episode 12

719 Kata
" Allica, sayang " panggil mama dari luar " Iya mama " terdengar sahutan dari dalam yang suaranya berbeda. " kamu sakit sayang? " tanya mama dari luar Tak ada jawaban, tapi menit kemudian pintu terbuka, memperlihatkan allica yang mamakai jaket dengan wajah pucat. membuat Dona yang melihatnya terkejut. " Ya ampun kamu pucet banget allica " masuk ke kamar anaknya, dan langsung menuntun allica kembali ke tempat tidur. " Badan kamu juga panas, udah minum obat? " Allica geleng kepala " belum mama, tadi malam aku masih baik-baik aja " " Ya udah kamu istirahat dulu nanti mama ambilin obat sama sarapan " Mama tersenyum, berjalan keluar kamar. tak lupa menutup pintu, sebelum akhirnya meninggalkan kamar itu. Allica mengambil ponsel yang berkedip. ada pesan masuk yang belum di baca, itu dari alesio. [ Lo mau joging gak?, gue jemput ] Menghela nafas panjang. Tangannya fokus mengetik pesan balasan dengan satu jari telunjuk. [ enggak ] send Alesio Baru saja menaruh ponsel, pesan balasan dari alesio kembali mebuatnya menatap layar. [ entar jalan yuk? ] keningnya berkerut " jalan? " [ gak bisa aku lagi gak enak badan ] send alesio Cleekk Mama membuka pintu, masuk dengan nampan di tangannya. Ada sepiring makanan, segelas air putih dan obat penurun panas. meletakan diatas meja. " Makan dulu, lalu minum obatnya " suruhnya " Iya mama makasih ya " " Iya sayang, kalau gitu mama turun ya, jangan lupa makanannya di habiskan " pamit mama lalu keluar kamar **** " Pagi tante " sapa Alesio, Rev dan Clara Allica memilih membuang muka dengan helaan nafas kasar. Merem dalam menahan amarah yang ingin di keluarkan. Kali ini, wajah Rev bener-bener terlihat lebih dari sekedar menyebalkan. Ketiga anak tersebut melangkah masuk. Mama tetap diam duduk di sopa sebelah tempat tidur allica, sedikit melirik allica yang sangat jelas tidak menyukai keadaan ini. Menatap anaknya " Allica mama tinggal keluar sebentar ya sayang " Allica memaksakan senyum, lalu mengangguk dengan wajah pucatnya " iya mama " Setelah mama keluar allica menatap marah ke Rev dan Clara " ngapain kamu ajak dia kesini? " tanya allica marah " Clara kesini mau jelasin semuanya ke kamu, yang bikin kamu kayak gini itu bukan dia tapi Noan sama temen-temennya, mungkin kamu sempet liat Clara waktu itu, tapi bukan dia pelakunya " jelas rev " Iya kamu lebih percaya sama dia karena dia pacar kamu, asal kamu tau ya yang buat aku kayak gini itu dia!! " teriak allica " Sabar allica lo lagi sakit, lo gak boleh emosi gitu " sahut alesio " Dan lo Rev!, cinta boleh tapi bodoh jangan! " sahut alesio " Maksud lo ngomong gitu apa, gua tau pacar gua gak mungkin kayak gitu " sahut rev gak terima " udah sayang, jangan berantem disini gak enak nanti diliat sama orang tua allica " Clara pura-pura menengahi. " Allica, kamu salah paham sama aku, yang buat kamu kayak gini itu bukan aku tapi noan, aku minta maaf sama kamu karena gak bisa nolongin kamu waktu itu" sahut Clara pura-pura sedih dan merasa bersalah. Lalu Clara memeluk allica sambil berbisik " Lo pikir rev bakalan percaya sama lo. Dasar Jalak! " Allica kanget dan langsung mendorong Clara secara kasar. Rev dengan cepat menangkap Clara agar tidak jatuh. " Allica, gak seharusnya kamu kayak gini ke Clara, seharusnya kamu gak perlu kasar gini, Clara dateng kesini kan mau minta maaf. Karena kemarin dia gak bisa nolongin kamu dari noan dan alan " tutur rev panjang. Kedua tangan allica mengepal dengan nafas yang memburuk " kalian keluar dari kamarku! " usir allica terbawa emosi " tapi allica! " seru alesio " KELUAR !! " Clara, Rev, dan Alesio saling tatap untuk beberapa detik, lalu menatap allica yang membuang muka. " Ya udah semoga cepet sembuh ya allica. maaf soal kemarin yang gak bisa bantuin kamu " pamitnya penuh drama. Berbalik, tersenyum penuh ejekan. Lalu melangkah keluar dari kamar allica. Mata allica berkaca-kaca, dadanya bergemuruh tak terima dengan perlakuan rev yang tak mepercayainya. Mengusap mata yang mengembun, tak ingin terlihat cengeng. Tetapi sayangnya air matanya tak mau terbendung, tetap saja mengalir membasahi pipi. " Ya Allah....hisk....hisk....hisk....aku nangisin apa sih " menutup wajah dengan kedua tangan, menarik nafas dalam-dalam, tetapi isakan tangisnya gak bisa ia sembunyikan " kenapa d**a aku rasanya sakit banget?.....ya allah,,,,,aku kenapa,,,,hisk,,,,,,,hiskk,,,,,aku belum mau mati "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN