommy selalu mendoakan kamu agar bertemu dengan pria baik yang selalu menghormati, menghargai, dan mencintaimu tanpa batas." Tutur kata Elena bagai kapas halus menyentuh rapuhnya hati Grace yang disebabkan pria di sampingnya. Ujung matanya menghadirkan embun tangis haru. "Mommy membuatku ingin menangis." Grace seka ujung mata yang hendak meluncurkan air mata. "Mommy harap itu tangis bahagia," kata Elena, sebelum matanya menangkap keberadaan Isaac. "Oh, Isaac. Maafkan kami. Aku terlalu bahagia hingga melupakan keberadaanmu." "Tidak apa." Suara datar Isaac seketika hancurkan suasana hati Grace. "Saya senang mendengar interaksi kalian." "Bibi sangat menyayangi Grace karena dia satu-satunya keluarga yang Bibi punya. Jadi hanya Grace yang menjadi kebahagiaan Bibi." Mata Elena berpendar haru. "Apalagi setelah Bibi bertemu dengan Dokter Adam." Ungkapan Elena hadirkan tanya bagi Grace. "Kenapa dengan Dokter Adam?" Grace bergumam, seketika teringat perbincangannya dengan dokter Adam yang memintanya untuk terus memberi support pada Elena. "Dokter Adam sangat baik. Dia selalu tersenyum ramah dan hangat. Entah mengapa tiba-tiba Mommy terpikirkan pria yang nanti akan menjadi suamimu, Nak." Elena kembali posisikan diri menghadap ke depan, bukan lagi menatap dua orang di kursi belakang. "Bagaimana kalau kamu dan Dokter Adam, Mommy bantu dekatkan?" Ide itu tercetus tiba-tiba, mengejutkan Grace yang telah merasakan tatapan tajam dari Isaac. "Mom. Lebih baik Mommy fokus kemoterapi saja, ya?" Grace tuturkan perkataan dengan halus. "Grace pastikan suatu saat nanti Grace akan menikah dengan pria yang seperti Mommy ucapkan tadi." "Baiklah." Elena akhirnya membelokkan pembicara ke hal lain, tak terbiasa akan keheningan selama perjalanan. Sementara' di tempatnya, Grace kian tertekan di bawah mata tajam Isaac yang telah merujuk padanya. "Ada yang ingin Tuan bicarakan?" Nada suara Grace diturunkan, enggan Elena mendengar perbincangan mereka nantinya. Garis mata tajam Isaac seakan ingin merobek setiap lapisan mental Grace. "Kau berniat untuk menggoda dokter itu?" "Tidak." Grace menggeleng samar. "Saya sudah memiliki Tuan. Dan ... Tuan juga sudah memiliki saya seutuhnya, jadi untuk apa saya mencari pria lain saat saya sendiri sudah ada yang memiliki?" Isaac arahkan pandangan ke depan, tak lagi menuntut Grace dengan tatapan tajamnya. "Bagus." Alunkan suara berat penuh otoritas sebelum melanjutkan, "Kau hanya milikku. Dan jangan lagi berharap dapat menikah dengan pria yang kau sebutkan tadi."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN