18. Supporter Terbaik

2214 Kata
Dalam keluarga hal yang paling menjadi idaman adalah ketika makan bersama. Sama seperti Saras, gadis itu ingin juga merasakan makan bersama dengan anggota keluarganya. Secara penuh. Karena, selama ini Saras jarang makan bersama lengkap begitu. Bapak hanya sesekali ikut makan bersama. Bapak belum pulang bekerja bahkan ketika Saras pamit untuk pergi ke kantor. Mama juga sering berangkat pagi sekali. Membuka toko lebih pagi sembari memeriksa barang yang akan dikirim ke beberapa warung kecil. Mas Dafa akan makan bersama Saras. Kecuali hari minggu. Mas Dafa yang terbiasa bangun lalu tidur lagi. Dan Saras, malas makan pagi-pagi jika bukan karena akan pergi. Jadi, seharmonis keluarga bapak Suripto. Ada saja hal yang tidak kompak. Makan bersama itu contohnya. Berbeda dengan pagi ini. Bapak yang sudah duduk di depan televisi berteriak ke sana kemari. Membangunkan Dafa dan memanggil Saras. Mengatakan pada mereka agar segera keluar kamar. "Daf, Ras. Metu rene. Maem sek," Begitulah suara bapak terdengar sayup-sayup di telinga Saras yang tertutup headset putihnya. "Iya Pak. Sebentar lagi," Saras mengedip beberapa kali. Rasanya malas untuk bangkit menghampiri bapak di ruang tengah. Bukankah Saras durhaka dan patut dihukum jika begini. Maka dari itu, Saras bangkit merapikan rambutnya. Berjalan gontai setelah mematikan play list musik yang ia dengar sejak tadi. Mengunci handphone juga merapikan kabel headset agar tidak kusut. Barulah, Saras menampakkan diri dan duduk di sisi bapak. "Mas mu bangunin dulu, wes awan ngene kok durung tangi," lantas, bapak kembali menyeruput teh manis hangat dalam gelas besarnya. Saras tahu bahwa mas Dafa tak pernah mengunci pintu kamar. Jadi, Saras langsung mendorongnya dan menemukan kakaknya masih tak sadarkan diri. Pantas saja bapak sampai berteriak begitu. Saras yang b***k dan mas Dafa yang belum juga sadar. "Mas. Bangun ih, udah siang gini kok," Dafa melenguh. Mungkin tak mendengar sedikitpun apa yang Saras katakan. Terbukti, bagaimana laki-laki itu tetap dalam posisi yang sama. Saras berdecak. "Mas. Udah siang," Pergerakan Mas Dafa membuat Saras semakin gencar membuat laki-laki itu mengerutkan kening. "Udah siang Mas," Tak peduli pada bagaimana Dafa bangun dari mimpi semalamannya. Saras memilih mengeluarkan beberapa lauk yang udah mama masak pagi ini. Meja depan televisi seketika penuh. Lantas, apakah bapak tidak pernah membeli meja makan. Atau, apakah keluarga pak Suripto ini tidak punya tempat khusus untuk makan? Jawabannya ada. Hanya saja, meja makan di fungsikan sebagai tempat untuk menyimpan masakan mama. Ada tudung saji di tengah meja. Tapi baik mama, bapak, mas Dafa maupun Saras jarang ditemukan makan di meja itu. Depan televisi adalah tempat ternyaman untuk makan bersama. Fokus melihat berita sembari menyendok makanan adalah kata bahagia yang ada di level lain. Setelah makan usai, akan ada pertanyaan random mengenai berita di televisi. Mama yang bercerita tentang artis sinetron yang ditonton, lalu Saras dan bapak akan berkomentar jika berita di televisi masih berputar pada beberapa hal yang sama. Yang bahkan keduanya sudah menemukan berita yang sama di stasiun televisi yang berbeda. "Lagek wingi bapak roh iku lho. Saiki nonton neh. Opo gak ndue berita liyo?" bapak geleng-geleng kepala. Saras ikut mengangguk setuju. "Adanya yo iku Pak. Kesel wong iku luru berita ngono kui," Mama membalas lalu memasukkan kerupuk ke dalam mulut. "Piye wingi ujianmu? Bagus toh?" Kunyahan Saras memelan. Sampai akhirnya menelan makanannya dengan susah payah. Mengangguk kecil seolah semuanya terasa mudah. "Hasilnya belum keluar Pak. Nanti ada pengumuman lulus atau ndak. Saras belum tahu, yang ikut orang-orang pinter," jawab Saras sembari berusaha menuntaskan makannya. "Mau nyabang?" Saras mengangguk kecil. "Ke Jogja," "Loh. Adoh tenan," jawab mama yang ikut terkejut. "Kamu di Demak aja ndak betah. Gimana di Jogja sendirian?" Saras kembali menunduk. Makanannya sudah tandas tak bersisa. Tapi rasanya kembali ingin keluar. "Nanti kan Saras ketemu sama temen Ma. Semoga Saras di terima yang di Jakarta. Kalau ndak, ya terpaksa ke Jogja itupun kalau di terima," Saras benar-benar pasrah. "Kemarin Saras ujian buat di Jogja. Yang ikut juga banyak kok. Jadi nanti ada temen ke sana," Mama berhenti membereskan piring kotor. Menatap putrinya lekat-lekat. Lantas menghela napas panjang sebelum mengatakan bahwa mama tidak apa-apa. "Semoga Saras diterima yang Jakarta. Mama belum bisa lepas kamu ke Jogja. Jauh, ke rumah eyang juga harus naik kendaraan 2 jam. Dulu kamu tuh ke Demak yang satu keluarga aja tembangane balik. Apalagi yang pergi sendirian," Saras diam untuk beberapa saat. Menegakkan punggung sembari menonton televisi bersama bapak juga mas Dafa. Menjadi maknae dalam keluarga memang selalu seperti ini. Ada keinginan untuk mulai hidup mandiri. Yang nyatanya, sedewasa apapun Saras, ia tetaplah bayi untuk tiga orang dewasa di rumah ini. Bahkan Saras sampai sekarang belum bisa mengendarai motor sendiri. Kata bapak dulu setelah tahu Saras terjatuh ke selokan saat latihan motor, bapak bilang begini. "Yowes ndak papa. Latihan motor kalau jatuh yo berdiri meneh. Nanti lama-lama iso. Tapi, kalau koyo ngene parahnya sih ndak usah lah main motor. Toh bapak sama Dafa iso diajak pergi," Dewasa tidak dewasa, Saras memang akan menjadi yang paling muda. Diberi lebih banyak lauk yang enak. Diperhatikan lebih banyak dari mas Dafa, tapi untuk satu hal. Kadang Saras memang merasa hidupnya tak sebebas orang lain. Karena memang, selain bapak yang tegas. Saras juga tak mau bergaul lebih luas. Teman Saras hanya Andana. Maka, tak pernah bosan mama, atau bapak terus mendengar nama Dana disebut-sebut setiap hari. Bahkan berkali-kali. "Ma," mama yang tengah merapikan wajan menoleh. Mendapati sang putri yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. "Doain Saras biar diterima di Jakarta ya Ma, Saras mau tetap disini," Mama berbalik. Mengelap tangan basahnya kemudian menangkup kedua pipi Saras. Mencium gadis itu seolah bayinya yang sangat lucu. Karena memang, Saras tak akan pernah terlihat dewasa di matanya maupun sang suami. Ia juga tak akan pernah mau ditinggal Saras jauh-jauh. Cukup kuliah di Jakarta dan kembali setiap satu atau dua minggu sekali. "Mama selalu doakan yang terbaik untuk Saras. Saras jangan lupa, yang punya hajat doanya di banyakin juga. Nanti gusti Allah dengar doa kamu. Rezeki sudah ada yang atur. Dengar kan kalau bapak selalu ngomong begitu," lantas Saras mengangguk. Memeluk pinggang mama begitu erat. Saras benar-benar tak mau pergi. Jiwa maknae yang ia miliki lebih mendominasi. Biarlah jadi anak mama yang manja. Saras hanya ingin selalu berada dalam lingkungan keluarganya saja. Ia tak ingin ada orang lain yang masuk lebih dalam. Karena ia tak pernah berani melangkah lebih jauh. Saras tak pernah ingin menambah teman, karena banyak temanpun tak ada yang mengerti tentang dirinya sebaik Andana Gibran. _-_-_-_-_- Siang itu, ketika Saras membuka bekal buatan mama, Yudha mendekat bersama Cindy. Ikut membuka kotak makan siang masing-masing. Duduk berhadapan di pantry kantor tanpa rasa canggung sedikitpun. Padahal, dua orang itu termasuk dalam jajaran karyawan yang suka pergi makan di luar. Bukan seperti Saras yang menyukai makan di dalam kantor. "Ternyata enak juga duduk di pantry sambil makan begini. Kamu berani sendirian aja Ra?" tanya Yudha. Yang dibalas anggukkan kecil Saras. Gadis itu masih sungkan dan tidak enak pada Yudha. Ia sudah kasar, tak mau mengatakan apapun pada laki-laki itu. Padahal, mungkin maksud Yudha memang baik. Tapi Saras benar-benar enggan. Biarlah apapun ia rasakan sendiri. Ia masih belum percaya pada setiap orang. "Ra, mau kan?" Saras mendongak. Mengerutkan kening ketika Cindy berkata demikian. "Mau apa Kak?" "Tawaran yang waktu itu. Aku bilang mau resign, kamu siap kan gantiin? Nih HRD maunya kamu yang jadi leader baru. Heran, padahal pacar dia tuh aku loh. Bukan kamu," Saras meringis. Meski berkata dengan senyuman lebar, Saras tahu bahwa Cindy mengatakan itu memang benar-benar ingin Yudha sadar. Tapi nyatanya, Yudhatama Susilo adalah laki-laki terpeka yang pernah Saras temui. Bagaimana laki-laki itu menggulung sedikit lengan kemeja Cindy agar tak masuk dalam saus di kotak makanannya sudah cukup membuktikan dugaannya. "Aku mau kuliah Kak," "Beneran?" lirih Cindy. Mendekatkan kepala pada Saras. Saras mengangguk kecil. "Maaf ya Kak. Aku beneran mau kuliah. Tapi hasilnya belum keluar sih, masih nunggu satu minggu lagi. Agak ragu," Yudha tersenyum. "Jangan ragu. Katanya udah siap mau jadi arsitek? Kejar dong," Yudha menyemangati. "Loh. Kok jadi arsitek? Bukannya kamu lulusan teknik komputer ya? Gak mau lanjut ke bidang yang sama? Kamu udah punya basicnya," tumben sekali Cindy berbicara banyak seperti ini. "Seenggaknya udah pernah gitu belajar di SMK. Di kuliah tinggal lanjutin. Toh, di sini bisa nerima anak magang," "Kalo aku nih, pilih teknik komputer aja. Kalau alih jurusan kan susah, balik ke titik nol lagi. Mulai dari awal lagi. Meskipun komputer sama arsitek masih ikut saintek sih," Saras mengulum bibir. Lagi-lagi hanya mengangguk kecil tanpa membalas apapun. Walau yang ia lihat, Yudha beberapa kali menepuk pelan bibir Cindy agar diam. Diam-diam Saras masih terjebak dalam kebingungannya sendiri. Keraguan yang ia miliki apakah akan menjadi nyata? Bahwa dirinya tak akan bisa melanjutkan pendidikan jika Jakarta dan Jogja menolaknya bersamaan. Itu menyakitkan. Tapi Saras memang tak punya apapun lagi. Harapannya hanya pada dua universitas tersebut. Jika gagal, Saras kemungkinan akan kembali bekerja. Melupakan semua impiannya menjadi seorang arsitek. Satu minggu yang Saras nantikan ada di depan mata. Ucapan Cindy minggu lalu masih membekas. Kata-kata sang leader benar. Jika Saras bersikeras pindah jalur, maka ia harus siap dengan segala macam hal yang berbeda dengan dasar yang ia miliki. Melamun di depan laptop, Saras sama sekali tak mengindahkan pelototan mas Dafa yang sedari tadi laki-laki itu tunjukkan. Dafa sudah lelah seharian memikirkan urusan pekerjaan. Ditambah melihat wajah tanpa semangat Saras. "Nunggu apa lagi sih?" tanya Dafa yang membuat Saras menoleh. Memperlihatkan wajah polosnya. "Udah sore. Buka di sini atau di rumah aja?" "Di sini." lirih Saras seraya menekan tombol F5. Ia menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Jantungnya dipacu cepat bersamaan dengan d**a yang semakin sesak. Dafa ada di sampingnya, ikut memperhatikan apa yang akan muncul di monitor laptop hitam milik Saras. Dafa pernah mengalami hal serupa 7 tahun yang lalu. Ia pernah mengalami panas dingin seperti halnya Saras saat ini. Saras menggigit bibir. Lalu hembusan napas panjang mengakhiri fokus dari laptop di depannya. Saras tak lagi memperhatikan monitor laptop miliknya. Memilih melengos pada jalanan yang terlihat ramai. Yang nyatanya tak memberikan efek tenang sedikitpun. Dafa terpaku. Berulang kali membaca kalimat yang sama, yang pada akhirnya ia ikut menghela napas panjang. Dadanya ikut sesak melihat apa yang tertera dalam monitor. Mematikan laptop, Dafa kemudian merapikan barang milik Saras di atas meja. Menepuk pelan bahu gadis itu. "Ayo pulang. Nggak papa," Laki-laki itu menarih lengan Saras. Mengajak sang adik untuk segera pergi dari Cafe. Awan hitam di atas langit mengisyaratkan pada sebuah hal yang tak pernah ingin Saras alami. Gumpalan awan itu seolah mengiringi rasa Saras yang teramat sesak pada sore ini. Kedua kakinya terasa lemas. Seolah akan runtuh bersamaan dengan air-air dari langit. Saras tak pernah menyangka sampai gemetar seperti ini. Bahkan ia sudah tak peduli pada tangannya yang mencengkram erat lengan mas Dafa. Membiarkan laki-laki itu tetap membawanya pergi. Hebatnya, Saras sama sekali tak berontak seperti bisanya. Kakinya yang lemas ini masih mau melangkah meski terasa lebih berat. Tetap menunduk meski sudah duduk manis di boncengan motor Dafa. Dadanya masih sesak. Air mata yang menggenang tak jua meluruh membasahi pipi. Dadanya masih sesak. Apakah hujan mau turun sekarang? Dana benar. Air hujan adalah healing untuk hal-hal semacam ini. Kekecewaan atas dirinya membuat Saras ingin merasakan serbuan air hujan. Sebentar saja. Saras benar-benar ingin. Tapi alih-alih air hujan yang dingin. Saras merasakan tangan mas Dafa menepuk pelan lututnya di lampu merah. Menatap tepat pada mata Saras dari spion kiri. Seolah mengatakan pada gadis itu bahwa Dafa khawatir. Saras sudah menduga hal ini akan terjadi. Tapi, kenapa rasanya semenyakitkan ini? Kenapa rasanya lebih sakit dibanding apa yang ada di benaknya? Dua kata itu jelas menghantam Saras. TIDAK LULUS. Bahkan Saras sudah jadi si pesimis sebelum memulai langkahnya. Saras sudah menduga bahwa ia tak akan pernah bisa masuk dalam kampus terbaik di Jakarta. Ia bukan Andana yang ambisius dan cerdas. Ia bukan Dafa yang keras kepada dirinya sendiri. Tuhan benar-benar mengabulkan keresahan Saras selama setengah tahun ini. Tuhan benar-benar mengabulkan apa yang belum sempat terucap dari bibir Saras. "Mama kira ada apa. Kok sore banget pulangnya. Macet tah?" suara mama menginterupsi. Perempuan paruh baya itu berdiri di teras sembari menanti kedatangan putra putrinya. Wajah khawatir terlihat jelas. Apalagi setelah melihat Saras yang terus diam dan menunduk. "Kerjanya capek?" Saras mengangguk kecil setelah mencium punggung tangan mama. "Capek ndu?" Bukannya mendapat jawaban. Mama hanya menyaksikan setiap tetes kristal bening yang luruh dari netra indah putrinya. Cepat-cepat mama meraih bahu Saras. Membawanya dalam sebuah rengkuhan hangatnya. Mencium puncak kepala Saras sementara tangan kanan mengusap lembut surai hitam gadis kecilnya. "Ono opo tah Ras?" tanya mama lagi. "Capek kerjanya? Ada yang jahat?" Saras hanya menggeleng kecil. Sampai akhirnya mama menatap Dafa. Dengan gerak tanpa suara, Dafa berucap lirih. "Saras ndak lulus ujian Ma," Mama terdiam. Memeluk Saras lebih erat. Tak bisa ia sembunyikan lagi, mama juga ikut meneteskan kristal beningnya. Berbisik lirih tepat di sebelah telinga kanan Saras. "Ndak papa. Mama bangga sama kamu. Nanti coba lagi ya?" Saras semakin mengeratkan pelukannya. Terisak untuk pertama kali sejak beberapa bulan lamanya ia masih tetap diam. Memakai topeng terbaik, tanpa menunjukkan celah bahwa ia pernah merasa sakit. Tapi kali ini, Saras ingin memeluk mama lebih erat lagi. Mengatakan pada mama bahwa Saras kesakitan. Hanya mama yang ia inginkan untuk mengobati segala rasa kecewa yang ada. Hanya mama, yang tak pernah peduli pada tatapan orang lain mengenai Saras. Sore itu. Akhirnya Saras memilih untuk mengeluarkan segala rasa sakitnya. Dipelukan mama. Di sebuah kehangatan yang mengobatinya. Tak butuh hujan yang nyatanya tak pernah turun hingga sore menjelma. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN