“Nggak.” “Dean punya apartemen yang cukup untuk kami.” “Nggak.” “Ada mobil dan sopir yang bantu mobilitas kami.” “Nggak.” “Kakak dan Crystal akan mengunjungi kamu sesering mungkin.” “Nggak.” “Galih!” Galih menurunkan skrip film yang sedang dibaca, meletakkan di atas meja kecil di sisi sofa tunggal yang diduduki. Kacamata minus yang membantunya baca melorot hingga ujung hidungnya yang tidak terlalu mancung tapi terasa pas mengisi ketampanan Galih. “Nggak ada pindah rumah,” tegas Galih lagi. Gemintang berdiri menantang di sofa depan Galih. Tangannya melipat di depan d**a. Bibirnya mengerucut kesal. “Kakak dan Dean sudah menikah. Kami nggak mungkin tinggal di sini. Ini rumah kamu. Bukan rumah kami,” seru Gemintang lebih berapi-api. Galih mendesah. Dia melepas kacamatanya dan ditar

