"Mas, kok kita berhenti di sini?" tanyaku keheranan ketika mobil itu berhenti tepat di depan gang rumah kumuh. Selain kumuh tempat itu juga terlihat sempit sekali. jadi tidak ada ruang gerak yang leluasa. Terlebih cuacanya yang di dekat pelabuhan yang terasa panas sekali.
"Sudah jangan banyak bicara. Sekarang ayo turun." titahnya. Aku tidak kuasa untuk menolaknya. Setelah menurunkan koper, aku mengekorinya menuju perumahan kumuh itu.
"Mulai sekarang kamu tinggal disini." ujarnya sambil menunjuk rumah dengan lebarnya kurang lebih dua setengah meter saja. Enggak kebayang betapa sempitnya di dalam.
"Enggak ada tempat lain apa? ini sempit sekali." Protesku.
"Jangan banyak membantah!" ujarnya dengan nada penuh penekanan. Aku hanya tertunduk, aku tahu konsekuensi kalau aku sampai menolak perintahnya.
"Lagipula, kamu akan sangat betah disini, karena ada seseorang yang special sedang menunggumu di dalam."
Orang special? Siapa itu? batinku penasaran. Mas Benny pun segera membuka pintu rumah itu. begitu pintu terbuka terdapat seorang gadis yang terduduk lemah di kursi roda.
"Astaga Nala!" pekikku lalu berhamburan ke arahnya."Ya Ampun, apa yang sebenernya terjadi denganmu Sayang?"
"Tubuhnya lumpuh bagian kanan, Matanya kanannya juga buta." jelas Mas Benny. Aku memperhatikan mata sebelah kanannya yang terpejam dan tampak berair.
"Mas kok Nala seperti ini?" sergahku.
"Itu salahnya sendiri. beberapa hari yang lalu aku menemukannya bersama gerombolan anak jalanan. Aku memaksanya untuk pulang, tapi dia enggak mau. Ya, karena aku jengkel. Aku tabrak saja dia sampai kepala belakangnya terbentur kap mobil dengan keras. Tapi sebagai orang yang bertanggung jawab, aku membawanya ke rumah sakit. Dokter bilang kalau boleh rawat jalan aja. jadi aku bawa dia pulang." jelasnya santai, tanpa empati sama sekali.
"Mas! Dia itu anakmu! Anak kandung kamu! kenapa kamu tidak membawanya ke rumah dan merawatnya dengan lebih layak!" aku mengitarkan pandangan ke sekeliling rumah ini. Rumah ini sangat sempit dan pengap dengan barang-barang seadanya. Belum lagi hawa panas yang menciptakan bulir di dahi. Sungguh entah apa yang merasuki pikiran suamiku ini sampai tega dia menaruh Nala di tempat ini.
"Siapa Bilang dia itu anak kandungku! Dia itu hanya anak yang dipungut oleh almarhumah istriku. Dari dia bayi sampai tumbuh besar seperti ini, aku sama sekali tidak menghendakinya." Tandasnya menguak tabir tentang jati diri dari Nala sebenernya.
Terlihat mata kiri Nala mulai berkaca-kaca, aku bisa merasakan betapa hancur hati anak itu mendengar cercaan Ayahnya itu. Sekarang aku tahu alasan kenapa Mas Benny tidak begitu dekat dengan Nala mereka bukan sedarah. Tapi tidak sepantasnya dia melakukan hal yang melampaui batas seperti ini.
"Mas, Cukup Mas! Kamu tidak sepantasnya berkata seperti itu! kasian Nala."
"Aku sama sekali tidak perduli. Mau dia sakit hati kek, mau dia mati kek, aku tidak perduli. Yang jelas aku tidak mau keberadaannya di rumahku yang akan merepotkan dan menganggu hidupku yang sudah bahagia dengan Naili. Itulah alasan kenapa aku membawamu ke sini, supaya kamu mau merawat dia."
"Mas Benny! Kamu benar-benar tega." Gigiku gemeletukan menahan amarah.
"Sudahlah, kamu itu kebanyakan sinetron makanya jadi drama seperti itu. Sekarang aku mau pergi dulu. Obatnya Nala sudah aku taruh di atas meja itu dan kamu tidak usah khawatir karena setiap bulan aku akan transfer uang ke rekening kamu." Dia berbalik arah dan pergi.
Kini, hanya tinggal aku dan Nala. Nala yang rapuh serapuh-rapuhnya. Aku pun langsung memeluknya, berusaha menguatkannya.
Kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat. Dulu semuanya terfasilitasi lengkap, sekarang aku tidak ubahnya emak-emak yang lebih sering menggunakan daster. Meskipun secara materi masih cukup, tapi aku harus cepat menyesuaikan dengan lingkungan sekitarku ini. sesuatu hal yang gampang-gampang sulit.
Terutama dengan lingkungannya yang bisa dibilang agak kumuh. Sampah berserakan dimana-mana bau got sering menyambangi, juga aku sering di kejutkan dengan tikus-tikus liar yang berlarian. Semuanya memang serba tidak nyaman, tapi tidak ada pilihan lain. kalau aku pindah dari sini pasti Mas Benny marah.
Nala hanya terdiam di kamarnya. Sama sekali tidak mau bicara semenjak kedatanganku. Lumpuh sebelah memungkinkan untuknya berbicara walaupun tidak jelas.
Airmatanya selalu menetes, seolah beban yang dia rasakan sungguh berat. Bagaimana tidak! Anak sekecil itu sudah lumpuh ditambah dengan kenyataan bahwa dia hanyalah anak pungut.
Mungkin, aku berpikir hidupku sudah sangat hancur tetapi ada Nala yang hidupnya lebi hancur. Tapi aku harus kuat dan optimis. Menyakinkan pada diriku sendiri bahwa kehidupan akan baik-baik saja. dengan begitu aku bisa menularkan rasa itu kepada Nala supaya dia tetap tegar.
Waktu bergulir begitu cepat, tidak terasa sudah sebulan aku merawat Nala. Tapi, Nala masih tetap terdiam. Sama sekali tidak mau berbicara. Aku hanya menghela nafas. Sebenernya aku sudah berbicara kepada Mas Benny untuk membawanya ke Psikiater. Tapi dia menolak keras, Buang-buang duit namanya.
Akhirnya sebisa mungkin, aku selalu menghiburnya, memberikan semangat meski itu tidak berefek apa-apa baginya.
Disaat bersamaan rasa bosan mulai mnghampiriku, melakukan rutinitas yang monoton tentu akan sangat membosankan. Aku mencari ide bagaimana cara untuk mengusir kebosanan ini.
Tiba-tiba pandanganku tertuju kepada mesin jahit yang dikeluarkan oleh seorang Pemuda dari dalam rumah. kebetulan rumahnya berada tepat di depanku, sehingga aku bisa melihatnya dari jendela rumah. aku bergegas menghampirinya.
"Permisi Mas, kalau boleh tau Mesin jahitnya mau di bawa kemana?"
"Eh, Bu. Mau di bawa ke loakan Bu. Soalnya enggak ke pake lagi. Ibu saya sudah lama tidak menjahit karena sudah tua." Jelasnya.
"Boleh enggak saya beli Mas?"Dia mengernyit dahi.
"Ibu serius mau beli?"
"Iya Mas, biar saya ada aktifitas di rumah gitu."
"Wah, Pas banget kalau begitu. Jadi enggak usah jauh-jauh bawa ke loakan." Ujarnya kegirangan.
"Saya akan bayar lebih mahal dari harga yang diloakan Mas, Tapi Mas bantu saya menatanya di dalam rumah ya."
"Siap Bu, kalau perlu nanti saya kasih semua perlengkapan menjahitnya kepada Ibu, biar ibu tidak usah repot-repot beli alat-alat yang lain." tukasnya bersemangat sambil membawa mesin jahit itu ke dalam rumah.
***
Akhirnya sekarang aku punya aktifitas baru, menjahit. Meski tidak jago-jago amat, tapi aku mau belajar. Dari dulu aku memang hobby banget menjahit bahkan pernah bercita-cita menjadi designer tapi orang tuaku dulu menginginkanku menjadi guru. Demi membahagiakan mereka, aku pun terpaksa menuruti keinginan mereka.
Tapi, aku seolah menemukan gairah hidup yang baru. Ternyata ada hikmahnya aku resign menjadi guru, jadi sekarang aku lebih bebas untuk mengekspresikan keinginanku dulu yang sempat tertunda. Terlebih, ketika aku menjahit, aku melihat senyum tipis di sudut bibir Nala.