"Mo-mommy?" Grace mengambil posisi seakan tengah membasahi setiap piring yang telah disabuni.
"Kamu belum selesai?" Pertanyaan sederhana. Namun, menumbuhkan panik dalam benak Grace.
"Iya. Akh." Di ujung jawaban Grace meringis, di bawahnya Isaac yang ia paksa untuk menghentikan permainan mereka nampak bermain-main dengan area sensitifnya.
"Kamu terluka? Biar Mommy bantu."
"No! Jangan! Jangan ke sini!" Grace mencegah cepat, buat Elena terheran. Lantas Grace tertawa canggung. "Maksud aku. Tadi aku tidak sengaja memecahkan piring. Jadi, Mommy lebih baik beristirahat saja. Aku mohon Mommy."
Walau pertanyaan masih bersarang di kepala Elena, permohonan sang anak seakan mendorong Elena untuk meninggalkannya.
"Alright. Maaf Mommy tidak bisa membantu kamu," kata Elena. "Kamu juga tidurlah lagi."
"Bye, Mommy. Sleep tight." Mata Grace menangkap Elena perlahan melangkah menjauhi pintu dapur, melepaskan Grace dari jeruji panik.
"Tuan." Grace panggil Isaac yang asik menghisap bagian sensitifnya. "A-anda tidak bermoral sekali." Grace meringis ngilu dirasa lidah Isaac bergerak kasar di dalam miliknya.
"Bukankah akan menyenangkannya jika Ibumu melihatmu memberi Tuannya makanan penutup paling manis ini?" Mata kelabu Isaac berpendar dingin.
Untaian katanya menyerupai mata belati, menusuk dan mengoyak harga diri Grace tanpa kepingan sisa.
***
"Luke." Sosok yang senantiasa berdiri di sampingnya segera melangkah menghadap, siap menerima tugas baru.
"Suruh seseorang memata-matai dia." Sebuah foto Isaac sodorkan, yang lantas Luke raih.
"Laporkan setiap kegiatannya padaku, dan siapa saja orang terdekatnya selama di luar. Dan gunakan ini untuk merekam dan memfotonya." Dua kamera kecil Isaac berikan dalam sebuah tas hitam.
"Ada lagi yang dibutuhkan, Sir?" Luke, pria berkulit hitam tanpa rambut di kepala itu menyuarakan tanya dengan suara khasnya, serak dan berat.
"Untuk bayarannya kau urus. Dan jangan sampai tertinggal satupun inci dari kegiatan atau bahkan ekspresinya." Setiap kata dirajut perintah mutlak, suaranya mengalun penuh otoritas.
"Dilaksanakan, Sir." Sosok bertubuh tinggi nan tegap sebagai khasnya itu merendahkan posisi yang menjadi tanda hormat.
Kaki jenjang dibalut celana bahan abu-abu gelap milik Luke mengetuk setiap inci dari permukaan marmer di bawahnya, mengarah sebuah pintu sebelum keluar menyisakan Isaac seorang diri di kursi kekuasaannya.
"Grace Brooklyn." Bibir merah gelap Isaac mengetuk samar nama yang selalu bergelayut dalam kepalanya. "Akan ku intai kemanapun kau pergi."
Garis mata tajam yang menyimpan bola mata kelabu terang itu menyorot dingin. "Hidupmu adalah milikku. Apapun yang kau lakukan, aku harus tahu."
***
"Bagaimana?" tanya Isaac tepat kala Luke menyerahkan sebuah dokumen yang berisikan laporan mengenai aktivitas Grace dalam seharian ini.
"Mata-mata itu pantas mendapatkan bayaran yang sepadan, karena dia berhasil menangkap setiap jengkal aktivitas Nona Grace." Ungkapan Luke terbukti dari sebuah potret sekaligus rekaman yang kini tampil di layar komputer Isaac.
"Kau boleh pergi." Perintah Isaac pun dilaksanakan, tersisa dia seorang berhadapan dengan komputer yang menampilkan interaksi Grace dengan seorang pria.
"Dia tertawa?" gumam Isaac. "Aku pikir dia tidak bisa tertawa." Wajah datarnya semakin keras, perlahan sebuah emosi mencuat ke permukaan, emosi aneh yang tak bisa dia deskripsikan, yang jelas dia merasa terusik melihat Grace nampak begitu bahagia dengan pria di sampingnya, bahkan terlihat nyaman saat dipeluk pria itu.
"That's her boyfriend?" Munculnya pertanyaan tersebut menggerakan Isaac mencari lebih lanjut mengenai informasi Grace.
"So ... Itu bukan pacarnya?" Isaac bergumam lagi, suaranya mengambang menimang kebenaran. "f**k. Dia bisa tertawa dengan pria lain?"
Kepalanya membayangkan setiap ekspresi Grace dipertemuan mereka. Tak ada tawa, tak ada senyum kecil, Isaac lebih sering melihat Grace mendatarkan wajahnya.
Sebuah emosi negatif mendorongnya mengepalkan tangan hingga buku-buku jari memutih, menonjolkan urat-urat di punggung tangan. Rahang Isaac mengetat, suara gemelatuk gigi menggema samar, menyerupai amarah predator melihat mangsa yang telah dimiliki lari terbirit-b***t dari cengkramannya.
***
Bayang-bayang tawa dan ekspresi lain Grace Brooklyn berputar-putar di kelala Isaac. Lebih dari itu, suasana hatinya memburuk acapkali bayangan itu menerpanya, mengganggu setiap aktivitas.
"Kamu terlihat tidak senang." Dan Madison, wanita itu hadir memperburuk suasana hati Isaac. "Bagaimana kalau malam ini kita party?"
"Pergilah," kata Isaac, nada suaranya seolah memberitahu Madison bahwa dia tak ingin diganggu kala suasana hatinya sendiri sedang mengganggu logikanya.
Sebagaimana angin lalu, Madison abaikan perintah Isaac. Ujung heels di kakinya membunyikan 'tuk tuk tuk' di atas kilatan lantai marmer bermotif asap hitam dengan dua garis urat emas.
"Bagaimana bisa kau mengusirku seperti itu?" Ujung meja Isaac ditempati Madison, jemari lentik Madison menelusuri segaris ujung meja Isaac, menjumpai tangan Isaac dengan gerak sensual.
"Bagaimana kalau kita lunch?" Serak berat dari suara Madison buat Isaac kian terganggu. "Aku punya wine untukmu. Kemarin Ayahku membelikannya dari Swiss. Barangkali saja stressmu hilang."
Sedikit pun tatapan tak Isaac arahkan pada Madison, dia memakukan tatapan pada komputer yang menampilkan statistika penjualan obat-obatan terlarang selama satu bulan ini.
"Lihat itu, bisnismu semakin berkembang pesat. Kenapa kau harus bersusah-susah duduk bekerja di sini?" Mata Madison memandang takjub pada pendapatan Isaac di bulan ini. "Kau tau Isaac? Beberapa orang stress karena terlalu giat bekerja, padahal mereka perlu mencari dopamin agar stressnya menghilang."
Dia bisa tertawa, bisa tersenyum. Aku baru tau itu. Dalam diamnya, kepala Isaac sibuk berputar di satu titik: Grace Brooklyn. Bagaimana jika dia melihatku dengan Madison? Apa dia akan terusik seperti aku melihatnya dengan pria lain?