Rintik-rintik hujan menggema, setiap tetesannya mengetuk jendela. Gemuruh petir saling bersahutan di balik jendela, cahayanya mengkilat menyerang bumi Manhattan. Gedung-gedung pencakar langit seketika bagai bayangan monster di bawah amukan langit.
"Hujannya deras sekali." Elena bergumam, merekatkan sweater guna menghalau dingin.
Potongan buah apel di atas piring pun Grace tempatkan di atas meja. Mata double eyelidnya mengikuti ke mana Elena menatap. Di luar, badai menyerang Manhattan, membentuk siluet mengerikan di setiap gedung yang berdiri di sekitar gedung tempat mereka bernaung.
"Baru jam tujuh. Tapi sudah segelap ini."
"Akhir-akhir ini hujan sering turun. Tapi baru kali ini ada badai." Sebuah cangkir berisikan teh di sisi piring buah pun Elena raih.
Tungkai Grace bergerak, hampiri sang ibu. "Omong-omong. Bagaimana keadaan Mommy setelah kemoterapi?"
Bibir Elena menerbitkan senyum. "Mommy merasa jauh lebih baik," katanya. "Ini semua berkat putri Mommy yang sudah berjuang untuk Mommy, dan selalu ada untuk Mommy."
Kedua tangan Elena membingkai di sisi wajah Grace. Pandangan hangat darinya terhantarkan ke benak Grace. Kebesaran cinta yang Elena labuhkan untuk sang putri mengisi ruang kosong di relung jiwa perempuan itu.
"Itu kenapa Mommy harus sembuh." Grace masih tersenyum, sebelum pandangannya jatuh ke rambut Elena yang telah habis.
"Tapi ... Mommy kehilangan rambut Mommy."
"Sayang ... Rambut Mommy akan tumbuh lagi kalau sembuh. Dan Mommy pastikan itu terjadi."
Bibir bawah Grace mencebik, pertandakan tangis hendak meluruh. Selepasnya sebuah dekapan menyatukan mereka, menyalurkan cinta antara ibu dan anak itu.
"Hidup lebih lama, ya, Mommy. Grace tidak bisa hidup tanpa Mommy." Suara Grace mendecit kala tangis menghimpit.
Tangan Elena menyusuri surai Grace. Pelan, seolah cinta dan kasih sayang dia berikan di setiap sentuhannya.
"Tentu," katanya. "Mommy tidak akan pernah meninggalkan anak Mommy yang manja ini. Sekalipun itu. Tidak akan pernah." Suaranya yang lembut, sebagaimana sutra untuk membalut luka seorang perempuan yang telah mengorbankan diri demi satu-satunya harta yang ia punya.
Kehilangan harga diri, keperawanan, itu tidak seberapa. Namun, kehilangan seorang ibu yang telah menemaninya sepanjang hari, tahun, detik, bahkan disetiap hela napasnya, sang ibu selalu ada di sisinya. Grace tak bisa.
Elana bukan hanya seorang ibu untuknya. Dia adalah pondasi, harta, serta hela napas yang selama ini menghidupi Grace.
Ting tong.
Tanda dari kehadiran seseorang seketika meluruhkan atmosfer masygul. Grace lepaskan diri dari dekapan, menoleh sebentar ke arah pintu utama.
"Siapa itu?" Alis Grace mengernyit, benaknya menerka gerangan yang hadir tiba-tiba kala badai membelah kota.
"Isaac, kah?"
"Sebentar. Aku akan membukakan pintunya." Kaki berbalut celana piyama Grace berlari kecil.
Sebuah tuas pintu Grace tarik, mendorong pintu ke arah dalam sebelum memperlihatkan gerangan yang hadir dengan ... tetesan air?
"Tuan Isaac?" Sambutan Grace lain dari biasanya. Oktaf dari suaranya meninggi, terkejut mendapati penampilan Isaac saat ini.
"Kenapa Tuan kemari dalam keadaan basah kuyup?" Daun pintu Grace tarik lebih dalam, berikan Isaac ruang untuk memasuki kediamannya.
"Isaac?" Suara Elena datang secara samar, sebelum keterkejutan menampar melihat penampilan Isaac saat ini.
Sweater rajut biru navy dipadukan kameja putih di dalamnya telah diguyur air, hingga tetesan air jatuh dari sana, begitupun dengan celana jeans yang ia kenakan. Rambut pirang gelap miliknya tak lagi rapi. Air telah menyusutkan keindahan yang biasanya tercipta di sana.
"Bagaimana kamu bisa seperti ini?" Nada khawatir Elena menerpa, menjalarkan hangat yang tak pernah Isaac rasakan. "Ayo masuk. Seka dulu tubuhmu. Bibi akan siapkan air hangat."
Elena berlalu, langkahnya terburu. "Grace. Berikan Isaac jubah handuk. Jangan biarkan Isaac berlama-lama mengenakan pakaian basah."
"Apa Tuan kemari tidak memakai mobil? Bagaimana bisa sebasah ini?" Tak lain dengan Elena, Grace pun menuturkan kekhawatirannya.
Langkah tunggang-langgang Grace tak luput dari pandangan Isaac. Nada khawatir Dari dua perempuan itu ... entah mengapa menumbuhkan sebuah perasaan hangat yang asing dalam benaknya.
Ujung bibir kanan Isaac ditarik, membentangkan seringai kala ingatan dari mana air yang telah mengguyurnya.
Hujan yang mengguyur kota jelas tak mungkin menembus langit-langit mobilnya, dan dugaan Grace pun tak salah. Dia diguyur hujan. Namun, bukan karena tak sengaja.
Ide gila terlintas begitu saja di kepala Isaac. Dengan sengaja mengguyurkan diri di tengah hujan, hanya untuk menerima respons Grace bila ia datang dengan keadaan mengenaskan. Dan kedatangannya kemari bukan atas bantuan mobil, melainkan aksi nekatnya jalan kaki dari cabang kartel yang ia pimpin di area Manhattan, walau Luke memaksanya untuk mengenakan mobil.
***
"Aigo ... kenapa kamu tidak berteduh dulu? Atau setidaknya mencari taksi. Bagaimana jika nanti kamu flu?" Sebagai seorang ibu, Elena tak segan memperlakukan Isaac bagai putranya sendiri.
Dia memberikan Isaac coklat panas dengan marshmellow mengapung di atasnya, persis sewaktu Grace kecil setelah asyik bermain salju. Bedanya ini Isaac Emiliano. Seorang pria dengan kekuasaan tertinggi di dunia gelapnya, pria yang bahkan hukum negara takut untuk menjamahnya.
Pria keturunan Meksiko dengan darah kriminal mengalir deras di jiwanya.
Dia pria yang menganggap nyawa hanyalah mainan, dan harta adalah keagungan. Pria yang rela mengorbankan apapun, demi persembahan berupa harta. Seolah harta dan kekuasaan adalah Tuhannya. Pria menjijikan yang saat ini mengurung hidup Grace.
Melihat bagaimana sang ibu memperlakukan Isaac, perut Grace tergelitik. Ingin sekali menyemburkan tawa melihat betapa imutnya Isaac, dia menuruti semua yang Elena perintahkan, seperti duduk di depan perapian, meminum coklat panas dengan marshmellow, bahkan menyelimuti diri.
Pria berambut pirang itu seolah anak kecil di mata Elena, beda jika itu Grace. Dia adalah predator, ancaman halus yang tak pernah memberi tanda kehadiran bahayanya.
"Apa kamu sudah makan malam?" Isaac tak menjawab dengan kata, dia hanya menggeleng. "Aigo. Bahkan kamu belum makan, tapi sudah hujan-hujanan."
"Mau makan apa? Nanti Grace buatkan."
Grace membola, refleks menggeleng cepat. Dia ingin tidur, enggan waktunya tersisa untuk mengurus bayi besar.
"Oyster stew sepertinya enak jika Grace yang membuatkan." Mata kelabu Isaac berlabuh pada Grace, tidak ada secercah pun emosi di sana, datar. Namun, Grace tahu artinya.
"Baiklah. Aku akan membuatkannya." Walau enggan, demi nyawa tetap aman, Grace lakukan keinginan Isaac.
***
Hujan masih belum berhenti. Suaranya berpadu dengan piring yang saling bersentuhan ketika Grace selesai membasuhnya.
"Akh." Terjenggit begitu area terlarang diterpa sebuah tangan. "Tuan?!"
"Dari tadi aku melihatmu. Kau seperti ingin mengejekku." Bariton suara Isaac menerpa gendang telinga Grace, bangkitkan khawatir berikut takut kala tangan Isaac menyusuri area lain yang menuntun adrenalinnya.
"Tu-Tuan. Saya akan melakukannya. Tapi jangan di sini. Kita bisa ke hotel atau—" Kepanikan Grace terpicu, tangan Isaac bergerak semakin jauh, mengukung area sensitifnya yang dihalangi sehelai kain.
"Atau apa?" Isaac menyela cepat. "Kau takut Ibumu tahu bahwa kau telah menjual diri padaku demi kehidupan enak? Hmm?"
"Tuan, saya akan melakukannya. Tapi tid— ukh." Kepala Grace mendongak, jemari Isaac telah menerobos memasuki pusat permainan mereka.
Gesekan kasar dari jari Isaac menjalarkan hawa panas, yang kemudian rona merah memenuhi wajah Grace. Perempuan itu menahan lenguhan, enggan menunjukkan respons tubuh saat sentuhan-sentuhan Isaac semakin intens.
"Mendesah saja. Tidak perlu ditahan." Bibir pria itu telah mendarat di lekuk leher Grace, memberikan ciuman sensual, meninggalkan jejak merah usai dia menghisapnya.
"Saya tidak akan melakukannya." Ungkapan tegas dari Grace nyatanya tak dapat Isaac percayai.
"Benarkah?" Di belakang Grace, pria itu menerbitkan seringai. Setelahnya Isaac gerakkan jarinya dengan ritme jauh lebih kasar dari sebelumnya, agar Grace tak lagi menahan lenguhan.
"Ukh! Tuan!" Grace menjerit, sakit yang Isaac timbulkan bercampur dengan adrenalin yang sangat Grace benci.
Gairahnya berhasil Isaac undang. Namun, Grace tetap bersikukuh untuk tidak melenguh di bawah permainan Isaac.
"Harga diri dan rasa malu tidak selayaknya kau pertahankan, saat milikmu sendiri sudah banjir."