008. Ciuman Dadakan

1135 Kata
"Aku rasa satu bulan ini sudah cukup untuk kau bermalas-malasan seperti ini, lihatlah tubuhmu bisa-bisa menjadi gendut karena hobimu hanya makan tidur makan tidur saja". Alina yang sedang bersantai di atas tempatnya langsung menatap pria yang tidak lain adalah Rhaka, sang kakak. "Meskipun hobiku hanya makan tidur makan tidur tapi aku masih rajin berolahraga walau hanya satu kali dalam seminggu. Dan lihat badanku masih ideal juga seksi". bantah Alina langsung beranjak dari ranjang dan menunjukan bentuk tubuhnya pada sang kakak seperti sang model profesional. "Kakak tidak tau saja aku bukannya sedang bermalas-malasan tapi saat ini aku sedang menikmati fasilitas aku yang kembali dan aku tidak akan menyia-nyiakan nya lagi". lanjut Alina kembali duduk di tepi ranjang. "Iya, iya terserah kau saja, lagi pula kau kan bisa menikmatinya sampai puas". "Ahh, kakak tidak tau saja aku harus menukar mahal semua ini pada ayah demi mendapatkan fasilitas aku kembali". "Memang ayah meminta pertukaran apa padamu". tanya Rhaka yang penasaran dengan ucapan sang adik. Saat perjanjian itu di buat memang hanya ada Alina dengan sang ayah hingga tidak ada yang tau, termasuk Rhaka yang tidak tau juga jika saat Alina memutuskan untuk pergi dari rumah ia sudah membuat perjanjian dengan sang ayah. "Kebebasan masa depanku". "Maksudnya, kebebasan masa depan apa?". "Susah memang menjelaskan pada orang yang hanya tau tentang bisnis saja". lirih Alina sambil menepuk jidatnya merasa kasihan pada sang kakak. Selama ini sang kakak tumbuh dalam didikan keras sang ayah yang ingin menjadikan Rhaka seorang pemimpin yang kuat dan terbukti saat ini sang kakak menjadi pemimpin yang kuat juga sukses di usia mudanya. Di kenal banyak orang dan menjadi nomor satu di dalam dunia bisnis, namun menjadi nol dalam hal percintaan. Itu sebabnya sampai saat ini Rhaka masih saja lajang diusianya yang sudah matang karena Rhaka tidak pernah jatuh cinta ataupun dekat dengan seorang wanita manapun. Dunianya hanya disibukkan oleh seputar pekerjaan saja yang monoton, bahkan wanita yang dekat dengan Rhaka hanya sang adik juga sang ibu sebelum meninggal dunia setelah melahirkan Alina. "Sudahlah, nanti kakak juga akan tau sendiri maksud dari perkataanku tadi. Sekarang katakan tujuan kakak datang kemari, pasti ingin mengatakan sesuatu bukan". tebak Alina. Rhaka yang ingat tujuan awalnya datang menemui Alina langsung memberikan sebuah undangan pada Alina. "Acara pelelangan". "Iya, nanti malam jam 8 kita akan datang bersama. Jadi sekarang saatnya kau menghirup udara luar, kau pasti butuh ke salon dan menyiapkan gaun baru. Bersenang-senanglah dan kau bisa gunakan kartu ini untuk berbelanja". jelas Rhaka sambil memberikan sebuah kartu pada sang adik membuat mata Alina langsung berbinar. "Baiklah, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekarang kakak boleh pergi jika tidak ada lagi karena aku harus bersiap untuk pergi sekarang juga jika tidak aku tidak akan puas". ucap Alina mengambil kartu itu dari tangan Rhaka dan langsung mengusir sang kakak dengan cara mendorong punggung Rhaka untuk segera keluar dari kamarnya. "Hai, kau ini, tunggu dulu. Apa seperti ini caramu berterimakasih pada kakakmu yang tampan juga baik hati, Queen". gerutu Rhaka. "Bukankah kakak sendiri yang memintaku untuk pergi ke salon dan membeli gaun baru untuk nanti malam, aku juga harus bersiap-siap untuk pergi sekarang. Kakak juga pasti harus kembali ke kantor, jadi jangan bermalas-malasan". cecer Alina. Setelah sang kakak berada di keluar Alina langsung menutup pintu tanpa memperdulikan gerutuan sang kakak membuat Rhaka hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku sang adik. "Waktunya kita bersenang-senang, baby". gumam Alina mencium kartu kredit pemberian sang kakak dengan senang lalu bersiap-siap untuk pergi. Alina segera mengganti pakaiannya lalu mengambil tas kecil yang muat untuk ponsel dan dompetnya, tidak lupa memasukan kartu yang Rhaka berikan. Melangkah keluar dan melihat sang kakak yang sudah tidak ada seperti sudah kembali ke kantor bersama sang ayah. "Nona akan pergi". tanya salah satu pelayan yang melihat Alina baru turun dari lantai atas. "Iya bi, ayah sudah pergi bi?" tanya Alina memastikan. "Sudah non, tuan besar dan tuan muda baru saja pergi". jawab sang pelayan. "Aku juga mau keluar, bibi jaga rumah yaa". pamit Alina langsung melangkah menuju pintu keluar. "Siap non". Alina memilih pergi menggunakan supir, meminta untuk mengantarnya ke salah satu pusat pembelanjaan terbesar yang ada di pusat kota. Setelah sampai Alina langsung masuk dan menuju salah satu toko branded untuk mencari gaun lebih dulu sebelum ia pergi ke salon karena akan memakan waktu berjam-jam jika sudah di dalam salon untuk perawatan. Alina melihat gaun-gaun dengan berbagai model di dalam toko yang membuatnya sedikit bingung hingga pandangannya tertuju pada satu gaun panjang berwarna hitam yang memiliki belahan panjang di sebelah sisi yang terlihat sederhana namun elegan dan tidak begitu mencolok. "Aku ingin gaun hitam itu". ucap Alina pada salah satu pelayan toko sambil menunjuk gaun yang ia inginkan yang saat ini terpasang pada patung. "Pilihan anda tepat sekali nona, ini adalah salah satu gaun koleksi terbaru di toko kami. Pasti sangat cocok dengan anda yang begitu cantik juga memiliki tubuh yang ideal". puji sang pelayan membuat Alina sedikit malu mendapat pujian begitu. "Apa anda ingin mencobanya lebih dulu?". tanya sang pelayan. "Sepertinya tidak perlu langsung bungkus saja, aku akan langsung membayarnya". jawab Alina. "Baik nona, silakan menuju kasir untuk pembayarannya". ajak sang pelayan menunjukan letak kasir yang langsung diikuti oleh Alina. Alina langsung memberikan kartu yang Rhaka berikan untuk membayar gaun miliknya. Setelah selesai Alina menerima kembali kartu juga paper bag yang berisi gaunnya lalu mengucapkan terimakasih dan segera keluar dari toko. Alina juga membeli berapa barang branded lainnya seperti tas juga sepatu baru tanpa memikirkan harganya yang mahal, ia benar bersenang-senang menghabiskan uang sang kakak. Merasa lelah berkeliling Alina memutuskan untuk makan lebih dulu di salah satu restoran Jepang yang ada di dalam mall setelah itu Alina pergi ke salon yang juga ada di mall itu. Melakukan berbagai perawatan kecantikan hingga membutuhkan waktu 3 jam lamanya baru selesai dan keluar dari salon. Alina merasa lebih segar juga fresh memancarkan kecantikannya yang bisa memikat para kaum hawa. Memutuskan untuk langsung pulang saja melihat hari yang sudah mulai sore dan Alina harus segera pulang untuk kembali bersiap-siap untuk pergi ke acara pelelangan nanti malam bersama sang kakak. Namun langkah Alina terhenti sejenak saat suara familiar memanggil namanya dari arah belakangnya. "Alina". Tidak ingin melihat wajahnya Alina tetap melangkah maju mengabaikan panggilan itu yang sudah bisa Alina tebak jika yang memanggilnya adalah Fano, mantan suaminya. Tidak ingin diabaikan Fano melangkah menghampiri Alina yang mulai panik sebab Fano yang berjalan semakin mendekati dirinya. Karena merasa panik dan otaknya tiba-tiba saja tidak bisa berpikir dengan baik. Entah ide dari mana Alina langsung berjalan cepat menghampiri seorang pria yang ada didepannya yang saat ini sedang berbicara serius, tanpa Alina sadari jika pria itu sedang di kelilingi oleh beberapa pria berbadan kekar dengan penampilan serba hitam. Tanpa pikir panjang Alina langsung berteriak memanggil pria itu dengan mesra dan merangkul lengan kekar pria itu dengan manja lalu melakukan hal bodoh yang membuat semua orang bengong melihat tindakan Alina. "Sayang". CUP
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN