● BAB 4

1062 Kata
Pagi hari yang cerah, cahaya mentari menyelinap masuk melewati celah-celah ventilasi kamar. Yana masih berdiam diri, ia tidak ingin keluar dari kamar. Kecemasan masih merasuki hatinya. Yana terus memikirkan tas ranselnya yang mendadak hilang. Padahal di sana ada identitasnya yang sebenarnya. Handphonenya juga hilang. Lebih parahnya, Yana tidak ingat nomor orang terdekatnya. Sebenarnya Yana ingin menghubungi kerabat atau temannya, sekedar untuk meminta bantuan karena saat ini Yana terjebak dalam keluarga Melvin. Sayangnya, semua tidak bisa dilakukan. "Apa yang harus aku lakukan? Harus cari alasan apa agar aku bisa keluar dari sini ? aku yakin mereka tidak akan dengan mudah melepaskanku begitu saja. Mereka yang masih mengira aku adalah Yani, wanita yang telah kabur dan berhasil mereka temukan. Mereka pasti akan memiliki penjagaan yang ketat dan terus mengawasi diriku agar tidak kabur." Yana mondar mandir dan berbicara tak karuan sambil mencoba menenangkan dirinya yang nampak frustasi. Ini sangat sulit baginya, Yana terus mencoba mencari ide untuk keluar. Seketika terlintas untuk mencari tahu tentang Yani, istri Melvin. Jika Yana berhasil menemukan perbedaan antara Yana dan Yani, ini bisa Yana jadikan bukti untuk Yana tunjukkan pada Melvin agar dia mau melepaskannya. Yana memulai mencari sesuatu dari kamar ini dulu. Yana mulai menggeratak mencari sesuatu yang ada di kamar. Yana mengawali dengan memeriksa nakas. Lalu Yana mengecek satu persatu tapi tidak ada apa-apa. Kemudian lanjut ke yang lain. Dia bertindak cepat, khawatir ada orang yang ingin masuk ke kamar ini. Tingkahnya ini terlihat seperti pencuri. Saat ini jantung Yana terus berdetak kencang karena dipacu waktu, gerak tangannya jadi lebih cekatan mencari sesuatu dan tubuhnya sedikit gemetar menahan kepanikan. Pikiran Yana pun mulai dirundung kecemasan dalam mencari sesuatu yang belum kunjung ditemukan sedangkan sekarang Yana sedang memanfaatkan kesempatan yang sempit ini. Sialan! Laci lemari pakaian ini dikunci. Rasanya tidak ada yang bisa Yana cari di sini. Yana yang mulai nampak frustasi, dia mengacak-acak rambutnya. Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Yana terkejut, seketika denyut jantungnya terus berdetak semakin kencang. "Iya...tunggu sebentar," sahut Yana panik, sambil mengulur waktu, dia segera membereskan semua barang yang sudah dia acak-acak. Tak lama, Yana pun membuka pintu. Yana tertegun begitu membuka pintu. Ternyata pria itu lagi, yang bernama Melvin. Sungguh Yana tidak siap jika harus berperan sebagai Yani. "Honey, ayo kita sarapan dulu! Yang lain sudah menunggumu di ruang makan," ajak Melvin. "T–tapi Tuan, sebenarnya kita perlu bicara penting dan ini mengenai diriku." "Sudah berulang kali kubilang jangan panggil aku tuan, aku ini suamimu." Melvin menatap Yana dengan tegas. Sorotnya yang tajam membuat Yana bergidik. Meski begitu Yana tak menyerah. "Tuan, aku mohon dengarkanku dulu!" pinta Yana yang terus memaksa. Dia akan mencoba meluruskan kesalahpahaman ini. "Apa yang harus kita bicarakan lagi?" Melvin menolak penjelasan Yana. "Kau tetaplah Yani istriku, tanpa bantahan," ucap Melvin dengan keras kepala. "Tuan, harus dengan cara apa aku buktikan bahwa aku bukan Yani?" Yana sudah berada di ambang putus asa. "Semua bukti menunjukkan bahwa kamu adalah Yani, lantas kenapa kamu harus berpura-pura tidak mengakuinya?" Alis Melvin terangkat, dia menatap heran. "Semua bukti yang ingin aku tunjukkan padamu tidak ada, tasku hilang berikut handphoneku juga." Yana berkata tanpa daya. Usaha Yana untuk bisa terbebas dari keluarga ini seperti menemukan jalan buntu. "Di sana—" Ketika Yana ingin melanjutkan perkataannya, jari telunjuk Melvin membungkam mulutnya dengan cara mendaratkan jarinya tepat di bibir Yana. Sontak saja Yana berhenti berkata. Sentuhan tipis itu membuatnya bergetar. Yana berkedip. Melvin juga mengelus pipi dan membelai rambut Yana dengan sentuhan lembut. Sepasang matanya memandang lurus tepat ke arah mata Yana. Yana pun tak berkutik, dia membeku. Yana seperti terhipnotis. Yana menelan ludahnya lalu menarik napasnya dan mencoba menenangkan dirinya. Bagaimana tidak, Melvin dan Yana hanya berdua di kamar! 'Sial! Apa yang mau dia lakukan?' umpat Yana dalam hati. Jejak kepanikan melintas di matanya. Melvin berjalan perlahan mendekati Yana dan tak memberi jarak. Auranya mendominasi. Tubuhnya yang tegap memancarkan pesona pria dewasa yang rupawan. Siapa yang tidak akan terpikat dengan daya tariknya bahkan Yana pun dibuat linglung hingga tak sanggup berkedip. Mata Yana terbuka lebar menangkap semua bayangan Melvin dalam matanya. Tatanan rambut Melvin yang rapi, dan Iris matanya yang berwarna kecoklatan memancarkan keindahan dan daya tarik. Pancaran wajah Melvin yang setenang air namun menghanyutkan. Melvin terus menatap lekat ke arah Yana dan yang bisa Yana lakukan adalah bertindak defensif. Suasana kamar menghening. Situasi terasa mendebarkan sekali ketika Yana berhadapan dengan seorang pria dewasa dan hanya berdua dalam satu ruangan. Aroma maskulin Melvin memenuhi hidung Yana. KRAAAK Kaki Yana menginjak sebuah benda yang terjatuh di lantai hingga menimbulkan bunyi. Namun diabaikan, Yana tidak fokus memerhatikan benda apa yang ia injak. Keringat dingin mulai mengucur di dahi Yana dan jantungnya berdebar hebat terus memompa aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuhnya, giginya gemeretak di dalam bibir yang mengatup sampai kakinya gemetaran. "Honey," Suara berat dan magnetis Melvin yang dibarengi dengan hembusan napasnya terasa tepat di wajahnya. Jarak antara Melvin dan Yana hanya beberapa centimeter. Ruang gerik Yana jadi terkunci. Kedua tangan Melvin mengukung tubuh Yana yang tersandar pada dinding. Jujur Yana tidak suka adegan begini. Yana mendaratkan kedua telapak tangannya di d**a Melvin dan berniat hanya mendorongnya perlahan agar menjauh. Lalu Yana memalingkan wajahnya karena tidak mau menatap wajah Melvin. Rona merah muncul di pipi Yana dan ia tidak bisa menutupinya. Tiba-tiba suara ketukan mengejutkan mereka berdua. "Tuan...!" Suara pelayan dari luar kamar memanggil Melvin. "Nyonya besar menyuruh Anda segera turun karena nona Tania terus merengek." Kemunculan suara pelayan secara tiba-tiba membuat Yana menghela napas lega. "Baiklah, aku segera turun," sahut Melvin. Kemudian Melvin pun kembali ke arah Yana dan berkata, "Lekas bersiap, aku tunggu kamu di bawah. Ingat! Jangan bicara apapun yang tidak masuk akal. Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau menurutiku." Melvin berkata dengan arogansinya. "Tuan...!" panggil Yana dan membuat langkah Melvin tertahan. "Ada apa lagi? Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan tuan!" Raut wajah Melvin menunjukkan tidak suka ketika Yana menganggapnya orang asing. "Tapi aku tidak bisa, bolehkah aku terus terang pada pada yang lainnya tentang diriku?" "Maksudmu apa lagi, Honey? Tania sudah menungguku, kamu juga harus ikut aku ke bawah. Dia sudah merindukan sosok ibunya sejak kau menghilang." Yana terkejut mendengar perkataan Melvin bahwa istrinya menghilang. "Menghilang? Jadi istri Anda menghilang?" Jadi Yani menghilang lalu mereka salah mengenali orang. Mereka menemukan Yana dan menganggap Yana adalah Yani. Yana menelan ludah. Merasa hidupnya berubah menjadi istri orang dan seorang ibu secara mendadak. Jelas Yana sangat syok. ---- ---- Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN