Bab 9. Sendiri Berbahaya

1072 Kata
"Oh, oke. Jadi, ingat ya? Kamu nggak boleh bawa makanan atau minuman sembarangan untuk Ellen," ulang Brian memperingatkan lagi. Naina mengangguk, masih berdiri memperhatikan Brian yang memegang jar kosong, seolah masih mengharapkan keajaiban muncul lagi isinya. "Baik, Pak. Saya nggak akan bawa apa-apa lagi. Mohon maafkan saya sekali lagi." Agak lama berdiri seraya melihat Brian yang diam, Naina menjadi gelisah sendiri. Berdiri di depan pria yang sibuk mengamati jar kosong itu. "Sudah, Pak?" tanya Naina, memberanikan diri untuk bisa pergi dari situ. "Apa?" sahut Brian menoleh dan menatap Naina. "Sudahkah Bapak perlunya sama saya?" ulang Naina, memperjelas pertanyaannya. "Oh, udah. Tapi sebentar, bisa isi data ini? Semua orang yang bekerja dengan saya, sebentar maupun lama harus mengisi data ini. Boleh dibawa pulang," ujar Brian menyodorkan sebuah map transparan berisi lembaran yang membutuhkan isian data. "Baik," sahut Naina, menerima map itu. Meski dia merasa heran. Ada-ada saja tingkah orang kaya. "Saya permisi sekalian pamit, Pak." Brian mengangkat kedua alisnya melihat Naina dan mengangguk. "Ya." Naina berbalik. Baru saja akan menghela napas lega, tapi Brian menanyainya lagi. "Ini namanya minuman apa?" Naina mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan itu. Seenaknya saja pria itu bertanya bahkan setelah memberinya ijin untuk pulang. Katanya nggak boleh bawa minuman, nyatanya dia habiskan sendiri, lalu pake nanya lagi namanya apa. "Itu ... Creamy fruit." "Oh, oke." Brian hanya mengucapkan itu dan meletakkan jar kosong di atas meja. "Saya boleh pulang sekarang?" tanya Naina. "Iya, boleh. Kan udah pamitan tadi?" sahut Brian mengesalkan. Lalu, meski agak kesal, Naina mengangguk pelan dan melanjutkan langkahnya pergi. "Ah, lega banget," gumam Naina merasakan plong di dalam hatinya. Dia berjalan turun dan melihat Ellen sudah menonton televisi. Sepertinya kekecewaannya sudah reda. Naina jadi iba dengan Ellen. Berandai dia tidak memberi Ellen minuman tadi, tentu tidak akan jadi masalah yang membuat gadis kecil itu sedih. "Ellen, Tante Ina pulang dulu, ya?" pamit Naina. Ellen langsung menoleh dan beranjak dari duduknya, menyalami Naina dengan mengecup punggung tangannya. "Terima kasih untuk hari ini, Tante Ina. Besok Rabu Tante datang lagi, kan? Ellen mau lesnya tiga kali seminggu. Banyak PR dari sekolah yang bikin Ellen pusing." Naina tersenyum tipis. Anak itu memang manis, membuatnya senang mengajarinya karena sebenarnya dia pandai, hanya kurang kasih sayang orang tua saja. Mungkin karena tidak adanya keluarga utuh mengakibatkan dia seperti itu. Hanya saja, bapaknya yang meresahkan. Melihat keinginan besar Ellen untuk belajar, Naina tidak tega lagi. Entah kenapa jika melihat kedua mata polos Ellen yang seolah haus akan kasih sayang seorang ibu, Naina merasa iba dan tidak bisa menolak. Masa keinginan baik gadis kecil itu akan dia tolak? "Oke. Besok Rabu Tante Ina ke sini lagi, ya?" janji Naina. Tekad Naina sudah bulat. Meski jika satu bulan ini dia tidak menerima gaji pun, dia tetap akan ikhlas mengajar tambahan les untuk Ellen. "Asyik!" seru Ellen riang. Naina tersenyum melihat keceriaan Ellen. Jadi ingat tangis Ellen tadi. Betapa cepat anak itu mengatur emosinya. Naina mengacungkan jempol pada Ellen tanpa Ellen ketahui bahwa itu apresiasi Naina terhadap kemampuannya mengubah emosi. "Hati-hati ya, Tante Ina!" seru Ellen, mengantarkan Naina sampai ke gerbang depan bersama dengan Marni. "Iya, sampai ketemu besok Rabu," ujar Naina, berjalan ke jalan raya untuk menyetop angkutan umum yang menuju ke kost-nya. Dia berjalan agak jauh meninggalkan rumah besar Brian. Namun, baru akan berbelok di perempatan jalan, ada suara memanggilnya. Suara itu berasal dari belakang, tergesa sekali dengan langkah kaki kecilnya. "Tante Ina!" Teriakan Ellen membuat Naina menghentikan langkah karena kaget. Dia menengok ke belakang, melihat gadis kecil itu berlari terengah-engah menyusulnya. "Tante Ina, tunggu!" "Iya, Sayang. Iya," ujar Naina, bergerak berbalik ke arah Ellen dengan bertanya-tanya dalam hati ada apakah gerangan. "Tante Ina ternyata kok jalan kaki, sih? Nggak pake taksi? Ellen kira Tante pulang naik taksi?" berondong Ellen. Di belakang Ellen ada Marni menyusul. Naina tidak menyangka, kalau Ellen akan seperhatian itu, mengamatinya dari kejauhan. Itulah kenapa Ellen mengikutinya sampai ke gerbang. "Tante Ina mau naik angkot. Tadi juga ke sini ya pake angkot. Ellen segitunya cuma mau nanya Tante nggak naik taksi?" tanya Naina, agak suprise juga karena ada seorang anak kecil yang memberinya perhatian penuh. "Ini udah petang, Tante. Tante bisa kenapa-kenapa di jalan. Biar Ellen suruh–" "Ellen!" Suara seorang laki-laki menghentikan ucapan Ellen. Ketiganya menoleh. Brian sudah berjalan cepat ke arah mereka berdiri. "Ellen! Kamu ngapain di sini? Ayo, pulang! Ini udah mau gelap!" ajak Brian, menarik tangan putri kecilnya. Di dalam rumah tadi, Brian mencari-cari anaknya sampai di luar, ternyata gerbang terbuka dan ternyata Ellen sudah menyusul Naina di pinggir jalan. "Papa! Tante Naina mau pulang sendirian pake angkot!" seru Ellen, menarik tangannya yang dipegangi Brian. Brian menatap ke arah Naina. Naina sampai merasa tidak enak pada Brian, karena dirinya menyebabkan Ellen menyusul sampai ke jalan. "Terus? Ya udah kan, biar aja? Udah gedhe juga?" tanya Brian, kali ini menatap pada Ellen. "Papa! Jangan jahat dong, Pa! Tante Ina kan udah baik datang capek-capek ke sini buat ngajarin Ellen. Biar anak kesayangan Papa ini pinter, iya kan? Kenapa Papa tega ngebiarin Tante Ina pulang naik angkot petang-petang gini sendirian?" protes Ellen. Anak yang sebenarnya pandai itu, meletakkan kedua tangannya di pinggang dan merengut pada ayahnya. Kelihatan sekali wajahnya kesal. "Eh, bukan gitu, Sayang. Papa–" "Papa tadi udah ngelarang Tante Ina bawain Ellen minuman, sekarang Papa diem aja lihat Tante Ina pulang naik angkot. Papa nggak punya perasaan?" Ucapan Ellen menohok Brian. Dia menoleh perlahan pada Naina yang mengibaskan tangannya agar dia tidak perlu dikasihani, tanpa mengatakan apapun agar tidak terlihat oleh Ellen. Brian mendesah. Terpaksa, demi mendidik anaknya agar menjadi anak baik, dia pun mengalah. "Oke, Ellen maunya gimana?" tanya Brian berjongkok di hadapan putrinya. "Pokoknya jangan sampai Tante Ina naik angkot. Kata Papa, kalo Ellen naik angkot sendiri, bisa diculik. Kemarin barusan aja ada beritanya, kan? Ellen nggak mau Tante Ina kenapa-kenapa." Brian menunduk dan menghela napas. Lalu, dia membuat keputusan. "Oke, papa mau nganterin, deh!" ujar Brian, membuat Naina melotot. "Ah, beneran apa nggak, Papa?" jerit Ellen tidak percaya. "Iya, bener. Tapi kamu di rumah aja, ya? Nggak baik anak kecil keluar malam-malam, apalagi besok kamu sekolah." Ellen menganggukkan kepala, patuh dengan perintah ayahnya. Dia melingkarkan tangan ke tangan Marni yang berdiri di samping. Wajahnya tampak agak lega. "Sekarang Papa ambil mobil sana. Ellen sama Bik Marni nungguin Tante Ina di sini," ujar Ellen dengan tersenyum. "Oke." Tidak bisa lagi mengelak, Brian pun meringis dan mengangguk berbalik untuk mengambil mobil. Tinggallah Naina yang lemas, harus diantar oleh Brian, duda songong itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN