006. Kakak Tidak Normal, Yah

1150 Kata
"Ayah". Teriak Alina sambil berlari kecil menghampiri sang ayah berniat untuk memeluk sang ayah namun ucapan sang ayah langsung membuat Alina terdiam di tempat. "Stop, jangan mendekat dan memelukku". Alina langsung terdiam menatap sang ayah dengan mata yang sudah berkaca-kaca mendapat penolakan dari sang ayah. Alina langsung menunduk dengan wajah sedih hingga membuat Lemos langsung menghela napas berat melihat putri semata wayangnya itu salah paham akan ucapannya barusan. "Lihatlah penampilanmu saat ini, sangat kotor. Kau seperti bukan Queen Swiftaylor saja, pergilah bersihkan dirimu lebih dulu setelah itu baru temui ayah lagi dan kau bisa mendapat pelukan dari ayah". jelas Lemos membuat Alina langsung kembali ceria. "Baik, ayah". sahut Alina dengan semangat juga kembali ceria, langsung berlari menuju kamarnya di lantai atas dengan tergesa-gesa membuat semua orang di sana merasa was-was. "Hai Queen, jangan berlari seperti itu nanti kau bisa jatuh". tegur Lemos. "Iya, ayah". teriak Alina yang sudah berada di lantai atas. Lemos hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah barbaran sang putri sekaligus merasa bahagia karena Queen kecilnya sudah kembali. Pasti suasana rumah akan terasa ramai lagi seperti dulu dengan banyak tingkah aneh yang Alina lakukan. "Lihatlah tingkah barbaran adikmu itu masih sama, seperti anak kecil saja padahal dia sudah menikah". ucap Lemos pada Rhaka yang hanya bisa terkekeh. "Jangan lupa dia juga Queen kecilmu, ayah". tegas Rhaka. "Ahh, kau benar boy". Mereka melanjutkan perbincangan mereka di ruang keluarga saat Lemos bertanya pada Rhaka alasan Queen kecilnya kembali dan Rhaka menceritakan segalanya kepada sang ayah tanpa di lebih-lebihkan sama seperti cerita sang adik. Membuat Lemos juga merasa sangat marah sekaligus tidak terima melihat putrinya di fitnah seperti itu. "Cari tau siapa dalang dari perceraian mereka dan jangan biarkan mereka bahagia". perintah Lemos. "Baik, ayah". "Buat mereka merasakan hal yang sama dan menyesal telah menyia-nyiakan Queen Swiftaylor". "Tanpa ayah suruh pun, aku pasti akan melakukan hal itu". "Bagus boy". "Jika tidak ada lagi, aku harus pergi ke kantor karena tadi saat di perjalanan menuju kantor tiba-tiba Queen menelpon dan minta di jemput jadi aku langsung pergi menemuinya. Sekarang dia sudah di rumah bersama ayah jadi aku tidak khawatir lagi, aku pergi dulu ada hal penting yang harus aku urus". jelas Rhaka beranjak dari duduknya setelah berpamitan pada sang ayah. "Baiklah boy, hati-hati di jalan". "Iya ayah". * * * * * Sedangkan di lantai atas tepatnya di kamar Alina sedang menatap setiap sudut kamarnya yang masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan. Alina merindukan segalanya hingga Alina ingin langsung melompat ke arah tempat tidur saat melihat ranjangnya yang empuk seakan memanggil dirinya untuk segera datang. Tapi Alina ingat dengan ucapan sang ayah akan penampilannya saat ini membuat Alina mengurungkan niatnya dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengisi bathtub lalu menuangkan sabun juga aroma terapi kesukaannya, hingga airnya penuh dan Alina langsung menanggalkan semua pakaiannya lalu masuk ke dalam bathtub. Rileks kan tubuhnya dengan bersandar menikmati ketenangan beberapa saat hingga Alina merasa cukup dan segera keluar dari bathtub lalu membersihkan tubuhnya dibawah shower untuk membersihkan busa yang masih menempel di tubuhnya. Setelah selesai Alina langsung memakai handuk dan segera keluar dari kamar mandi lalu melangkah menuju walk in closed lalu memilih satu dress santai berwarna putih bermotif bunga tulip untuk ia kenakan, merias sedikit wajahnya di meja rias yang juga masih tertata rapi semua alat makeup milik Alina masih ada dengan kemasan yang masih tersegel karena Rhaka sudah mengganti semuanya dengan yang baru bermerek sama seperti yang Alina gunakan dan meminta pelayan untuk selalu membersihkan kamar Alina agar saat ia kembali kamarnya akan selalu bersih dan rapi. Sebelumnya juga Rhaka sudah memberitahu pelayan di rumah untuk membersihkan kembali kamar Alina dan menyiapkan segalanya karena sang adik yang akan datang dan kembali tinggal di rumah. Alina menatap pantulan dirinya di cermin yang memperlihatkan dirinya yang sudah terlihat lebih fresh setelah mandi juga terlihat cantik alami meski hanya berpenampilan sederhana. Setelah semua selesai Alina segera keluar dan menuju ke lantai bawah menghampiri sang ayah yang saat ini sedang duduk santai sendirian di ruang keluarga sambil menikmati secangkir teh hangat sambil menonton TV. Alina melihat ke sekeliling mencari keberadaan sang kakak namun tidak ada. "Dimana kakak, yah?". tanya Alina sambil duduk di samping sang ayah. "Dia sudah kembali ke kantor karena ada pekerjaan penting yang harus ia urus". jawab Lemos yang saat ini sedang menyesap teh hangatnya. Alina hanya manggut-manggut lalu menatap sang ayah yang sudah tidak muda lagi namun tetap terlihat gagah karena selalu berolahraga dan selalu menjaga pola makan yang sehat. Setelah Erlinata Swiftaylor, istri Ander Lemos Swiftaylor meninggal dunia akibat mengalami pendarahan pasca melahirkan Alina. Lemos memutuskan untuk menduda dan memilih untuk membesarkan sang putri yang baru lahir juga sang putra yang saat itu masih berusia 6 tahun. Baralina Queen Swiftaylor itulah nama asli Alina, sedangkan sang kakak adalah Rhaka Kland Swiftaylor yang saat ini sudah menjadi seorang CEO mengganti sang ayah karena Ander Lemos Swiftaylor yang memilih untuk pensiun. Namun terkadang ia masih aktif dan masih selalu mendapatkan semua laporan yang berhubungan dengan perusahaan. "Lihatlah saat ini Queen ayah sudah terlihat cantik dan wangi, sekarang aku sudah boleh mendapat pelukan dari ayah". gumam Alina menatap sang ayah dengan penuh harapan. "Tentu saja, ke marilah biar ayah bisa memeluk Queen kecilku". balas Lemos membuat Alina langsung menghambur ke dalam pelukan sang ayah. "Aku sangat merindukan ayah". ucap Alina memeluk tubuh sang ayah dari samping dengan erat. "Ayah juga sangat merindukanmu, Queen". ucap Lemos membalas pelukan sang putri tidak kalah erat, saling melepas rindu setelah lima tahun tidak bertemu. "Maaf". lirih Alina tidak bisa menahan air matanya lagi, menangis dalam pelukan sang ayah. "Ayah sudah memaafkan kamu sejak dulu, ayah hanya sedikit kecewa karena akhirnya putri ayah baru sadar jika ia memilih orang yang salah". ucap Lemos sambil mengusap kepala Queen. "Maaf". hanya satu kata itu yang bisa Alina katakan karena ucapan sang ayah yang benar adanya. "Sudah tidak apa-apa yang terpenting sekarang putri ayah sudah kembali". ungkap Lemos menghapus airmata Alina lalu mencium kening sang putri dengan penuh kasih sayang. "Apa Queen ayah sudah makan siang? Jika belum ayah akan meminta bibi untuk memasak makanan kesukaan mu". tanya Lemos. "Tidak perlu ayah, aku sudah makan tadi. sebelum kemari kak Rhaka mengajakku makan lebih dulu di restoran favoritku. Meskipun dengan paksaan". jawab Alina dengan wajah cemberut mengingat kejadian tadi saat sang kakak memaksanya untuk menghabiskan banyak makanan yang sudah Rhaka pesan. "Itu semua kakakmu lakukan karena dia sangat peduli juga menyayangimu, Queen. Dia tahu betul jika adiknya sedang bad mood maka ia akan susah untuk makan, bukan begitu". "Ayah benar, kakak selalu bisa mengerti aku. Dia adalah sosok kakak terbaik di dunia ini yang aku miliki. Tapi omong-omong, apa kak Rhaka sekarang sudah memiliki pacar yah". "Entahlah, ayah tidak tau karena sampai sekarang kakakmu itu tidak pernah mengenalkan satu wanita pun kepada ayah". "Hah, ayah serius. Atau jangan-jangan kak Rhaka itu punya kelainan, yah". "Kelainan apa, Queen?". "Bisa saja kalau selama ini kakak tidak normal, yah". "Maksudmu, kakakmu itu gay".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN