Pukul 17.30 pm
Allica mengerjap pelan, menutup mulut yang menguap, badanya terasa nyeri dan sakit.
Ceklek!
Terdengar suara pintu terbuka, membuat allica beringsut menghadap pintu yang di buka.
Mama masuk dan tersenyum " Allica kamu masih mau lanjutin bobok? " tanya mama pelan, takut memnganggu istirahat anaknya.
" Enggak kok ma ini aku udah bangun " jawab allica masih dengan tidur terlentang.
" Mama cuma mau panggil kamu buat makan malam "
" iya mama nanti allica turun " sambil berusaha duduk
" ya udah mama tunggu di bawah ya "
***
Makan Malam
Ayah dan mama saling lirik, memperhatikan Allica yang sedang duduk di depannya. Allica kelihatan tenang dan fokus sekali dengan makanannya.
" Allica kamu minggu depan kosongkan jadwalnya ya " pinta ayah setelah selesai makan.
Allica mengerutkan kening " emang mau kenapa ayah " tanyanya
" Rencananya mama mau aja kamu ikut mama liburan ke puncak, bareng temen-temen arisan mama " terang mama
" Aku gak ikut lah mama, mama sama ayah aja yang kesana "
" Ayah ada urusan sayang, makannya mama ajak kamu, kamu mau yah " bujuk mma
" iya Allica kamu temenin mama ya, soalnya ayah masih ada kerjaan yang harus di selesaikan " pinta ayah
" Ya udah deh allica ikut " sahut allica
Mama sama Ayah senyum penuh kelegaan.
" Syukurlah mama sama ayah seneng dengernya "
****
Sementara di rumah Rev
" Rev minggu depan kamu kosongkan jadwal kamu, kamu temenin bunda ke puncak " perintah ayah
" kok aku sih yang temenin bunda ke puncak, kenapa gak ayah aja? " protes Rev
" Ayah masih ada pekerjaan yang harus ayah selesaikan, emang kenapa kalok kamu yang temenin bunda ke puncak, lagi pulang kamu gak ada kerjaan lain kan selain nongkrong gak jelas " sahut ayah
" Iya rev kamu ikut bunda ya sayang, temenin bunda ke puncak " pinta bunda
" iya iya Rev ikut ke puncak "
" Sekalian kamu bersihin otak kamu di puncak, biar pinteran dikit, biar gak merah semua nilai kamu. inget ya rev, kalau sampai nilai kamu merah lagi ayah akan cabut semua fasilitas kamu " ancam ayah
" kok gitu sih yah? " protes rev
" Ayah gak main-main sama ancaman ayah, jadi mulai sekarang kamu belajarlah lebih giat lagi. jangan nongkrong gak jelas terus " omel ayah
Rev hanya bisa pasrah, tidak bisa berkomentar lagi karena ayah sudah memasang wajah galaknya.
***
Minggu pagi, seluruh badan allica terasa pegal, terutama pada punggung dan kaki. kepala juga terasa agak pening karena sempat di jambak oleh caca.
Hazim!!!
Haziimm!!!!
meraih tissu yang ada di atas meja, mengeluarkan igus yang membuat dia susah bernafas. sekarang dia terkena flu, badan terasa panas. bisa dikatakan allica terkena demam.
Meraih ponsel yang ada diatas meja, menatap jam ternyata masih jam enam pagi, kembali menarik selimut, tubuhnya merasa kedinginan. merem merasa tak nyaman dalam tubuh.
Pukul 07.30 am
Ayah sudah bangun, udah habis mandi dan duduk diatas sofa untuk menikmati kopi dan membaca koran. melihat mama yang beberapa kali menatap pintu kamar allica.
" Ma, kanapa sih? " tanya ayah penasaran.
" itu....allica kok gak turun-turun ya yah?" khawatir, itu yang terlihat di wajah Dona.
" ya udah, datang ke kamarnya aja, gitu aja susah padahal tinggal naik tangga aja " usul Ayah, kembali membaca koran.
Menerima masukan suami, Dona berjalan menaiki tangga untuk mengecek keadaan allica. menempelkan telinga di daun pintu, mendengar suara bersin berkali-kali.