Alya melangkahkan kakinya dengan mantap. Membelah koridor pagi ini. Berusaha tenang walaupun jantungnya kini tengah berpacu begitu cepat. Bagaimana tidak? Setelah hampir seminggu lamanya ia tidak bimbingan dengan Pak Alex, ia berniat menyodorkan skripsinya yang telah ia selesaikan. Semuanya tidak akan berjalan dengan cepat, jika saja Althaf tidak membantunya. Ah, lagi-lagi Aya sangat bersyukur bisa mendapatkan seorang suami yang perhatian dan pengertian seperti Althaf. Alya mengembuskan napasnya dengan perlahan. Mengatur degup jantungnya agar tidak meledakkan dadanya. Kenapa rasanya begitu gugup, hanya untuk bertemu Pak Alex? Bagaimana jika nanti Pak Alex memarahinya habis-habisan? Bagaimana jika nanti skripsinya itu malah disobek-sobek di depan semua dosen? Ah, memikirkannya malah membua

