"Isaac?" Elena lebih dulu menyadari presensinya. Lekas beranjak, hampiri sesosok yang banyak menolongnya. Bibir Elena masih mengukir senyum. Dia sadar, pancaran mata pria itu lebih tajam dari pisau yang ada di meja, seolah laser yang ingin membakar habis suatu objek di antara mereka. Namun, Elena diam, memilih pura-pura tak tahu, menjalani lakon sebagaimana wanita setengah baya yang bodoh. "Adam. Ini Isaac. Dia banyak membantu keluarga kami. Isaac, ini Adam. Dokter yang membantuku untuk kemoterapi." Walau jantung bergemuruh kacau menangkap keanehan dalam diri Isaac. Adam segera beranjak. Tangannya menjulur, memberi isyarat dari sesi perkenalan mereka. "Hallo. Saya Adam. Senang bertemu dengan anda." "Isaac." Bibir Isaac mengetukkan namanya, tidak ada nada ramah seperti yang Adam lakukan

