007. Perjanjian Di Masa Lalu

1011 Kata
"Maksudmu, kakakmu itu gay". Dengan wajah polosnya Alina mengangguk dan langsung mendapat geplak kan di kepala dari sang ayah karena bicara sembarang tentang sang kakak, hingga Alina mengaduh kesakitan. "Aduh, kenapa ayah malah memukul kepalaku? Jika aku sampai gagar otak karena pukulan ayah, bagaimana?". "Itu salahmu sendiri, karena kau sembarangan mengatakan jika kakakmu itu gay, tidak normal. Dia pria yang normal dan ayah tahu itu". "Maaf ayah, habis sampai sekarang kakak belum juga menikah. Padahal usianya sudah matang, sudah mapan, tampan, pekerja keras, pokoknya sudah komplit deh". "Mungkin saja dia belum mendapatkan yang cocok dengan dirinya, nanti jika sudah bertemu jodohnya kakakmu juga pasti akan menikah. Sudah jangan bahas kakakmu, sekarang kita bahas dirimu saja. Kau tidak ingin cerita kepada ayah". Lemos bertanya dengan lembut. "Apa kak Rhaka tidak cerita pada ayah tentangku?". tanya Alina balik. "Sudah, hanya saja ayah ingin tau ceritanya dari versi putri ayah sendiri. Jika kau tidak masalah ataupun keberatan untuk menceritakannya kembali pada ayah". "Baiklah, aku akan ceritakan semuanya pada ayah". Alina membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan lalu mulai menceritakan segalanya kepada sang ayah tanpa ada yang ia lebih-lebihkan ataupun ia tutup-tutupi lagi. Hingga Alina kembali menangis dalam pelukan sang ayah. "Maafkan aku ayah karena dulu sampai menentang ayah hanya untuk bersama orang yang aku cintai yang aku kira baik tapi kenyataannya pilihanku salah. Orang yang aku cintai justru orang yang membuatku kecewa, maafkan Queen kecilmu ini". lirih Alina di sela tangisnya yang terdengar memilukan. "Sudah, sudah mau berapa banyak Queen kecil ayah ini meminta maaf. Yang sudah terjadi biarlah berlalu, sekarang yang perlu putri ayah lakukan adalah melupakan pria b******k itu dan buat pria itu menyesal telah meninggalkanmu. Tunjukan padanya jika Queen Swiftaylor adalah yang terbaik daripada wanita pilihannya itu. Karena bukan hanya dia yang bisa bahagia tapi kau juga bisa lebih bahagia setelah bebas dari pria b******k itu". jelas Lemos menenangkan Alina juga memberinya semangat untuk terus maju menata masa depan dan melupakan masa lalunya. "Ayah benar, aku tidak perlu menangisi pria tidak tau diri itu. Aku akan tunjukkan siapa diriku yang sebenarnya dan membuat dia sangat menyesal telah meninggalkanku, jika perlu sampai dia bersujud dan mengemis padaku untuk kembali". tegas Alina dengan yakin juga penuh semangat menghapus sisa air matanya. "Ini baru Queen Swiftaylor, ayah. Penuh dengan semangat juga selalu ceria". "Terimakasih, kau adalah ayah terbaik di dunia". "Dan kau adalah Queen kecil ayah di dunia". balas Lemos membuat mereka tertawa bersama. Semenjak ibu kandung Rhaka dan Alina meninggal dunia. Alina tumbuh tanpa kasih sayang dari ibu kandungnya, namun ayah juga sangat kakak sangat menjaga dirinya juga memberikan begitu banyak kasih sayang. Lemos selalu memanjakan Alina, namun Alina tetap tumbuh dewasa dengan baik seperti mendiang istrinya yang mempunyai sifat baik hati, peduli penuh semangat juga ceria sekaligus memiliki aura yang menenangkan juga keras kepala. "Apa aku bisa mendapatkan semua fasilitas aku kembali, ayah?". tanya Alina. "Tentu saja, semua itu memang milikmu sejak awal jadi kau akan mendapatkannya kembali". jawab Lemos membuat Alina begitu senang. "Terimakasih banyak, ayah". ucap Alina tersenyum secerah mentari. "Tapi ... ". jeda Lemos. Membuat senyum Alina langsung luntur berganti dengan rasa was-was, sebab Alina sudah merasakan firasat yang tidak enak melihat senyuman di wajah sang ayah yang mengandung sebuah kemisteriusan bagi Alina. "Tapi, apa?". "Sebelum kau mendapatkan semua fasilitas kamu, kau masih ingat bukan dengan perjanjian yang kita buat dulu saat kau memutuskan untuk pergi dan melepas segalanya". lanjut Lemos mengingatkan sang putri. Tubuh Alina langsung lesu melorot kebawah, jika mengingat perjanjian yang sudah ia buat dengan sang ayah di masa lalu. Tidak percaya jika perjanjian itu akan berlaku sekarang dalam kehidupan Alina kedepannya. Awalnya, demi mengejar cinta pertamanya agar bisa hidup bahagia bersama pujaan hatinya. Untuk pertama kalinya Alina menentang sang ayah yang tidak merestui hubungannya dengan Fano. Dan memutuskan keluar dari rumah, meninggalkan semua kemewahan juga fasilitas yang Alina miliki saat itu demi bisa hidup bahagia bersama orang yang ia cintai Alina rela memilih hidup sederhana dan menerima semua perjanjian yang ia sepakati dengan sang ayah saat itu. Alina menerimanya dengan mudah begitu saja karena saat itu Alina berpikir dan merasa yakin jika pilihannya itu tidak salah. Namun keyakinan yang dulu Alina miliki tentang Fano sudah gugur, kini Alina hanya bisa pasrah menerima semua perjanjian sang ayah meski menyangkut masa depannya. "Perjanjian di masa lalu". * * * * * Selama lima tahun pernikahan Alina dengan Fano, selama itu juga Alina menjadi menantu Bhaskara yang tidak pernah di anggap dan selalu mendapat hinaan dari sang ibu mertuanya. Alina menjadi orang bodoh yang buta akan cinta hanya karena ingin diakui oleh keluarga Fano. Alina selalu berusaha menjadi menantu yang baik dan penurut, meski terkadang ia diperlakukan seperti pembantu oleh ibu mertuanya tanpa sepengetahuan sang suami. Alina tetap menerima semua perlakuan itu dengan ikhlas berharap ibu mertuanya bisa menyayangi dirinya juga mau menerimanya sebagai menantu Bhaskara suatu saat nanti. Namun usahanya tidak pernah dihargai sedikitpun malah hanya hinaan juga di rendahkan yang selalu Alina dapatkan dari ibu mertuanya itu yang tidak punya hati, hanya karena Alina berasal dari keluarga miskin yang tidak sebanding dengan keluarga Bhaskara. Hingga kejadian dimana Fano menggugatnya membuat Alina sadar jika sampai kapanpun dirinya tidak akan pernah di terima oleh keluarga Bhaskara. Setelah perbincangannya dengan sang ayah saat itu Alina bisa menikmati kembali semua fasilitas yang ia miliki yang dulu sempat ia tinggalkan. Kini hidupnya sudah bagaikan seorang tuan putri yang tidak perlu lagi repot-repot untuk diakui juga bekerja keras banting tulang mengeluarkan keringat untuk mendapatkan pundi-pundi uang. Alina hanya perlu bersuara memberi perintah dan semua yang ia inginkan akan langsung ada di depan mata. Sama seperti saat ini yang Alina lakukan hanyalah bermalas-malasan di kamar sambil berbaring bermain ponsel melihat sosial media sebentar lalu lebih sering menghabiskan waktunya untuk menonton drama kesukaannya. Hingga pintu kamarnya tiba-tiba langsung terbuka lebar dari arah luar tanpa di ketuk terlebih dahulu. Menampakkan pria tampan dengan setelan jas rapi nan mahal, melangkah masuk menghampiri wanita yang masih asyik berada di atas ranjang. "Aku rasa satu bulan ini sudah cukup untuk kau bermalas-malasan seperti ini, lihatlah tubuhmu bisa-bisa berubah menjadi gendut karena hobimu hanya makan tidur makan tidur saja".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN