● BAB 5

1025 Kata
"Kamu bicara apa?" Melvin mengerutkan alisnya. "Kamu memang menghilang beberapa bulan ini. Aku frustasi mencarimu." Melvin menunjukkan betapa dia baru saja bernapas lega dan terbebas dari penderitaan rasa putus asa karena kehilangan istrinya. Wajahnya menggambarkan hal itu dengan jelas. Yana tetap bersikukuh untuk menjelaskan kesalahpahaman yang tengah terjadi. Dia hanya berharap dewi fortuna menghampirinya. "Tuan, biar aku perjelas, istri Anda menghilang carilah dia bukan aku. Mungkin hanya wajah aku yang terlihat mirip dengan istrimu tapi sebenarnya Tuan sudah salah. Coba perhatikan baik-baik!" Yana berusaha meyakinkan Melvin sekali lagi dan semoga keberuntungan berpihak pada Yana. Yana berdiri dengan keyakinan meski wajah mereka mirip pasti ada perbedaan yang signifikan. Bahkan ada yang bilang kalau orang yang kembar identik terkadang memiliki perbedaan karakter atau sesuatu ciri khas yang bisa membedakan satu sama lainnya. Melvin terdiam sesaat lalu matanya bergerak naik turun memerhatikan Yana dari ujung kepala hingga ke kaki. Sejenak keheningan melanda, Melvin seperti tengah berpikir. Yana tak bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Melvin namun dia tidak menyerah untuk meyakinkan Melvin. Ya Tuhan, Yana tidak menyangka tiba-tiba dengan cepat tangan Melvin melingkar dan merangkul pinggang Yana, tenaga Yana jelas kalah dari lengan Melvin yang menarik kuat tubuh Yana tepat ke hadapan Melvin. Yana jadi dibuat gelagapan oleh tindakan Melvin yang dominan. Yana kehilangan kata-kata. Melvin merangkul pinggangnya. Gerakan cepatnya mengalahkan Yana yang ingin menghindari. Ini mengejutkannya. Melvin bertindak melebihi batasan. Yana masih melebarkan matanya tak percaya. "Dengar yah! kamu itu istriku," bisik Melvin dan suaranya sangat dekat di telinga Yana hingga ujung hidungnya yang mancung menyentuh sedikit di pipi Yana, sentuhannya sehalus bulu. Lalu seketika itu Yana terhenyak. Matanya memancarkan ketidakberdayaan. Getaran aneh merasuk ke dalam hati Yana. Seumur hidup belum pernah disentuh pria, Melvin adalah pria pertama yang bertindak berani sekali. Wajah Yana mendadak memerah karena malu. Penegasan dari ucapan Melvin yang tidak bisa dibantah oleh alasan apapun. Fakta itu seolah menyudutkan Yana. "...." kata-kata Yana tersangkut di tenggorokan. Seorang pria yang mengaku sebagai suaminya tidak menganggap Yana orang lain? Sekuat tenaga Yana ingin melepaskan lengan Melvin malah semakin kencang pula Melvin memeluknya dengan erat. Melvin membuka bibirnya dan wajahnya mendekati telinga Yana. Suaranya yang lembut namun tersirat penegasan tentang identitasnya, "Tidak ada yang bisa membantah, jika kamu masih bersikeras menyatakan dirimu orang lain, kamu tahu, apa yang bisa aku perbuat?" Kilatan intimidasi melintas di mata Melvin. Dia menyeringai hingga membuat Yana bergidik melihat senyum misteriusnya. Napasnya terasa di pipi Yana. Pria ini terlihat tenang dan elegan tapi menyimpan keangkuhan dan arogannya secara bersamaan. Rasa takut seketika mendera. Lalu dengan cepat Melvin melepaskan rangkulannya, dia tidak mau membuang waktu lama. Tania tengah menunggu kehadirannya di meja makan. Melvin melangkah keluar dari kamar ini menuju ke ruang makan. Dia berjalan dengan tergesa-gesa untuk segera turun karena mendengar putri kecilnya terus merengek. Yana masih berdiri mematung, dia memandang siluet Melvin yang menghilang di balik pintu kamar. Yana masih merasakan jantungnya yang berdebar padahal Melvin sudah menghilang dari hadapannya. Perasaan aneh menelusup ke hatinya. Tidak mungkin jika Yana harus jatuh hati pada suami orang lain hanya perkara wajah Yana mirip dengan istrinya lalu