● BAB 6

1063 Kata
Jantung Yana berdebar ketika berada di meja makan. Pikiran Yana masih berkecamuk. Dia bingung bagaimana harus bersikap. Apakah mereka tidak menyadari perbedaan Yana dan Yani? Ataukah mereka belum cukup mengenal bagaimana karakter Yani? Di bawah ancaman Melvin, Yana terpaksa memakai identitas Yani. Sorot mata Melvin menegaskan itu, kalau dia tidak boleh mengacaukan keharmonisan keluarga ini. Melvin selalu mengabaikan penjelasan Yana, dia hanya meyakini dirinya sendiri bahwa Yana adalah Yani. Ini yang membuat Yana tak punya pilihan selain mengikuti keyakinan Melvin. Keterpaksaan Yana menjadi Yani. Yana memandang mereka yang menunjukkan kedamaian saat sedang menikmati makanannya. Kehadiran Yana seperti semangat baru bagi mereka. Mereka seolah mengabaikan siapa Yana, yang mereka inginkan wajah itu, wajah Yani dan kehadiran Yani di sisi mereka. Namun Yana bingung karena dia sama sekali tidak tahu siapa Yani? Karakternya, tingkah lakunya dan kesukaannya. Bertemu dengan Yani pun belum pernah. Bahkan Yana hanya mengetahui wajah Yani dari pigura yang terpajang di kamar yang sedang ditempatinya. Itu pun baru kemarin dia melihatnya dengan jelas karena Melvin yang menunjukkan photo Yani. Ketika memandang photo Yani, Yana seolah melihat dirinya sendiri. Hanya saja keyakinannya kuat bahwa di photo itu bukanlah dia. Jika terlihat perbedaan yang mencolok antara Yana dan Yani, seharusnya mereka tahu. Kemudian Yana pasti akan terusir dari sini. Kenapa Yana mendapatkan ketenangan, seolah tidak perlu khawatir identitasnya terbongkar. Wajah Yana yang terlalu mirip dengan Yani mengaburkan penilaian mereka. Apakah mereka benar-benar tidak peduli bahwa di samping mereka bukanlah Yani? Sebersit pemikiran muncul di benak Yana, dia perlu menyelidiki apa yang telah terjadi di keluarga ini hingga dia harus terjebak sebagai Yani. "Makanlah, ada croissant kesukaanmu." Yana tersentak dari lamunannya ketika Ibu Melvin berkata dan menyodorkan sebuah piring yang berisi croissant. Yana belum pernah mencoba menu seperti ini. Dia bingung. Duduk bersama di meja makan dengan orang asing membuat Yana canggung, perasaan ini tidak seperti ketika dia berada di meja makan saat tinggal di Panti. Yana masih mengingat jelas, ketika dia di Panti harus bisa berbagi makanan dengan penghuni Panti lainnya. Meski hidangan sederhana yang selalu dimakan Yana, kehangatan yang terjalin di Panti memenuhi hatinya yang kosong. Sejak kecil, Yana hidup dan tinggal di Panti hingga dewasa. Dari dulu, selalu saja nasibnya belum beruntung mendapat keluarga yang mau mengadopsinya. Dia tidak mempermasalahkan hal itu, dia merasa cukup bahagia tinggal di Panti karena banyak yang menyayanginya juga. Kenangan kehidupan di Panti terbenam dalam pikirannya, kini pikiran Yana pun kembali ke masa kini. Sekarang nasibnya berubah membuatnya mendapat keluarga yang tidak disangka hanya karena dirinya mirip dengan seseorang. Yana tertawa mencemooh dirinya dalam hati, dia baru merasakan croissant, bukan makanan kesukaannya, jelas ini kesukaan Yani. Perlahan Yana mencobanya memasukkan sepotong croissant yang katanya enak. Pertama dia perlu mempelajari cara memakannya. Setelah memakannya, dia menebak bahwa itu roti. Pikiran sederhana Yana menilai makanan itu. "Tania juga menyukainya sama seperti ibunya." Kemudian Ibu Melvin memberikan bagian untuk Tania. "Yang ini buat Tania, ditambah ada Churros dan Cinnamon roll juga s**u. Dia senang disuapi mamanya," ujar Ibu Melvin sambil memandang dengan mata yang cerah. Pandangan Ibu Melvin menyentakkan hati Yana. Entah mengapa membuat Yana tidak nyaman. Dia diliputi rasa bersalah karena dia bukanlah ibu Tania yang sesungguhnya. Yana menatap menu yang tersaji di depannya. Biasanya menu sarapan yang dibuat di Panti, adalah nasi goreng atau nasi uduk, terkadang juga bubur. Untuk memakan roti rasanya jarang kalau bukan untuk bekal dalam perjalanan. Menu sarapan yang berbeda, mereka menyantap sepotong roti diolesi dengan selai dan beberapa lembar salad, juga segelas s**u mendampingi makanan mereka. Yana tidak terbiasa dengan itu. Dia hanya memandangi etika makan mereka. Mereka duduk dengan elegan dan anggun, layaknya orang yang berkelas. Cara menyantap makanan pun begitu rapi dan hati-hati. Orang bilang itu aturan table manner. Meski di rumah, mereka tetap berperilaku teratur? Yana tak mengerti. Tangan Yana sedikit gemetar ketika dia mencoba mengikuti cara makan mereka, sungguh Yana belum bisa mengimbangi mereka. Yana jadi kaku. Dia melengkungkan bibirnya sedikit dan berusaha menenangkan dirinya. 'Andai mereka tahu, aku mengalami kesulitan beradaptasi, padahal ini baru urusan makan. Bagaimana dengan hal lainnya?' Pikiran Yana terus bertanya dan berusaha menekan dirinya yang gugup. Yana mencoba menyuapi Tania dengan sepotong croissant dari sendoknya. Meskipun dia terbiasa dengan anak-anak kecil di Panti tetapi berhadapan dengan Tania, membuatnya canggung. Tania berbeda, dia adalah anak dari Yani dan Yana harus bersikap seolah dialah ibunya. Baru satu suapan, Tania sudah bersorak gembira. Kepolosan wajahnya terlihat bahagia. "Wah, wajah Tania tampak ceria sekali." Senyum mengembang di bibir Santi Hartanto–ibu Melvin. Tindakan Yana seolah mendapat acungan jempol darinya. "Benar 'kan?" Santi mengarah ke Melvin memastikan bahwa Melvin juga sependapat dengannya. "Tentu saja, Mah. Tania memang merindukan mamanya." Pancaran wajah mereka terlihat bahagia dan tenang karena keberadaan Yana di tengah mereka. Situasi seperti ini membuatnya semakin sulit untuk mengatakan bahwa dia bukanlah Yani. Pasti Melvin tak akan mengijinkan Yana menyampaikan kebenaran itu. Ada apa dengan mereka semua? Yana tak mengerti. Kini Yana benar-benar terjebak dalam keluarga Yani. Mereka tetap menganggap Yana adalah Yani. Entah ini keberuntungan atau bukan perkara wajah Yana sangat mirip dengan Yani, yang pasti Yana tidak nyaman berada di keluarga asing. Momen ini menempatkan Yana pada situasi yang sulit, dia terpaksa memainkan drama dan berperan sebagai Yani meski Yana tak menginginkannya. Otak Yana buntu belum bisa memikirkan jalan keluar dari masalah ini. Dia merasa sesak nafas. Rasanya setiap detik denyut jantungnya berdetak lebih cepat. Memainkan peran dengan memakai identitas orang lain tidaklah mudah. Sebab Yana tak cukup pandai berakting. Menipu orang bukanlah keahliannya. "Maaf, yah aku tidak bisa berlama-lama menikmati momen bahagia ini," celetuk Melvin dengan raut sedikit kecewa, sesekali matanya menatap jam yang melingkar di tangannya. "Hari ini aku ada jadwal operasi." Dari perkataannya, Yana akhirnya mengetahui bahwa Melvin berprofesi sebagai dokter. "Yah, sayang sekali." Santi juga kecewa, sudah lama mereka tidak berada di meja makan bersama. Melvin selalu sibuk dengan jadwal pekerjaannya. "Bagaimanapun juga urusan pasien nomor satu." Melvin beranjak dari kursinya, dia bersiap berangkat dan meninggalkan meja makan. Namun sesuatu mengejutkan Yana sebelum Melvin pergi. Sebuah kecupan manis di dahi Yana dari Melvin. Yana tertegun, dia membeku karena tidak bisa menghindar. Itu terjadi sekian detik lebih cepat. Wajahnya mendadak merona merah. Perilaku kasih sayang seorang suami terhadap istrinya, membuat Yana tersipu malu. Ini jelas salah. Dia ingin berteriak dalam hati, dia memang bukan istrinya. Rasanya asap mengepul dari ubun-ubun, menahan rasa malu. Yana tak bisa berkata apapun mendapati kenyataan bahwa pria itu telah menaburkan cinta yang salah untuknya. ----- ----- Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN