005. Orang Yang Sangat Ia Rindukan

784 Kata
"Kenapa kita malah ke sini, kak?". "Tentu saja untuk makan, apalagi? Setelah itu baru kau ceritakan semuanya pada kakak, lagi pula sebentar lagi jam makan siang. Kenapa kau tidak suka? Bukankah ini salah satu restoran favoritmu, Queen. Atau kita cari restoran yang lainnya saja". ungkap Rhaka menjelaskan saat mobil mereka sudah terparkir di depan restoran mewah berbintang. "Bukan begitu, tempat ini memang favoritku tapi kakak tidak liat pakaian yang saat ini aku pakai. Sangat tidak cocok dengan tempat ini, apa kata mereka melihatku masuk ke dalam restoran mewah berbintang dengan penampilan seperti ini? Kau tidak malu". protes Alina melihat penampilannya yang masih memakai baju kerja yang biasa ia pakai saat di toko bunga karena tadi ia tidak berpikir untuk ganti baju lebih dulu. "Tidak masalah, lagi pula restoran ini mengutamakan private pelanggannya. Kakak juga sudah memesan ruang VVIP dengan private room disini". jelas Rhaka dengan santai. "Tetap saja, kita pulang saja yuk bicara di rumah. Lagipula aku juga tidak lapar, kak". bujuk Alina. "Tapi kakak lapar". tolak Rhaka. Langsung keluar lebih dulu dari mobil tanpa menerima protes dari Alina, bahkan Rhaka membukakan pintu mobil untuk Alina membuat Alina terpaksa turun dan masuk ke dalam restoran. Benar saja saat masuk mereka langsung menjadi pusat perhatian, apalagi seorang Rhaka datang bersama seorang wanita tapi mereka melihat Alina dengan tatapan aneh karena melihat penampilannya. Namun tidak ada yang berani protes ataupun berani mengambil foto mereka berdua sebab restoran yang mereka datangi memiliki aturan juga lebih mengutamakan kenyamanan para pelanggannya. Rhaka juga tidak peduli dengan tatapan semua orang selagi mereka tidak menggangu. Seorang pelayan menyambut mereka dan mengantarkan ke ruangan yang sudah Rhaka pesan sebelumnya. Rhaka juga yang memesan semua makanan sebab Alina mengatakan tidak lapar. Hingga semua makanan kesukaan Alina terhidang di atas meja dan terlihat sangat menggoda, namun tidak untuk Alina saat ini karena suasana hati Alina sedang buruk tapi Alina tatap makan atas paksaan sang kakak. "Untuk bercerita juga butuh banyak tenaga, jadi habiskan makananmu setelah itu baru ceritakan semuanya pada kakak". tegas Rhaka di sela makan siang mereka. Meski mereka sudah lama tidak bertemu setelah Alina memutuskan keluar dari rumah untuk memilih hidup sederhana dan menikah dengan Fano. Rhaka tetep selalu mengawasi sang adik dari kejauhan, mereka juga masih aktif berkomunikasi lewat ponsel karena Alina yang selalu melarang Rhaka untuk sering datang menemuinya secara langsung. Hanya saja Rhaka belum tau pasti apa penyebab perceraian mereka bisa terjadi, bahkan secara tiba-tiba. Setelah mereka selesai makan siang, Alina menghela nafas sebelum menceritakan segalanya kepada sang kakak yang dengan setia mendengarkan cerita Alina hingga selesai bahkan kini Alina tidak bisa menahan air matanya lagi begitu juga wajah Rhaka yang sudah berubah merah padam karena menahan emosi saat tau segalanya, terlebih kehidupan sang adik yang selama ini ia jalani dengan banyak menerima hinaan dari ibu mertuanya yang sejak awal memang tidak bisa menerima kehadiran Alina. "b******k mereka". marah Rhaka sambil mengebrak meja guna melampiaskan amarahnya. "Berani sekali pria tidak tau diri itu juga keluarganya memperlakukan adikku dengan tidak baiknya. Mereka tidak tau saja saat ini mereka sedang berhadapan dengan siapa?". "Sudah jangan menangisi pria b******k itu lagi, buat mereka menyesal. Buktikan jika kau bisa lebih bahagia setelah bercerai dengannya. Apalagi dia pria bodoh yang menyia-nyiakan berlian dan lebih memilih sebuah krikil tak berguna dalam hidupnya". ucap Rhaka menggebu-gebu lalu langsung memeluk sang adik yang sudah terisak. Membiarkan Alina menangis sepuasnya dalam pelukannya, namun setelah ini ia berjanji tidak akan membiarkan sang adik untuk menangis lagi juga akan membalas semua perbuatan mereka lebih kejam. Setelah Alina puas menangis dan merasa lebih baik, mereka memutuskan untuk langsung pulang. Sepanjang perjalanan pulang Rhaka mencoba menghibur Alina dengan cara mengingat masa kecil mereka berdua. Yang sering bertengkar hanya karena hal sepele atau saling jail satu sama lain, hingga mereka tertawa bersama dan berhasil membuat suasana hati Alina menjadi lebih baik dari sebelumnya. Setelah memakan waktu 1 jam perjalanan, akhirnya mobil Rhaka sampai dan memasuki halaman rumah yang sangat luas dengan bangunan bertingkat yang terlihat megah nan mewah bak istana. Rumah yang lebih d******i dengan warna putih itu membuat Alina kembali teringat kenangan dirinya dulu bersama sang ayah juga sang kakak yang selalu menjaga dan memanjakan Alina bak putri raja. Mereka selalu memanggil Alina dengan sebutan "Queen" yang berarti "Ratu" satu-satunya di keluarga Swiftaylor. "Selamat datang kembali di istana Queen". sambut Rhaka lalu membuka pintu utama dengan lebar agar sang Adik bisa masuk lebih dulu. "Terimakasih, kak". Alina melangkah masuk dengan perlahan setelah berterimakasih pada sang kakak, memindai seisi rumah yang masih sama tidak ada yang berubah setelah Alina memutuskan keluar dari rumah dulu. Barang-barang serta lukisan mewah juga masih tertata rapi pada tempatnya. Hingga pandangan Alina tertuju pada seorang pria paruh baya yang sangat ia rindukan baru saja menuruni anak tangga. "Ayah".
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN