Tanpa Grace tahu, seiring bertambahnya usia mereka, jauh dalam sudut hati, Ethan menyimpan perasaan lebih dari teman. Sosok Grace selama ini bersamanya selalu mengisi kekosongan di setiap ruang, yang perlahan menumbuhkan perasaan lain yang lebih bermakna dari teman. Namun, perasaan itu koyak tanpa sekepingpun sisa usai ungkapan jujur Grace melayang.
"Saat itu ... aku sudah putus asa." Grace terus melanjutkan kalimat, di tengah dorongan tangis yang dia tahan. "Uang tabunganku tidak cukup untuk membiayai kemoterapi Mommy. Mau tak mau aku harus mengorbankan diriku. Tapi semuanya kacau setelah pria itu malah menginginkanku dalam waktu lama."
Tak bisa lagi Ethan deskripsikan perasaannya. Semuanya hancur bersama kepercayaan dan harapan selama ini membayanginya, dan dia ... tak lagi dapat terus bohongi diri saat Grace sendiri telah menuturkan pengakuan tanpa embel-embel kebohongan.
"Maaf." Satu kata yang sangat ingin Grace ungkapkan selama ini. "Maaf. Aku sudah mengecewakanmu."
Usai Grace selesaikan perkataannya, rengkuhan hangat Ethan menerpanya. Dengan hati yang begitu lapang, Ethan tetap menerima Grace kendati perasaannya telah hancur.
Ethan mengerti. Kondisi Grace pasti sangat sulit kala itu. Tidak mudah bagi Grace menangani kondisi sang ibu tanpa pengorbanan. Walau Ethan sendiri pasti dengan senang hati akan membantu Grace.
"Dan sekarang kau tinggal di rumah pria itu?" Dalam dekapannya, Ethan rasakan anggukan putus asa Grace.
"Bahkan ... bahkan pria itu sendiri yang telah membakar rumahku." Grace berikan pengakuan yang selama ini dia simpan seorang diri. "Dia telah menggenggam sepenuhnya hidupku. Aku sudah tidak bebas lagi."
Mengenakan suara lirih, khawatir Grace tersinggung, Ethan bertanya, "Bagaimana dengan Bibi?"
"Mommy tidak tahu." Di sela isak tangis Grace menjawab demikian. "Tolong jangan beritahu Mommyku."
"Aku tidak akan mengatakannya." Tangan Ethan menyusuri segaris surai Grace, hantarkan kehangatan pada wanita rapuh ini.
"Grace ... jika kau merasa kesulitan, bicaralah padaku. Aku akan dengan senang hati menolongmu." Penuturan Ethan buat tangis Grace kian menjadi.
"Aku sudah mengecewakanmu. Maafkan aku. Aku tidak punya pilihan lain, aku putus asa." Isak tangis Grace menjadi nyanyian menyesakan di sore hari itu, menggariskan luka dalam benak Ethan.
"Tidak. Kau tidak pernah mengecewakanku." Ethan menyangkal, sekali lagi bohongi hati. Namun, dia sendiri tak bisa menyalahkan Grace.
"Aku bodoh. Aku sangat bodoh. Dan sekarang aku sedang menerima hukuman itu." Punggung Grace bergetar seiring tangis menyertai suaranya. "Pria itu selalu merendahkanku, tapi dia memperlakukan Mommy sangat baik, tapi aku juga lelah, Ethan. Aku ingin mati."
Tepat ujung kata dari Grace menerpa rungunya, Ethan terkejut bukan main. "Hei. Kau sudah berkorban agar Bibi sembuh. Bagaimana jika kau m*ti? Kau mau membuat Bibi sedih? Hmm?"
"Aku hanya ... aku lelah. Aku ingin kabur dari pria itu, tapi aku bisa apa?" Tangis Grace perlahan mereda. Namun, tak ada tanda dia ingin lepaskan dekapan mereka.
"Apa aku boleh tau siapa pria itu?" Ethan bertanya hati-hati.
"Tuan Isaac," jawab Grace. "Isaac Emiliano. Donatur ekslusif kampus kita."
"Isaac Emiliano?" Ethan bergumam, rasa tak percaya menyergap.
Bersamaan jawaban Grace melangit, seseorang tak jauh dari mereka berdiri menelisik interaksi mereka di sisi pohon. Lengannya menyilang pongah, seolah ingin gaungkan kekuasaannya.
Mata Ethan bertemu dengan mata kelabu itu. Garis mata tajamnya seolah ingin mengoyak Ethan yang sedang menyembunyikan miliknya.
"Grace." Masih tetapkan peraduan pandang mereka, Ethan bersuara lirih. "Pria itu ada di belakangmu."
Perlahan Grace bergerak, ciptakan jarak dengan dekapan Ethan. Lehernya menggeliat, ikuti pandangan Ethan sebelum t*buhnya menegang.
Mata kelabu itu bagai bidikan predator, begitu keras dalam menetap, berikan ancaman tak kasat mata sekaligus tali kekang yang melingkari Grace.
"Grace." Ethan melirihkan namanya. "Katakan aku pecundang." Mata Ethan kini berporos pada Grace. "Dengan kekuasaan Tuan Isaac, jelas aku tidak bisa mengambilmu darinya, tapi jika kau butuh pelukan, pundak untuk bersandar dan telinga untuk mendengar. Aku siap. Tapi jika kau benar-benar tidak kuat bersama Tuan Isaac, aku akan mengorbankan diriku di tangannya dan melepaskan tali kekangnya padamu."
Untaian kata Ethan lebih dari obat yang mengusir luka dalam benak Grace.
"Sekarang. Hampirilah dulu beliau. Sepertinya dia sangat marah." Kedua tangan Ethan membingkai di wajah Grace.
"Maafkan aku." Grace bergumam lirih.
"Iya, aku meaafkanmu," ucap Ethan. "Datanglah padaku jika kau lelah. Jangan selalu berpura-pura kuat."
Bibir Grace melengkung ke bawah, emosinya dikuras akan penuturan halus dari Ethan. "Aku pergi." Perlahan langkahnya meninggalkan Ethan, bersama perasaan yang telah Ethan korbankan.
"Aku harap, bersama pria itu kau menemukan bahagiamu." Ethan bergumam, setiap katanya dibawa oleh embusan angin kala sore itu. "Grace. Aku telah mengorbankan perasaanku, jadi kumohon hiduplah bahagia setelah ini."
***
Hening memenjarakan dua insan di satu ruang yang sama, biarkan deru kendaraan di luar mobil bernyanyi mengiringi perjalanan mereka.
Atmosfer gelap dari Isaac begitu terasa menekan mental Grace. Sesekali ujung matanya diarahkan guna melihat bagaimana wajah Isaac. Namun, wajah itu selalu sama: datar, tanpa gelombang emosi, dengan aura kemarahan yang kental.
Entah hal apa yang mendasari kemarahannya.
"Tu-tuan kenapa menjemput saya?" Menahan takut dan membuat keberanian, sesak saat hening terus dibiarkan Grace beranikan buka suara.
Tidak biasanya Isaac diam tanpa sepatah kata. Sekalipun dia marah, kata-kata pedas akan meluncur dari mulutnya. Namun, sekarang berbeda, dia diam, tapi Grace tahu dalam diamnya Isaac tengah mengancam.
"Kenapa?" Isaac akhirnya menjawab. "Kau tidak ingin diganggu?"
Spontan Grace menggeleng. "Tidak. Bukan begitu." Dia menjawab cepat. "Hanya saja ... Tuan orang sibuk. Tapi Tuan menyempatkan untuk menjemput saya."
Isaac bergerak samar, bersama hela napas lirih yang dapat Grace dengar.
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan ingin memperbaiki hubungan kita?" Pertanyaan Isaac didengar jelas, jelas sekali hingga Grace sendiri terheran.
Perkataan Isaac saat Grace mengatakan hal itu masih berputar bersemayam lekat di kepala Grace. Namun, mengapa pria itu tiba-tiba mengangkat topik itu lagi? Disaat Isaac sendiri telah menegaskan status mereka.
"Well, aku sudah melakukan tahap awal untuk memperbaiki hubungan kita. Bagaimana denganmu?" Kepala Isaac ditolehkan, pandangi Grace di sampingnya.
"Saya juga sama." Grace berucap lebih tenang dari sebelumnya. "Saya sudah berusaha berhubungan baik dengan anda beberapa hari lalu. Dan saya juga berencana untuk membuatkan anda makan malam, malam ini."
Alihkan pandangan, keramaian kota di luar tuanggangan menjadi hal menarik di mata Isaac kala hatinya mengobarkan perasaan asing yang dia simpulkan kemarahan.
Pertanyaannya beberapa saat lalu tak sekadar pertanyaan. Sengaja Isaac sematkan sindiran agar Grace paham bagaimana perasaannya. Namun, apa yang dia dapat? Padahal telah jelas Isaac tak menyukai interaksi Grace dengan pria itu saat Grace sendiri ingin memperbaiki hubungan mereka.