Bab 9 - Perasaan Asing

849 Kata
Tik tok tik tok. Bunyi detak jarum jam mengangkasa bercampur ketukan samar jemari Isaac di atas meja kayu berukir serat alami yang memanjang meliuk horizontal, cahaya mengkilap dari lampu gantung di bawah langit-langit ruang makan tersimpan di permukaan meja. "Setiap hari Rabu Grace memang sering pulang terlambat." Suara Elena mengikis hening. Entah mengapa, perasaannya menyentuh hal negatif. Isaac Emiliano, tepat di jam tujuh malam tadi hingga jam sepuluh malam, nampak sangat tenang di atas kursi yang melingkari meja makan. Kedatangannya jelas untuk sang putri, dan detik ini Grace tak jua menonjolkan batang hidungnya, buat Elena harap-harap cemas begitu merasakan energi negatif yang kuat terpancar dari pria ini. "Selain kuliah, Grace juga kerja part time di perpustakaan kampusnya. Mungkin sebentar lagi dia akan tiba." Untuk mengusir tegang memenjarakan diri, Elena mencoba buka suara. Namun, Isaac tetap diam mendengarkan. Secercah emosi tak tergambarkan di wajah Isac. Tenang, bagai air yang mengelabui manusia sebelum menelan siapapun yang menjamahnya kapan saja. Telunjuk dan jari tengahnya masih menari samar di atas permukaan meja, seakan menghitung mundur setiap detik yang dibunyikan jarum jam. Empat jam Isaac menunggu kedatangan Grace. Ini bukan tentang rekor terlama Isaac menunggu seseorang, tapi Grace Brooklyn adalah manusia yang seharusnya bersujud syukur membuat Isaac Emiliano merelakan waktunya saat Isaac sendiri tak pernah melakukan itu, sekalipun itu menyangkut sang ayah. Grace Brooklyn, bagai magnet yang menarik Isaac pada hal-hal asing dalam hidupnya. Kesabaran yang selama ini tak pernah menjamah Isaac. Namun, kala Grace Brooklyn menerobos memasuki hidupnya, kesabaran itu sendiri menghampirinya. Tak hanya itu, keanehan lain Isaac rasakan: amarahnya terpantik hanya karena melihat Grace tertawa dengan pria lain. Itu tak masuk akal. Tak ada yang bisa membuat Isaac Emiliano bergetar selain suara pelatuk mengarah pada musuh, bukan hanya karena melihat Grace Brooklyn. Dan sialnya Isaac tak menemukan jawaban apapun terhadap perasaannya. "Mommy. I"m home!" Suara ceria milik Grace memecah senyap, sejenak Isaac terpikirkan suatu hal. "Grace! Akhirnya kamu pulang!" Elena berseru, beranjak menghampiri Grace di ambang pintu. "Tuan Isaac sudah lama menunggumu. Sekitar empat jam beliau menunggumu." Entah bagaimana ceritanya, Elena tiba-tiba saja mengubah panggilan kepada Isaac. "Tuan Isaac?" Grace bergumam heran, mata almond-nya melesat mencari si empu nama. "Di mana?" "Awalnya Mommy ingin dinner bareng, tapi Tuan Isaac mau menunggumu. Dia sangat memerhatikanmu, Sweetheart." Tangan kuyu Elena menggandeng tangan Grace, menuntunnya menuju dapur. Langkah santai mereka diseret menuju dapur. Setiap derapannya bagai ketukan piano, menghadirkan getar aneh dalam benak Isaac, mencuatkan pertanyaan tak berujung tanpa jawaban. "Tuan? Anda di sini?" tanya Grace, senyum yang hanya dapat Isaac lihat melalui video dan foto lenyap, seakan senyum itu tak pernah terlukis di wajahnya. "Apa kau pikir yang duduk di sini adalah Joe Biden?" Jawaban Isaac bermakna sindiran. "Oh, itu sangat lucu." Jawaban kelakar Grace tak diiringi tawa, tas di punggungnya pun Elena ambil. "Kamu belum makan 'kan, Sweetheart?" tanya Elena, menuntun Grace duduk di samping Isaac. "Mommy sudah membuatkan kalian japchae, bibimbap, dan Mommy juga membuat pizza bulgogi untuk Princess Mommy. Semoga saja masih hangat." "Ghamsamnida, Mommy." Grace melirik sang ibu, nyaris senyumnya terlukis sebelum sadar tak hanya mereka yang menghangatkan suasana makan malam, ada Isaac Emiliano yang berperan sebagai dinding es di antara mereka. "Grace sangat menyukai pizza bulgogi. Tuan Isaac dapat mencobanya." Dengan kehangatan khasnya, Elena potongkan pizza untuk disajikan di piring Isaac. "Em, Bibi. Can you stop call me Sir?" Isac bersuara dikala Elena sajikan makan malam di piring mereka. "Oh. Sorry. Begitu aku tahu kamu bukanlah orang sembarangan. Aku rasa sudah seharusnya aku memperlakukanmu sebagaimana mestinya." "Tidak perlu sungkan." Meski suaranya datar tanpa gelombang emosi, Grace menangkap ketulusan hangat dari pria itu untuk sang ibu. "Anda bisa bersikap seperti anda memperlakukan Grace." Benak Grace tersentak. Selain karena ketulusan Isaac yang tak bisa dia tebak alasannya, ungkapan sebagaimana harapan itu mengejutkannya. Selama aku tidak ada, apa sesuatu terjadi di antara mereka? Benak Grace menebak kemungkinan suatu hal terjadi selama ia tak menyertai kebersamaan mereka. Tidak mungkin Tuan Isaac yang merupakan jelmaan iblis bisa sehangat itu pada Mommy. Apa yang sebenarnya telah terjadi? *** "Dari tadi kau diam saja," ujar Isaac, ujung mata kelabunya melirik Grace tengah memotong apel dan menyusunnya di atas piring. "Kau tak menyadari kesalahnmu?" Kedua lengan dilipat, menyimbolkan kekuasaan dan posisi sebagai majikan perempuan berbadan kurus ini. Pisau di tangan Grace berhenti memotong apel, kepalanya menjelajahi kesalahan yang sekiranya telah ia perbuat sebelum terdampar pada ucapan Elena beberapa saat lalu. "Maaf. Saya tidak tahu anda akan datang kemari." Intonasinya bagai permukaan air yang tenang, datar seperti biasanya, tidak seperti saat berbicara dengan Elena dan pria yang saat bersamanya di kampus, hal itu mencuatkan hal asing di benak Isaac. "Kau harus selalu ingat, apapun yang kau miliki saat ini ada bayarannya." Runtaian kata diketuk tajam oleh lidah Isaac. "Dan ... untuk apa kau bersusah payah kerja part time. Uang dariku kurang?" "Tidak," jawab Grace, singkat. Namun, dampaknya berkepanjangan. Tanpa Grace sadari, leher jenjang Isaac bergerak naik-turun, tonjolan di tengahnya menegang, lagi-lagi perasaan asing itu menamparnya tanpa sebab hanya karena jawaban singkat nan dingin dari Grace. "Malam ini. Jalankan tugasmu." Bukan sekadar perintah, melainkan tali yang mengekang Grace dalam kepemilikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN