Bab 22 - Cemburu Yang Membara 21+

1116 Kata
Masih di dalam mobil, Grace bertanya-tanya terhadap jalan yang ditempuh limousine bentley ini. Bukan jalan menuju kediaman, melainkan jalan asing dengan tujuan yang telah Isaac tentukan. Dengan nada hati-hati Grace bersuara, "Kita mau kemana?" Pria berbalut jas hitam di atas kameja hitam itu tak sedikit pun melirik Grace. Namun, ia tetap menjawab, "Tempatmu bertugas." Kumpulan saliva di tengah tenggorokan lekas Grace tegak ke dalam perut. Tanpa Isaac beritahu kelanjutannya pun Grace sadar, di mana dia harus menjalankan tugasnya. "Malam ini kita dinner di luar." Bariton suaranya menyatu dengan auman halus dari mesin mobil. "Saya belum mengabarkan Mommy." Terburu Grace cari keberadaan ponsel. Sayang, dia tak bisa menghidupi ponselnya karena kehabisan baterai. Ujung mata Grace melirik diiringi getar takut pria di sampingnya. Dua belah bibir saling beradu— menipis kala kepalanya mempertimbangkan bantuan. Namun, sebuah kesadaran merayapi benak agar tak selalu membebankan Isaac walau hanya untuk meminjam ponsel guna mengabarkan Elena. "Kenapa? Ponselmu kehabisan baterai?" Pertanyaan tiba-tiba dari Isaac menyentak Grace yang sempat melamun. Grace tautkan setiap jemari di atas pangkuan, sedikit mainkan setiap jari guna netralisir ketegangan yang tiba-tiba bertandang. Perempuan dengan rambut coklat s**u bergelombang itu menggeleng kemudian menyelipkan seuntai rambut di daun telinga. "Tidak." Grace beralibi, tidak mau Isaac mengetahui keadaannya. "Saya bisa mengatakannya nanti setelah pulang." "Bibi akan mengkhawatirkanmu." Isaac arahkan pandang menuju Grace, tanpa sengaja pandangannya jatuh ke arah ponsel dalam genggaman Grace di atas paha. Melalui wajah, dia dapat mengelabui Grace bahwa dia tak pernah mengharapkan apapun. Walau dalam sudut hati dia menyimpan harapan: Grace akan melirihkan permintaan tolong untuk meminjamkan ponsel agar dapat mengabari Elena. Grace menggeleng, dia usahakan sudut bibir mengukir senyum meyakinkan. "Ini hari seharusnya aku bekerja paruh waktu. Mommyku pasti mengerti." Secara samar kening Isaac melukiskan kerut. Wajahnya mengukir sedikit riak tak suka. "Kau masih bekerja paruh waktu?" Teringat di kepalanya sebuah interaksi hangat nan akrab Grace dengan Ethan, dan itu bukan kabar baik untuk hatinya yang saat ini terasa panas. Grace mengangguk, hancurkan suasana hati Isaac. "Iya." Dia kenakan suara lirih, khawatir Isaac kembali menghardiknya. Tak lagi menatap Grace, pandangan Isaac jatuh ke lalu-lalang kendaraan di luar kaca mobil. Kesibukan dunia jauh lebih menarik di matanya, sejenak tenangkan emosi asing yang enggan singgah. "Mau sampai kapan kau bekerja paruh waktu?" Grace terdiam. Dia sendiri belum menyusun rencana baru. Bekerja di bawah naungan Isaac begitu tiba-tiba baginya, buat Grace terkadang kelimpungan. Terlebih, jam kerja bersama Isaac tak begitu pasti. "Saya belum bisa memastikannya." Grace menjawab lirih, nyaris dikalahkan suara mesin mobil. "Kau harus segera berhenti kerja paruh waktu dan fokus saja padaku." Kini Isaac tak lagi menjadikan kesibukan kota pandangannya, seorang Grace telah memenuhi atensi. "Seberapa banyak uang yang kau butuhkan?" Tepat di sisi telinga Grace, suara serta embus napasnya menjamah ujung telinga Grace. "Aku akan memberikannya. Berapapun yang kau mau." Grace menegak ludah kasar. Terpaan embus napas Isaac menggelitik telinga berikut menghadirkan perasaan asing. "Ini bukan tentang nominal." Beranikan diri melawan, kemudian satukan pandangan mereka jingga jarak dibatasi sehela napas saja. "Ada lagi yang kau butuhkan selain uang?" Isaac membisik, perlahan kepalanya mendekat mengikis jarak buat bibir mereka akan bertemu. "Katakan." Satu kata dia berikan lebih lirih dari sebelumnya. "Katakan apapun yang kau mau. Apapun itu aku akan menyanggupinya selama kau terus berada di sisiku." Adalah kalimat terakhir sebelum bibir mereka saling bertemu. Wajah Isaac dimiringkan, buat ujung hidung mendarat di atas pipi halu Grace, aroma kayu manis dapat Isaac baui dari kulit wajah Grace, begitu menenangkan benak semula dikobarkan amarah. Perlahan, ujung lidah Isaac melesat memasuki mulut Grace, bibir bawah dia gerakkan guna mencecapi setiap rasa di bibir Grace. Suara peraduan bibir dan lidah mereka berpadu dengan alunan mesin mobil berikut kendaraan lain di luar mobil. Tumben sekali dia bergerak lembut. Biasanya selalu kasar. Ada apa dengannya? Benak Grace bertanya-tanya. Perubahan Isaac serta ucapannya beberapa saat lalu nyaris meluluhkan hati yang selama ini ia bangun agar tak tersentuh oleh romansa. "Aku ingin melakukannya di sini." Bisikan Isaac menerpa di tengah cumbuan mereka. "Tidak. Maaf." Spontan tangan Grace mendorong Isaac. "Ada Luke dan sopir di sini." Dengan wajah telah dipenuhi semburat merah, Grace menunduk sembunyikan rasa malu. *** Brak! Lengan kokoh dengan urat meliuk menggarisi otot bisepnya membuka keras daun pintu hotel, sementara tangan lain pertahankan sosok perempuan dalam rengkuhan. Berhasil memasuki unit kamar yang telah dibooking, kaki kanannya bergerak cepat menutup pintu. "Tuan." Grace kewalahan, gerakan brutal bibir Isaac di bibirnya menghadirkan bengkak. Gerak lidah Isaac di dalam mulut Grace tak lagi selembut waktu mereka di mobil, hasrat bercampur emosi baru berupa amarah mendorong Isaac bergerak lebih kasar dari sebelumnya. "Kenapa kau selalu membuatku marah?" Bisikan di tengah kekacauan kepala Isaac mengalun dengan suara berat dan serak. "Kesalahan apa lagi yang sudah saya perbuat?" Grace tuturkan kata hati-hati, tidak ingin mengusik Isaac yang sedang kacau berujung ia merugi. Kondisi Isaac tak lagi serapi tadi. Jas telah ia serahkan pada Luke, dua kancing teratas kemejanya telah terlepas hingga dad* bidang terekspos dialiri buih keringat, ritme napas sama kacaunya dengan isi kepala, iris kelabu yang bertempat di kelopak mata menyiratkan emosi aneh yang tak biasanya terbentuk. "Sudah berbuat salah, dan sekarang kau tak menyadarinya?" Bisikan itu serupa dengan auman predator, mengancam. "Keterlaluan sekali." "Tuan." Grace kokohkan keberanian kala sosok menyeramkan tengah mengukungnya di bawah t*buh besar. "Saya sering melihat anda marah kepada saya, tapi saya tidak bisa memastikan apa saja kesalahan saya hingga membuat anda sekacau ini." "Kau berbicara saja sudah salah." Kepala Isaac bergerak, mendarat di ceruk leher Grace. Lidahnya menyapu segaris kulit leher Grace, sebelum dengan kasar menghisap titik itu sampai bercak merah tertinggal. Grace mengernyit, menahan desir aneh menjalar di sekujur tub*h. "Tuan." Spontan bibirnya menyuarakan perasaan asing itu kala tangan Isaac telah menerobos bagian sensitif di bawah. "Mendesahlah untukku." Kemarahan terasa kental dari nada berat dari suaranya, seolah Isaac sedang menahan godam hasrat yang membelenggu. "Tuan tolong pelan-pelan." Tepat tiga jari Isaac menerobos secara kasar, Grace melengkungkan pinggang beserta leher, terkejut akan sentuhan tiba-tiba dari Isaac. "Katakan padaku, siapa pria yang tadi memelukmu?" Isaac jadikan momen itu kesempatan untuk mengintrogasi Grace. "Dia— ukh, Ethan." Bibir bawah Grace gigit. Sentuhan kasar di area sensitifnya mengundang perasaan lain yang seolah ingin membuatnya mengeluarkan sesuatu. "Sebut namaku ketika kau mendesah, jangan sebut nama pria manapun." Dalam satu tarikan, Isaac berhasil meloloskan rok Grace beserta kain terakhir yang membungkus bagian tersebut. "Tuan." Grace berusaha berucap normal kala Isaac enggan menghentikan gerakan jarinya. "Siapa namaku? Hmm?" Bisikan Isaac mengalun bersamaan jarinya terbebas dari jeratan mulut tersensitif Grace. "Isaac." Grace baru dapat mengembuskan napas lega. Namun, rasa kehilangan menerpa. "Ingat ini." Bukan lagi perhatikan bagaimana bagian tersensitif Grace timbulkan efek setelah ia sentuh, kini Isaac penuhi atensi dengan Grace. "Kau hanya milikku, selamanya akan seperti itu. Dan jangan sekali-kali buat bibirmu mengatakan nama lain saat sedang mendesah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN