episode 9

527 Kata
Dengan santainya Allica keluar dari dalam toilet, ada Clara yang sudah menunggunya di depan pintu. Langsung mendorong tubuh allica dengan kasarnya hingga terpentok kedinding kamar mandi. " Aawww.... kakak apaan sih? " sama sekali gak ada raut takut. " Gua gak ngerti semalem ngapain lo ngintip! kalau sampai semuanya bocor, lo orang pertama yang gua cari!! " menceram kuat kerah baju allica. Allica menepis tangan Clara dengan kasar " Kakak ini aneh ya, Pacaran sama Rev tapi main juga sama Om-om. Kasihan Revnya tau " Mata Clara melotot, cukup terkejut ternyata allica sama sekali tak takut dengan ancamannya. Padahal hampir semua siswi takut jika sudah berurusan sama Clara. Kembali menceram kerah baju allica " Berani lo ya!! " Plakk!! Satu tamparan mendarat di pipinya allica, wajah allica memerah, tentu marah, di tambah bekas tangan Clara. Allica membalas mendorong tubuh Clara. " Denger ya kakak, aku memang adik kelas, tetapi bukan berarti kakak bisa semena-mena sama aku, Rev berhak tau kelakuan kakak di luar sana!. jangan jadiin dia hanya mesin ATM berjalan kakak!! " " b*****t lo ya!! " Balik mendorong tubuh allica hingga kepentok wastafle. tangannya terus mendorong Allica dengan kasar. Allica meringis pinggangnya seperti lecet atau mungkin memar. " Astaga Clara lo apain anak orang haaahh..." Zia sama Caca muncul depan pintu " Dia udah berani deketin rev dan genit sama rev " meludahi baju allica " b*****t" Caca mengarahkan matanya menuju salah satu bilik toilet yang paling ujung. Untuk kali ini, Allica merasa agak gemetar, merasa sedikit takut karena tiga lawan satu. Clara melipat tangan di depan d**a " Copot sana Ca " perintahnya. Caca maju, menarik baju allica dengan kasar. Seragam putihnya terlepas dan kancing bajunya berserakan di atas lantai. Dengan cepat Zia mengambil air bekas pel dan manuangkannya di atas kapala allica. " Mampus lo!! Dasar penikung " Clara menendang kaki allica " jangan coba-coba lawan gua, ini baru pemulaan" bisiknya sambil menarik rambut allica." ayo cabut! " Caca membungkuk, menjambak rambut allica, membuat allica mendongakak kepalanya " ngaca!, Muka kayak tai! gak pantes bersanding dengan Rev!, bangkee" melepaskan jambakannya dengan kasar. membuat kepala allica kebentur tembok. " Aaaaa..." ringis allica liris Bhuukkk!! Zia menendang kaki allica " denger tuh!! Dasar Jalak!! " Ketiga cewek yang terkenal suka membully itu keluar dari dalam toilet. Clara menutup pintu dan mengunci pintu dari luar. dengan senyum jahat dengan penuh kemenangan. Sementara allica menangis sambil memeluk lututnya yang semuanya sudah basah, meraih seragamnya yang sudah tergeletak di lantai. terisak kecil saat melihat kancing bajunya telah berserakan di lantai. Berusaha bangun, meraih knop pintu, menariknya, tetapi susah. Clara sudah menguncinya dari luar. air mata mulai menetes dan badan sudah mulai menggigil. Braak! Braakk!!! " Tolong....siapa saja...Tolong aku...hiikksss...hiikkkss..." kedua bahu ini mulai begetar karena isakan. Allica kembali duduk di atas lantai sambil memeluk lututnya, berharap mampu mengurangi dingin yang ia rasa. Tiga puluh menit, terasa sangat lama untuk allica yang terkurung di dalam sana. bibirnya sudah membiru disertai kaki yang nyeri karena tendangan Clara dan Zia tadi. " Ca..Allica " samar samar terdengar suara alesio dari luar sana. Sejenak allica menghentikan tangisnya, mengusap ingus yang membuatnya susah bernafas. menajamkan telinganya. " Allica " ini memang nyata suara alesio
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN