BAB 7

1019 Kata
Melvin melengkungkan bibirnya seperti seringai kecil yang menggoda. Dia merasakan perasaan yang hangat dan berbeda. Rona merah di pipi Yana membuatnya tersenyum. Wajah Yana menggambarkan seorang gadis polos. "Papa...!" Tania mengerucutkan bibirnya seolah dia cemburu dan ingin diperlakukan sama. Melvin pun menggendongnya lalu memanjakannya. Pemandangan itu menarik hati Yana, sikap Melvin menggambarkan sesosok ayah yang sangat menyayangi putrinya. Sebuah point positif yang ditujukan Melvin, telah menyentuh perasaan Yana. Yana tak bisa mengalihkan pandangannya. Dia diam terpaku sekaligus tertegun. "Sekarang ada mamah, Tania jangan nakal ya. Papa mau berangkat kerja dulu. Sun dulu dong!" Melvin menyodorkan pipinya yang seketika dikecup Tania. Gadis kecil itu pandai mengekspresikan perasaan sayangnya dan Melvin tersenyum hangat. Tania diturunkan dari gendongan Melvin, segera Tania kembali ke kursinya lalu duduk dengan patuh. Tatapan mata Yana bertemu dengan tatapan Melvin secara tidak sengaja dan Melvin mengunci pandangannya pada Yana. Yana tersentak, kemudian dia menunduk malu. Melvin tersenyum dalam diam. Tingkah Yana menggelitik hatinya. Yana menggemaskan. Wajah Yana yang tertutup oleh beberapa helai rambut dan tangan yang mengepal di atas paha dengan gemetar telah menarik perhatian Melvin. Dia tahu bahwa Yana sedang mengatasi rasa gugupnya. Melvin kembali melihat waktu di jam tangannya. Ini sudah waktunya untuk segera berangkat. Melvin berpamitan. "Maaf, yah aku harus segera berangkat." Sesuatu tidak terduga kembali terjadi, sekian detik Yana dibuat tercengang oleh tindakan Melvin. Meski adegan itu terjadi secara kilat namun bagi Yana itu sangat terasa. Melvin memberi kecupan di pipinya. "Nanti malam, ok?!" Melvin berbisik dengan nada menggoda. 'Na–nanti malam? Apa maksudnya?' Kepala Yana serasa berdengung. Ucapan Melvin yang ambigu membuatnya terkejut. Dalam sekejap wajah Yana memerah. Sial! Yana mengumpatnya dalam hati. Dia tahu pikirannya, segera Yana menghapus pikiran yang tidak pantas. Kemudian dengan cepat Melvin berbalik dan pergi meninggalkan meja makan. Yana menatap siluet Melvin yang semakin menjauh dari pandangannya. Meski Melvin telah menghilang dari pandangan namun bisikan kecil di telinga Yana masih tertinggal. Dia menarik napasnya. Jantungnya terus berdebar. "Iya, hati-hati!" ujar Santi. Kemudian Yana yang masih linglung tersentak lalu beralih ke arah Santi. Dia sadar, di sini ada orang lain yang menyaksikan adegan tadi. Sungguh Yana merasa malu sekali, Melvin melakukannya secara terang-terangan di depan keluarganya. Rasa malu dan kesal bercampur jadi satu, sejak kapan Melvin pintar mengambil kesempatan di saat Yana lengah. Mulai saat ini, Yana berjanji dalam hati untuk selalu berhati-hati dan waspada terhadap Melvin. Atau jika Yana tidak pandai mengantisipasi, entah apa yang terjadi di kemudian hari. Yana tidak yakin kalau dia tidak akan jatuh ke dalam pelukan Melvin. Pesona Melvin menggetarkan hatinya. Tentu saja, Yana tidak akan membiarkan martabatnya jatuh, bagaimanapun juga Melvin bukan suaminya. Dia akan berusaha menjaga harga dirinya. Dalam hati Yana mengucapkan beribu-ribu maaf, dia diliputi rasa bersalah pada Yani. Setelah menyantap sarapan, Yana nampak kikuk. Dia bingung harus bagaimana, Santi bersikap biasa seakan tidak menyadari keanehan pada tingkah laku Yana. Yana lebih banyak diam tidak seperti Yani yang ceria. Tania menarik tangan Yana, "Mama, main yuk!" Wajah Tania nampak ceria membuat Yana tak bisa menolaknya. Dia tanpa daya menuruti Tania. "Oke." Melihat keceriaan Tania, hati Santi bahagia. "Oh ya, siang ini, ibu mau keluar ada kumpul ibu-ibu arisan. Jadi maaf, ibu tidak bisa menemanimu dan Tania di rumah. Kalau perlu sesuatu kamu bisa panggil pelayan." Setelah itu, Santi mengarah ke Tania, "Tania sama mama dulu ya, nenek mau keluar sebentar nanti siang." "Iya, Nek," ujar Tania patuh. "Cucu nenek emang pintar deh." Santi mengelus rambut Tania. Santi menoleh ke arah Yana dan berkata, "Kamu tahu, ibu senang sekali kamu kembali. Beberapa bulan belakangan semenjak kamu menghilang, rumah ini terasa sepi, sekarang kondisi sudah kembali hangat. Raut wajah anak dan cucuku kembali ceria. Ibu harap kamu tidak akan pergi lagi. Tetaplah di sini. Semua orang menyayangimu." Yana terdiam mendengar penuturan Santi, itu artinya Yana tidak bisa pergi dari sini. Jika dia pergi, mereka akan sedih. Yana memutuskan untuk mengurungkan niatnya memberitahu sesuatu pada Santi. Padahal sejak tadi dia ingin sekali mengatakan bahwa dia bukan Yani. Betapa Yana dilema dengan situasi seperti ini. Rasanya mustahil, dia akan terkurung seumur hidup di keluarga ini. Bagaimana seandainya Yani muncul secara mendadak? Lalu bagaimana dengan nasib Yana? Apa yang akan terjadi nanti? Yana tak sanggup membayangkannya. Sebelum semua itu terjadi, Yana menyiapkan rencana mencari dan berusaha untuk menemukan Yani secara diam-diam. Kemudian ketika Yani sudah kembali ke rumah di saat itulah Yana bersiap untuk menghilang. "Mama, kita main masak-masakan yuk di kamarku!" Tangan mungil Tania mengandeng tangan Yana dan menariknya untuk ikut dengannya. "Baiklah, ayo!" Yana pun bersedia. "Aku ke kamar Tania dulu, Bu." "Ya sudah sana, Tania juga sudah lama merindukan kamu dan ingin bermain bersama denganmu. Ini waktunya untuk kalian berdua, ibu tidak akan mengganggu." ****** Semakin waktu berjalan, Yana semakin diliputi kecemasan. Yana masih mengingat jelas bisikan Melvin yang terus menggema di otaknya. Di kamar Tania, Yana memerhatikan sekitarnya. Mungkin ini adalah kesempatannya untuk mencari sesuatu. Bagaimanapun juga Yana tak mau terjebak selamanya di sini, jadi dia perlu mencari jalan keluar. "Mama...!" Tania memanggil Yana sambil merengek, suaranya mengejutkan Yana yang tidak fokus bermain dengannya. "Ah iya, maaf sayang ada apa? Tadi mama melamun." Yana menoleh ke arah Tania lalu membujuknya, "Sudahlah jangan menangis, mama temenin kok mainnya." Tania berhenti merengek, dia tersenyum kembali. Tania bersemangat, "Ayo kita main boneka barbie, Mah!" Yana mengangguk, menuruti keinginan Tania. Selama beberapa waktu tak terasa mereka asyik bermain boneka bersama. Di kamar Tania, Yana menemani Tania bermain. Tania berjinjit mengambil mainan. Tangannya belum sampai. Melihat Tania kesulitan, Yana mencoba membantunya. "Biar mama bantu," ujar Yana. Ketika Yana membantu Tania mengambil barang, ada berkas terjatuh dan selembar kertas muncul sedikit. Kertas itu telah menarik perhatiannya karena tulisan yang tertera. Perlahan Yana mengambilnya. Dia tak sengaja membaca isinya. Kertas itu berisi surat kematian. Namun begitu Yana membacanya sampai full. Wajahnya memucat dan pandangannya menyusut. Yana tak percaya, petir seakan telah menyambarnya. Di sana tertera nama Liyana Zahiya, itu jelas namanya. Surat itu menyatakan bahwa seorang wanita muda bernama Liyana Zahiya telah meninggal dunia. Yana seakan telah dihantam oleh kenyataan yang mengejutkannya. Dia tidak percaya. Bagaimana namanya tertulis di kertas itu? Yana membeku dan shock. Seketika kepalanya mulai terasa sakit. Lalu Yana jatuh pingsan. ---- ---- Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN