"Siapa perempuan dekil ini?" Langkah Grace spontan terhenti kala Isla berdiri menjulang menghalangi jalannya.
Degup dalam d*da Grace berdebar tak tentu, pecahan memori kala Isla dan Lily menyiksanya di kamar mandi terbengkalai beberapa hari lalu berputar bak kaset rusak. Perlahan mencuatlah trauma yang selama ini Grace pendam seorang diri.
Isla berdecak, matanya memindai Grace dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Sekarang berlagak miskin. Padahal kau sudah menjual t*buhmu."
D*da Grace bergemuruh kian kencang. Bukan lagi trauma kini membebat benaknya, ketakutan rahasia yang selama ini Grace bungkus serapat mungkin ikut serta menyatu dengan trauma dalam benaknya.
Dia tau aku sudah menjual diriku pada Tuan Isaac? Gigi dalam mulut Grace gunakan untuk menggigit ujung lidahnya, guna lampiaskan ketakutan yang telah mendekapnya.
"Kau pikir aku tidak tau?" Lily turut berbicara. Kehadiran mereka di depan gedung fakultas ekonomi dan bisnis menjadi pemandangan bagi orang yang sedang berlalu-lalang. "Kemarin aku melihatmu naik ke mobil limousine bentley. Jujur saja kalau selama ini kau telah menjadi simpanan orang kaya."
Takut yang telah merayapi jiwa Grace buat seluruh t*buhnya bergetar di bawah tuntutan atas pengakuan. Grace tegak saliva, dia harap Isla dan Lily segera pergi dan berhenti mengganggunya. Namun, pertanyaan Lily seakan menusuk tepat di lingkar sasaran.
"Selama ini dia selalu diam dan berlagak polos, tapi apa? Diam-diam menjadi simpanan lelaki tua kaya. Cuih!" Tanpa rasa kemanusiaan Isla meludahi wajah Grace. "Jangan-jangan beasiswa yang kau terima pun kau dapatkan hasil dari mengangkang?"
"She's really nuts. Kita harus melaporkannya pada rektor agar dia di drop out." Ungkapan Lily hadirkan kemelut takut, buat Grace kelabakan.
"Aku tidak melakukan hal b***t seperti itu!" Grace berseru, panik mendengar ancaman Lily. "Memangnya di mana kalian melihatku naik limousine bentley?"
Isla berdecih, mengambil selangkah mendekati Grace. "Kau pikir kami tidak memiliki mata?" Telunjuk Isla mendorong kepala Grace. "Aku melihatmu bersama perempuan tua kemarin di rumah sakit. Kalian menaiki limousine bentley. Jujur saja kalau selama ini kau menjual t*buhmu pada pria tua kaya!"
Mereka melihatnya? Bagaimana aku tidak sadar akan hal itu? Kekhawatiran Grace rahasia yang susah-payah dia tutup rapat hingga mengorbankan diri di tangan Isaac malah hancur karena mata mereka.
"Itu bukan aku." Grace tetap menyangkal, berusaha tenang di tengah kalut. "Memangnya untuk apa aku ke rumah sakit? Aku sehat-sehat saja."
"Wanita tua itu. Aku lihat wajahnya sangat pucat. Pasti dia ibumu! Ibumu penyakitan!" Seolah tak puas menghardik Grace dengan kata-kata, Isla bergerak kembali mendorong ke belakang kepala Grace.
"Dia bukan ibuku!" Nada suara Grace meninggi. Menyangkal pernyataan mereka dengan kebohongan yang malah menyayat hatinya. "Apa kalian melihat wajah kami sama?" Dia menunjuk wajah yang khasnya: mata monoloid, hidung mungil nan kecil, bentuk wajah bulat yang kecil, serta warna mata almond, sangat berbeda dengan proporsi wajah Elena yang cenderung kebarat-baratan.
"Bisa saja itu orang yang selama ini menjadi walimu." Mata Lily memicing tajam. "Kau terus menyangkal, itu membuatku semakin yakin selama ini kau telah menjual t*buhmu!"
"Mana buktinya?" Wajahnya mendongak, menantang mereka dengan keberanian dibuat-buat. "Selain melihatku bersama wanita tua itu ke dalam limousine bentley?"
"Kau ini selalu saja membuatku marah!" Tangan Isla telah melayang, dalam satu detik dia akan menyerang Grace. Namun, sebuah tangan kekar nan kokoh lebih dulu menangkap tangannya.
"Kalau kau punya otak, pakailah sedikit saja." Pria berbalut kaos longgar berwarna hitam berpadukan celana cargo di sisi Grace bersuara berat. "Buktikan ucapanmu dengan benar. Jangan asal menuduh."
"Ethan?" Grace bergumam, tak menyangka Ethan akan menjadi tameng melindunginya.
Sejenak Ethan lirik sang sahabat, sebelum menatap dua perempuan berpakaian nyentrik.
"Kalian bisa membuktikan tuduhan kalian?" Datar dari suara Ethan membungkam mereka. "Mata kalian melihat Grace naik ke mobil itu, tapi kalian tidak melihat perbedaan yang kontras antara Grace dan perempuan tua itu?"
"Kenapa kau ikut campur?" Lily maju, menantang Ethan. "Pergi saja kau dari sini. Tidak ada urusanmu di sini."
"Jelas ada." Wajah Ethan bagai tembok tanpa riak, datar dibarengi intimidasi. "Grace sahabatku. Dan kalian berani mengganggunya, itu juga kalian menggangguku."
Isla berdecih. "Oh, itu drama yang sangat menyentuh hati."
"Itu lebih baik dari drama kalian yang menyudutkan Grace tanpa dasar." Lengan Ethan terulur, meraih tangan Grace untuk ia genggam. "Grace itu keturunan Asia, sementara wanita tua yang kalian sebutkan itu murni orang Amerika. Kalian tidak bisa berpikir bahwa Grace menolong wanita itu pergi ke rumah sakit?"
"Kau tau apa?!" Tuduhannya diputar-balikan begitu saja, Isla memberang.
"Jelas aku tau segalanya. Karena Grace adalah sahabatku, mana mungkin dia melakukan hal kotor yang biasanya kalian lakukan." Tutur kata Ethan entah mengapa bagai ujung belati yang mengoyak habis hati Grace.
Tanpa Ethan sadari, dalam diamnya, Grace gaungkan ungkapan maaf karena kepercayaan yang selama ini Ethan kukuhkan telah koyak karena satu malam panas antara Grace dan Isaac.
"Aku memiliki banyak bukti kenakalan kalian selama di luar kampus. Jadi diamlah dan jangan ganggu Grace jika kalian tidak ingin membuatku mendepak kalian dari sini." Adalah kalimat terakhir, kemudian Ethan bawa Grace menjauh dari mereka.
***
Ethan membawa Grace jauh dari area gedung fakultas mereka. Di sebuah taman yang jarang tersentuh orang lain, tepat di bawah pohon rimbun guna halangi sorot cahaya mentari.
"Aku muak melihat mereka terus menindasmu." Ethan bersuara selagi merebahkan tub*h di sisi Grace yang duduk bersandar pada batang pohon.
"Apa yang mereka katakan itu benar." Ungkapan Grace justru buat Ethan tertawa, seakan pengakuan Grace adalah candaan untuk menghibur diri.
"Ethan. Apa kau pernah bertanya dimana aku tinggal setelah rumahku terbakar?" Pertanyaan selanjutnya dari Grace hentikan deraian tawa Ethan.
Pria muda yang mencoba tenangkan diri itu terdiam, menjelajahi alasan dalam kepala yang selama ini dia pendam.
Ethan tau Grace mengalami musibah hari itu, dan untuk menjaga privasi Grace, Ethan memilih bungkam dan menunggu Grace sendiri menceritakan semuanya.
"Kau juga." Grace menahan gejolak tangis yang ingin keluar. "Sebenarnya kau menahan untuk tidak bertanya padaku 'kan?"
Lirih suara Grace berhasil meruntuhkan pertahankan rasa penasaran Ethan. Namun, pria muda itu hanya diam, tak ada satupun kata keluar.
Grace tarik napas panjang, lantas mengembuskannya perlahan. "Yang mereka lihat itu benar," katanya pelan. "Kemarin aku menemani Mommy kemoterapi. Mommyku ... dia kanker p*yudara."
Diamnya Ethan adalah jawaban atas respons terkejutnya, dengan mata terbelalak tak percaya Ethan segera bangkit dan duduk.
Grace menundukkan kepala, tak sanggup bila ia lihat kekecewaan Ethan secara langsung. "Dan untuk membiayai kemoterapi Mommy, aku menjual t*buhku pada pria kaya."