terjadi sebuah kesalahpahaman. "Yani, maafkan aku! Aku tak sanggup lagi melihat pesona suamimu, jujur aku jadi terpikat karena tatapannya." Wajah Yana memerah malu. Pesona aura yang dipancarkan Melvin meninggalkan jejak dalam benak Yana. "Yani, ku mohon! Kamu kembalilah ke keluargamu agar aku bisa keluar dari sini." Yana terus berdoa dalam hati. "Eh tapi tunggu dulu... Bagaimana caranya?" Yana bergulat dengan pikirannya sendiri yang masih terngiang ucapan Melvin baru saja. Apa yang dimaksud Melvin tadi, artinya Yana tidak bisa bersikeras menyatakan identitasnya dan harus mengikuti keinginan Melvin. Sama saja Yana terjebak dalam identitas Yani dan tidak bisa pergi begitu saja. Apakah ini awal kehidupan Yana? Bagaimanapun Yana merasa bahwa ia tidak bisa memanfaatkan situasi seperti ini untuk mengambil keuntungan. Menjelaskan kesalahpahaman pada mereka pun rasanya percuma, tidak ada satupun yang mau memercayai Yana. Terutama Melvin yang tetap mempertahankan keyakinannya yang membuat Yana tak berdaya menolak. Yana pun melangkah menuruni anak tangga satu persatu, saat kakinya berpijak disitulah terasa jantungnya ikut bekerja semakin keras memompa aliran darah, hatinya dirundung perasaan tak tenang. Beribu pertanyaan terus merasuki di kepala Yana, 'Apa yang harus ku perbuat?' Yana nampak kebingungan. Tanpa sadar langkah kaki Yana sudah berada di lantai bawah memandangi mereka yang asyik bercengkerama di meja makan, terlihat keluarga yang harmonis. Sungguh tak bisa dipercaya jika Yani bisa meninggalkan keluarganya yang seperti idam-idamkan kebanyakan orang ini. Hal itu membuat Yana menjadi iri melihat keharmonisan mereka. Yana hidup di panti sejak kecil dan mendambakan sebuah keluarga, terharu melihat Keluarga Melvin. Dia tidak pernah menduga akan memiliki sebuah keluarga walaupun harus memakai identitas orang lain. Begitu mereka melihat Yana, mereka tersenyum pada Yana dan menyambutnya. Hati Yana tersentuh karena merasakan bahwa mereka menganggap kehadiran Yana. Tapi sayang itu bukan ditujukan untuknya melainkan untuk Yani. Yah, mereka semua masih mengira Yana adalah Yani. "Duduklah di sini dekat dengan Tania," sahut ibu Melvin, suaranya yang terdengar halus dan lembut menandakan dia orang yang penyayang. "Iya, Bu." Yana menuruti ajakannya duduk di samping Tania yang katanya–dia adalah anak Yani–peran yang sedang Yana ambil. Dengan terpaksa Yana berperan sebagai seorang ibu. "Mama...mama..." panggil Tania yang menggemaskan. "Eh...i–iya sayang," jawab Yana pada Tania, si gadis kecil yang imut. Dia tersenyum kaku dan sedikit gugup, dia masih bingung harus bersikap apa. Yana merasakan hawa yang kurang nyaman dari tatapan Melvin yang memandanginya dengan tak biasa. Yana tahu itu, biarpun bibirnya terdiam tapi ada sesuatu dalam sorot mata pria itu. Sedangkan Yana tak berani menatap ke arahnya hanya berpura-pura tidak menyadarinya. Kegelisahan menguasai perasaan Yana. Dia tidak sanggup berakting lama-lama, baginya itu sama saja menipu kepolosan mereka yang belum mengetahui identitas Yana. Namun apa boleh buat, rasa takut terintimidasi dari Melvin mengalahkan keinginan Yana. Dia tidak bisa terbebas. Frustasi menguasai benak Yana. Mereka memperlakukan Yana begitu baik. Senyum tulus mengembang dan hadir untuk menerima Yana dan menjadikannya bagian dari keluarga. Yana tidak mengerti dengan sikap Melvin yang tenang menikmati makanannya tanpa berkata apapun. Padahal sebelum ini dia sempat berdebat. Yana berusaha keras mengutarakan identitas dirinya namun aura dominan yang dimiliki Melvin menghalanginya. Kenapa? Dan ada apa? Apakah Melvin menolak kebenarannya? ----- ----- Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN