Bab 06. Calon Tunangan Isaac

922 Kata
"Ada keganjalan di kebakaran itu." Elena bergumam lirih, di samping Grace sosoknya begitu terpukul melihat rumah kecil mereka telah habis. Gelas di tangan Grace berpindah ke atas meja, kini mereka telah resmi menempati penthouse milik Isaac. "Mom, stop thinking about that, okay? Ini, Mommy minum obatnya aja, ya." Mulut Elena terbuka, meraup udara guna melonggarkan sesak di paru-paru. Bayangan betapa mengenaskannya rumah mereka dilalap api masih menyertai pikirannya. "Kamu benar. Mungkin karena akhir-akhir ini Mommy merasa stress, Mommy jadi sering kepikiran yang aneh-aneh." Melihat betapa buruknya kondisi sang ibu, buat Grace merasa telah kehilangan sebagian pusat hidupnya. Jemari lentik Grace mendarat di pelipis Elena, tak lama pijatan kecil Grace berikan di sana. Tepat sentuhan rambut tipis sang ibu, Grace rasakan, detik itu dunia Grace terasa runtuh tanpa sisa, tak lama lagi rambut itu akan rontok sebagai efek samping dari kemoterapi. "Itu murni kecelakaan." Kalimat tersebut Grace lontarkan tepat sosok Isaac Emiliano datang. Tersemat sindiran untuk Isaac. Langkah Isaac perlahan menghapus jarak, sosoknya kini berdiri menjulang di depan mereka. "Kamarnya sudah siap. Kalian bisa beristirahat." "Terima kasih, Nak Isaac. Kalau saja kamu tidak ada, kami pasti sudah menjadi homeless di pelataran jalanan." Sontak Elena membungkuk, utarakan rasa terima kasih tulus dari hatinya. Dan kalau Tuan Isaac tidak ada, rumah kita tidak akan terbakar. Benak Grace melanjutkan. Setitik egonya merasa diruntuhkan oleh penuturan terima kasih Elena juga sanjungan berlebihan Elena kepada Isaac, padahal di balik wajah bak malaikat itu terdapat iblis yang sayangnya tak Elena ketahui. "Oh, iya. Bibi belum tahu nama akun Nak Isaac. Apa nama akun sosial medianya? Bibi mau mengikuti." Keberadaan ponsel Elena cari-cari di t*buhnya, berharap benda itu dia bawa. "Grace kamu bawa ponsel Mommy 'kan?" Kening Grace mengukirkan kerut, memorinya digali mencari ingatan beberapa saat lalu sebelum sebuah ingatan terhampar di kepalanya. "Astaga! Ponsel Mommy tertinggal. Tidak Grace sempat bawa." "Yah ... yasudah." Suara Elena melantunkan kekecewaan. "Maaf, Nak Isaac." Isaac tak lekas bersuara, cukup lama ia terdiam perhatikan sosok kuyu Elena. Walau dalam diamnya Isaac menyimpan suatu hal yang tak bisa Grace tebak. Namun, Grace tahu apapun yang bersemayam dalam kepala Isaac bukanlah hal baik untuknya. "Sebenarnya saya bukan influencer." Pernyataan tiba-tiba Isaac mendapat respons terkejut dari dua perempuan itu. Debaran dalam d*da Grace bertabuh kacau, ketakutan akan ancaman Isaac sewaktu di perpustakaan kampus beberapa hari lalu menyeruak. Aku sudah menuruti semua kemauanmu, dan sekarang kau mau memberitahukan faktanya kepada Mommyku? Ini pengkhianatan namanya. Benak Grace seolah berbicara pada Isaac, dan dia menggunakan matanya untuk melontarkan kalimat dalam benak. "Saya adalah pemilik yayasan yang menyalurkan beasiswa Grace. Karena Grace anak berprestasi, dan belajarnya akan terganggu hingga memengaruhi nilai akademiknya, jadi hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membantu." Penjelasan panjang Isaac seolah meloloskan Grace dari jeruji takut. Dalam diam Grace mengembuskan napas lega. Begitu Grace menaikkan pandangan, sorot dingin dari mata kelabu Isaac bagai lampu peringatan sekaligus sorak kemenangan atas kalahnya Grace di atas bidak. "Ya ampun. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan anda dengan apa. Anda benar-benar dermawan, tampan, tidak ada satupun celah. Anda pasti masuk surga." Di penghujung kalimat, suara tawa ditahan Grace menyela. Sadar tehibur di saat tidak tepat, Grace menipiskan bibir. Pandangannya dilarikan ke segala arah, selama itu bukan Isaac Emiliano. Masuk surga? Mommy benar-benar berlebihan. Justru dia akan menjadi member neraka VIP. Benak Grace mencela. Kendati ia terganggu pada pujian-pujian berlebihan Elena, selama itu dapat meloloskan stress Elena, Grace akan membiarkannya. "What's wrong, Grace?" Kepala Isaac dimiringkan, menelisik setiap cuil riak muka Grace. Tidak ada hal aneh dari kalimat tanya Isaac. Namun, bagi Grace itu adalah sindiran halus kala Grace sendiri menertawakan pujian Elena seolah mengejek, meski itulah kenyataannya. "Oh, nevermind." Begitu Grace menatap Isaac, dia memasang wajah kebal tanpa ekspresi, gelitik lucu di perutnya seketika tergantikan oleh amarah setiap ingat bahwa Isaac lah yang sudah membakar rumah mereka. "Grace. Isaac ini malaikat kita. Kamu tidak boleh bersikap tidak sopan. Tidak ada Isaac, kita bisa saja mati kedinginan di jalan." Bagai kapas berjatuhan menyentuh hati Grace, Elena bersuara sangat lembut. "I admit it." Grace berkata datar, pandangannya lurus berpusat pada pria berambut pirang itu. "Anda benar-benar malaikat. Malaikat berwujud manusia. Saya sangat beruntung bertemu anda, Tuan Malaikat." Malaikat maut. Grace menambahkan dalam benaknya. "Thanks," jawab Isaac, datar, tanpa emosi, seakan tahu bahwa pujian Grace adalah sindiran halus untuknya. *** Limousine bentley menghentikan putaran roda begitu tiba di pelataran rumah berlantai tiga. Tepat di pintu sisi kanan, keluar seorang berpakaian serba hitam. Kaki berbalut sepatu pantofel mahalnya menapaki paving blok, setiap ketukan yang dibunyikan secara samar menyerupai simbol kekuasaan telak. "Isaac! Kamu baru pulang?" Nada centil yang dibuat mendayu-dayu seorang wanita menyapa Isaac begitu dia memasuki rumahnya. Madison C Weston, seorang wanita muda berbalut dress satin ketat hingga tonjolan di bagian tertentu tercetak, buah d*danya terpampang menonjolkan betapa seksinya ia. "Hari ini aku mendapat laporan. K*kain kita telah terjual banyak di Meksiko. Apa kau ingin melihat laporannya?" Kaki jenjang Madison diusahakan dapat menjangkau langkah lebar Isaac. "Haruskah aku bertepuk tangan?" Pertanyaan Isaac buat Madison terheran. "Hanya untuk mengatakan itu, kau rela mengunjungiku di pagi buta? Tidak kah itu terdengar seperti perjuangan?" Decakan Madison menguar. "C'mon, Isaac. Ini lebih penting dari yang kau kira." "Luke." Seruan Isaac segera direspons personal assistant-nya. "Bawa Madison keluar." "Isaac!" Madison spontan berteriak. "Kenapa kamu selalu menolakku? Bukankah kita akan bertunangan sebentar lagi?" "Itu hanya akan terjadi dalam halusinasimu." Ungkapan datar Isaac melukai Madison. Kaki jenjang dengan high heel 5cm milik Madison dihentakkan, sebagai pelampiasan dari amarahnya. "Lihat saja, Isaac. Aku akan membuatmu berlutut padaku." Tangan Madison terkepal erat, giginya saling bergelamatuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN