“Adrian, Pak Anggriawan sadar.” Laporan ini membuatnya segera berlari menuju kamar khusus yang dipakai untuk menyembunyikan sang atasan, kabar yang sangat melegakan karena tak harus ada lagi seseorang yang meninggal di depan mata. Kesadaran Anggriawan merupakan kabar bagus baginya, dia akan menemukan bukti penting. Pemulihan nama baiknya pun akan bisa dilakukan dengan cepat, tentu si penyerang yang membuatnya koma akan bisa dilacak. Dia tersenyum saat melihat Dirly sedang membantu laki-laki tersebut duduk. “Adrian ….” Panggilan lirih ini menerbitkan harapan yang sempat terpadam, “dia menyerangku … Oktavano.” Perkataan yang sangat mengejutkan, apa ini tentang dendam masa lalu? Kenapa justru jenderal kepolisian melakukan penyerangan frontal? Adrian hanya mengangguk sembari menunggu lebih

