Naina hanya bisa menatap Brian dan menunggunya sambil mendengar celotehan kecil Ellen yang bercerita kalau ayahnya suka sekali mengebut.
Iya, benar katanya. Bapaknya itu suka banget klaksonin orang sebelum lampu hijau.
Naina menyesal kenapa harus menjadi orang yang tidak punya uang seperti itu. Seharusnya kalau dia bekerja jadi guru sejak dulu setidaknya dia punya tabungan yang bisa digunakan sewaktu-waktu. Seperti saat ini, bisa dia gunakan untuk naik ojek atau taksi online dan tidak harus merepotkan duda itu.
"Tante Naina, kenapa ngelamun?" tanya Ellen, menarik tangan Naina dan membuatnya tersentak.
"Eh, iya. Kenapa Ellen?" tanya Naina.
"Itu, Papa udah di depan."
Ellen menunjuk ke mobil Brian. Ternyata, sudah beberapa menit Naina melamunkan nasibnya dan Brian sudah menunggu di dalam. Tentu dengan tatapan bagai menghunus ke arah Naina.
Serba salah, Naina menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Papa! Bukain pintu buat Tante Naina!" titah Ellen.
Naina tersentak, melebarkan kedua mata dan merentangkan tangan karena dia tidak bermaksud begitu. Namun, terlambat karena Brian telah keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Ayo, naik, Tante."
Naina mengangguk dan melambaikan tangan pada Ellen sambil turun dari trotoar, lalu berjalan ke mobil. Naina bergidik melihat Brian melirik dengan tatapan kesalnya.
"Maaf," desis Naina.
Brian tidak menjawab sampai Naina benar-benar duduk di dalam. Lalu, dia menutupkan pintu mobil.
"Hati-hati ya, Papa?" pesan Ellen.
"Iya, udah sana masuk rumah. Bik Marni, bawa Ellen masuk. Udaranya dingin petang ini. Nanti dia bisa sakit," titah Brian.
"Baik, Pak."
Marni menggandeng tangan Ellen dan mengajaknya kembali ke rumah. Ellen berjalan sambil melompat-lompat ceria setelah tau Naina aman bersama sang ayah.
Brian pun masuk ke dalam mobil. Sebelum Brian menyalakan mobil, Naina dengan gelisah menyentuh tangan Brian sambil menoleh ke belakang. Brian hanya melirik datar wanita yang tampak galau itu.
"P-pak, saya naik angkot saja, ya? Sandiwaranya udah kan? Ellen udah masuk dan dia nggak bakalan tau kalo saya turun di sini," ringis Naina.
Brian menggulirkan pandangannya ke tangan Naina yang masih menyentuh tangannya.
"Aih! Maaf, maaf, maaf, Pak!" jerit Naina, menarik tangannya dari atas tangan Brian. Wajahnya merah, semerah kepiting rebus. Dia sampai tidak sadar menyentuh tangan Brian karena merasa tidak enak dan ingin turun dari mobil Brian.
"Kamu sengaja kan? Mau menggoda saya?" tanya Brian.
"Bukan! Sumpah! Saya hanya mau menghentikan Anda menyalakan mobil! Bukan maksud apa-apa, Pak. Sumpah!" seru Naina, mengatupkan kedua tangannya, lalu menunjukkan dua jari tangannya ke arah Brian dengan wajah tidak enak.
"Ya udah, keluar dari mobilku ...."
Naina baru akan meraih kait mobil, tapi dia menundanya ketika bersamaan dengan itu, Brian melanjutkan kalimatnya.
"Kalo kamu mau bikin seorang ayah mengingkari janjinya pada anaknya."
Naina melepaskan kait itu, lalu merapikan duduknya. Menghadap ke depan dengan kikuk. Baru dia sadar Brian sudah mendekat padanya. Naina tersentak dan mepet ke pintu mobil.
"Iya! Saya nggak akan membuat Anda ingkar janji, tapi jangan apa-apakan saya. Percuma saja kalo Ellen minta saya nggak pulang sendiri tapi Anda macam-macam!" sungut Naina merem-merem.
"Apa? Aku cuma mau benerin sabuk pengaman. Kamu mau bikin aku ketangkep polisi karena nggak tertib? Jangan buat aku kesal yang kedua kalinya di jalan setelah kamu bikin aku menunggu lama di lampu merah waktu itu!" kecam Brian.
Bunyi sabuk pengaman yang terkunci sengaja dihentakkan oleh Brian. Naina masih merem dan memicingkan matanya melihat Brian yang sudah kembali ke jok mobilnya dengan posisi benar.
Naina mengelus sabuk pengaman, merutuki betapa bodohnya dia karena lupa memakai sabuk itu. Sampai mengira duda itu akan macam-macam dengannya. Aih, betapa malunya dia. Apalagi, Brian mengungkit soal lampu merah kemarin.
Kukira dia sudah lupa, ternyata ingatannya setajam silet.
Naina tidak bisa berkutik lagi, setelah mendesis ucapan maaf lagi pada Brian. Pria itu lalu melajukan mobilnya. Benar saja kata Ellen. Brian mengemudi mobilnya dengan kencang begitu sampai di jalan raya.
"Pak, please bisa pelan nggak?" tanya Naina, merasakan perutnya seperti diaduk-aduk setelah sepuluh menit perjalanan mereka.
"Oh, bilang dong dari tadi. Aku nggak bisa melakukan sesuatu pelan-pelan, tapi kalo kamu mau pelan ya bis–"
"Hoek!"
Naina tidak bisa menahan lagi, sampai dia menumpahkan apa yang dia tahan dari tadi. Alhasil, Naina muntah di bajunya sendiri.
"Alahmak," ucap Brian, melihat wanita itu lemas.
"Maaf, Pak. Saya nggak biasa naik mobil dengan kecepatan tinggi seperti ini? Semua seperti berputar dan membuat saya mabuk darat," ucap Naina, lemas.
"Duh, kenapa kamu nggak bilang?" tanya Brian, menepikan mobilnya di tempat yang aman.
"Ya Bapak nggak denger tadi, terlalu konsentrasi sama jalanan," ucap Naina dengan suara serak.
Tampaknya Naina benar-benar sakit karena ulah Brian.
"Gini, itu ada toilet umum, kamu bersihin diri dulu di sana, ya?" tunjuk Brian ke sebuah toilet.
Naina hanya mengangguk, lalu bergegas keluar dari mobil agar tidak mengotori mobil Brian lebih banyak lagi.
Dia masuk ke toilet dan membersihkan diri. Tentu saja bajunya menjadi basah karena itu. Naina bingung, tapi dia terpaksa harus memakai baju basahnya karena tidak membawa baju lain. Tidak ada yang menyangka semua akan berakhir begini. Dia pikir dia akan naik angkot sampai di kost dan sudah selesai
Ternyata semua tidak semulus pikirannya. Harus ada drama muntah segala di mobil Brian.
Saat Naina selesai, Brian mengetuk pintu toilet. Naina membukanya sedikit dan tampak tangan Brian menjulurkan sebuah kemeja. Naina mengerutkan dahi melihat kemeja itu, mencium bau parful dari kemeja itu.
"Ini–"
"Pakai aja, buruan! Sebelum orang-orang lihat" seru Brian dari luar.
Naina terpaksa mengambil kemeja itu, menutup pintu toilet kembali dan merentangkan kemejanya.
"Ini baju pak duda itu tadi, kan?" gumamnya.
Namun, karena terpaksa tidak ada lagi yang bisa dia pakai, maka Naina mengganti baju atasnya dengan baju Brian.
Kedodoran sih, tapi lumayan nggak dingin.
Naina melipat baju yang sudah dia bilas air, lalu membawanya keluar dari toilet. Naina cepat-cepat masuk ke dalam mobil agar tidak ada yang memandangnya aneh memakai baju seorang pria.
Seorang wanita diantar pria, masuk ke toilet dan memakai baju lelakinya. Apa yang ada di pikiran orang jika melihat itu semua? Naina tidak habis pikir. Dia menoleh ke arah Brian untuk mengucapkan terima kasih, tapi apa yang dia lihat?
"Aaaargh!!" teriaknya di dalam mobil.
Dada bidang Brian yang tidak memakai kemeja alias topless membuatnya harus memakai kedua tangannya untuk menutup kedua matanya.