Akhir-akhir ini Dana terlampau sibuk. Sampai tidak sempat mengunjungi Saras. Ataupun menjemput gadis itu dari kantor. Ujian Akhir Semesternya masih berjalan hingga minggu esok. Menambah daftar panjang yang harus ia ingat di dalam otaknya.
Menghela napas panjang, laki-laki itu memilih bangkit setelah menata kembali buku miliknya yang terbuka di atas meja. Membiarkan fokus teman-teman tertuju padanya. Bahkan kini kunyahan Ditya melambat seiring dengan pergerakan Andana. Laki-laki itu terus memperhatikan bagaimana wajah Dana terlihat lebih lelah dari biasanya.
"Gue balik duluan," Kata Dana langsung berlalu pergi. Membiarkan tiga orang temannya mengedik tak peduli. Andana Gibran memang suka datang dan pergi sesuka hati.
Pada semester akhir ini, Dana merasa lebih frustrasi. Ia masih melarang Lani pulang ke rumah meski sang ayah berkali-kali datang dan membujuk Lani. Iya, hanya Lani. Karena ayah tahu Andana tidak pernah bisa dikekang.
Tapi apa laki-laki itu lupa bahwa yang membuat Dana jadi pemberontak adalah dirinya sendiri? Lantas, impian menjadi dokter Andana hanya sebatas angan-angan belaka. Dan Dana, sekarang sudah lupa akan mimpi yang selalu ia idamkan itu.
Pada akhirnya, sudi atau tidak, Dana harus tetap menerima jalan hidupnya. Sepi yang selalu menyergap menjadi temannya setiap hari. Setiap malam yang sunyi, yang memeluk Andana erat untuk tetap bertahan.
Namun agaknya Dana sudah muak. Sejak tahun lalu ia tak pernah lagi mendengarkan ayah. Ia merasa bisa hidup sendiri.
Dana hampir menabrak seorang perempuan yang masuk ke dalam kafe. Bertepatan dengan dirinya yang akan keluar. Lalu tatapan keduanya bertemu. Hanya untuk membuat Andana mendecih dan melangkah lebih cepat.
Ayuni terpaku. Ia tak bisa membiarkan Andana terus lari ketika menghadapinya. Pemuda itu tak akan pernah bisa pergi dalam hidupnya. Andana Gibran, nama yang selalu ia sebutkan dalam rangkaian doa.
"Andana,"
Panggilan itu tak lantas membuat Dana menoleh. Ia tak pernah ingin bertemu perempuan itu. Berkali-kali Saras mengatakan bahwa Ayuni tidak seburuk yang ia kira. Tapi tetap saja, perempuan itu akan menjadi ibu sambungnya kelak. Karena sampai saat ini, ayah tetap memaksanya untuk bertemu Ayuni. Meski berakhir dengan Dana yang tak pernah datang.
"Apa kamu tidak akan mendengarkan saya barang sedikitpun?" Ayuni berdiri tepat di sisi motor Dana ketika laki-laki itu sudah siap mengeluarkan motor dari parkiran depan kafe. "Apa kamu berpikir saya selalu jadi orang ketiga diantara hubungan orang tuamu?"
Andana tetap diam.
"Tante boleh menikah dengan ayah. Tapi jangan pernah berharap bisa menggantikan bunda kami," kali ini, Ayuni bergeming. Dadanya terasa begitu sesak.
Laki-laki di depannya ini tak pernah tahu apapun dengan sudut pandangnya. Sampai kapan ia harus bersembunyi dan tidak diakui? Sampai kapan Iwan akan membiarkan Dana tak tahu apapun. Pada akhirnya, perempuan itu menatap nanar kepergian Andana. Senyum yang semula terbit ketika melihat pemuda itu di dalam kafe akhirnya sirna.
Ayuni meneguk ludah. Ia sadar bahwa dirinya bukanlah si tokoh utama protagonis. Dia hanya jadi antagonis di dalam kisah Riyani.
Goresan luka yang selama ini ia tutup akhirnya kembali. Akhirnya ada di titik ini. Ayuni ingin Dana segera tahu, bahwa hubungan mereka tidak serenggang itu. Bahwa ia bukanlah orang ketiga dalam hubungan Iwan dengan Riyani.
Dadanya masih terasa sangat sakit saat ini. Ia ingin mengatakan semuanya pada dunia. Bahwa selama ini ia juga jadi si protagonis yang tersakiti. Lalu dikenang dan hadir sebagai antagonis di kisah orang lain.
"Kamu hanya belum tahu, nak,"
Dana terus melajukan motornya membelah jalanan kota yang padat. Tujuannya bukan rumah Saras, karena gadis itu mengatakan bahwa ia sedang persiapan untuk ujian mandiri beberapa hari lagi.
Ucapan Ayuni masih terus berputar di kepalanya. Ia tak pernah benar-benar peduli pada kehadiran wanita itu. Tapi bertemu dengan Ayuni membuatnya terus bertanya dalam hati. Apa sebenarnya yang perempuan itu inginkan?
Bukankah ayah yang harusnya jadi alasan utama perempuan itu akan menjadi ibu sambungnya? Kenapa seolah-olah Ayuni menginginkannya alih-alih ayah.
Kenapa rasanya, bertemu Ayuni sesakit ini? Bohong jika Dana membenci perempuan itu. Nyatanya, beberapa kali bertemu secara tidak sengaja dengan Ayuni membuatnya sedikit meringan juga sesak. Bagaimana wajah itu persis dengan bundanya. Wajah yang ia rindukan setiap malam sejak enam tahun terakhir.
Saras pernah berkata begini padanya.
"Na, tante Ayuni enggak seburuk itu kok," gadis di sebelahnya tersenyum tipis. Menepuk pelan bahu Dana kala itu. "Kalau enggak mau ya gak papa. Kamu gak harus punya pemikiran yang sama kayak aku,"
"Semua orang punya peran masing-masing dalam setiap cerita. Dan kamu gak harus menyukai semua peran itu,"
Dana membuka pagar rumah nenek lalu mendorongnya amat pelan. Ia tak akan mengganggu seisi rumah yang mungkin sudah terlelap. Terbukti dari lampu ruang tamu yang sudah padam.
Mendorong motornya sampai depan rumah dan memarkirkan di selasar. Lantas Dana memasukkan kunci cadangan yang ia miliki. Nenek selalu tahu bahwa cucunya yang satu itu memang suka melarikan diri sesuka hati.
Penghuni rumah tak sepenuhnya terlelap. Kini, dari gelapnya ruang tamu Dana bisa melihat sang adik tengah asik menyeruput mie sendiri. Kalau saja gadis itu ada di rumah ayah, pasti tak akan pernah ia memakan mie instan seperti itu.
Ayah selalu ingin anak-anaknya sehat dan tak memakan makanan banyak micin. Tapi nyatanya, mie instan yang banyak micin, murah, juga sederhana mampu menghangatkan siapa saja. Seperti halnya Lani yang kali ini tetap fokus pada FTV tengah malam yang masih tayang di televisi. Padahal, gadis itu lebih menyukai drama Korea daripada sinetron Indonesia.
Awalnya Lani agak kaget melihat bayangan dari arah depan. Tapi melihat wajah Andana yang muncul, gadis itu tersenyum tipis.
"Kakak baru pulang?" Dana mengangguk. Mengambil alih sendok yang tergeletak. Lalu menyeruput kuah panas yang masih mengepulkan asap. "Mau Lani buatin?"
Dana menggeleng kecil. "Tadi udah makan. Nenek udah tidur? Sekarang enggak banyak tidur siang kan?"
"Udah. Akhir-akhir ini nenek jarang tidur siang sih. Agak mendingan, udah jarang sakit kaki," laki-laki itu mengangguk menanggapi ucapan sang adik.
Ia memilih tinggal. Menemani Lani yang mungkin masih ingin tetap duduk di depan televisi alih-alih tidur di kamar.
"Kak," panggil Lani. Sekarang memilih mengecilkan volume televisi hingga menyisakan pada tingkat 3. "Tadi ada yang ke sini,"
Kedua alis Dana terangkat. "Siapa? Ayah?"
Lani mengulum bibir. Agak ragu untuk mengatakan pada sang kakak. Tapi bukankah laki-laki itu juga harus tahu perihal siapa yang datang hari ini untuk menemui nenek mereka.
Gadis itu berdehem kecil. Sekarang benar-benar akan fokus berbicara pada kakaknya. Meletakkan mangkuk yang sebelumnya ia pegang pada meja di depannya. Ia menghela napas kecil. Berbicara dengan Andana selalu menyenangkan. Tapi entah kenapa, kali ini ia tiba-tiba dilanda keraguan. Karena mungkin saja, kakaknya tak akan hanya diam mendengarkan.
"Perempuan itu ke sini Kak. Dia ketemu nenek dan ngobrol banyak,"
Tapi mungkin ekspektasi Lani tidak sesuai dengan realita yang ada. Sekarang Dana tetap diam, tidak seperti pada ekspektasinya yang mengatakan laki-laki itu akan murka.
"Dia ngomong apa,"
"Lani enggak tau pasti. Tapi kayaknya nenek bahagia liat tante Ayuni. Meski di awalnya nenek juga kaget,"
"Kaget? Apa ini pertama kalinya nenek ketemu perempuan itu?" Lani hanya mengedik. Ia sama sekali tak tahu mengenai dua orang itu.
Ia merasa bahwa nenek dan tante Ayuni cukup dekat di masa lalu. Terbukti, pada bagaimana tatapan nenek yang berbinar meski bibirnya tak bisa berhenti mengatakan bahwa Ayuni menyakitinya.
"Nenek bilang sakit hati sama tante Ayuni. Tapi gak bisa bohong kalau nenek itu bahagia Kak,"
"Jangan dipikirin," laki-laki itu mengusap puncak kepala sang adik. "Kakak temenin sampai selesai makan."
Dana tersenyum tipis. Apakah yang sebenarnya terjadi. Kenapa akhir-akhir ini terasa aneh. Ayah tak pernah mengatakan bahwa Ayuni adalah ibu sambung mereka. Lalu, apakah tente Ayuni itu datang dari masa lalu.
Lantas, apa yang membuat nenek sampai bahagia meski mengatakan sakit hati. Andana benar-benar berpikir keras. Sampai rasanya ia juga lelah dengan keadaan. Kembali pada Andana yang ingin tak peduli pada apapun. Tapi nyatanya, cerita Lani juga Saras mengganggunya hingga saat ini.
"Sebenarnya tante Ayuni itu siapa?"
_-_-_-_-_-
Mungkin, jika hidup ini adalah sebuah novel ataupun komik. Saras hanya akan jadi figuran semata. Si tokoh pembantu yang akan muncul hanya sekedar berjalan di antara orang-orang. Atau mungkin saja, hanya jadi penonton yang melihat bagaimana kisah para tokoh utama yang dibuat si penulis.
Hidupnya datar-datar saja. Bagaimana bisa tokoh utama memiliki kisah dengan alur yang datar? Tak akan mungkin, kan?
Karena biasanya, si tokoh utama lebih sering seorang gadis cantik dengan tubuh tinggi, baik hati, senyum lebar dan ada di antara laki-laki tampan. Oke, untuk beberapa hal di atas tidak ada dalam daftar hidup Saras. Lupakan soal peran utama.
Pada intinya, Saras juga jadi si peran utama dalam hidupnya. Otaknya sudah tak dapat berpikir lebih jernih sekarang ini. Ia sudah ada dalam fase lima L. Letih, lesu, lelah, lunglai, dan lonely. Untuk fase terakhir, Saras ingat pada si bule Hongkong.
Jalanan dari tempat berlangsungnya tes menuju jalan besar terlalu jauh di mata. Mungkin untuk beberapa orang yang sudah biasa berkejaran dengan jarak dan waktu, itu adalah hal yang lumrah dilakukan. Tapi Saras? Ia hanya akan mati kepanasan jika terus berjalan di bawah teriknya matahari siang ini.
Terlebih, otaknya benar-benar terasa aus. Jika terlihat, mungkin kepulan asap dari kepala Saras bisa mengundang pemadam kebakaran agar datang memadamkannya. Ia benar-benar khawatir akan tes kali ini. Lama tak mengikuti ujian seperti ini, setelah 2 tahun lamanya.
Waktu terasa berputar lebih cepat. Angin yang berhembus terasa sejuk namun juga panas. Helaan napas Saras tak berhenti sejak keluar dari ruang ujian. Banyak kata 'seharusnya' yang Saras sesalkan sedari tadi.
Harusnya ia belajar lebih giat lagi. Harusnya ia bisa menjawab berbagai tes kemampuan dasar yang ada pada soal ujian. Nyatanya, basic Saras yang anak SMK memang lebih sulit dibandingkan dengan anak-anak lulusan SMA.
Jelas, di SMK tak ada pelajaran IPA maupun IPS. Hanya ada Fisika dan Kimia, juga Sejarah. Membuatnya benar-benar ekstra belajar sendiri.
Sungguh Saras ingin merengek pada mama ataupun Dana. Tapi mungkin saja, Dana tak punya waktu untuknya. Apakah ia harus merengek pada mas Dafa? Bukan elusan kepala yang Saras dapatkan, melainkan cibiran mas Dafa dengan wajah julidnya. Jika boleh, apakah Saras bisa menukar pak Yudha dengan mas Dafa?
Karena jika bersama HRD itu Saras merasa lebih dihargai dan menjadi adik yang manis.
Masih berpikir pada bagaimana cara menukar kakaknya menjadi pak Yudha. Saras teringat laki-laki itu mendatanginya bersama Cindy setelah jam operasional kantor berakhir. Menanyakan bagaimana keadaannya, karena Saras rasa laki-laki itu mulai curiga atas segala hal janggal yang jadi kebiasaan Saras.
Cindy juga menanyakan hal yang sama. Tapi Saras bungkam. Memilih tetap diam dan meminta maaf. Sampai akhirnya kedua orang itu menyerah dan mengantarnya pulang.
Saras benar-benar tidak bisa bercerita pada orang lain. Baik pak Yudha, Cindy, mas Dafa, apalagi mama dan bapak. Ia masih belum bisa mengorek lebih dalam tentang trauma yang dimiliki. Terlalu memalukan untuk sekedar diucapkan.
Mungkin sekarang lebih baik. Karena sewaktu SMK Saras tidak bisa bergaul dengan banyak orang. Ia bahkan tidak mempunyai satu teman yang benar-benar dekat di sekolah. Yang ada hanya Andana yang menunggunya sepulang sekolah. Padahal sekolah mereka jelas berbeda.
Bahunya terasa semakin berat. Entah akhir-akhir ini Saras semakin lemah, atau masalah semakin datang menghampiri. Entahlah. Saras juga tidak tahu apakah itu sebuah masalah atau hanya dirinya yang terlalu khawatir pada setiap langkah kakinya.
Harusnya, jika ini sebuah novel. Saras sudah bisa mengerti pada karakternya sendiri. Pada setiap masalah yang bisa ia atasi dengan baik. Nyatanya, Saras tak benar-benar tahu mengenai dirinya sendiri.
Apa sebenarnya yang menjadi titik masalahnya akhir-akhir ini. Karena sampai saat ini Saras tak tahu, ada apa pada hatinya yang selalu terasa janggal.
Menarik napas panjang, Saras merasakan bahwa dirinya harus banyak menghirup udara segar. Terlalu pengap berkutat dalam pikirannya yang terlampau sempurna untuk sekedar overthingking setiap saat. Bahkan, angin tak dapat meredakan rasa overthingkingnya. Tapi sayangnya, Saras tak mengerti sebenarnya apa yang ia takutkan hingga saat ini.
Membiarkan angin tetap berhembus menerangkan ujung rambut sebahunya. Lama tidak berjalan seperti ini. Rasanya menyenangkan. Menikmati semilir angin jam 3 siang.
Saras kembali menarik napas panjang, sebelum akhirnya berbalik dan melayangkan tinju dari kepalan tangan mungilnya. Ketika seseorang tiba-tiba menggenggam tangan kirinya.
Saras dibuat membeku beberapa saat, laki-laki itu sampai membungkuk akibat ulahnya. Saras tak pernah tahu bahwa refleks yang ia miliki akan sekasar ini. Melihat seberapa rendah laki-laki itu membungkuk, Saras semakin tak enak hati.
Apalagi saat ia menyadari bahwa bahu yang turun itu adalah milik Andana. "Dana!"
Saras memegangi kedua lengan Dana dengan wajah khawatir. Ia hampir menangis. Matanya sudah berkaca-kaca sampai akhirnya merengkuh tubuh besar Dana. "Dana, maaf," lirihnya.
Kini, tubuh Andana dibuat semakin membungkuk karena Saras yang terus merengek sembari memeluknya di pinggir jalan. Membawa turun lengan Saras, Andana akhirnya tersenyum lebar. Melupakan rasa sakit yang tiba-tiba terasa ketika ia tidak siap.
Dana tak pernah tahu bahwa tenaga Saras akan sebesar ini ketika waspada. Membalik posisi, Saras sudah tak terlihat oleh tubuh tinggi Dana. Tersembunyi oleh kurungan kedua lengan laki-laki itu.
"Hmm.. Enggak apa-apa," ucap Dana sembari tertawa renyah di akhir kalimat.
Namun bukan balasan tawa atau tabokan di lengan. Saras tak menghentikan tangisannya. Yang entah kenapa, rasanya semakin larut gadis itu menumpahkan kristal bening dari matanya.
"Saras?" suara rendah Dana kembali terdengar. Jika biasanya Saras akan menoleh dan membalas, kali ini gadis itu tetap tidak peduli. "Hey. Nanti aku dikira macam-macam,"
Tak peduli. Saras masih enggan mendongak dan mengakatan bahwa ia baik-baik saja. Karena memang, Saras tidak dalam keadaan yang baik saat ini.
Tangis Saras tak bisa berhenti. Seolah tahu bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk menangis. Membiarkan menyakiti Andana sebagai alasan. Karena sebenarnya Saras tak benar-benar tahu ada apa di balik kesedihan yang ia rasakan. Rasanya sesak. Tapi Saras tak tahu apa itu.
Pada akhirnya, Dana tetap membiarkan Saras membasahi hoodie toska yang ia pakai. Biarlah berubah warna menjadi lebih gelap. Sampai Saras bisa berhenti menangis dengan sendirinya.
"Sini cerita. Tadi gimana tesnya?"
Saras kembali menggeleng. Dana ikut menggeleng, tangannya mengusap surai hitam Saras dengan lembut. Menepuknya beberapa kali. "Enggak apa-apa, mau cerita dari mana?"
"Susah," kata Saras pada akhirnya. Bahunya masih sedikit bergetar.
Dana tetap menunggu. Bahkan tak memberikan ekspresi kaget ketika Saras menyapu ingus dengan lengan hoodie kesayangannya. Dana tetap legowo.
"Apa yang susah?" tanya Dana lagi. Persis seperti bapak yang menanyakan kenapa Saras menangis sepulang sekolah. "Tesnya?"
Saras mengangguk kecil. "Hmm.. Susah,"
"Mau berburu pc om Siwon gak?" mata Saras melebar. Mengangguk semangat mendengar itu.
Saras tak benar-benar merasa ringan dengan ajakan Andana. Tapi, hadirnya laki-laki yang rela terkena pukulannya membuat Saras merasa lebih baik.
Nyatanya, ketika ia menoleh dan mendapati beberapa orang mencuri pandang padanya. Apa mungkin sekarang Saras juga berubah menjadi si tokoh utama dalam sebuah drama orang dewasa yang tanggung? Karena sepertinya, Saras tak benar-benar merasa dewasa. Bahkan ia tak tahu pada hal apa ia merasa khawatir.