Langkah pertama. Apa arti langkah pertama menurut sebagian besar orang? Awal mula? Atau sebuah lompatan menuju masa depan yang lebih baik dengan keberanian yang menggebu?
Langkah pertama selalu mendebarkan. Bagaimana seorang bayi akan merasa ketakutan pada awalnya, pada langkah pertamanya. Tapi bukankah lama kelamaan mereka akan merasa senang sekaligus penasaran pada setiap langkah selanjutnya?
Langkah pertama jelas menakutkan. Tak pernah ada yang tahu jika langkah mereka akan menemukan apa di ujung jalan, atau mereka tak pernah menemukan ujungnya, hanya melangkah mengikuti alur yang ada.
Setiap ketakutan, gelisah dan resah selalu ada untuk mengiringi langkah pertama. Membuat seseorang yang berniat pergi memilih tinggal bahkan tidak jadi melangkah.
Tapi, bukankah hidup adalah sebuah tantangan. Seperti yang menjadi andalan salah satu snack yang biasa Saras beli di Indomaret. "Life is never flat,"
Hidup tidak akan pernah datar. Maka dari itu, mengikuti arus begitu saja sama dengan membiarkan diri di ombang ambing pada lautan lepas. Dibawa oleh angin dan entah akan menghampiri tepi atau tidak.
Jika berinisiatif mengambil dayung menuju tepi, mungkin betulan akan menemukan tepi dan menyelamatkan diri. Tapi tak semudah itu, bisa jadi di tepi akan bertemu kawanan hewan buas yang siap memangsa kapan saja. Tergantung, atas bagaimana langkah pertama dilakukan.
Kata-kata yang sering terucap pada iklan di televisi nyatanya masih terngiang jelas di kepala Saras. "Life is never flat,"
Menggigit ujung jari, Saras kembali menatap fokus layar laptop miliknya yang terbuka. Dengan napas tertahan, gadis itu berusaha menekan enter untuk mengirimkan data, yang nantinya dibutuhkan sebagai langkah awal.
Urung, Saras kembali memekik tertahan. Bahkan kini merebahkan diri seperti hilang nyawa tiba-tiba. Giginya saling bergesekan. Ia tak tahu harus memulai seperti ini.
Kembali muncul pikiran apakah dirinya akan lolos seleksi atau tidak. Itu jelas menakutkan, uang Saras akan hilang tak berbekas juga tidak bisa masuk dalam kampus yang ia inginkan.
Saras memindai lagi layar laptopnya. Berulang kali meyakinkan diri pada dua pilihan di form pendaftaran mahasiswa baru jalur mandiri. Ia hanya sendiri, sama sekali tidak ditemani. Karena jika ada mas Dafa, Saras makin dibuat melemas.
"Arsitektur interior. Arsitektur biasa," Ucapnya dengan d**a semakin sesak. "Aargh!! Lebih susah dan mencekek daripada milih Jaehyun atau Jaemin,"
Saras berakhir merengek. Kakinya mengayun di sisi ranjang, mana mungkin dia akan berontak di kasur, nanti harta berharganya akan melayang.
Meneguk ludah dan berdehem dengan percaya diri, Saras mengikat tinggi rambutnya. Memosisikan diri lebih nyaman, ia menarik napas panjang. Sebelum Dana akhirnya menyeringai lebar dari balik jendela kamarnya.
Membuatnya yang sudah fokus kembali menggeram. Untuk kali ini, Saras tidak menyukai kehadiran Andana yang tiba-tiba. Karena bisa saja Saras salah fokus dan menekan sembarang.
Kepala Dana langsung menyembul sementara tubuhnya ada di depan pintu. Mata berbinarnya mengerjap seakan memancarkan aura yang cerah dan menyenangkan. Senyumnya lebar memamerkan gigi rapi yang begitu lebar.
"Ck. Ih diem gak?!"
Bukan apa-apa, hanya saja jika Dana tetap melakukan hal sama, Saras akan semakin menggila. Terlebih, laki-laki itu seperti tidak tahu bahwa wajah tampannya juga menggemaskan. Mana mungkin Saras berlari lalu menggigit pipi cubby itu. Mana mungkin, yang ada dirinya akan digorok mas Dafa.
Dana tak lantas diam. Laki-laki itu masuk ke dalam kamar Saras. Membiarkan pintu tetap terbuka meski tak sempurna. Mengurangi kecurigaan mas Dafa yang akhir-akhir ini sering menginterogasinya.
"Udah daftar?" pertanyaan yang sukses membuat Saras menoleh dengan wajah kesal.
"Ini tuh tadi tinggal pencet aja. Tapi siapa yang datang? Ha?" Saras mendelik. Membiarkan Dana melihat form pendaftaran miliknya. Tak menggubris sedikitpun wajah Saras yang memang sudah tak bersahabat. Harusnya Dana pulang alih-alih meneliti kembali.
"Iya. Andana Gibran ganteng," kata Dana membalas tanpa menoleh. "Selisih dua persen sama Taeyong. Tapi cukup buat modal,"
Saras mencibir. Lantas menenggelamkan kepala pada bantal yang sedari tadi ada di pangkuan.
"Udah bener kok ini. Jadi ambil arsitektur interior?" Saras mengangguk tanpa mengangkat kepala. "Pilihan kedua arsitek nih."
"Iya Danaa.."
Saras berdehem kecil. Akhirnya kepo juga. Lagipula, ini adalah form pendaftaran miliknya. Ini sebuah langkah pertama. Ia akan memacu diri untuk sampai pada sebuah undakan yang akan datang. Sampai akhirnya garis finish melambai tiga atau empat tahun lagi.
"Mau klik sendiri?" agak ragu. Tapi akhirnya Saras mengangguk. Menekan enter dan mengirimkan form pendaftaran pada universitas yang sama dengan Andana.
"Udah kan?" Saras menghela napas. "Mau daftar satu universitas aja?"
Lantas Saras kembali menghela napas berat. Ucapan mas Dafa beberapa minggu yang lalu masih berbekas. Di mana Jogja terlalu jauh.
"Ada. Aku pengen di Jogja,"
Dana kali ini bergeming. Jika laki-laki itu biasanya akan excited dan mendukung Saras sepenuhnya, kali ini ia bergeming cukup lama. Memikirkan bagaimana keadaan Saras nantinya, jika betulan memilih Jogja sebagai tempat berkelana selanjutnya.
"Jauh loh Ras," ucapnya.
Saras mengangguk kecil dengan kedua bahu menurun. Lantas, bersandar pada dinding di belakangnya.
"Mas Dafa juga bilang begitu," gadis itu menerawang pada pohon rambutan di depan kamarnya. "Katanya aku gak boleh jauh jauh,"
Menatap teduh perempuan di sebelahnya, Dana juga merasakan hal yang sama dengan Dafa. Ada rasa tidak rela jika gadis ini harus pergi sejauh itu. Tapi, ini juga untuk pendidikan Saras. Maka dari itu, Dana berdoa kepada tuhan agar Saras tetap diterima di universitas yang sama dengannya.
"Nanti di sana gak ada yang jagain Ras. Bahaya, apalagi belum punya temen. Akhir-akhir ini jangan terlalu percaya sama orang baru," ini kalimat panjang Dana setelah beberapa minggu tak bertemu dengannya.
"Hmm.. Aku juga berharap bisa di Jakarta aja. Tapi Na, aku belum tau nantinya mau gimana, susah,"
Dana tahu, Saras frustrasi. Dan mungkin mulai menyesal atas pilihannya dua tahun lalu. Tapi waktu tak akan pernah bisa diulangi. Bukan sebuah video yang di putar pada laptop. Yang bisa di kembalikan pada adegan sebelumnya.
Saras tak memedulikan Dana yang terus menatapnya teduh. Baginya, itu adalah salah satu pandangan wajar Dana padanya. Mungkin laki-laki itu miris kan keadaan Saras yang seperti ini.
Jujur saja, bau uang yang menguar tiap tanggal 5 adalah kesukaannya. Sebelum ini, sebelum dirinya yakin untuk melanjutkan pendidikan. Saras pernah berpikir bahwa kuliah tak akan digaji tiap bulan. Ia sudah terlalu terbiasa memegang uang dalam jumlah banyak. Saras agak ragu jika nanti dirinya akan baik-baik saja hidup tanpa uang.
"Kedengarannya alay, tapi apakah waktu bisa diputar dijilat terus dicelupin?" gumam Saras begitu saja. "Lagu berbahasa Indonesia yang sering muncul di fyp sering pake lagu itu,"
"Diputar, dijilat, dicelupin?" Saras tertawa. Menabok lengan Dana. Tapi tak lama, gadis itu menggeleng tenang.
"Diputar kembali, kayak kaset,"
Lantas, Dana sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. Dugaannya memang benar.
"Jangan pernah menyesal dalam mengambil langkah. Enggak semua langkah berakhir pada kesengsaraan Ras," Dana tersenyum tipis. "Kadang, langkah membawa kita bertemu pada hal-hal baru. Baik atau enggak. Cocok atau enggak, semuanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tergantung sudut pandangnya,"
Waktu Andana berpetuah panjang lebar. Yang anehnya, Saras sangat suka bagian ini dalam hidupnya. Bagian saat Dana mengatakan apapun yang ada dalam benaknya. Alih-alih membahas tentang bisnis karena memang itu jurusan pada kuliah yang ia lakukan, Dana lebih terlihat seperti guru BK dan guru bahasa Indonesia di saat bersamaan.
"Jangan berharap memutar kembali waktu untuk bisa memperbaiki masa lalu. Kalo terus mikirin masa lalu, yang ada masa sekarang dan masa depan akan lebih terbengkalai. Karena, life is still going on. Annira,"
Lantas, mata Saras lebih berbinar kali ini. Bibirnya melengkung ke bawah membuat sebuah isak palsu. Entah dirasuki setan Haechan atau tidak, kali ini Saras memeluk leher Dana dari belakang.
Menempelkan kepala pada punggung laki-laki itu. Bergumam random seolah mengatakan pada Dana bahwa ia lebih tenang dan lega.
Dalam hatinya Saras berjanji. Bahwa ia akan berusaha sebaik mungkin agar tidak meninggalkan laki-laki ini. Salah jika ia meminta Dana untuk selalu pamit padanya. Nyatanya, mungkin Saras yang akan mengucapkan kata pamit itu. Karena langkahnya sudah dimulai.
_-_-_-_-
Langkah gontai selalu menjadi pembuka ketika gadis itu menginjakkan kaki di lobi kantor. Menghela napas lelah padahal baru bangun tidur beberapa jam yang lalu. Selasa selalu menjadi hari paling ngoyo sedunia. Dunia Saras.
Entah mengapa, hari Selasa selalu berakhir buruk. Mood Saras, pekerjaannya, bahkan kadang Cindy tiba-tiba marah padanya padahal Saras merasa tidak bersalah. Selasa selalu jadi kambing hitam atas kesialan yang Saras alami.
Padahal pagi ini matahari tak terlalu menyengat seperti pagi lainnya. Cerah dan berangin. Bukankah itu terdengar nyaman untuk melakukan aktivitas pada pagi hari?
Menyeduh kopi barangkali untuk ikut menikmati pekerjaan ketika otak masih fresh. Tapi Saras sadar, ia tidak bisa minum kopi terlalu sering. Kemarin ia minum kopi karena mendadak frustrasi.
Tante Ayuni masih terus menghubunginya. Sementara Dana tak pernah lagi pulang ke rumah om Iwan. Laki-laki itu tetap tinggal di kost ataupun di rumah nenek. Lani pun masih belum menampakkan diri setelah ujian akhirnya.
Mungkin, gadis itu juga masih tertekan. Ia dipaksa untuk memilih kakaknya atau ayahnya. Om Iwan yang punya kekuasaan juga Dana yang merasa sudah dewasa untuk menjaga adik kesayangannya. Saras lelah.
Entah apa yang terjadi pada keluarga Andana, Saras hanya tahu mengenai kehadiran tante Ayuni yang mungkin akan mengubah semuanya. Perempuan itu masih menuntut Saras agar terus melaporkan apapun mengenai Dana. Dan Saras, jelas tidak akan mengatakan apapun yang Dana lakukan.
Pada akhirnya gadis itu hanya menghela napas lelah.
Menempelkan id card pada mesin absensi, Saras memaksa senyumnya agar merekah ketika tiba-tiba saja pak Yudha berdiri tak jauh darinya. Memperhatikan gerak gerik Saras sejak turun dari motor Dafa barangkali.
"Pagi Pak," sapanya senormal mungkin.
"Gimana, kamu jadi 'kan ambil ekstensi," kedua alis pak Yudha naik turun. Hanya membuat pagi Saras semakin melelahkan. "Kalau ekstensi kan bisa sambil kerja. Kamu ambil ekstensi nanti saya ajukan beasiswa sama atasan. Oke kan?"
Saras berhenti. Melengos merasakan kepalanya makin pening saja melihat pak Yudha yang sudah klimis dan tersenyum lebar.
"Saya ambil arsitektur Pak,"
"Loh kenapa? Kamu kan janji sama saya mau ambil teknik komputer,"
Saras semakin memicing dengan gelengan tak habis pikir. Kapan dirinya berjanji pada si HRD ini? Saras tak pernah mengatakan apapun selain ia akan melanjutkan pendidikan arsitektur.
"Kamu kalo ambil teknik komputer bisa ikut tim pemrograman. Nanti lebih fokus ke program daripada buat artikel di Web perusahaan. Saya tahu dari dulu kamu sudah bisa pemrograman awal."
Saras hanya menggeleng lagi. Dalam hati merasa kasihan pada laki-laki di sampingnya. Kasihan sekali dia tak tahu bahwa Saras sudah mendaftar pada universitas dengan jurusan arsitektur. Memang satu fakultas teknik, tapi bukankah arsitektur dan teknik komputer berbeda?
Saras melangkah lebih cepat meski kakinya terasa berat. Benar-benar membutuhkan asupan Taeyong sebelum jam kerja dimulai. Ia harus melihat Taeyong setidaknya selama satu menit lamanya. Menyapa dalam kebisuan. Karena, meski Saras berteriak sekalipun, laki-laki dengan 22 anak itu tak mendengarnya. Percuma. Itu bukan fansign online yang Saras ikuti.
"Annira,"
Saras tersentak. Refleks menepis kasar tangan Yudha yang menyentuh lengannya. Wajahnya berubah ketakutan dengan napas tidak teratur. Tiba-tiba Saras merasa sesak begitu saja.
Ia tak pernah merasa ketakutan didekat Yudha. Gerakan laki-laki itu yang menyentuh lengannya membuat Saras tiba-tiba waspada.
Melihat perubahan ekspresi Saras yang signifikan membuat Yudha jelas khawatir. Laki-laki itu lantas mendekat untuk bertanya apakah karyawati di depannya baik-baik saja.
"Maaf. Apa kamu tiba-tiba sakit?" Saras menggeleng kecil.
Tangannya memegang erat pada tali tas slempang peach miliknya. Kembali menggeleng seolah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Namun Yudha sudah lebih dulu mengetahui bahwa gadis ini memang tak baik-baik saja. Ia memang jarang menangani kasus seperti itu. Tapi gerak gerik Saras membuatnya khawatir. Atas apa yang sedang ditutupi perempuan itu.
Saras melengos kembali mengatur napasnya. "Maaf, saya permisi Pak," gadis itu mengangguk kecil sebelum mendorong pintu kaca di sisinya.
"Annira," panggilan pak Yudha lantas membuat Saras kembali menoleh meski menahan diri agar tetap bisa berdiri setengah mati. "Kalau ada keluhan, kamu bisa menemui saya setelah istirahat kantor,"
Saras mengangguk kecil. Tak mengindahkan tatapan bertanya Yudha yang mungkin masih berpikir macam-macam mengenainya.
Saras terduduk di kubikel miliknya. Menumpu kepala dengan kedua tangan terlipat di atas meja. Gadis itu masih merasa sesak.
Trauma yang ia kira akan segera membaik nyatanya selalu begini. Saras merasa sesak dan ketakutan jika disentuh tiba-tiba seperti tadi. Ia tak suka ada orang yang menyentuhnya tiba-tiba. Meski itu adalah Yudha, orang yang selama ini baik padanya.
Saras kira, dirinya akan baik-baik saja setelah enam tahun lamanya. Bahkan ketika dirinya sudah bisa berteman dengan banyak orang di sekolah, refleks itu selalu datang ketika Saras merasa waspada.
Saras merasa tak berguna. Ia jahat bahkan pada orang yang ingin membantunya. Saras bahkan menepis tangan siapa saja yang akan meringankan pekerjaannya.
Tiba-tiba Saras terisak. Mengundang atensi beberapa orang yang sudah datang dan duduk di kubikel masing-masing. Termasuk sang leader yang kali ini bangkit dan berdiri di sisinya.
"Annira?" jika biasanya perempuan 23 tahun itu tak akan sudi bertanya padanya, kali ini Cindy lebih dulu melunturkan egonya.
Saras mengangkat kepala. Hanya untuk membuat Cindy kembali terpaku. "Ada apa?"
"Enggak ada Kak," Saras berusaha tersenyum. Meski sesak masih memenuhi dadanya.
Lantas, kali ini Cindy lebih merunduk memperhatikan wajah Saras. Menepuk sekilas punggung gadis itu dengan tatapan teduhnya.
"Kalau percaya, cerita aja. Kalau masalahnya berat, kamu bisa cerita sama mas Yudha. Mungkin dia punya jalan keluar yang lebih baik." Cindy tersenyum. Kembali menepuk dua kali punggung Saras sebelum kembali duduk di balik kubikel miliknya.
Saras tersenyum miris. Bahkan hari ini Cindy baik padanya. "Maaf, tapi kayaknya aku bakal malu buat cerita itu ke pak Yudha,"
Pada akhirnya, Saras kembali menutup dirinya. Ia tak akan pernah mengatakan apapun pada Yudha. Terlebih, laki-laki itu juga mengenal mas Dafa. Tak boleh ada yang tahu mengenai apa yang Saras alami enam tahun yang lalu.