Kerumunan para mahasiswa memenuhi seluruh cafetaria. Mata almond Grace menyusuri setiap kursi yang telah ditempati. Begitu kursi kosong di pojok cafetaria dia dapati, tanpa ragu kakinya melangkah. Kedua tangan menumpu nampan berisi makan siangnya. Kali ini tidak ada Ethan, dia hanya seorang diri di tengah keramaian, tanpa sapaan teman, tanpa senyum akrab dari beberapa teman sekelasnya.
"Akh!" Tepat kaki Grace tak sengaja menabrak sesuatu di bawah kaki, makan siang di genggaman Grace terjatuh mengenaskan.
"Oh my gosh! What the hell!" Tepat teriakan familier berdenging di telinga Grace, kedua mata Grace terpejam erat.
Bayangan buruk di kepala Grace berputar, mengundang jantung berdetak kencang kala rasa takut memacunya. Bagaimana nanti Isla Emerson mempermalukannya di tengah keramaian cafetaria.
"Gosh! Aku rasa matamu sudah berpindah ke kakimu, J*lang!" Sejuntai rambut dalam ikatan karet Grace ditarik kasar, wajah datar Grace dihadapkan pada wajah Isla yang telah memerah.
"Hari ini aku sedang good mood, tapi apa yang sudah kau lakukan? Huh?" Jeratan Isla di rambut Grace semakin mengetat. Grace yakin beberapa helai rambutnya telah terlepas sebab perih dari kulit kepala telah ia rasakan.
"Seseorang telah menjegalku," jawab Grace, mengetatkan rahang guna memprovokasi amarah.
Dan benar, amarah Isla terpantik akan keberanian Grace. Genggaman di rambut Grace dia lepaskan seraya melempar t*buh kurus Grace ke bawah kakinya. Kaki dibalut kaos kaki panjang bermotif cosmic vintage milik Isla ditempatkan tepat di kepala Grace, seakan ingin semua orang tahu bahwa dia adalah penguasa.
"Rasakan ini, J*lang. Gara-gara kau blouse baruku kotor." Setiap suku kata dari Isla dilontarkan penuh tekanan, kakinya digerakkan menindas kepala Grace.
"Apa kau tau harga blouse ku? Pasti tidak tahu 'kan?" Ujung sepatu Isla ditekan di kening Grace, sebelum dorong kepala Grace ke belakang. "Orang miskin sepertimu tahu apa selain membebani negara!"
"Sudah miskin, bisu pula." Lily Madelyn, sahabat Isla yang sedang duduk bersilang kaki seraya memainkan rambutnya menyahuti. "Dia benar-benar tak berguna."
"Setidaknya jangan menggangguku." Kaleng coke di atas meja yang Isla dan Lily gunakan untuk menikmati makan siang mereka pun Isla raih.
Cairan coklat dari dalam kaleng coke diarahkan tepat pada kepala Grace, mendatangkan sensasi dingin serta lengket. Sayangnya Grace tak memiliki kekuasaan untuk melawan mereka.
Mulut Grace terkatup rapat, menekan rasa amarah, malu, dan sedih dalam satu ruangan di benak. Kendati demikian, setitik pun air mata tak muncul di ujung matanya. Wajahnya datar, emosi bergerumul dalam benak tidak Grace tampilkan di wajah.
"Kenapa kau hanya diam saja? Kau tidak mau minta maaf! Setelah membuatku kotor!" Belum cukup mengguyur Grace dengan coke, Isla mengambil sup seseorang yang kebetulan melewati mereka dan melemparkannya pada Grace. "Minta maaf aku bilang!"
Grace diam. Lidahnya membeku, sangat enggan mengucapkan kata-kata suci saat dia sendiri tak membuat kesalahan.
Sempat matanya melirik Lily. Pemilik rambut pendek berwarna pink dan hitam itu berseringai mengejeknya. Di saat itu Grace tahu siapa yang menjegal kakinya.
Lily jelas sengaja melakukan itu agar tontonan membosankan ini terjadi.
"Isla! Kau lupa dia tak punya mulut? Coba saja jejali dengan saus, dia pasti akan membuka mulutnya." Seorang pria dengan rambut pirang menumpahkan provokasi. "Ini. Jejali mulutnya dengan ini." Pria yang merupakan teman sekelas Grace memberikan Isla sebotol saus cabai.
Di sisi Isla, Lily memancarkan binar bahagia. Adrenalinnya terpantik kala suasana cafetaria mulai menegang saat Isla hendak menjejali mulut Grace dengan saus. "Wah. Ini sangat menyenangkan."
"Berbahagialah, Grace. Isla akan berbaik hati padamu. Dia menyuapimu makan siang." Seringai Lily melebar, puas melihat penderitaan Grace.
Rahang Grace ditekan kuat oleh jemari Isla. Kuku-kuku panjang Isla menusuk kulit rahang Grace. "Makan ini, J*lang! Makan! Kau belum sempat memakan makan siangmu, right? Sekarang makan semua saus ini."
"Apa kau ingin saus itu ditambah dengan pizza?" Lily beranjak, meraih pizza dari orang lain yang tengah menonton keributan itu. "Ini. Makanlah juga pizza ini." Tangan Lily memaksa satu slice pizza sekaligus ke dalam mulut Grace.
"Wajahnya memerah." Tawa Lily berurai bersama tawa semua orang yang hanya menonton penindasan itu.
"f*****g b***h! Aku belum puas." Lengan Isla menjulur meraih nampan, kemudian melemparkannya ke kening Grace.
Cairan merah muncul begitu ujung nampan menyentuh kening Grace, menelusuri segaris pelipis hingga dagu. Perih berikut sakit berdenyut di sana. Namun, wajah Grace tetap datar, seakan baja.
"Baiklah. Karena kau sudah berdarah. Aku akan berbaik hati." Isla berucap tanpa rasa bersalah. "Sekarang cepat pergi dari hadapanku. Sebelum aku melemparkan garpu ini!"
Usai Isla menyentak, Grace segera memanfaatkan kesempatan. Dia melangkahkan kakinya lebar-lebar, menembus keramaian yang menjadikan kelemahannya bahan tertawaan, diikuti debar amarah yang tertahankan.
***
"Maaf. Lagi-lagi aku gagal melindungimu." Ethan, satu-satunya orang yang menganggap Grace manusia di kampus ini.
Binar bersalah terpampang di masing-masing mata indahnya.
"Tidak apa." Grace menjawab dengan suara halus, dia biarkan Ethan mengolesi luka di pelipisnya dengan obat merah.
Ethan meloloskan napas lelah, begitu panjang seakan seluruh beban bertopang di pundaknya dia lepaskan melalui embusan napas.
"Mau sampai kapan kau membiarkan mereka menindasmu?" Nada suara lirih akan permohonan putus asa dari Ethan disahuti hening, Grace memilih menyibukan diri dengan memainkan kain kasa.
"Grace ...." Panggilan Ethan menyerupai permohonan di ujung keputusasaan, matanya sayu, menyimpan luka besar di dalamnya.
"Tidak apa, Ethan. Aku kuat."
"Aku tau kau perempuan kuat. Tapi mau bagaimana pun kau adalah manusia. Mustahil jika kau tak memiliki perasaan apapun." Oktaf suara Ethan sedikit meninggi, lelah selalu diberi jawaban itu. "Aku akan melaporkan ini pada Ayahku."
"No!" Grace menggeleng cepat. "Kau sudah banyak membantuku. Dan tolong jangan membuatku berhutang budi padamu."
Kening Ethan melukiskan gelombang. "Membantu? Aku rasa aku tidak pernah membantumu, aku hanya menemanimu selama ini."
"Ya, itu sama saja."
Jawaban Grace yang lugas akhirnya membungkam Ethan. "Baiklah. Aku harap kau berubah pikiran."
"Terima kasih." Bibir ranum Grace melengkung, senyumnya sejenak membekukan Ethan. "Kau selalu mengerti aku."
"Itulah teman." Untuk mencairkan suasana, Ethan menyematkan tawa kecil di antara ucapannya.
Prang!
Keduanya tersentak. Suara jatuhnya sebuah benda di balik tembok UKS tepat di sisi jendela yang terbuka buat mereka sontak menoleh.
"Siapa di sana?" tanya Grace, rasa penasaran mendorongnya mendekati jendela.
"Siapa?" Karena penasaran, Ethan ikuti langkah Grace.
Tidak ada siapapun. Namun, Grace sempat menangkap seseorang bersembunyi di balik semak-semak, terlihat dari dedauan di sana bergerak sendiri, seakan seseorang telah menggerakannya.
Tidak mungkin mata-mata dari Isaac, kan?